By: Nelliya Azzahra

Soulmate kita sejatinya adalah jodoh kita. Resah, gelisah saat sendiri, kenapa? Jawabnya karena belahan jiwa kita belum bersatu. Soulmate kita lah pelengkap jiwa kita.

Ada masanya setiap kita akan bersatu dengan soulmate kita, janji Allah Swt bahwa menciptakan makhuk dengan berpasang-pasangan. Allah Swt berfirman:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui"(QS. Yasiin:36).

SURABAYA

Rumah sakit*

Mataku lurus menatap ke pintu ruangan dimana dia berada. Aku berharap saat pintu itu terbuka, kabar baiklah yang kudengar. Aku, mencoba menangkan hatiku dengan beristigfar kepada Allah. Laa hawla wala quwwata illa billah.

Entah kenapa, seakan jiwa ku pun merasakan sakitnya. Sakit, sampai rasanya aku kesulitan bernafas.
Aku melirik Attala,  yang kini duduk disebelahku di bangku ruang tunggu. Ada raut khawatir kentara sekali  diwajahnya. Aku menebak-nebak, rasa khawatir seperti apa yang dia rasakan? Apakah rasa khawatir sebatas sesama saudara muslim. Ataukah, khawatir sepertiku? rasa khawatir yang lebih didominasi rasa takut kehilangan. Ya, aku takut. Takut tidak bisa melihat mata itu membuka lagi dan hanya akan tertutup selamanya.

Kembali, hatiku berdenyut sakit setiap memikirkan kemungkinan terburuk dari kondisi Greysa. Aku yang sudah  mendapati penanganan dokter tadi merasa lebih baik. Pelipisku mendapatkan beberapa jaitan. Pantas saja tadi terasa perih. Tapi karena khawatir aku melupakan rasa perihnya.

"Mas, ini hp nya Mbak Greysa. Apa kita telpon keluarganya saja ya Mas?"
Ratih mengeluarkan benda pipih iu dari saku gamisnya dan memberikan kepadaku. Aku juga berpikir seperti itu. sebaiknya keluarga Grey harus segera tahu kondisinya. Karena bagaimana pun, keluarga Greysa berhak tahu musibah yang sedang terjadi.

"Baiklah, Mas akan telfon keluarga dia yang di Jakarta. Attala, Mas minta tolong telfon Mbok ya. Tadi Mas lupa bawa hp"

"Baik, Mas. Akan saya telfon sekarang juga"

"Ratih, Bagaimana semua ini bisa terjadi?" Aku melihat Ratih yang duduk di sebrang tempat duduk kami sambil menunduk. Gamis birunya sudah berubah merah karena darah Greysa. Dia duduk sambil menautkan kedua tangannya, mulutnya pun bergerak-gerak, kurasa Ratih sedang berdzikir dan berdoa demi keselamatan gadis didalam sana. Mendengar pertanyaanku barusan, Ratih beralih melihatku.

"Itu, Mas" dia kembali menunduk dan terlihat ragu.

"Tadi, Mbak Grey lapar dan ingin makan bakso di tempat biasa kami beli. Akupun menemaninya kesana. Saat diperjalanan pulang, kami dihadang dua pemuda mabuk itu. salah satu dari mereka mendorongku hingga jatuh. Mbak Grey yang melihatnya berteriak, hingga memancing kemarahan mereka. Jadi, hiks ... perkelahian itu terjadi Mas. Mereka kok tega sama perempuan. Hiks ...hiks"

"Mas, aku takut Mbak Grey, kenapa-napa. Hiks ..." Ratih kembali menangis. Mungkin dia masih syok dengan kejadian yang baru dialaminya bersama Greysa.

Aku tidak menyangka Greysa dan Ratih nekad keluar malam-malam. Apa lagi ditambah Greysa memakai pakaian yang tidak menutup aurat, menambah besar kemungkinan mereka akan mengalami kejadian ini.
Itulah kenapa Allah Swt mewajibkan perempuan muslimah untuk menutup auratnya. Selain itu adalah kewajiban, insyaallah pun akan terjaga.

Dan nasib dua pria mabuk tadi sudah diserahkan ke tangan polisi.  diperjalanan kami kerumah sakit Attala sempat menghubungi Pakde Bowo untuk mengurus dua pria itu.
Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Kejadian seperti ini bukan hanya kali ini saja, dan korbannya bukan baru Greysa. Kejadian ini berulang dengan korban dan pelaku yang berbeda. Semua tidak luput dari hukum di sistem saat ini. Para pelaku kejahatan mendapatkan hukuman yang tidak membuat mereka jera. Sehingga, mereka akan terus mengulang tidak kejahatannya. Berbeda jika di dalam sistem Islam, hukum yang diberikan bisa membuat orang jera untuk melakukan tindak kejahatan yang sama. Dan hukuman yang diberikan juga sesuai dengan kadar kejahatannya.

"Insyaallah, kita berdoa saja ya. Semoga Allah menjaga Greysa dari hal-hal buruk"
Aku melihat Ratih yang tetap menunduk.
"Ratih, apa kau luka?"

"Alhamdulillah, ndak Mas"

"Nanti, kalau Mbok dan Pakde Bowo kesini, kau pulanglah bersama mereka. Biar Mas dan Attala yang menunggui Grey disini sampai keluarganya datang"

"Iya, Mas" Ratih mengangguk.

Aku segera berjalan kearah mushola rumahsakit untuk menelfon keluarga Greysa di Jakarta. Semoga saja mereka bisa sabar atas musibah yang menimpa anak semata wayangnya.

Pukul 3 dini hari Grey dipindahkan keruang rawat VIP. Keluarga Grey sedang dalam perjalanan menuju kemari setelah ku telfon tadi.
Aku melihat dari kaca pintu, dimana di dalam Grey sedang terbaring lemah.
Sungguh damai wajah pucat itu. Aku bersyukur Grey masih bisa diselamatkan setelah mengalami luka tusuk yang mengakibatkan ia kehilangan banyak darah. Aku teringat kata-kata Dokter tadi.

"Alhamdulillah, pasien sudah melewati masa kritisnya. Beruntung benda tajam itu tidak mengenai organ vitalnya. Dan pasien segera ditangani. Sekarang pasien akan kita pindahkan ke ruang rawat"

"Baik, Dok. Terimakasih"

"Maaf, apa Bapak keluarganya? Suaminya mungkin?"

Aku terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Dokter barusan.
'Suami' mengapa kata-kata itu terasa  menggelitikku. Mana mungkin dia dan aku bersama. Kita seperti bumi dan langit, sangat jauh berbeda. Aku bahkan tidak memikirkan hal itu sama sekali. Lagi pula, aku sudah memiliki calon.

"Tidak, Dok. Dia sahabat adik saya"

Setelah menjawab pertanyaan itu aku segera pamit dari ruangan Dokter. Aku ingin melihat kondisi Greysa. Dia masih tertidur, kata Dokter itu karena pengaruh obat.

"Mas, jika kau ingin pulang silahkan. Bawa saja mobil saya. Kau terlihat lelah. Lagi pula,  kau juga terluka" Attala menghampiriku yang sedang berdiri di depan pintu kamar rawat Greysa. Ya, aku hanya melihatnya lewat kaca pintu.

"Tidak apa-apa, Mas akan menunggu sampai dia sadar" aku menjawab tanpa merubah posisiku.

"Baiklah, Mas. Mas aku berharap Mbak, Grey baik-baik saja" kudengar helaan nafas berat Attala.

"Aamiin"
Lalu, kami kembali duduk di kursi tunggu. Hening, kami hanyut dengan pikiran masing-masing. Tidak lama tampak Attala mengeluarkan Musaf ukuran kecil. Tidak berapa lama dia sudah tenggelam dalam bacaan Kalam Illahi itu.
Aku merasakan mataku kian berat, ku coba untuk melawan rasa kantuk yang mulai menyerang. Tapi usahaku sia-sia. Akhirnya Aku menyerah pada rasa kantukku. Kesadaranku hilang total, hingga masuk ke alam mimpi.

Aku mendadak membuka mataku saat kudengar derap langkah dan suara sepatu yang beradu dengan lantai, sehingga menimbukan suara gaduh. Aku mengucek mataku beberapa kali. Tampak Dokter dan beberapa perawat yang berlari menuju kamar dimana Greysa berada.
Aku tercekat, apa gerangan yang terjadi sehingga mereka berlarian kesana.
Aku segera berdiri dari dudukku, berniat menyusul mereka.

Setelah sampai di depan ruang rawat Greysa aku malah berdiri mematung, peluh membasahi sekujur tubuhku. Aku tidak salah lihat kan sekarang? Benar saja saat aku mampu menyeret langkah kaki mendekati kamarnya, tampak dua Orang Dokter dan 3 perawat tengah bertindak untuk menyelamatkan Greysa. Aku memberanikan diri untuk bertanya.
Kepada salah satu perawat.

"Mbak, ada apa ini?"

"Kondisi pasien kembali memburuk, Pak"

"Benarkah, bagaimana keadaan  pasien sekarang? Bukankah tadi baik-baik saja?"

"Dokter sedang mengambil tindakkan. Doakan saja. Permisi Pak" Perawat itu kembali masuk kedalam.

Kondisinya memburuk ... kondisinya memburuk.  Aku mengulang Kata-kata. Kupenjamkan mata dengan bibir bergetar berdoa kepada Allah Swt. Allah Kuasa atas semua urusan, Allah pemilik dan kepada Allah Swt semua kembali.

Aku masih berdiri di tempatku semula. Tidak begerak sama sekali.
Tidak lama, suara nyaring dari mesin EKG di dalam ruangan, ditandai pula dengan garis lurus di layar mesin tersebut.

Deg  Deg Deg

Runtuh, duniaku seakan runtuh. Aku melihat kain putih menutupi sekujur tubuhnya. Benarkah apa yang takutkan terjadi?
Aku segera menerobos masuk ke dalam.

"Apa yang terjadi?"

"Mohon maaf Pak, kami sangat menyesal. Tapi kami sudah berusaha dengan maksimal. Pasien tidak bisa diselamatkan. Kami turut berduka cita Pak, mari" satu persatu mereka keluar ruangan meninggalkan aku seorang diri.
Dengan tangan gemetar ku tarik pelan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya.
Setelah berhasil, tampaklah wajah putih nan pucat. Dia tampak seperti sedang tertidur.
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun ...

Satu tetes airmata lolos, kosong. Seakan-akan separuh jiwaku hilang pergi. Aku tidak pandai mendeskripsikan apa yang kurasa saat ini. Tapi satu yang pasti, aku merasa kehilangan.

"Mas, bangun Mas. Ini sudah hampir jam 4. Ayo kita solat malam dulu" tepukan pelan dibahuku membuat mataku terbuka.

Aku tersadar, dengan nafas tersengal-sengal. Aku berusaha mengatur nafas yang memburu. Kulihat Attala tengah berdiri di sampingku.

"Attala, Greysa, dimana dia?"

"Dia di kamarnya Mas. Alhamdulillah sudah sadar. Dan keluarganya juga sudah tiba 1 jam yang lalu. Apa yang terjadi Mas? Mas, tampak kacau"

Mimpi, apakah aku barusan mimpi buruk? Astagfirullah. Ternyata aku hanya bermimpi.
Syukrlah dia baik-baik saja.

"Tidak, Mas hanya bermimpi sesuatu yang tidak menyenangkan. Mari kita ke mushola" aku segera menuju mushola bersama Attala.

Setelah solat, kami keruangan Greysa.
Aku ingin melihat jika benar dia sudah sadar.

"Assalamualaikum"

"Walaikumsalam"

Aku dan Attala segera masuk. Tampak 3 orang tengah melihat kearah kami. Perempuan yang kukira Ibunya Greysa sedang duduk disisi ranjang sambil memegang tangannya yang tidak diinfus. Laki-laki bule itu, ku yakin ayahnya. Pantas saja wajah blasteran Greysa turunan dari Ayahnya. Lalu, 1 orang perempuan lagi aku tidak tahu siapa.

"Kaliankah yang telah menolong anak saya?" Aku melihat kearah laki-laki yang barusan bicara.
Aku dan Attala hanya mengangguk.

"Terimakasih banyak atas pertolongan kalian, ya. Kenalkan saya Xavier, Papinya Greysa. Panggil saja Om Xavier. Dan ini istri saya, Hana" dia menunjuk perempuan disamping Greysa.
"Dan yang ini, Desi sahabat Grey"

"Saya Raziq, Om. Ini Adik sepupu saya Attala" kami saling berjabat tangan.

"Terimkasih ya, Raziq dan Attala. Tante tidak tahu jika tidak ada kalian, apa yang akan terjadi dengan anak Tante. Hiks ... dia anak kami satu-satunya. Membanyangkan kehilangannya pun Tante tidak sanggup"

"Kami hanya perantara Tante. Sesungguhnya yang menolong itu Allah" aku melihat Attala yang menanggapi perkataan Tante Desi.

"Mami" aku mendengar suara lemahnya.

"Iya sayang, apakah kau butuh sesuatu?"

"Maafkan Grey"

"Tidak sayang, kau jangan banyak bicara dulu. Kau baru saja sadar, Nak. Lihatlah betapa pucatnya wajahmu. Beruntung kata Dokter ada yang bersedia mendonorkan darahnya untukmu sayang. Tapi, orang itu tidak ingin disebutkan namanya" Tante Desi mengelus pelan tangan Greysa.

"Attala terimakasih karena sudah menolong saya"

"Sama-sama, Mbak. Sudah kewajiban saudara sesama muslim untuk saling menolong"

"Tapi, yang memberitahuku, sebenarnya Mas, Raziq, Mbak" Attala beralih melihatku.

Kulihat Greysa pun melihatku.

"Terimakasih" aku hanya mengangguk.

"Des, tolong jangan sampai media tahu tentang kejadian ini"

"Tenang, Grey. Bisa kuurus. Kau fokus saja pada pemulihanmu, honey"

"Benar sayang, kau harus dirawat di Jakarta. Maka, setelah dapat izin dari Dokter kita akan kembali"

"Papi"

"Iya sayang"

"Bolehkah, Attala ikut mengantarku?"

Bersambung
#Amk
 
Top