By: Nelliya Azzahra

Perkara jodoh itu sudah di gariskan oleh Allah Swt, sama akan halnya rejeki dan kematian.
Sudah ditentukan, tidak akan tertukar.
Percaya dengan ketetapan Allah Swt, Dia lah pembuat sebaik-baik skenario.
*****

Selesai acara makan malam keluarga Pak Wijaya beserta Om Arga berkumpul di ruang tamu tempat biasa keluarga Adinda santai berkumpul setelah seharian sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Malam ini memang di atur untuk mempertemukan Dinda dan Om Arga serta membicarakan konsep pernikahan mereka. Karena bagi Mama dan Papa, Dinda sudah clear soal persetujuan.
Meskipun sebenarnya Dinda Belum menerima sepenuh hati. Mereka tidak ingin lebih lama lagi menunda pernikahan antara keduanya. Lebih cepat itu lebih baik. Bukan juga karena terburu-buru, hanya saja semua sudah mereka pertimbangkan dengan matang.

Di ruang tamu Dinda duduk di sebelah Mama nya dengan muka ditekuk. Hatinya sudah ketar-ketir memikirkan apa selanjutnya yang akan terjadi dengan hidupnya. Dari tadi dia berdoa, semoga saja Om Arga membatalkan perjodohan ini. Kalau dilihat secara fisik, tidak menyangka kalau saat ini Om Arga sudah berusia 35 tahun.
Wajah yang baby face, serta badan yang atletis membuat dia terlihat beberapa tahun lebih muda dari usianya. Dinda pun baru tahu tadi di meja makan kalau usia Om Arga tiga puluh lima tahun sekarang ini, jadi usia mereka terpaut lima belas tahun. Tidak salah lagi, dia memang akan menikah dengan Om-om.

Saat ini bayangan wajah Ivan yang kecewa berkelebat dipikirannya. Bagaimana jika Ivan tahu semua ini?
Bagaimana cara Dinda menjelaskannya kalau dia dinikahkan sama Om sahabat Papa nya sendiri.
Ternyata Papanya Om Arga, dan Opa, Papi nya Papa sudah berteman lama. Jadilah, anak-anak mereka juga berteman dan tetap menjalin hubungan dekat hingga sekarang.
Usia Papa dan Om Arga sendiri selisih sepuluh tahun.

Dinda sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tidak sedikitpun terlibat dalam obrolan keluarganya. Sebenarnya Dinda sudah mau masuk ke kamarnya, jika saja tidak khawatir dibilang tidak sopan.

"Insyallah, seminggu lagi kita akan langsungkan akad nikahnya. Bagaimana, Arga?" Wijaya buka suara

"Insyaallah, saya siap, Mas. Ada baiknya kita tanya Dinda juga" Arga beralih melihat Dinda yang sedari tadi hanya diam sambil memainkan ujung baju tuniknya.

Arga bukan baru kali ini bertemu Dinda. Bahkan, sejak baru lahir Arga sudah bertemu dan mengenal bayi mungil nan cantik itu. Memiliki mata belo, kulit putih, dan pipi yang sedikit chubby membuat siapa pun akan gemes melihatnya.

Dulu saat masih lajang Arga sering kerumah Wijaya dan bermain bersama Dimas serta baby Adinda.
Bahkan ketika Dinda tumbuh menjadi gadis kecil yang imut berusia lima tahun dia sangat lengket dengan Arga.
Jika Arga tidak datang berkunjung beberapa hari saja Dinda merengek minta diantar ke rumah orang tua Arga untuk bertemu dengannya.
Dimas pun sama.
Namun, saat Dinda SD dan Arga melanjutkan kuliah di London, serta menikah dan menetap disana membuat mereka jarang bertemu.
Jadi, sedikit banyak Dinda mengenal sosok calon suaminya ini. Hanya saja, banyak yang sudah berubah dari pria tiga puluh lima tahun di hadapannya sekarang ini.

"Dinda, seminggu lagi insyallah akad nikahnya ya,  Sayang" Dinda refleks mengangkat wajahnya. Meskipun suara Mama berusan sangat pelan dan lembut, namun Dinda merasa seakan dia mendengar petir disiang bolong.
Dadanya kempang-kempis untuk memasok oksigen agar dia tidak pingsan saat ini juga.

Seminggu lagi? Nikah?
Ya Tuhan ..

"Tapi, Ma. Dinda kan masih kuliah!" Ingin rasanya Dinda berteriak menyuarakan penolakannya terhadap keputusan mereka. Namun suaranya tercekat saat dia tatapannya bertemu dengan bola mata hitam pekat milik Papanya.
Saat itu Dinda sadar, dia mungkin harus mulai merelakan masa lajangnya.

"Dinda, kamu kan masih bisa kuliah, sambil menikah" terdengar suara Bang Dimas yang duduk disamping Om Arga.
Dinda melotot, bisa-bisanya Abang kesayangannya itu bersekutu dengan orang di ruangan ini.

Dimas malah tampak santai dengan ekspresi adiknya itu. Baginya mau bagaimana pun ekspresi wajah Dinda tetaplah imut dan membuat gemas ingin mencubit pipi chubby yang berwarna kemerahan alami itu.

"Apa yang Dinda dapatkan jika setuju dengan pernikahan ini?"

Arga yang mendengar pertanyaan itu segera melihat kearah Dinda. Ah, ternyata gadis kecil ini sedang mencoba bernegosiasi rupanya.
Arga pun terkekeh pelan sebelum menjawan pertanyaan Adinda.

"Insyallah, kau akan dapat pahala berlipat ganda"

Kening Dinda seketika berkerut tidak mengerti dengan jawaban Arga barusan. Pahala, apakah itu artinya dia akan rugi?

"Dinda, kau ingin mahar apa?"

Semua pasang mata di ruangan itu mengarah pada Dinda yang masih terlihat bingung. Kabar menikahnya yang satu minggu lagi saja membuat kepala serasa mau meledak. Ditambah lagi sekarang urusan mahar.

"Terserah apa aja!" Dinda menjawab malas

"Dinda, yang baik dong sayang. Mahar itu hak kamu. Silahkan dipikirkan mau mahar apa?" Mama menimpali

"Apa aja, Ma. Surat Al-Kahfi mungkin, satu unit rumah juga boleh, atau satu apartement bagus juga" lalu Dinda terkekeh sendiri. Niatnya hanya bercanda. Kalau tentang surah Al-Kahfi memang Dinda Suka kandungan surat itu yang berisi tentang Bidadari-bidadari bermata jeli.
Dinda memang suka membaca cerita tentang Bidadari dan dia selalu berkhayal bisa menjadi Bidadari.

Setelah Dinda menjawab pertanyaan Om Arga segera dia pamit masuk ke dalam kamar. Hatinya baru saja di patahkan dengan adanya pernikahan ini. Ditambah melihat wajah Om Arga yang seperti tidak ada rasa empatinya pada Dinda. Bayangkan saja kalau dia yang di posisi Dinda saat ini. Apakah dia juga bersedia. Kalau  begini Om Arga yang menang banyak. Dinda semakin kesal saja.

Sesampainya di kamar dia segera menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan memeluk boneka teddy bear yang hampir sebesar dirinya.
Tidak terasa airmatanya sudah tumpah mengenai bulu-bulu halus milik boneka yang sedang didekapnya.

Tok ... Tok ...

"Assalamualaikum. Dinda, Abang masuk ya!" Terdengar suara Dimas dari balik pintu.

"Masuk, aja!"

Cklek

Dimas memutar knop pintu dan masuk mengampiri Dinda yang tidak mengubah posisi tidurnya meskipun dia tahu Dimas berjalan kearahnya.

"Belum, tidur?" Dimas hanya basa-basi. Padahal dia tahu betul Dinda baru saja menangis. Terlihat dari cuping hidungnya yang memerah dan matanya yang berair.

"Belum, Bang" Dinda sedikit beringsut agar bisa melihat wajah Dimas.

"Bang, Dinda gak mau nikah!" Kali ini Dinda sudah tidak bisa menahan perasaannya.

"Belum ikhlas ya? Dinda insyallah Om Arga orang yang baik. Kita pun sudah mengenalnya sejak kecil, bukan?"

"Ivan juga baik!" Dinda memotong

"Ya. Abang tahu. Tapi laki-laki baik dia tidak akan mengajak perempuan yang dia sayang untuk bersama mengarungi kemaksiatan kepada Allah Swt. Dari dulu kan Abang sudah bilang sama Dinda. Kalau pacaran di larang Islam. Bukan hanya pacaran, segala hal yang mendekari zina itu dilarang"
Dinda hanya diam tidak komentar. Dari dulu memang Dimas sudah sering mengingatkan. Dasar Dinda saja yang sudah terlanjur sayang sama Ivan. Jadi susah move on.

"Dinda tahu gak, kenapa Allah Swt menciptakan kita?" Dinda hanya menggeleng pelan.

"Dengarkan ayat ini baik-baik, ya. Bismillahirahmanirrahiim.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku”
(QS: adz-Dzariyat;56).
Jadi, Allah Swt menciptkan kita hanya untuk beribadah kepada_Nya. Menikah juga termasuk ibadah. Kita tidak tahu apa rencana Allah Swt dibalik ini semua"

Dinda hanya terdiam dalam hati dia membenarkan apa yang barusan Dimas katakan. Hanya saja dia belum bisa menerima keputusan secepat ini. Pikirannya masih berkecamukm antara cintanya dan ridho orangtua nya.

"Yang menjamin rumah tangga langgeng itu, ya ketaatan setiap hamba pada pencipta_Nya" Dimas pun beranjak ingin meninggalkan kamar Dinda.

"Bang!"
Dimas menoleh pada Dinda yang tengah tersenyum.

"Ya"

"Makasih ya. Dinda sayang, Bang Dimas"

"Iya, udah tau dari dulu. Tidur gih. Jangan nangis terus. Mubazir tu airmatanya" Dimas pun berlalu keluar.

********
Adinda meremas tangan Mamanya dan menangis sesegukan dipelukan wanita itu. Baru saja dia mendengar kata 'sah' dari saksi yang mendengar prosesi ijab qabul. Pernikahan ini akhirnya terjadi juga. Ini semua bak mimpi buruk baginya.

"Bagaimana ini Ma, kini statusku sudah berubah menjadi wanita yang bersuami" Dinda masih sesegukan.

"Tenang sayang. Insyallah ini yang terbaik. Ayo keluar temui suamimu"
Bukannya tenang, tangis Dinda semakin kencang.

Amk
 
Top