By: Nelliya Azzahra

Jodoh laksana cerminan diri. Seperti apa kualitas diri kita, begitu pun jodoh kita. Jika menginginkan jodoh layaknya Fatimah Az-azzahra putri Rasulullah Saw, maka kita harus bisa meng-Ali bin Abi Thalib kan diri kita dulu. Menginginkan jodoh yang soleh/shalihah namum usaha memperbaiki diri tiada, ibarat 'Pungguk Merindukan Bulan' hanya sebatas
angan-angan yan tidak diiringi dengan usaha.

Allah Swt mengingatkan kita dalam firmannya.
ุงَู„ْุฎู€َุจِูŠู€ْุซู€ู€ุงَุชُ ู„ِู„ْุฎَุจِูŠْุซู€ِูŠْู†َ ูˆَ ุงْู„ุฎَุจِูŠْุซُู€ู€ูˆْู†َ ู„ِู„ْุฎَุจِูŠْุซุงَุชِ ูˆَ ุงู„ุทَّูŠِّุจَุงุชُ ู„ِู„ุทَّูŠِّุจِูŠْู†َ ูˆَ ุงู„ุทَّูŠِّุจُูˆْู†َ ู„ِู„ุทَّูŠِّุจَุงุชِ.
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (QS. An Nur:26).

Dalam sistem yang bukan sistem Islam seperti saat ini kita butuh usaha keras untuk membina diri kita hingga layak Allah Swt pilihkan jodoh yang terbaik. Menikah, insyaallah kita semua akan menikah. Karena Allah Swt menciptakan manusia itu berpasangan. Namun menikah dan jodoh seperti apa yang bisa membawa kita mencapai tujuan-tujuan dari pernikahan. Ikhitiar dan tawakal, siapkan jodoh untuk bisa berjalan bersama dalam mencapai tujuan-tujuan itu.

~ SURABAYA ~

"AKU MAU KOK JADI SHALIHAH!"

Seketika aku menutup mulutku dengan kedua tangan.

"Mbak, Grey, ngomong apa?" Ratih yang melihat kearahku dengan tatapan heran.

"Ya, itu saya hanya bicara asal" fiuh. Kenapa aku jadi konyol begini. Aku berdehem untuk mencairkan suasan yang kubuat jadi aneh.

"Lagi latihan dialog, ya Nak Grey?" Aku tersenyum kikuk mendengar pertanyaan Bu Minah barusan.

"Mbok, Raziq izin menginap di rumah Pakde untuk sementara. Lebih aman disini" dia melirikku, aku yang melihatnya segera membung muka. Ya, tinggal saja disini. Biar telingaku tidak panas mendengar ocehannya jika di rumah.

Tidak berapa lama kami bertiga pun pamit. Sebelum pergi sempat ku lihat Attala tersenyum manis kearah kami. Ya Tuhan .... pria ini apa sebenarnya yang membuat dia istimewa di mataku. Aku tidak sedang jatuh cinta kan? Tapi kenapa detak jantung ini seakan berlompatan.

Dari tadi dia hanya diam saja. Aku tidak mungkin harus agresif. Apa pun rasa ini, sepertinya dia mampu menghidupkan hatiku yang 2 tahun ini layu. Aku memang belum ada pikiran untuk menikah. Karir ku lebih penting diatas segalanya. Apalagi sekarang terbentang jalan untuk go internasional. Yang benar saja, jika aku menikah bisa-bisa karir ku terhambat.

'Attala' kenapa aku terus menyebut namanya, Ah Grey ada apa kau ini?

Raziq Pov*

Aku memilih untuk tinggal di rumah Pakde. Ini keputusan yang ku ambil setelah kejadian di kebun tebu waktu itu. Insyallah ini lebih aman untuk kami. Terutama untuk hatiku. Lagi pula disini ada Attala.  Aku jadi ada teman untuk diskusi Islam.
Aku bisa tidur di kamar tamu Pakde.
Aku segera bersiap untuk solat magrib dan mengisi kajian setelahnya.

Tok ...tok ...
"Assalamualaikum, Mas!"

"Walaikumsalam, masuk saja tidak ku kunci"

Cklek. Attala muncul dan berjalan mendekati ranjangku.

"Mas. Masih ngajar di Pesantren?" Dia menarik salah satu kursi yang terdapat di sebelah ranjang.

"Masih"

"Mas, Mbak Greysa itu bukannya artis?"

"Iya. Aku juga mas bingung, kenapa dia bisa berada disini. Kenapa? Apakah kau tertarik dengannya?" Aku melihat Attala yang sudah rapi dengan baju koko dan celana kain serta peci. Dari kecil kami tumbuh bersama. Attala laki-laki yang baik. Anak Pakde ku ini selalu bisa menjaga emosinya dengan baik. Bahkan, nyaris aku tidak pernah melihatnya marah. Pembawaanya yang kalem, mampu membius kaum hawa untuk memikat hatinya. Tapi sampai saat ini, dia belum menentukan pilihan hatinya. Kalau ditanya kapan? Jawabnya " Mas saja yang duluan" lalu diakhiri dengan tawa kami.
Sebagai anak lelaki Pakde satu-satunya, tentu Attala akan meneruskan usaha Pakde sebagai pengusaha tekstil. Atau bisa saja Attala punya pilihan lain.

"Sudah fitrahnya lelaki cenderung pada yang cantik, Mas" dia menampilkan senyumnya..

"Apa itu artinya kau, benar menyukainya?"kini aku yang dibuat penasaran.

"Allah yang kuasa membolak-balikkan hati, Mas"

"Iya, jika kau serius. Rubahlah dia dulu. Bukankah kau menginginkan wanita yang shalihah. Kau lihat sendiri penampilannya. Dan jangan lupakan bagaimana kehidupan seorang artis" aku mencoba mengingatkan konsekuensinya.

"Insyaallah, Mas. Menurut ku kenapa dia seperti itu, karena 2 hal. Pertama dia memang belum tahu Islam itu seperti apa, artinya dia hanya berstastus Islam tapi dia belum tahu kewajibannya sebagi seorang muslim itu seperti apa. Bisa jadi karena faktor dia tidak mau mencari tahu atau seruan itu belum sampai kepadanya. Ke-2, karena dia tidak mau tahu. Meski seruan itu sudah sampai tapi dia sudah terlanjur nyaman dengan keadaannya saat ini. Sulit untuk hijrah menuju Islam kaffah. Kalau menurut Mas, Raziq dari kedua kemungkinan ini, dia yang mana kira-kira Mas?" Inilah yang kusuka dengan Attala, dia teman diskusi yang menyenangkan. Karena kecerdasannya dan tsaqofah Islamnya. Meski dia bukan lulusan pondok pesantren sepertiku, tapi jangan ragukan kemampuan ilmu Agamanya. dia juga merupakan salah satu aktifis dakwah di kampusnya.

"Entahlah, Mas takut untuk menyelami lebih jauh. Bisa saja keduanya. Setiap Mas memintanya menutup aurat selalu saja dia membantah. Tinggal serumah, dengan stastus yang tidak halal membuat Mas, kesulitan menjaga hati"

"Mas, akan jadi ladang  pahala itu jika mampu membimbingnya, insyaallah akan jadi amal jariyah" Attala menepuk-nepuk pundakku sambil tersenyum.

"Tafadhol, Mas, tidak ingin mempertaruhkan hati mas untuk itu" sudah cukup sekali aku gagal. Merasakan sakitnya kehilangan, aku tidak ingin mempertaruhkan hatiku untuk sesuatu yang tidak pasti bisa kuraih.

"Ayo, Mas. Keluar dari zona aman. Bismillah semoga dimudahkan Allah, suatu niat baik. Nanti keburu disambar yang lain. Termasuk saya mungkin?"
lalu kami pun tertawa bersama. Obrolan kami berakhir saat terdengar suara adzan magrib. Kami pun bergegas ke masjid untuk memenuhi seruan_Nya.

*****
Dirumah Bu Minah*

"Ratih" aku yang tadi tiduran di atas kasur segera  duduk dan mengambil bantal yang kuletakkan di atas pangkuanku.

"Iya Mbak, Grey" Ratih ikut duduk diatas kasur disebelahku.

"Emm, perempuan shalihah itu yang seperti apa?" Aku ingin tahu wanita seperti apa yang di idamkan Attala untuk jadi istrinya.

"Shalihah itu gelar yang disematkan kepada setiap Muslimah yang mampu taat menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan yang telah Allah Swt tentukan, Mbak. Terikat dengan hukum syara' dalam lini kehidupannya. Mereka berislam dengan Islam yang yang kaffah atau menyeluruh. Maksudnya tidak setengah-setengah. Sehingga dia mampu meraih ridho Allah  Swt dengan jalan itu" Ratih dengan menjelaskan dengan antusias.

"Apakah itu sulit?"

Ratih merubah duduknya jadi menghadapku.
"Mbak, insyaallah tidak ada yang sulit jika kita melakukannya dengan niat karena Allah Swt. Mungkin awalnya terasa berat, namun seiring waktu kita akan merasa ringan. Karena yang kita lakukan untuk Pencipta kita. Allah itu Maha Arrahman dan Rahiim. Insyaallah setiap Hamba yang akan mendekat kepada_Nya. Dengan kecintaan_Nya. Akan dimudahkan. Kenapa mbak Grey, tanya seperti ini?"

"Ah, tidak. Aku hanya ingin tahu saja" aku tersenyum kikuk. Penjelasan Ratih tadi sedikit menyentuh hatiku. Tapi berat rasanya meninggalkan apa yang kumiliki saat ini. Mungkin aku belum siap.

"Semoga kita menjadi wanita-wanita yang shalihah ya, Mbak. Dan berusaha untuk melayakkan diri kita untuk gelar itu" Ratih meremas pelan tanganku. Seperti menyalurkan kekuatan dan dukungan lewat tangannya.

"Mbak, ayo kita siap-siap ke Masjid, malam ini kan malam jum'at. Mas Raziq akan ngisi kajian selepas solat isya" Ratih segera turun dari ranjang menuju lemari untuk berganti baju.

"Apakah Attala juga ada?" Ups kelepasan.

Ratih berbalik dan mengerutkan keningnya. Sudahlah Grey, habis sudah.

"Biasanya kalau disini Mas Attala selalu ke Masjid, Mbak. Apakah Mbak Grey, tertarik dengan Mas Attala?" Ratih malah cekikikan.

"Becanda Mbak, Mbak kan artis terkenal, ya Mana level sama Mas Attala atau Mas Raziq, ya toh Mbak"

Huft selamat. Aku hanya tersenyum dan segera bersiap.

"Ratih, bolehkah aku pinjam kerudung dan gamismu!" Aku ingin Attala melihatku dengan penampilan berbeda.

"Masyaallah, boleh banget Mbak. Ini ada gamis dan kerudung satu set" Ratih mengeluarkannya dari dalam lemari.
"Ini masih baru Mbak, belum pernah dipakai. Buat Mbak Grey, saja ya. Semoga mbak suka" kulihat mata Ratih berkaca-kaca.

aku menatap gamis berwarna hijau pupus yang berada di tangan Ratih. tanganku pun terulur untuk meraihnya. Benarkah aku sudah siap memakai ini? Tidak. Ini hanya untuk Attala saja. Mungkin aku terlalu naif, berusaha menjadi orang lain untuk menarik perhatiannya. Tapi tidak ada salahnya ku coba.

"Terima kasih ya, Ratih" aku memeluk Ratih. Kurasakan Ratih balas memelukku.

Aku mengayun langkah, berjalan keluar menuju Masjid bersama Ratih dan Bu Minah. Memakai gamis dan kerudung yang diberikan Ratih tadi. Kesan pertama yang kurasakan adalah kenyamanan. Walau terasa agak gerah. Mungkin karena belum terbiasa.

Benar saja, setelah sampai aku diam-diam mengintip kedepan, kulihat Attala tengah duduk di samping Raziq. Mereka memiliki aura yang berbeda. Kalau Attala mirip Aktor Hamas Syahid, Raziq terlihat lebih mirip Dokter Adit Surya Pratama.

acara mengintipku harus terganggu, karena Ratih mengingatkan kalau solat magrib akan segera dimulai.

"Assalamualaikum, Bapak-Bapak dan ibu-ibu Sekalin" ki dengar suara lantang Raziq dari microfon. Aku yang sudah kegerahan mencoba bertahan untuk tidak melepas kerudungku. Tahan Grey, Attala belum lihat penampilan kamu. Aku menyemangati diri sendiri.

"Ketika kita melakukan suatu amalan baik. Niatnya harus ikhlas karena Allah. Karena itu rukun diterimanya amalan kita. Dalam sebuah hadist Rasulullah mengingatkan kita untuk senantiasa ikhlas.

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฅู†َّู…َุง ุงู„ุฃุนู…َุงู„ ุจุงู„ู†ِّูŠَّุงุชِ ูˆุฅِู†َّู…ุง ู„ِูƒُู„ِّ ุงู…ุฑูŠุกٍ ู…ุง ู†َูˆَู‰ ูَู…َู†ْ ูƒَุงู†َุชْ ู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆุฑَุณُูˆู„ِู‡ِ ูู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆุฑَุณُูˆْู„ِู‡ِ ูˆู…َู†ْ ูƒَุงู†َุชْ ู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ู„ِุฏُู†ْูŠَุง ูŠُุตِูŠْุจُู‡ุง ุฃูˆ ุงู…ุฑุฃุฉٍ ูŠَู†ْูƒِุญُู‡َุง ูู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ุฅู„ู‰ ู…ุง ู‡َุงุฌَุฑَ ุฅู„ูŠู‡ِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Niat, jadi amalan itu tergantung niatnya, bathinku. Lalu, yang kulakukan sekarang apa? Ah, sudahlah aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi. Setelah selesai aku bergegas keluar masjid bersama Ratih. Bu Minah tampak masih mengobrol dengan Ibu-ibu yang lain. Sengaja aku berdiri di jalan menunggu Attala keluar. Benar saja, tidak lama tampak Attala dan Raziq keluar dari Masjid.

"Assalamualaikum, Mas" Ratih sudah duluan menyapa mereka.

"Walaikumsalam" Jawab mereka  bersama.

Dag. Dig. Dug
Aku menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Berusaha untuk menetralkan detak jantungku.

"Attala, apakah aku cocok memakai pakaian ini?" Aku menarik-narik ujung kerudungku meminta pendapatnya. Dalam hati berdoa semoga saja dia suka.

"Cocok Mbak, setiap Muslimah cocok memakainya. Karena itu pakaian yang diwajibkan atas mereka" lalu dia tersenyum lembut. Sungguh senyum itu bak oase ditengah gurun pasir. Ingin rasanya mereguk sepuasnya.

Ingin rasanya aku melompat kegirangan, jika saja tidak malu. Tidak sia-sia ternyata usahaku menahan gerah dari tadi.

"Semoga, Nona bisa istiqomah" aku melirik Raziq. Tapi ada yang berbeda. Aura dinginnya tidak ada kali ini di wajahnya. Dia tersenyum. Ah, aku baru sadar jika Raziq memiliki senyum yang jauh lebih manis.  Mungkin karena selama ini dia selalu memasang wajah dingin kala di depanku.

"Istiqomah itu maksudnya apa?"

"Istiqomah, artinya konsisten, Mbak Grey. Semoga Mbak konsisten ya memakai pakaian ini" Ratih menunjuk kerudung dan gamisku.

"Iya, semoga saja. Emm, itu,  apakah artinya. Aku bisa untuk dekat denganmu?" Aku menunjuk  kearah Attala yang berdiri beberapa jarak di depanku.

"Maksudnya, Mbak?" Dia membuka kacamatanya dan mengosokkan sebentar lalu memakainya kembali.
"Maksud, Mbak, dekat yang seperti apa?"

"Emm ... berteman mungkin"

Dia hanya menanggapi dengan senyuman. Jawaban macam apa itu bathinku. 'Iya' atau 'tidak' sih maksudnya.

"Saya, lebih memilih menjalin persahabatan setelah halal saja dengan Mbak, Greysa. Permisi Mbak kami duluan assalamualaikum" dia pun meninggalkan aku dan Ratih. Aku yang terhenyak atas jawabannya. HALAL apa maksudnya???

BERSAMBUNG

~ kira-kira apa maksud perkataan Attala ya? Dan pesona Raziq mampukah mengalihkan Greysa ~

#Amk
 
Top