Oleh: Depi Fitriyani (Anggota SWI Jambi)


Pemuda adalah harapan bangsa masa depan umat.
Jika pemuda hari ini berkualitas, memiliki iman dan takwa, maka cerahlah masa depan bangsa.
Namun jika buruk pemuda hari ini, jauh dari ketaatan kepada Allah Swt, maka suramlah masa depan bangsa kemudian hari.

Jauh sebelum kita melihat dunia ini, Rasulullah Saw mengingatkan kaum Muslim untuk menjaga masa depan pemuda mereka sebaik-baiknya
Rasulullah Saw bersabda:
 " Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, keadaan kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum saat sibukmu, dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu. "
(HR. Al-Baihaqi)

Luar biasa bukan nasihat Rasulullah Saw.
Namun, jika kita melihat faktanya sekarang, pemuda yang seharusnya menjadi harapan bangsa, justru mengecewakan bangsa.
Bagaimana tidak, jika kita teliti krisis moral pemuda sangat luar biasa mengagetkan.

Data UNICEF tahun 2016 menunjukkan bahwa kekerasan kepada sesama remaja di Indonesia diperkirakan mencapai 50%.

Kasus anak pelaku kekerasan dan bullying 41 kasus dan kasus anak korban kebijakan pendidikan sebanyak 30 kasus. Sedangkan data dari Kementerian Sosial, hingga Juni 2017, Kementerian Sosial telah menerima laporan sebanyak 967 kasus; 117 kasus di antaranya adalah kasus bullying.

Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), jumlah kasus kekerasan terhadap anak di bidang pendidikan per 30 Mei 2018 sebanyak 161 kasus. Perinciannya, kasus anak korban tawuran 23 kasus, kasus anak pelaku tawuran 31 kasus dan kasus anak korban kekerasan dan bullying 36 kasus.

Selanjutnya, di awal tahun 2019 inipun, KPAI telah mendapatkan laporan kasus kekerasan anak baik sebagai korban ataupun pelaku sebanyak 24 kasus
 (Baca: kompasiana.com)


Itu hanya beberapa kasus yang terdeteksi, belum lagi kasus lainnya yg belum terungkap kebenarannya.

Sungguh miris jika kita mencari dan melihat bagaimana rusaknya pemuda hari ini.
Remaja saat ini terlalu di manjakan oleh canggihnya teknologi,
budaya barat fun, food dan fashion turut mewarnai hidup remaja muslim saat ini.
Jadi, tidak heran lagi jika seharusnya remaja muslimah mengenakan jilbab dan kerudung, namun beralih ke fashion barat yang serba membuka aurat.
Serba mini, baju mini, celana mini hingga bahasa arab yang seharusnya menjadi bahasa keren bagi remaja muslim namun  beralih ke bahasa gaul zaman now.

Para shalafush shalih mendidik kaum tunas muda ini agar kelak muncul generasi penerus umat.
Mereka paham, menyia-nyiakan pembinaan kaum muda sama artinya dengan merencanakan kehancuran suatu bangsa.
Memang benarlah, bahwa besar-kecilnya peran pemuda sangat berpengaruh untuk kemajuan bangsa.

Temans, masa muda itu hanya sekali dan waktu tidak bisa diulang kembali.
Bila masa muda habis untuk memuaskan hawa nafsu, kelak akan datang penyesalan pada hari tua
bahkan tidak sedikit manusia yang telah rusak jiwa dan raganya pada masa muda.
Namun mau dikatakan apalagi, masa muda tidak akan terulang kembali.

Pemuda adalah sosok penerus yang kelak akan meneruskan perjuangan Rasulullah Saw.
Pemuda hari ini seharusnya mampu bersahabat dengan sejarah, mempelajarinya untuk diambil pelajarannya.
Karna dengan mempelajari sejarah Islam, kita bisa tahu bagaimana luar biasanya pemuda Iman Syafi'i yang menggadaikan masa mudanya untuk mencari ilmu.
Pada umur belia, Syafi'i berhasil menghapal diluar kepala kitab Al-Muwaththa karangan gurunya dan menjadi penghapal Al-Quran sebelum dia baligh.

Ya, itu baru Imam Syafi'i, coba kita baca lagi sejarah Islam bahwa ada seorang pemuda tampan dan dari kalangan keluarga kaya rela meninggalkan semua kekayaan itu demi memeluk Islam, dan berada digarda terdepan melawan musuh-musuh Allah Swt.
Dialah  Mush'ab bin Umair.

Temans, mungkin kita tidak akan bisa menandingi kehebatan dan ketangguhan mereka.
Namun memilih untuk menjadi pemuda agen of change layaknya Pemuda seperti Imam Syafi'i, dan Mush'aib bin Umair, atau pemuda agen of problem itu adalah pilihan kita sendiri.

Ketika pemuda di lingkungan kita sering membuat masalah, bolos sekolah, mengkaji Islampun enggan, waktu dihabiskan untuk menuruti hawa nafsu, itu adalah pilihan kita sendiri.
Ingin terpengaruh atau tetap menjadi pemuda kuat terhadap godaan tersebut.
Namun ketika ada pemuda di lingkungan kita yang luar biasa keimanannya, berprestasi, berani ber-amar makruf nahi mungkar, itu juga pilihan kita sendiri.
Ingin menjadi seperti itu atau justru lebih memilih menjadi agen masalah.

So temans, bangkitlah dari habits buruk yang menjauhkanmu dari ketaatan kepada Allah Swt.
Bangkitlah dari tidurmu, torehkan karyamu untuk masa depan umat.
Bangkitlah, tebarkan ghiroh mudamu untuk berada digarda terdepan menyambut Kebangkitan Islam.
Kembalilah pada identitasmu sebagai pemuda muslim yang membawa perubahan baik ditengah-tengah umat.

Takbir....
Allahu akbar
 
Top