foto by Google
By : N3
Pagi itu, dengan kecepatan 40-50 km/ jam, Joe melaju dengan motor bututnya, sambil melewati pinggir pantai Kota Padang untuk melihat gulungan ombak, dan gugusan pulau-pulau terpampang didepan mata, seolah hanya numpang lewat begitu saja.

Kegalauan yang dirasakan, masih belum sirna.
"mengapa, ada apa, bagaimana....". pertanyaan-pertanyaan itu terus bergelayut didalam benak Joe.

Huuuuh, kembali hembusan nafas Joe keluar. "Apa mungkin ada yang salah Ia perbuat. Sejauh yang dipikirkan, rasa-rasanya malam kemarin, enjoy aja. Tetapi kenapa pagi ini ada sesuatu yang mengganjal dalam sikap Isterinya".

Untuk menenangkan perasaan yang berkecamuk, Joe lalu meminggirkan motor dan mematikan mesinnya. Ia pun duduk dipinggir pantai, sambil mengeluarkan kotak rokok yang ada didalam saku bajunya dan memantiknya.

Gulungan-gulungan asap rokok yang keluar dari dalam mulut Joe, Ia hempaskan kelangit, terus dan terus tanpa henti, hingga tanpa disadari, buih dari deburan ombak membasuh mukanya.

Ditempat terpisah, Aprilia masih saja berdiri bengong, Ia masih berdiri dan memandang jauh, sampai hilangnya suara motor Joe. Dan, Ia kembali kedalam kamar.
Butiran bening mulai menghiasi kedua pipinya yang putih berseri. 

"ya Allah, bagaimana aku bisa menghadapi suamiku, bila hanya diam tanpa mengungkapkan, rasa yang ada didalam dada ini,".


"Aku tidak ingin melihat Ia sedih, namun fikiran yang menduga-duga atas sikap suamiku, membuat aku jadi isteri yang tidak taat pada suami,"

"Ampunilah aku Ya Allah." do'a Aprilia disela-sela isak tangis yang ditumpahkan pada bantal bekas tidur suaminya. 

Baca Sebelumnya :
Disaat Amanah Tak Lagi Bertahta

Joe yang saat itu telah duduk dipinggir pantai, mencoba melepaskan pandang ketengah laut, dan memfokuskan diri pada satu titik perahu nelayan yang tengah mengapung turun naik dipermainkan gelombang.

Ia memperhatiakan sosok pria yang berada diatas perahu, hanya terlihat begitu santainya saja duduk, sesekali, Ia menghisap rokok yang ada ditangannya.

Lalu, Ia mengalihkan pandang kesisi kiri. Matanya coba memperhatikan sebuah tulisan "PADANG KOTA TERCINTA" yang terpampang jelas, diatas bukit Gunung Padang dengan mitos melekat cerita Legenda Siti Nurbaya.

Tiba-tiba "gedubraak," disusul pekikan suara kegaduhan. keasikan Joe buyar, lebih kurang 15 meter,  tempat Joe duduk, sebuah mobil toyota pick-up menabrak sepeda motor.

Kegalauan yang tadi sempat mendekam dalam diri Joe, hilang begitu saja. Rasa empatinya terhadap sosial kemasyarakatan pun bangkit. Ia berlari,,,, dan mencoba merangsek kedepan, untuk melihat kejadian sebenarnya.

Ditengah jalan, Ia melihat sesosok pria paruh baya, dengan sorban dan bercelana putih sampai dengan mata kaki tergeletak dan diam tak bergerak.

Dan disisi lain, terdengar hardikan dan kata-kata tak pantas ditujukan kepada pengemudi mobil Toyota pick-up.

"Ma'af pak, bagaimana keadaan korban, apa tidak sebaiknya dipinggirkan dulu, agar bisa mendapat pertolongan pertama," ucap Joe mencoba berinteraksi dan mengingatkan salah seorang masyarakat yang sedang  mengeremuni korban.

Dan dari penglihatan Joe, sepertinya pria paruh baya yang menjadi korban kecelakaan itu, tidak mengalami luka yang berarti. Goresan-goresan kecil terlihat dari tangan dan kakinya. Mungkin karena shock, maka Ia hanya diam sambil menahan sakit akibat terserempet mobil dan menghempas marka jalan.

"Syukurlah, bapak ini tidak kenapa-napa," sedangkan motor yang dikendarainya memang agak parah, karena sempat tergilas oleh mobil.

Merasa diingatkan atas pertanyaan Joe, bapak itu tersentak, seketika dengan suara beratnya lalu mengajak masyarakat untuk membopong si korban kepinggir jalan.

"bawa kesini saja, tuh diwarung saya ada bangku, dan juga ada air putih yang dibisa diberi minum untuknya," ucap si bapak.
Ternyata si bapak yang Joe ajak bicara tadi, merupakan pemilik salah satu warung dipinggir pantai Padang.

"pelan-pelan, mana tahu ada tulang-tulangnya yang tidak berada pada tempatnya", lagi si bapak berteriak memberi perintah.

Setelah melihat kondisi korban, dan kemudian diselamatkan warga ke warung si bapak, Joe-pun merasa lega.
"bapak," ucap Joe kepada pemilik warung itu.
"saya mo pamit pergi kerja dulu,! dan saya minta tolong kepada bapak, agar dapat membantu meredam emosi warga ya pak,".

Bapak sipemilik warung itu terdiam, dan mencoba memperhatikan wajah Joe dari atas sampai kebawah.

Karena tidak ingin berlama, Joe pun melanjutkan perkataannya.
"Kalau dapat diselesaikan secara kekeluargaan saja," pinta Joe pada pemilik warung.

Dengan mengucapkan salam pada bapak pemilik warung dan masyarakat yang ada, Joe berlalu dan menghampiri motor yang ia parkir tidak berapa jauh dari lokasi kejadian.*

Joe melangkahkan kaki, dan menuju sebuah bangku disalah satu pojok warung yang berada di kawasan olahraga Gor Haji Agus Salim.

"Ibu Nana, tolong buatkan saya kopi seperti biasa ya, jangan lupa, gulanya setengah sendok saja,"Joe berkata dan mengingatkan pemilik warung.

Sepertinya beban pikiran yang sedari pagi menumpuk dikepala, mulai berkurang. Ia tidak menyadari, bahwa "Allah akan mengangkat masalah dari kehidupan umatnnya, bila mereka dengan ikhlas juga turut meringankan dan membantu hambanya yang lain,".

Tiba-tiba, Joe melihat Rudi dan Andi yang sedang berboncengan menaiki motor. Keduanya, teman seprofesi Joe juga, sesama.wartawan.

"Pak Joe.... hardik Rudi, makasih ya atas pinjaman kemarin".
Huuuhh.... sekali lagi Joy menghempaskan sesak dada yang menghimpit rongga dada ini. Sambil membalas dengan anggukan  senyum.

Joe jadi bengong, 

Bersambung .........................
 
Top