Oleh: Fatimah FA


Livi Zheng bersiap membuat gebrakan baru dengan menggarap film yang berjudul The Santri. Film ini akan mengangkat petualangan santri Indonesia sampai di Amerika Serikat.

Film tersebut produksinya bekerja sama dengan pihak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). The Santri akan diperankan Gus Azmi, Veve Zulfikar, Wirda Mansur dan Emil Dardak.

Livi pun mengaku bangga karena bisa menyutradarai The Santri. "Ketika diminta menyutradarai film 'The Santri', sebuah kebanggaan. Sejarah Indonesia tidak lepas dari sejarah santri. Lalu ini mengangkat keragaman budaya Indonesia," ujar Livi dalam konferensi pers di kantor PBNU, Jakarta pada (Senin 9 September 2019, indozone.id).

Film merupakan salah satu media yang bisa memberikan pengaruh ditengah-tengah masyarakat saat ini. Tentu perfilman yang ada  di tanah air  seharusnya mampu membawa pengaruh yang baik agar dapat terbentuk masyarakat yang ideal dalam menyokong perkembangan dan kemajuan negaranya

 Namun, bagaimana jadinya jika sang sutradara yang notabene bukan beragama Islam mampu memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. Islam merupakan agama yang menyeluruh, tidak satupun aturan yang luput darinya. Dari hal kecil hingga terbesar, dari urusan rumah hingga urusan negara.

Film The Santri yang sebenarnya masih akan tayang di malam peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2019, karya PBNU lewat kerja sama dengan Livi Zheng, namun trailernya sudah tayang semalam, Senin (9/9/2019). Hal itu diketahui lewat akun facebook Livi yang mengatakan, “Nantikan trailer film The Santri akan di rilis besok malam (Senin malam),” tulis Livi Zheng di laman facebooknya pada, Minggu (8/9/2019).[
Satrinow.com]

Pesantren merupakan tempat para santri untuk menimba dan mendalami ilmu agama. Suasana pesantren yang terlihat dalam trailer film the santri menyuguhi kebebasan yang jauh dari tuntunan agama Islam.

Liberalisasi perfilman kian marak, salah satunya dari film tersebut. Bagaimana mungkin seseorang santri bisa berdua-duaan dengan seorang yang bukan mahramnya.

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يخلون بامرأة ليست معها ذو محرم منها فإن ثالثهما الشيطان
Artinya: Barangsiapa yang bermain pada Allah dan hari akhir maka hendaknya tidak berkhalwat dengan perempuan bukan mahram karena pihak ketiga adalah setan.[HR. Ahmad]

Terlebih pula, ketika toleransi dikaitkan dengan masuk ke dalam tempat ibadah agama lain. Alasan pengharamannya jelas sekali, yaitu kita dilarang ikut dalam peribadatan agama lain. Dan Allah SWT telah menegaskan hal ini dalam Al-Quran Al-Karim.

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun : 1-6)

Keharaman ini berangkat juga dari perkataan shahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu.

“Janganlah kalian memasuki tempat ibadah orang kafir pada saat mereka sedang merayakan hari agama mereka, karena kemarahan Allah akan turun kepada mereka.”

Begitu bahayanya jika film ini lanjut ditayangkan, karena bertentangan dengan aturan_Nya. Kerusakan akan semakin merebak jika negara*l juga tidak melakukan upaya dalam menyaring perfilman yang ada. Negara yang tak berlandaskan pada untung dan ruginya materil tapi lebih kepada halal dan haram.

Agama menjadi landasan dalam sistem, kehidupanlah yang mampu menyaring dan menjalankan segala sarana dan fasilitas untuk mencetak generasi bertakwa. Dan hanya khilafah Islamiyyah yang mampu membawa peran tersebut dan perubahan dalam dunia perfilman menjadi sesuai dengan syariat Islam.
Wallahu a'lam
 
Top