By: Nelliya Azzahra

Mencintai karena Allah Swt, memiliki kemanisan yang dirasa oleh seorang mukmin di hatinya. Jadi, orang yang mencintai seseorang karena Allah subhanahu wa ta’ala akan mendapatkan manisnya iman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَ6جَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ ِممَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَيُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ أنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

“Ada tiga perkara, yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan rasa manisnya iman. Yaitu: apabila Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada yang selain keduanya, apabila ia menyintai seseorang, namun ia tidak menyintainya kecuali karena Allah. Dan apabila ia membenci untuk kembali ke dalam kekafiran sesudah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, seperti halnya ia membenci jika ia dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari & Muslim)

Surabaya

Raziq pov*

"Kenapa, kau bertanya aku manusia atau tidak? Jelas aku manusia. Kau pikir aku kuntilanak!"

Suara itu ... apakah 'Greysa Amanda' aku tidak bisa melihat jelas wajahnya karena tertutup masker.  Aku masih memperhatikan siapa sosok dihadapanku.
Kulihat dia melangkah maju kearahku.

"Stop, ditempatmu!"
Diapun langsung mematung ditempatnya.

"Kau, tidak benar-benar mengira aku hantu kan?" Dia bertanya dengan nada mengejek.

"Nona, Greysa?" Tanyaku, setelah memastikan jika suara itu benar miliknya.

"Iya! Kenapa, kaget"

"Maaf, bukankah Nona sudah balik ke Jakarta. Kenapa sekarang ada di rumah kami?" aku jadi tidak habis pikir dengan gadis didepanku saat ini. Bukannya dia sudah balik beberapa minggu yang lalu ke rumahnya. Lalu kenapa sekarang harus balik lagi kesini.

"Karena aku mau saja. Kau, tidak berniat mengusirku saat ini jugakan?"

"Tidak. Tapi jawab dulu yang jelas Nona. Kenapa kau kembali ke sini?" Jujur saja aku masih penasaran. Tidak mungkinkan dia sedang syuting disini.

"Sudah,  sudah kau cerewet sekali!" Dia terlihat mengibaskan-ngibaskan tangan didepan wajahnya.

"Besok saja kalau mau introgasinya. Sekarang aku mau tidur! Lagi pula kau merusak acara maskeranku malam ini. Bye!" Setelah dia melambaikan tangannya, lalu berbalik untuk ke kemar Ratih. Aku yang masih terpaku di tempatku semula di buatnya penasaran. Sudahlah, besok saja kuharap dia menepati kata-katanya untuk menjelaskan kepadaku perihal saat ini dia bisa berada di rumah kami.

Akupun segera menyusul masuk ke kamarku. Setelah merebahkan tubuh diatas kasur. Aku, menatap lekat langit-langit kamar. Kenapa dia bisa kemari? Apa itu artinya dia tidak marah lagi dengan kejadian tempo hari. Semoga benar. Agar rasa bersalah diriku pun hilang. Kuharap wanita blasteran itu juga tidak lama disini.

******
Greysa pov*

Akhirnya kemarin aku sampai juga ke Surabaya. Sengaja aku tidak mau membawa mobil. Jadilah Desi yang mengantarku kemari. Itupun sepanjang perjalanan tidak hentinya dia mengingatkanku untuk berhati-hati dengan statusku saat ini. Duh, di rumah saja sebelum berangkat telingaku sudah panas dengan semua pesan Mami, seperti aku akan pergi lama saja. Padahal, hanya 2 minggu.

Setelah sampai di rumah bu Minah di Surabaya, Desi pun segera kembali ke Jakarta. Dan, tinggallah aku disini. Saat aku datang, manusia kutub itu sedang mengajar di pesantren.
Aku sudah tidak sabar ingin melihat ekspresinya nanti saat melihat aku ada di rumahnya. Awas saja kalau dia berani mengusirku lagi. Aku, tidak segan untuk mencakar wajahnya.

Bu minah ternyata sudah tidur, dan Ratih juga. Katanya besok dia ada acara di sekolahnya. Aku baru tahu jika Ratih seorang guru taman kanak-kanak. Bagaimana dia bisa menangani makhluk-makhluk kecil yang merepotkan itu. Aku memang tidak terlalu menyukai anak-anak. Bersyukur, aku terlahir sebagai anak tunggal.

Aku yang belum mengantuk memilih untuk maskeran saja. Biar besok saat bangun mukaku lebih fresh.
Baiklah aku pun membuka tas berisi alat make-up ku. Tadi sebelum pergi Desi sudah menyiapkan semuanya.
Ketemu, akupun mulai melumuri wajahku dengan masker.

Sambil menungu masker ku kering, aku pun berselancar di dunia maya. Melihat salah satu foto yang ku posting sebelum kesini tadi disalah satu akun resmiku sudah mendapat ribuan like dan komentar.
Isi komentarnya rata-rata memujiku. Ada juga haters yang menuduh aku oplas alias operasi plastik. Huh, dasar julid. Aku mempunyai wajah cantik ini asli. Sudah kukatakan ini turunan Papi dan Mamiku. Tidakkah dia tahu Papi bule ku, yang memiliki wajah tampan. Papi adalah idolaku. Tampan, lembut, berwibawa, dan juga seorang mualaf.

Pantas saja Mami selalu lengket. Pasti Mami sudah tergila-gila pada Papi. Ngomong-ngomong tentang Mamiku. Wanita yang telah melahirkanku 26 tahun lalu itu memiliki wajah yang manis, berkulit sawo matang, dengan bentuk wajah oval. Coba saja lihat jika dia tersenyum, kau pun otomatis ikut tersenyum.

Jadi, jangan ragukan lagi kecantikanku ini datangnya dari mana. Lagipula, aku anti dengan oplas. Cantik alami itu tanda syukur kita kepada Sang Pencipta.

Saking asyiknya aku di dunia maya, tidak sadar jika Raziq sudah pulang. Aku tahunya ketika lampu dinyalakan. Tadi memang aku yang mematikan lampunya.
Saat aku berdiri dan berbalik menghadapnya, lihatlah! Ekspresinya itu, seperti aku ini hantu saja.

Aku baru sadar, mungkin saja dia kaget dengan penampilan dan keberadaanku.
Aku tersenyum dalam hati. Ternyata bisa konyol juga wajahnya. Kupikir hanya bisa sedatar triplek.

Jelas saja dia kaget, tidak menyangka aku akan datang lagi setelah kejadian dia memintaku pergi dari rumahnya. Dasar 'manusia kutub'.

Sudah kuduga, dia pasti akan bertanya mengapa aku bisa disini sekarang. Dari pada ujung-ujungnya berdebat, lebih baik aku tidur. Lagi pula, acara maskeranku sudah gagal.
Aku meninggalkannya yang masih berdiri seperti patung itu.

*******
"Mbak Grey, bangun. Kita solat subuh ya" itu pasti suara Ratih.

"Aku, sedang tidak solat. Kau saja" aku menjawab dengan mata  masih terpejam. Sungguh dinginnya udara subuh ini, membuat aku semakin mengeratkan selimutku. Dan melanjutkan mimpiku yang sempat diganggu Ratih tadi.

"Nak, Grey sudah bangun. Monggo kita sarapan" bu Minah menarik salah satu kursi dan mempersilahkan aku untuk duduk.

Aku pun segera bergabung untuk sarapan.

"Terimakasih, bu" aku melemparkan senyumku pada wanita berusia senja ini. Dia seperti Mami, sama-sama memiliki sifat keibuan. Mungkin aku akan betah disini, eh.

"Mbak Grey, berapa lama cutinya?" Kulihat Ratih sudah rapi untuk pergi mengajar.
Memakai gamis dan kerudung berwarna pink, membuat inner beauty nya kian terpancar. Aku memang tidak pernah melihat Ratih memakai make-up. Tapi, tanpa itupun dia tetap cantik.

"Paling lama 2 minggu. Setelah itu, aku akan kembali syuting" aku menyendokkan nasi goreng ke mulutku, enak. Tidak kalah dengan yang biasa aku makan.

"Ratih, apakah kau yang memasak nasi goreng ini?" Aku bertanya sambil mengangkat sedikit piringku.

"Iya mbak. Apa rasannya ndak enak mbak?" Ratih terlihat cemas.

"Justru ini enak Ratih, kau pintar memasak. Kapan-kapan ajari aku ya"

"Mbak bisa aja. Jadi isin saya mbak" Ratih terseyum malu.

Selesai sarapan aku sedang memikirkan apa yang harus kulakukan. Jika berdiam diri saja di rumah, aku bisa mati kebosanan
Tadi sempat kulihat Bu Minah sedang solat. Aku pun berniat melihat-lihat keluar rumah. Belum sempat keluar, kulihat Raziq keluar dari kamarnya.

"Nona, kau berhutang penjelasan denganku"  dia berdiri tidak jauh dari tempatku duduk.

"Hmm"

"Kenapa Nona di sini?"

"Semalam sudah aku jawab"

"Nona!" Apakah  sekarang saatnya taringnya  keluar.

Aku memutar bola mataku jengah.
"Aku ingin liburan disini. Bu Minah dan Ratih sudah setuju. Jangan khawatir tidak akan lama. Dan aku juga tidak tinggal gratis. Aku akan membayar sewanya selama disini"

"Sementara katamu Nona, lalu itu apa" aku mengikuti arah telunjuknya yang mengarah ke sebelah lemari dipojok ruang tamu.

Disana terdapat 3 koper dan dua tas besar. Tentu akulah pemiliknya. Karena terlalu lelah kemarin, aku belum sempat membongkar dan menaruhnya di kamar Ratih.

"Itu koper dan tas. Memangnya, ada yang salah dengan itu?"

"Bukan kopernya! tapi kenapa membawa sebanyak itu. Apakah Nona ingin pindah kemari?" Aku jadi heran, kenapa ada manusia yang mempermasalahkan hal yang sepele. Hanya karna koper dan tas. Menguras energi saja.

" jelas saja aku membawa persiapan itu semua. Satu koper berisi pakaian rumah, satu berisi pakaian jika aku  bepergian keluar, satu lagi itu tidak perlu kau tahu.
Nah, kalau dua tas itu, satunya berisi alat make-up dan perawatan tubuhku. Sudah puas!"

Aku beranjak mendekat koperku tadi. Mungkin lebih baik kupindahkan saja kedalam kamar Ratih saja.

"Ah, ya. Satu lagi. Yang ini tas berisi camilanku. Senangnya, bisa ngemil sepuasnya tanpa dibatasi sama Desi dan Mami" aku mengeluarkan isi didalam tas dan memeluk beberapa snack dengan bungkusan besar. Rasanya merdeka. Desi yang seperti CCTV itu tidak ada disini. Ya, dia tidak ubahnya seperti camera CCTV yang selalu memantau dan mengawasiku.

"Jika kau mau, ambil saja!" Tentu aku tidak mau dibilang pelit. Apalagi dia tuan rumahnya.

"Kekanak-kanakan"
Apa dia bilang barusan? Siapa yanga kekanak-kanakan yang dimaksud.

"Apakah, barusan kau mengataiku!" Mataku sudah melotot sempurna.
Kulihat dia hanya diam.

"Berapa umurmu?"

"26"

"Kita seumuran, jadi berhentilah mengataiku kekanak-kanakan. Wajahku memang baby face. Dan kau, terlihat jauh lebih tua dari umurmu. Makanya, sering-sering tersenyum" aku sudah ingin tertawa saat melihat ekspresi wajahnya. Dia refleks menyentuh wajahnya. Dengan sedikit bingung.

"Ehem, kau boleh tinggal disini, asal menjaga auratmu Nona. Tolong, pakai kerudung saat aku ada di rumah"

"Apa maksudmu! Kau pikir, kau suamiku yang berhak menentukan apa yang harus kupakai atau tidak" seenaknya saja dia mengaturku.

"Nona, kenapa kau susah diberi tahu. Ini demi juga kebaikan kita!"

"Akan ku pertimbangkan!" Lalu aku segera menyeret koperku masuk. Malas berdebat dengan 'manusia kutub' itu.

Setelah merapikan koperku, akupun keluar mencari  Bu Minah. Aku sebenarnya pengen jalan-jalan ke sawah yang tempo hariku lihat.

"Bu, mau kemana?" Tampak bu Minah memakai topi caping dan tengah bersiap.

"Ibu, mau ke kebun tebu sebentar nduk. Kamu ndak apa-apa ya di tinggal dulu"

"Bu, saya boleh ikut ya, bosan dirumah" yang benar saja tinggal sendiri di rumah. Aku bisa mati karena bosan.

"Tapi nduk, nanti sayang kulit mulus nya terbeset daun tebu. Kalau ibu dan Raziq sudah biasa di kebun" Bu minah memberikan aku pengertian untuk tinggal.

"Gak apa bu, saya malah jadi penasaran. Saya juga pernah kok syuting di hutan. Saya siap- siap dulu ya" aku segera bersiap. Dengan memakai celana panjang, sepatu sneakers, jaget, topi dan kacamata hitamku. Baiklah berangkat sekarang.

Sekitar 15 menit kami berjalan, tidak lama tampak kebun tebu. Ada pondokan juga disana. Mungkin tempat istirahat jika lelah.
Aku segera mengikuti langkah bu Minah.
Kulihat ada Raziq yang tengah mengobrol dengan seoarang bapak paruh baya. Aku, enggan menyapa hanya melewatinya.

Kulihat bu Minah membersihkan daun-daun tebu yang sudah kering. Lalu, mulai menebang beberapa. Aku yang melihatnya jadi ingin juga mencoba.

"Boleh, saya mencobanya?" Aku berjalan mendekat kearah Bu  Minah
.

"Aduh, ndak usah nak. Nanti tangannya lecet"

"Gak apa Bu, saya coba ya" akupun segera meraih parang yang dipegang Bu Minah.

"Bu, ini kenapa gak bisa-bisa ya?" Aku melihat tebu di depanku masih itu.

"Oalah nak, ini kebalik. Bagian yang tajam nak yang digunakan"

Pantas saja, dari tadi tidak mau.

"Ternyata selain akting kau tidak bisa apa-apa" suara itu. Sejak kapan dia ada didekat kami.
Sudahlah, aku malas menganggapinya.

"Nak Grey, diam nak, diam" kulihat Bu Minah mendekatiku perlahan. Aku sedikit bingung.

"Ada apa Bu"

"Diam nak, ada sesuatu di pungggungmu" Bu minah mengulurkan tangannya kearah punggungku. Aku segera berbalik. Pas didepanku ada Raziq yang sedang memunggungiku. Dia sedang mengumpulkan tebu yang sudah di panen tadi.

"Apa Bu?"

"Itu nak, ulat bulu"

Apa, ulat bulu...
Seketika aku langsung melompat keatas punggung Raziq yang berada di depanku. Astaga. Ulat bulu. Aku geli sekali dengan ulat bulu.

"Astagfirullah, Nona kau sudah tidak waras! Apa yang kau lakukan turun dari punggungku" Raziq berteriak dan menggoyang-goyangkan tubuhku. Bukannya turun, aku semakin mengeratkan peganganku.

"TOLONG!"
"Singkirkan segera hewan itu dari sana, aku ...hiks ...hiks aku takut ulat bulu"

"Tenang, nak? Ibu akan menyingkirkannya"

"Hei. Kau cepat turun!. Tolong jangan bersikap tidak waras begini"

"Iya turun nak, sudah Ibu singkirkan" Bu Minah menepuk pelan punggungku. Akupun segera turun.

"Kau! Apa yang kau lakukan barusan"

kulihat muka Raziq merah dan rahangnya mengeras. Sudah, tamatlah aku sekarang karena apa yang kulakukan tadi. Sungguh reaksi spontan. Aku benar-benar geli dengan ulat bulu, bahkan dulu aku pernah sempat pingsan di lokasi syuting. Karena ada ulat bulu menempel di rambutku. Aku hanya menunduk, tidak berani lagi melihat wajahnya.

"Aksi yang barusan kau lakukan, bisa saja membuat aku menikahimu sekarang juga!"
Apa??? Aku sontak mengangkat wajahku dan melihatnya dengan mulut menganga dan mata membulat sempurna.

Bersambung
#AMK
 
Top