By: Nelliya Azzahra

Mungkin kau pernah bertanya, kenapa bukan seseorang yang kusebut namanya dalam setiap doaku yang kini menjadi jodoh dan pendampingku?
Kenapa bukan dia?

Kau tidak pernah tahu bahwa seseorang yang kini menjadi jodohmu, bisa jadi dia lah yang sering menyebut namamu dalam doa disepertiga malamnya. Merayu, meminta kepada Sang Pemilik Mahabbah agar kau dan aku menjadi kita.
Saat kau menyebut nama seseorang dalam doamu,  mungkin  di tempat berbeda  seseorang  yang berbeda juga sedang menyebut namamu  dalam doanya.

********
Pagi yang cerah di akhir pekan. Tanganku masih memegang tasbih yang tadi ku gunakan usai solat subuh.

Aku masih memikirkan perkataan Attala kemarin, bahwa akan jadi ladang pahala untukku jika aku mampu menuntunnya untuk hijrah dalam ketaatan kepada Allah.
Hatiku, Ya Muqallibul Qulub. Tolong tetapkan ya Allah ...

Tapi yang ku tangkap, dia tertarik pada adik sepupuku ini. Apakah Attala mampu membuatnya merubah penampilannya hanya dalam sehari? Benarkah Attala laki-laki yang mampu mencairkan wanita nan angkuh itu.
Aku bersyukur jika memang iya. Tapi entah kenapa, hatiku malah berdenyut sakit mengetahui fakta ini. Astagfirullah. Kenapa dengan hatiku? Apakah ia sudah memilih kemana akan berlabuh? Bukankah aku telah memilih Indah dan memutuskan akan mulai ta'aruf dengannya.
Aku menyadari usia ku bukan remaja lagi. Ingin segera menggenapkan separuh agamaku dan menjalankan Sunah Rasulullah Saw.

Saat ini, Indah adalah kandidat satu-satunya. Wanita yang aku inginkan seperti dalam doaku. Shalihah lagi terjaga.

"Sedang apa Atta!" Aku melihat Attala yang duduk di teras rumahnya.

"Duduk, Mas" dia menggeser duduknya.
"Sedang muroja'ah hapalan Mas" dia mengangkat Al-Qur'an yang tadi dipegangnya.

"Ya, ayo kita Muroja'ah bareng kalau begitu" aku juga seorang hafidz Qur'an sejak lulus dari mondok.

Lalu mulai lah kami membaca ayat demi ayat dari Kalam_Nya. Hatiku selalu bergetar setiap kali membaca ayat suci ini. Ku dengar suara merdu Attala di samping menambah getaran di hatiku.
Setelah selesai Attala ke dalam mengambilkan teh hangat ditemani sepiring puding yang tadi dibawa mbak Dewi waktu berkunjung kesini. Mbak Dewi anak sulung Pakde Bowo. Beliau sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak.

"Monggo Mas, dicicipi" Attala mengangsurkan sepiring berisi puding kedepanku. Aku mencomot satu dan menikmatinya. Enak. Puding buatan Mbak Dewi selalu enak. Sejak kami kecil beliau suka membuatkan kami puding jika sedang ngumpul di rumah  Pakde Bowo.

"Kau, akan menetap disini, atau balik ke Bandung?"

"Belum tau, Mas. Jika dapat jodoh disini aku akan menetap disini"

"Berarti jika kau dapat jodoh di Bandung, kau akan menetap disana juga?"

"Insyaallah Mas"

"Attala, emm, Mas  insyaallah akan ta'aruf. Dan ingin meminta pendapatmu" aku sedikit kikuk membicarakan ini dengan Attala. Karena dia pun belum menikah alias jomblo pasti minim pengalaman.

"Masyaallah, sama siapa Mas?" Dia langsung duduk menghadapku. Yang tadinya duduk menyamping.

"Indah Pramuswati. Anak Pak Rt" akhirnya keluar juga nama itu dari mulutku.

"Barakallah Mas, aku ikut senang. Semoga Allah Swt mudahkan ya Mas" dia tersenyum tulus

"Aamiin. Tapi kalau Mas boleh minta pendapatmu, bagaimana calon yang Mas pilih?" Kini aku serius ingin mendengarkan pendapatnya.

"Maaf, Mas aku tidak begitu mengenal Indah. Yang sedikit ku tahu dia wanita baik-baik. Nasabnya juga baik. Mas ingatkan hadist ini. Rasulullah Saw bersabda:

نْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

(رواه البخاري و مسلم عن أبى هريرة)

Artinya :

Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung. (Dikutip dari kitab mukhtar al-hadits an-nabawi hal 63 n0 21.) (HR. Bukhori Dan Muslim).
Jadi, memilih karena agamanya adalah yang utama Mas"

"Iya Mas ingat. Insyaallah Mas sudah mempertimbangkan itu"

"Baguslah, Mas. Jika masih ragu, cobalah untuk solat istikharah" dia tersenyum dan melepas kacamatanya lalu meraih gelas berisi teh yang dari tadi kami abaikan. Kadang aku berpikir ketika melihat Attala. Bidadari dunia yang seperti apa yang kelak akan mendampinginya. Lelaki yang soleh, lembut, lagi sopan sepertinya. Beruntunglah wanita itu.

Setelah aku berdiskusi dengan Attala kemarin, aku memantapkan hati untuk datang ke rumah Pak Wardi, Ayahnya Indah sekaligus Pak Rt malam ini.

Sebelumnya, aku akan pulang  dulu ke rumah memberitahu Mbok dan Ratih. Bagaimanapun aku butuh restu dari Mbok.
Akupun pamit pada Pakde untuk pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, rumah terlihat sepi saja. Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tidak ada sahutan. Apa Mbok sedang tidur dan Ratih harusnya jam segini sudah pulang.

Kudorong pelan pintu di depanku. Namun, baru saja kaki beberapa langkah masuk. Aku disuguhi dengan pemandangan mengerikan. Rumah seperti kapal pecah. Dengan tissu bekas pakai yang berhamburan di ruang tamu. Lalu di kursi tampak sosok yang berbalut selimut. Aku mengira-ngira ini siapa? Aku melangkah sedikit lebih dekat.

"Ehem"
Tidak ada jawaban.

"Siapa, disana?" Aku sedikit mengeraskan suaraku.

Saat selimut itu tersibak muncul lah sosok yang tidak kalah mengerikan. Dengan rambut yang di kuncir asal dan separohnya terurai. Hidung merah, mata sembab. Seperti tomat masak.

"Apa! Kenapa melihatku seperti itu. Belum pernah lihat artis!" Dia mengangkat tinggi dagunya dan melebarkan matanya yang sudah bengkak itu.

"Coba kau berkaca sekarang, Nona. Apakah kau masih bisa sombong. Aku tidak lari saja melihatnya sudah syukur" aku ingin tertawa sebenarnya. Lihatlah! Betapa kacaunya penampilan dia saat ini. Kulihat dia menatapku sinis.

"Astagfirullah, ada apa ini?" Mbok keluar dari kamar dan melihat semua kekacauan ini.

"Nak, Grey. Allahu Akbar!" Mbok memegang dadanya. Pasti dia kaget sama sepertiku tadi bathinku.

"Nak, ini ada apa? Coba kau berkaca, Nak lihat wajahmu"

"Ada apa dengan wajahku Bu Minah?" Dia meraba-raba wajahnya.

"Tunggu sebentar, ibu ambilkan cermin" Mbok balik ke kamar. Tidak lama keluar lagi membawa cermin.
Lalu memberikan cermin itu pada Grey.

"Aaaaaakh"

"Astaga, aku terlihat seperti Zombie" dia mengusap maskaranya yang luntur. Mungkin akibat dia menangis tadi.
"Kau, pergilah!" Teriaknya kearahku.

Aku ingin tertawa sebenarnya, tapi khawatir dia tambah marah. Lalu aku  memilih berlalu masuk ke kamar.

********

Greysa Pov*

Tinggal seminggu lagi waktu cutiku disini. Setelahnya ku akan balik ke Jakarta. Tapi ada yang mengganggu pikiranku. Siapa lagi kalau bukan Attala. apa maksud perkataanya kemarin malam. Halal? Apakah itu maksudnya dia akan menikahiku? Duh ... kenapa aku mikirnya terlalu jauh. Kenal dekat juga belum. Masa iya langsung mau menikah. Tidak mungkin.
Sudahlah baiknya ku tanyakan Ratih saja nanti kalau dia sudah pulang mengajar.

Aku tiduran  telungkup di kasur sambil mengusap
Layar gawaiku. Biasa, menyapa penggemarku di akun resmiku. Saat aku sedang membuka-buka muncul berita terbaru. Aktor 'Alden Hanan' akan melepas masa lajangnya dengan menikahi kekasih yang telah 2 tahun di pacarinya.

Deg ....

Dia adalah mantan yang telah mengkhianatiku 2 tahun lalu. Juga aktor yang ku tolak saat ingin beradu peran denganku. Hatiku berdenyut sakit. Kenapa dia harus mengkhianatiku. Aku pun mulai menangis. Dan memilih menangis di ruang tamu agar tidak kedengarn Bu Minah di kamarnya
. Tapi saat itu Raziq datang. Pasti dia tertawa puas melihat penampilanku yang kacau. Aku terlihat sudah seperti Zombie. Aku saja ngeri melihat wajahku sendiri.
Lagi pula kenapa dia pulang tiba-tiba. Bukannya, sekarang dia tinggal di rumah Attala.

Malam ini, selepas solat magrib kami berkumpul di ruang tamu. Kulihat Raziq sudah rapi dengan baju koko berwarna biru langit dan celana kain. Aku melihatnya sekilas lalu beralih pada Bu Minah yang sudah rapi dengan gamis maroon dan kerudung senada. Hanya Ratih yang pakai baju santai dan aku tentunya.

"Sudah siap, ayo Ziq. Pakai motor saja ya" Bu Minah mulai beranjak dari duduknya.

"Emm. Ibu mau kemana?" Aku yan dari tadi penasaran untuk tidak bertanya.

"Ibu, mau kerumah Pak Wardi Nak, insyaallah mau meminta izin dan menemani Raziq
Bertemu Putrinya, Nak Indah"

"Maksudnya apa Bu?"

"Mas, ini mau taaruf Mbak Grey, insyaallah kalau jodoh akan menikah dengan Indah anak Pak Wardi"

Oh, jadi dia mau menikah. Kira-kira wanita seperti apa yang akan tahan dengan pria kutub itu.

"Oh, baguslah. Dengan begitu mungkin sikap dinginnya akan mencair" aku mencebikkan bibirku kearahnya. Dia hanya memasang wajah datar seperti biasa.

"Iya, semoga Nak Grey, juga segera ketemu jodohnya ya"? Bu Minah tersenyum.

"Iya, semoga jodoh yang soleh" aku berbalik kearah Raziq yang barusan ngomong.

Dia tidak melihat kearahku malah berlalu menuju pintu keluar.

Soleh itu  yang seperti dirimu maksudnya, seorang ustadz begitu?

Malam ini kami tinggal di rumah berdua dengan Ratih. Tidak berapa lama Bu Minah sudah pulang. Tapi tidak melihat Raziq. Apa dia menginap lagi di rumah Attala? Ah, ngapain juga mikirin dia.

Jam 22.00 aku merasa lapar dan ingin makan bakso yang tempo hari ku makan saat pergi bersama Ratih. Lumayan enak.

"Ratih, kau sudah tidur?"

"Belum Mbak, ada apa?"

"Maukah, kau menemaniku membeli bakso di tempat kita tempo hari?" Aku memandangnya penuh harap.

"Mbak, serius mau? Yaudah, sebentar saja ya mbak" aku segera menyambar sweter ku dan kami pun pergi ke tempat bakso.

Setelah selesai makan, ternyata sudah hampir jamn 23.00 malam. Aku sedikit bergidik ngeri karena jalan yang gelap. Ratih menggenggam tanganku dan mempercepat langkah kami.

dalam perjalanan ada dua laki-laki yang sedang nongkrong. Sepertinya mereka tengah meminum minuman keras. Terlihat dari botol yang mereka pegang. Aku sedikit gugup ketika melewati mereka.

"Hai!, ada gadis cantik ne malam-malam" dua pria itu berdiri mendekat kearah kami. Ratih sudah memelukku.

Lalu, sekejap saja mereka menyentak pegangan tanganku dan Ratih jadi terlepas. Aku kaget, begitupun Ratih yang sudah pucat.

Salah satu pemuda itu mendorong Ratih sampai dia jatuh terjerembab di tanah. Kemudian isakan Ratih terdengar. Aku yang melihatnya jadi emosi.

"Hei kalian! Jangan kasar dengan perempuan!" Aku berteriak pada dua pria yang sudah mabuk itu.

"Wah,  Bro. Cantik-cantik galak rupanya" lalu mereka tertawa dan berjalan mendekat kearahku. Aku siaga memasang kuda-kuda. Jangan lupakan kalau aku juga bisa bela diri karate.

Mereka mulai tampak beringas, aku yang  melihatnya  hanya  mampu meneguk salivaku sendiri tidak yakin bisa mengalahkan. Mereka. Namun aku tidak mau menyerah begitu saja.

Saat salah satu dari mereka ingin meraih tanganku. Dengan cepas kutepis dan melayangkan pukulanku tepat mengenai rahangnya,

Bugh

Dia pun mengerang dan mundur beberapa langkah. Melihat itu pria yang lebih pendek maju menyerangku. Dia melayangkan tendangannya kearahku. Aku mengelak kesamping tetap waspada. Lalu mereka berdua maju bersamaan. Pria tinggi kembali menyerangku, sekali lagi aku mampu menangkis serangannya. Tapi aku lengah pada pria yang lebih pendek hingga tendangannya mengenai rusukku. Aku terjatuh disusul teriakan Ratih.

Ya Tuhan ...kurasakan sakitnya sepertinya rusukku patah. Aku meringis menahan sakitnya. Kupejamkan mata, lalu terbayang waja Mami dan Papi. Tidak, kami tidak boleh berakhir ditangan dua pria mabuk ini. Aku mencoba bangun. Dengan salah satu tangan memegangi bagian tubuhku yang terkena tendangan tadi. Aku menarik nafas. Lalu bersiap dengan serangan selanjutnya. Mereka semakin membabi buta menyerang. Aku yang kewalahan tetap bertahan dan memberikan perlawanan sebisaku.

Bugh.

Kurasakan darah segar mengalir dari bibirku. Aku terhuyung kebelakang. Saat itu itulah aku lengah dan kurasakan benda tajam menusuk perutku. Lalu aku limbung ke tanah.

"Allahu akbar! Mbak Grey!"kudengar teriakan Ratih dan dia berlari menghampiriku dengan tangan gemetar dia memeriksa lukaku.

"Mbak, kau tertusuk" Kurasakan Ratih mendekapku erat. Darah sudah mengalir membasahi bajuku. Aku mengerang menahan sakit yang menjalar diseluruh tubuh. Ingin bangun tapi tubuhku terasa sangat lemah.

"Kalian, berhenti!"

 Kudengar suara yang familiar.
Lalu disusul suara gaduh perkelahian.

Bagh bugh ...

Setengah sadar aku melihat sosok yang berlari mendekatiku. Aku mencoba melebarkan mataku ingin melihat sosok yang saat ini didepan ku.

RAZIQ

"Nona, bertahanlah, kumohon tetap buka matamu. Jangan tidur"

Dia membuka jaketnya dan meminta Ratih tetap menekan lukaku. Lalu dia menyeka darah yang keluar dari bibirku dengan lengan bajunya.

"Ku mohon, Nona. Bertahanlah. Sekali ini saja"
wajahnya berubah pucat. Kulihat pelipisnya juga mengeluarkan darah mengalir hingga ke pipinya. Pandanganku kian kabur. Kurasakan tubuhku pun mulai dingin. Inikah saatnya aku pergi? Mami, Papi, maafkan Grey.

Bersambung #AMK5
 
Top