By: Nelliya Azzahra

Attala, pemuda dengan karakter lembut dan ramah itu sudah mengetahui niat Greysa untuk hijrah menjadi muslimah yang taat akan agama_Nya, pasca lamarannya yang sudah diterima keluarga Greysa. Attala merasa
tidak salah  mengambil keputusan untuk meminang dara jelita itu. Karena Greysa ternyata wanita yang memiliki hati yang lembut, insyaallah menambah semangat Attala untuk segera menghalalkannya dan membimbingnya sebagai seorang Imam. Status Greysa  yang seorang artis tidaklah menjadi masalah untuknya.

Bukan Attala tidak tahu kehidupan sebagai seorang artis, hanya saja setiap orang berhak memilih untuk masa depannya.
Karena Allah Swt sendiri Maha Pengampun atas setiap hamba yang tidak menyekutukan_Nya. Attala dan keluarganya bukan orang yang berfikir picik dengan menghakimi orang lewat masa lalunya. Bagi mereka, niat Greysa untuk memperbaiki diri layak untuk diapresiasi.

Pagi ini saat Attala sedang membaca kitab tentang sepuluh sahabat Rasulullah Saw yang mendapatkan jaminan untuk masuk Surga di kamarnya, terdengat suara pintu. Tidak lama terdengar suara Bu Ningsih dari luar meminta izin untuk masuk ke kamarnya.

Attala segera menghentikan aktivitas membacanya dan berjalan untuk membuka pintu, ternyata Ibu Ningsih meminta Attala untuk menghubungi Greysa, memintanya untuk datang malam ini ke rumah mereka.
Attala awalnya merasa sedikit gugup ketika menekan nomor Greysa. Jantungnya seakan bertalu-talu mendengar suara gadis disebrang sana.
Namun, Attala adalah orang yang selalu bisa mengusai keadaan.
Selesai menyampaikan pesan dari Bu Ningsih yang meminta Greysa datang malam ini. Dan mendengar jawaban Greysa, segera Attala memutuskan sambungan telfonnya setelah mengucapkan salam. Dia khawatir tidak bisa menjaga hatinya jika lebih lama mendengar suara lembut milik calon istrinya itu.

Rasa suka ini membuat Attala seakan terbakar, Attala bukan tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Dulu dia pernah merasakan pada salah satu gadis berkerudung lebar di kampusnya. Dia mengagumi gadis manis nan salihah itu. Gadis itu juga merupakan salah satu aktivis dakwah di kampusnya. Dia sering melihatnya mengisi seminar kajian Islam atau sekedar diskusi bareng temen-temen sesama muslimah. Tetapi perasaan itu tidak pertahan lama. Attala selalu menyibukkan dirinya dengan aktivitas dakwah di dalam maupun diluar kampus. Atau pun saat waktu luang, Attala lebih suka menghabiskan waktu diperpustakaan atau toko buku untuk membaca. Jadi rasa pada gadis itu hilang dengan sendirinya.

Entahlah, Attala pun bingung menyebut rasa itu apa namanya.
Berbeda dengan kali ini. Perasaan sukanya kepada Greysa sangat kuat seperti magnet yang berbeda kutub, tarik-menarik. Setiap nama Greysa disebut, jantungnya langsung berpacu. Senyumnya lansung merekah. Seolah Greysa adalah ke indahan dalam hidupnya.

Itu juga yang membuat Attala mantap membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan. Dia tidak ingin rasa terhadap Greysa nantinya malah jadi boomerang untuk mereka.
Attala ingin tetap menjaga kemurnian rasa ini hingga halal nantinya.
****

Raziq baru saja mengikuti kajian Islam di masjid Al-Akbar, salah satu masjid yang terdapat di Kota Surabaya.
Tadi dia berangkat bakda subuh agar tidak telat sampai kesana.
Ternyata, selesai acara dia juga bertemu dengan Indah beserta Bapak dan Uminya.
Melihat calon mertuanya itu membuat Raziq berjalan mendekati mereka yang berdiri di dekat pintu keluar masjid.

"Assalamualaikum" Raziq mengucapkan salam kepada tiga orang tersebut.

"Walaikumsalam" mereka kompak menoleh.

"Loh, Raziq ikut juga, toh"

"Iya, Pak tadi bakda subuh saya berangkat" Raziq pun menyalami kedua orangtua Indah.
Indah yang mengapit lengan Uminya tampak hanya menunduk.

"Sendirian, saja Raziq kesini?" Tanya Umi Indah

"Iya, Bu. Tadi Mbok sedang kurang sehat. Sehingga hanya saya yang pergi" Raziq menjelaskan.

"Apa mau pulang sama kami?" Pak wardi menawarkan

"Tidak usah, Pak. Mutursuwun. Saya bawa mobil sendiri kok" Raziq menunjuk mobilnya di  tempat parkir.

Merekapun mengikuti arah telunjuk Raziq.
"Oh ... ya wes kalau gitu, kami tak pulang duluan ya Raziq. Assalamualaikum"

"Walaikumsalam. Iya Pak hati-hati"
Raziq memandangi punggung mereka yang melangkah ke luar masjid.

Indah beserta orangtuanya pun berjalan keluar menuju mobil mereka di tempat parkir.
Setelah mobil mereka bergerak meninggalkan area masjid, Raziq belum juga bergeming dari tempatnya.
Raziq malah duduk di dekat mimbar dan membaca Al-Qur'an.
Sebelum pulang, Raziq berniat membeli beberapa buku dulu.
Semoga saja dia tidak sampai kemalaman saat pulang nanti.
Selepas solat dzuhur, Raziq segera bersiap-siap meninggalkan masjid dan menuju toko buku untuk membeli beberapa buku untuknya dan buku pesana Ratih.

Saat, Raziq sampai disalah satu toko buku tempat dia biasa membeli kitab-kitab, segera Raziq memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam.

Tanpa Raziq sadari, seorang perempuan cantik dengan pakaian yang sedikit terbuka tengah memperhatikannya yang sedang memilih-milih buku.  Rupanya perempuan itu sudah memperhatikan Raziq sejak pertama dia masuk toko. Pandangannya tidak lepas dari gerak-gerik Raziq.

Akhirnya dengan langkah anggun dan senyum yang menggoda, perempuan  itu berjalan mendekati Raziq. Raziq yang belum menyadari kehadirannya masih fokus memilih buku.

"Hai!"

Perempuan itu menyapa Raziq yang terlihat cuek.

Raziq hanya menatap sekilas, lalu beralih pada deretan buku-buku yang tersusun rapi di rak.
Merasa dicueki, perempuan itu tidak terima. Dia lalu menyentak lengan Raziq dan menatapnya dengan alis bertaut.

Raziq yang kaget refleks saja menarik tangannya.

"Kenapa, Nona? Apakah saya mengganggu anda!"

Muka wanita itu tampak keruh. Tidak menyangka ternyata pemuda tampan di hadapannya sangat dingin dan cuek.

"Aku, Paula"

"Bisakah, tidak mengabaikanku?" Pintanya manja.

Raziq segera memalingkan wajahnya. Dalam hati dia ingin segera pergi dari sana.

"Maaf, jika tidak ada urusan yang lebih penting saya permisi" Raziq mengambil beberapa buku dan berniat untuk membayarnya ke kasir. Namun, baru beberapa langkah dia mendengar teriakan yang berasal dari perempuan tadi.

"TOLONG! DIA MELECEHKANKU!" Tuduhnya.

Raziq dan beberapa pengunjung di toko pun refleks melihat kearah wanita itu. Berapa terkejutnya Raziq saat melihat lengan baju wanita itu tersobek, menampakkan kulit putihnya. Sadar dengan apa yang barusan dilihatnya, Raziq segera berpaling ke sembarang arah.

Seorang satpam dan beberapa pengunjung perempuan pun menghampiri wanita itu yang kini tengah menangis histeris. Sedangkan yang lain memperhatikan dari tempat mereka. Sekarang mereka tengah jadi tontonan.

"Maaf Mbak, siapa yang telah melecehkan anda?" Satpam yang bertubuh besar tinggi dengan kumis tebal itu memulai introgasinya. Karena dia tahu tugasnya adalah menjaga keamanan, termasuk keamanan pengunjung.

"DIA!" pekik wanita itu dengan jari telunjuk mengarah pada Raziq. Raziq yang sadar arah tunjukan wanita itu pun menjadi bingung. Dia merasa tidak melakukan hal tidak terpuji tersebut.
Raziq memicingkan matanya, dalam hati itu mulai beristigfar.

Dengan langkah besarnya satpam tadi menghampiri Raziq dan mencekal tangannya. Kontan saja buku yang dipegang Raziq berjatuhan ke lantai. Raziq menjadi bertambah bingung.

"Apa benar Mas yang dikatakan, Nona itu?" Dengan tegas satpam bertanya pada Raziq yang masih dalam cekalannya tangannya.

"Tolong, lepaskan dulu tangan saya!" Raziq menatap tajam satpam tersebut. Mendapat tatapan tajam dari Raziq, refleks cekalan tangannya pada tangan Raziq pun terlepas.

"Saya, tidak melakukan apa pun pada wanita itu" jawab Raziq tegas.

"Tapi, Nona itu mengatakan Mas telah melecehkannya!" Satpam itu menunjuk pada Paula yang menunduk.

"Demi Allah! Saya tidak melakukan itu. Jika tidak percaya mari sama-sama kita cek rekaman CCTV di toko ini"

Raziq tidak ingin terlibat lebih jauh dalam fitnah yang dibuat wanita itu. Seumur hidupnya Raziq tidak pernah melakukan perbuatan nista seperti yang dituduhkan kepadanya barusan. Raziq pun heran apa motif sebenarnya wanita itu sampai memfitnahnya seperti ini. Lalu, Raziq mengulangi lagi istigfarnya. Adakah ia sedang ditegur Allah Swt sekarang? Diakibatkan dosa-dosanya.

Sementara wanita cantik itu tampak gusar saat mendengar Raziq menyebut kata CCTV. Dia tahu kebohongannya pasti akan terbongkar. Wanita cantik yang bernama Paula tersebut sebenarnya spontan saja melakukan tindakan ini. Dia merasa kesal dengan Raziq yang tidak menggubrisnya. Dia yang tidak pernah diabaikan oleh laki-lai selama ini merasa terhina. Lagi pula, Paula sudah jatuh hati saat pertama melihat Raziq masuk toko tadi.  wajah tampan, serta pembawaan Raziq yang tenang bak magic yang mampu mambiusnya. Jadilah, muncul ide gila itu ketika Raziq tidak sedikitpun menanggapinya.

Pengunjung dan pegawai sudah berkumpul untuk memeriksa CCTV lewat komputer di toko ini.
Paula mulai berpikiran negatif. Bagaimana nanti jika kebenaranya terungkap, akankah dia dituduh atas pencemaran nama baik? Membayangkan itu membuat tubuh mungilnya menggigil, keringat sebesar biji jagung mulai keluar.

"Ayo, kita cek sekarang.  Mari Mbak dan Mas ikut kami" seorang pegawai toko dengan sopan meminta Raziq dan Paula untuk ikut serta melihat CCTV.

Paula menggeleng, dia harus segera menyudahi sandiwara ini. Jika tidak, entahlah nanti apa yang akan terjadi.

"Tidak!" Semua orang kini menatap heran ke arah Paula.

"Sa-ya, mengaku sa-lah" ucapnya terbata

"Apa, maksudnya Nona" satpam itu pun dibuatnya bingung sekarang.

"Saya sendiri yang merobek baju saya. Mas itu tidak melecehkan saya" Paula tertunduk, merasa malu, bersalah dan takut.

Orang-orang yang tadi menaruh simpati padanya kini berbalik mencibirnya. Dan
Raziq yang melihat itu tidak tinggal diam. Dia segera maju mendekat diantara orang yang masih berkumpul.

"Sudah dengar, semua! Bahwa saya tidak bersalah" ucap Raziq lantang
"Dan, untuk anda Nona, insyaallah sudah saya maafkan. Harap kedepannya, anda tidak mudah menebar fitnah kepada siapa pun. Karena menyebar fitnah adalah perbuatan dosa. Betapa dahsyatnya bahaya fitnah ini. Fitnah hanya menimbukan keburukan dan kerusakan di muka bumi ini" semua pasang mata memperhatikan ucapan Raziq barusan. Ada yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ada juga yang hanya memasang wajah datar. Selesai menjelaskan semua, Raziq berjalan untuk mengambil buku-bukunya yang tadi berserakan di lantai. Kemudian membawanya menuju kasir.

++++++

Setelah meminta maaf, Paula pun pamit. Dia tidak menyangka Raziq dengan mudah memaafkan perbuatannya, padahal dia sudah jelas-jelas menuduh dan mempermalukan laki-laki itu. Ada pelajaran yang bisa diambil Paula hari ini. Seperti yang disampaikan Raziq kepadanya tadi sesaat sebelum Raziq meninggalkan toko. Bahwa fitnah wanita itu sangat berbahaya. Apa lagi dia melihat penampilannya saat ini yang bisa saja mengundang syahwat kaum adam. Sehingga bukan saja dirinya yang berdosa. Dia pun menyiksa laki-laki dalam mengendalikan syahwatnya.
Paula merasa tertampar keras. Dalam hati dia berjanji akan menjaga dirinya dari segala fitnah.



adakah yang kangen cerita ini😊
#AmK
 
Top