By: Nelliya Azzahra

Kota Jakarta pagi ini sedang di guyur hujan. Suasana yang dingin membuat sebagian orang betah berada di rumah. Aku yang sudah siap-siap ingin pergi ke kampus terpaksa tertunda menunggu hujan reda. Soalnya mobil dibawa Bang Dimas keluar kota. Papa sendiri sudah pergi dari pagi.

Aku biasa di antar jemput oleh Ivan. Tapi sejak tercetus ide perjodohan itu Mama jadi melarang aku untuk sering bertemu Ivan.
Aneh. Orang bisa berubah dalam waktu seketika. Dulu Mama tidak se-ekstrim ini melarang hubunganku dengan Ivan. Ini semua, pasti karena pengaruh Om-om itu.

"Dinda, nanti pulang kuliah jam berapa"? Aku menoleh pada Mama yang berjalan kearahku dengan membawa sepiring camilan dan menaruhnya di atas meja sofa.

"Paling lama jam dua Ma. Ma, kenapa sih larang-larang Dinda sama Ivan? Gak Asyik tau, Ma" aku memasang wajah cemberut kearah Mama yang malah kekehanya yang terdengar.

"Ya, kamu kan sudah mau jadi istri orang, sudah seharusnyalah gak berhubungan dengan laki-laki lain"

"MA!" Aku melihat Mama mengusap telinganya.

"Dinda, gak usah teriak. Mama kan di samping kamu" protesnya padaku.
Aku hanya tersenym lebar.

"Pokoknya, kalau perlu kamu segera putus sekarang juga. Gak ada baiknya juga sayang menjalin hubungan yang bisa mengundang murka Allah"

"Gak mau! Udah Ma, Dinda malas bahas ini lagi" aku memutar bola mataku malas kalau sudah membahas hal ini lagi dan lagi.
Enak aja minta putus sama Ivan. Aku kan sudah terlanjur sayang.

"Nanti malam Om Arga mau datang kerumah" Mama terlihat mulai serius.
"supaya gak telat pulangnya, biar Bang Dimas yang jemput, ya" aku hanya mengangguk patuh. Percuma mau bantah pun Mama tidak akan mendengar.
Akhirnya aku ke kampus dijemput Abel sahabat ku sejak SMA. Kami juga satu kampus dan kebetulan satu jurusan.
******

Dikantin aku lagi makan siang sama Abel dan keysa. Tampak Ivan sedang berjalan terburu-buru menuju kami. Aku yang melihatnya merasa tidak enak sendiri. Entahlah, aku merasa jadi pengkhianat sekarang sejak perjodohan sepihak antara aku dan Om Arga.

"Dinda, kenapa telfon ku tidak diangkat, pesanku juga tidak dibalas" dia menggeser kursi dan duduk di bangku di depan kami.

"Maaf, Van itu mungkin sekarang kita harus sedikit jaga jarak" lidahku jadi kelu

"Maksudnya?" Dia menyipitkan matanya sedang mencari apa yang sesungguhnya tersirat dari ucapanku barusan.

"Oh, karena kita mau ujian bentar lagi ya"  keysa yang tahu keadaan segera mengambil alih. Aku menghembuskan nafas lega.
Dua sahabat baikku ini memang sudah tahu perihal perjodohan itu.

"Iya, Van biar konsen belajar gitu. Jangan pacaran mulu" mulut ceriwis abel pun tidak tinggal diam

"Oke, oke. Kalau maunya Dinda begitu. Aku maklum kok" inilah yang kusuka dari Ivan. Dia selalu mengalah dan tidak pernah mendebat setiap keputusanku. Ivan sebenarnya laki-laki yang baik. Meskipun berasal dari keluarga broken home. Tapi selama ini dia terlihat baik-baik saja. Mungkin saja dibalik itu semua dia juga memendam luka. Dan bagaimana jika dia tahu tentang perjodohan itu. Aku tidak sanggup jika harus menabur garam diatas lukanya.
Setelah mengucap kata itu tadi Ivan pun meninggalkan kami bertiga.

"Gimana,Din?"

"Entahlah, Key. Tamatlah riwayatku sekarang" aku menjatuhkan kepalaku diataz meja. Aku tidak bisa menemukan solusi apapun atas  persoalan ini. Mau menolak keinginan Mama dan Papa takut dibilang anak durhaka. Mau nurutin kemauan mereka tapi hatiku sudah ada yang memiliki. Rasanya bagai makan buah simalakama. Kuncinya satu. Aku harus membuat Om Arga sendiri yang memutuskan perjodohan ini. Seketika
aku mengangkat kepala dan menjentikkan kedua jariku. Good idea.
*****

Benar saja saat aku keluar dari kampus tampak mobil Bang Dimas sudah terparkir didepan. Banga Dimas sedang menyender dipintu mobil sambil memainkan gawainya.

Bang Dimas dilihat dari sisi manapun tetap saja ganteng. Lihatlah tubuhnya yang tinggi menjulang. Dulu waktu sekolah Bang Dimas salah satu anak basket di sekolahnya jadi wajar ya kalau dia tinggi. Wajah putih bersih dengan alis yang hitam dan tebal. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi pas dengan wajahnya. Fix keseluruhan dia ganteng.
Aku segera berlari menghampirnya.

"Bang, sudah lama ya?" Dia mendongak melihatku.

"Baru saja. Ayo" kami pun segera masuk ke dalam mobil.

"Bang, Dinda gak mau di jodohin" aku memang sangat dekat dengan Bang Dimas, layaknya sahabat.
Jadi, aku biasa curhat dengannya.

"Kenapa Dinda gak mau? Kan belum lihat orangnya" dia menjawab sambil fokus menyetir.

"Bang, dia teman Papa, pasti tua dan satu lagi. Dia Duda Bang. Du-da" aku sengaja mengeja kata duda biar bang Dimas dengar jelas.

"Din, jangan mudah menyimpulkan. Kita kan belum kenal orangnya dia orangnya seperti apa. Gak mungkin Mama dan Papa memilihkan orang yang tidak tepat untuk kamu"

"Tapi Bang. Dinda tetap gak mau. Bang Dimas aja tuh yang nikah" aku menekuk mukaku malas. Percuma Bang Dimas juga tidak bisa membantu.

"Loh, kok Abang, sih. Udah lihat dulu nanti malam orangnya juga datang. Jangan-jangan nanti kamu langsung naksir lagi" Bang Dimas lansung tertawa dengan keras. Ih dasar Bang Dimas.

"Sorry ya, gak akan Dinda jatuh pada pesona Om-om yang Duda itu" selanjutnya aku memilih tidur saja. Dari pada diledekkin sama Bang Dimas.

Sesampainya di rumah Mama sedang sibuk di dapur. Katanya lagi memanggang kue. Sengaja membuat kue untuk nanti malam menyambut kedatangan Om Arga.
Aku yang sudah tidak mood memilih masuk kamar saja dan tidur.

Baru selesai solat magrib saat Mama masuk membawa paper bag dan meletakkan diatas kasurku.

"Apa itu,Ma?" Aku jadi penasaran dengan isinya.

"Baju buat kamu pakai nanti malam ya" Mama tersenyum sangat manis kearahku.
dengan tidak sabar aku segera membukanya. Ada Rok panjang warna hitam dengan renda pada bagian bawahnya serta baju tunik lengan panjang warna pastel. Apa-apaan ini bathinku. Masa iya aku harus pakai rok. Sejak dewasa bisa dihitung pakai jari berapa kali aku memakai rok.

"Ma, gak mau pakai ini" tunjukku pada rok yang tergeletak diatas kasur.

"Dinda, pakai aja ya, sayang. Sekali-sekali gak apa-apa kan?" Mama berusaha membujukku.
Akupun pasrah kali ini menuruti keinginan Mama.
******

Kami sudah berkumpul di meja makan. Tapi makan malam belum juga dimulai. Padahal cacing di perutku sudah demo dari tadi minta di isi.

"Pa, Dinda boleh makan duluan?" Aku melihat Papa yang duduk di ujung meja makan.

"Tunggu sebentar ya, Om Arga bentar lagi sampai"

Ck ck lagi-lagi Om-om itu.
Tidak berapa lama terdengar suara mesin mobil yang dimatikan. Aku mengira itu pasti dia.
Benar saja. Terdengar langkah yang mendekat kearah meja makan.
Papa, tampak langsung berdiri.

"Assalamualaikum" suara bariton dibelakangku terdengar. Aku malas untuk sekedar melihat siapa pemilik suara itu.

"Walaikumsalam, masyaallah, Arga. Lama kita tidak jumpa ya" Papa berjalan kearah sumber suara itu di ikuti Mama dan Bang Dimas. Sementara aku masih bergeming di tempat dudukku.

"Iya, Mas Wijaya. Hampir dua tahun kita tidak bertemu ya" lalu terdengar suara tawa mereka.

"Mari Arga kita makan malam dulu. Makanannya sudah disiapkan"

"Terimakasih Kak Uli" mereka pun balik ke meja makan. Aku pura-pura sibuk memainkan sendok dan garpu dipiringku.

"Nah, ini Adinda. Dinda ini Om Arga"
aku refleks mengangkat wajahku mendengar suara Papa tadi. Lalu tatapanku bertemu sesosok laki-laki mirip aktor yang memerankan Fahri dalam film ayat-ayat cinta. Kulit sawo matang dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi dan juga tidak pendek. Jauh dari perkiraanku tentang Om-om berkepala botak, perut buncit dan kumis tebal.

Aku segera membuang muka. Enggan melihatnya lama-lama.
Baiklah, akan ku memulai aksiku yang pertama. Jangan bersikap anggun. Biasanya kan laki-laki suka wanita yang anggun. Jika dia melihat apa yang akan kulakukan, aku yakin dia akan ilfil. Karena sangat jauh dari kesan wanita anggun.

Aku mulai menyendok nasi dengan porsi dua kali lipat dari porsi biasa. Lauk semua kutumpuk jadi satu. Setelah mencuci tangan aku mulai makan dengan tangan. Kusuap banyak-banyak dan sengaja kukeraskan suaraku saat mengunyah.

"Ehem, Dinda pelan-pelan makannya sayang" Mama terlihat gelisah melihat kelakuanku sekarang.

"Biarkan saja Kak, Uli. Aku malah suka mempunyai istri yang makannya banyak"

Seketika aku tersedak makananku sendiri mendengar apa yang dia katakan. Alamat usahaku gagal kali ini.

Bersambung*

#AMK
 
Top