By: Nelliya Azzahra
(Pegiat Literasi dan Member AMK)


Pandanganku lurus kedepan, Dari balik jendela  tampak beberapa anak-anak sedang bermain di halaman rumah mereka. Terdengar  tertawa, canda, sesekali teriakan mereka. Tengah asyik dengan permainan yang mereka mainkan, terlihat ada yang main gundu, main bola,  dan anak perempuan bermain boneka.

Melihatnya, membuat bibirku tertarik dan membentuk senyuman. Aku seakan  ditarik ke waktu 35 tahun lalu. Saat awal-awal aku menikah.

Aku  bernama 'Anyak Kusumo' anak pertama dari 3 bersaudara .Aku asli orang semarang lahir dan besar disana, karena Ibu dan Ayah asli orang sini. Kini Usiaku tepat 27 tahun. Usia yang dianggap sudah seharusnya menikah oleh orang tua dan keluargaku. Mereka pun akhirnya memilihkan jodoh untukku. Aku sendiri tidak masalah jika di jodohkan. Toh, aku pikir aku juga tidak pernah pacaran. Karena aku sibuk bekerja. Dan di usiaku yang baru 27 tahun, aku sudah mendapatkan posisi manager di kantor sahabatku. Semua aku dapatkan karena usaha dan kerja kerasku selama ini. Hingga aku dipromosikan dan mendapatkan posisi ini.

Mengenai jodohku, Ayah memilihkan aku suami seorang pria yang terhitung masih keluarga jauh dari Ayah. Dia juga seorang dokter umum yang tinggal di Jakarta.

Setelah pertemuan dua keluarga, dua bulan setelahnya, pernikahan pun dilangsungkan dengan pesta meriah. Aku bahagia sekali, karena aku bisa langsung menyukai suamiku saat pertama kali kami dikenalkan.

Setelah menikah, aku diboyong Mas Fatah ikut kerumahnya di Jakarta. Karena ternyata, Mas Fatah sudah mempunyai rumah pribadi  di salah satu perumahan di Jakarta. Mas Fatah memang lahir dan besar dari keluarga kaya. Berbeda dengan aku yang berasal dari keluarga sederhana.

Aku segera mengurus surat mutasi kerjaku, minta dipindahkan ke cabang di Jakarta. Semua berjalan lancar. Aku bisa pindah ke kantor di Jakarta.

Aku pun menjalani pernikahanku dan Mas Fatah dengan bahagia. Dua bulan berselang, aku dinyatakan positif hamil. Maka, bertambahlah kebahagiaan kami. Tidak sabar menanti buah hati ini lahir dan meramaikan rumah ini dengan suara tangis dan ocehanya.

Saat hamil aku masih tetap berkerja, walaupun mas Fatah sempat meminta aku untuk berhenti saja. Tapi aku merasa sayang dengan karirku. Susah payah aku mendapatkan posisi seperti sekarang.

Sampai saat aku melahirkan, alhamdulillah anak pertama kami seorang bayi perempuan yang cantik, kami memberinya nama 'Zahrana'. Setelah melahirkan aku mengambil cuti tidak lama, hanya 2 bulan.

"Dik, apa kamu harus kerja. Kalau kamu kerja Rana sama siapa?" Mas Fatah yang sedang duduk di sofa ruang tamu kembali menanyakan hal sama yang dia tanyakan dua hari lalu.

"Mas, kan aku sudah bilang. Aku akan tetap kerja Mas. Untuk Rana, kita bisa sewa jasa babysitter kan. Begitu saja repot Mas" aku tidak ingin memperpanjang bahasan ini. Bagiku keputusan sudah final, aku tetap bekerja!

"Yasudah, kalau itu membuat kamu nyaman. Tapi tolong , dik, Rana tetap diberikan ASI"

"Iya Mas" itu tidak masalah bagiku. Aku bisa menyetok ASI di Kulkas. Sewaktu-waktu aku kerja, tidak lagi bingung jika Rana haus dan lapar.

Waktu 2 bulan sudah berlalu, aku yang meminta Ibu dan Ayah mencarikan pengasuh untuk Rana selama aku kerja. Akhirnya seorang wanita berumur sekitar 50 diantar Ayah dari Semarang  kerumah Kami untuk menjadi pengasuh Rana. Aku pun Ok. Kami biasa memanggilnya Mbok Asih.

Akupun mulai masuk kerja seperti biasa, Mas Fatah juga tidak pernah protes lagi dengan pekerjaanku. Kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dia sebagai Dokter, aku pekerjaanku di kantor.

Tidak terasa pernikahan kami memasuki 4 tahun
Rana sudah berumur 3 tahun. Dia semakin menggemaskan.

"Mama!" Berteriak saat mendengar deru mobilku yang baru pulang kerja.

"Iya, sayang" aku segere melenggang masuk.
Rana, langsung menubruk tubuhku dan memeluknya.

"Mama, kenapa lama balu pulang? Lana kangen Mama" Rana memang masig cadel jika bicara. Terlihat dia memasang wajah sedih.

"Maaf, ya sayang, Mama kan kerja. Kerjanya buat Rana juga" aku mencoba memberikan pengertian padanya.

"Oh gitu ya, Ma. Ma, ayo temeni lana menggambar Ma, tadi lana ambar bunga. Ayo ..ayo Ma" Rana mulai menarik tanganku untuk ke kamarnya.

"Rana, sama bi Asih dulu ya. Mama kan capek baru pulang" aku mencoba bernegosiasi. Memang aku capek baru pulang. Badan pun lengket ingin segera mandi.

"Gak, mau! Maunya Mama" teriaknya.

"Rana, dengarkan Ma ya"

"Mbok Asih!"

Kulihat MBok Asih muncul dari dapur.

"Iya, Mbak Anyak"

"Mbok, tolong bawa Rana ke kamarnya ya,  temeni dia menggambar. Saya mau istirahat dulu" aku segera berlalu ke kamar. Kulihat sekilas wajah sedih Rana. Tapi aku tiada daya. Tubuhku memang butuh istirahat.

Kejadian seperti ini bukan hanya sekali. Terus terulang. Saat itu kenaikan kelas Rana. Rana sudah SD kelas 6. Dan sekarang dia juga sudah memiliki seorang adik perempuan berumur 5 tahun. Namanya 'Zahira'

"Ma, lihat ini. Rana, juara kelas Ma" Rana menunjukkan raportnya kepadaku. Aku yang sedang di depan laptop dengan tugasn yang menunggu aku kerjakan. Jadi aku tidak fokus padanya.

"Selamat ya, sayang. Letakkan saja di meja, nanti Mama lihat ya"

"Tapi,  Ma"

"Rana"

"Baiklah, Ma" dia pun meletakkan raportnya diatas meja dan segera keluar dari kamarku.

Atau saat Zahira merengek minta ku bacakan buku cerita seperti pagi ini.

"Ma, tolong bacakan buku ini" dia menyodorkan buku bergambar kelinci itu kepadaku. Aku hanya melihatnya sekilas.

"Maaf ya, Mama harus segera  kekantor. Sama Papa saja ya"

"Mas, tolong bacakan buku untuk Hira ya, aku udah telat ne. Assalamualaikum" aku pum setengah berlari menuju mobilku dan bergegas ke kantor.

Bergitulah waktu terus berlalu bertahun-tahun. Kini Zahrana dan Zafira sudah menikah dan mempunyai anak masing-masing. Artinya aku sudah menjadi Nenek dan Mas Fatah menjadi Kakek. Aku sekarang tinggal bersama Rana. Sedangkan Hira, tinggal di London, ikut suaminya.

Kini usiaku sudah tidak lagi muda, tahun ini tepat 62 tahun. Tentu aku sudah tidak bekerja lagi. Mas Fatah sudah meninggal 2 tahun lalu. Kini hanya aku, Rana, dua orang anaknya dan suaminya yang tinggal di rumah.

Ingatanku tentang anak-anak membuatku tidak mampu menahan tangisku. Bila mengingat apa yang sudah berlalu. Aku telah kehilangan semua moment. Ya, moment dengan anak-anakku, dengan keluargaku.

Bagaimana, aku kehilangan moment, moment memandikan mereka, menyuapi mereka makan, membacakan buku cerita, mengajari mereka solat, mendengarkan cerita mereka, menemani mereka bermain, memeluk mereka saat mereka menangis. Dan masih banyak moment lainnya yang sudah aku lewatkan. Aku makin tergugu jika mengingat itu semua. Waktuku dulu habis untuk bekerja di luar rumah. Aku tidak sempat mengikuti perkembangan anak-anakku. Apa kata yang pertama kali mereka ucapkan, namaku, atau nama pengasuhnya. Bagaimana mereka pertama kali berjalan, bahkan berlari. Aku, bukan orang pertama yang melihat dan mengajarkannya. Biasanya aku tahu semua dari Mbok asih, pengasuh anak-anakku.

Jika aku bisa memilih, akan kubayar berapa pun waktu yang sudah kelewatkan. Aku baru tahu betapa kejamnya sistem kapitalis ini. Menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan. Sehingga orang-orang berlomba untuk mengejar dan mengumpulkannya. Sehingga peran Ibu pun direnggut paksa. Ibu melupakan perannya, kewajibannya sebagai Ummun Warobbatul bait (Ibu dan pengatur rumah).

Sehingga anak-anak pun kehilangan hak mereka. Untuk dididik, diasuh oleh seorang ibu.

Aku tersentak dari lamunan masa lalu, saat tangan lembut menyentuh pundakku. Saat aku berbalik, putriku sedang tersenyum lembut kearahku.

"Kapan kau kembali, Rana?"

"Baru saja, Ma. Tadi aku mengucap salam tidak ada sahutan. Ternyata Mama sedang melamun di kamar"

Aku berdiri menghampirinya, melihat dengan jelas wajah yang dulu selalu ku abaikan. Masih terbayang wajah polosnya yang sedih kala keinginan sederhananya aku abaikan. Tanpa terasa aku kembali terisak.

"Ma, kenapa menangis?" Rana mengusap airmataku.

"Maafkan, Mama. Maafkan Mama, kerena di masa lalu sering melukai hati mu dan adikmu"

"Ma, jangan ngomong begitu. Yang lalu biarlah berlalu. Kami sudah memaafkan itu semua. Yang terpenting, sekarang Mama ada disini. Jangan dipikirkan lagi ya, Ma" Rana meraih tanganku dan menuntunnya keluar kamar.

"Ayo, Ma kita berangkat. Kajiannya sudah mau dimulai"

Aku pun mengikuti langkahnya untuk mengikuti kajian setiap pekan. Memang 2 tahun terakhir, aku rutin mengikuti kajian Islam bersama Zahrana. Aku banyak mendapatkan pemahaman Islam yang selama ini belum aku tahu.

Aku selalu berdoa, semoga Allah Swt mengampuni segala kelalaian ku sebagai seorang Ibu di masa lalu.

END
 
Top