By: Nelliya Azzahra

Setelah selesai ijab kabul, Mama membawa Dinda keluar kamar untuk bertemu Om Arga yang baru saja menyandang gelar suaminya.

Dinda tampak cantik dan lebih dewasa dengan balutan baju pernikahan berwarna putih beras lengkap dengan kerudungnya. Siapa pun akan terpana dengan kecantikan gadis bermata belo itu.

Sayangnya, tidak ada sedikit pun aura bahagia dari wajahnya. Mata sembab, dengan ujung hidung yang memerah. Menambah kesan jika Adinda benar-benar tidak bahagia dengan pernikahan ini. Hanya satu yang membuatnya lega, pernikahan ini tidak diketahui teman-teman kampusnya termasuk Ivan. Jika sampai Ivan tahu, mungkin Adinda memilih untuk kabur saja saat proses ijab kabul tadi berlangsung.

Langkahnya kian dekat pada sosok laki-laki tampan dengan stelan jas berwarna putih. Wajahnya jelas menggambarkan kalau sosok itu tengah merasakan bahagia.
Lihatlah, senyum tipis dibibirnya itu. Membuat Adinda ingin mencakar wajah tampannya.

Dengan isyarat tatapan matanya, Om Arga meminta Dinda untuk duduk disebelahnya. Dengan malas Dinda menuruti. Karena saat ini Papa, Mama, Bang Dimas dan keluarga lainnya tengah memperhatikan mereka. Jika tidak mau di ceramahi Bang Dimas, atau diomeli Mama. Maka, Dinda harus patuh.

Dinda pun mencium tangan hangat milik Om Arga. Kemudian mereka menandatangi buku nikah. Bukti jika sekarang mereka telah resmi sebagai sepasang suami istri.

Bang Dimas pun ingin mengabadikan moment ini lewat beberapa bidikan camera.

Dimas berusaha mengarahkan gaya mereka agar terlihat lebih mesra, yang ada mereka terlihat seperti orang yang sedang bermusuhan. Bagaimana tidak, Dinda tidak sedikitpun tersenyum. Sedangkan Om Arga hanya memasang wajah kikuk saat diminta memegang pinggang Dinda. Melihat itu, Dinda ingin sekali merontokkan gigi Om Arga.


Selesai dengan segala prosesinya, Dinda segera masuk ke dalam kamar. Didalam kamar, hatinya ketar-ketir menungggu Om Arga masuk.
Dinda sendiri sudah mengganti baju yang dia kenakan saat pernikahan tadi dengan piyama bergambar teddy bear.
Untuk resepsi sendiri, akan diakan besok malam di sebuah gedung yang  telah disewa keluarganya.

Dinda sempat syok mengetahui bahwa maharnya adalah surah Al-Kahfi plus satu unit rumah disalah satu perumahan d jakarta. Ternyata, saat itu Om Arga menganggap serius ketika Dinda menyebutkan ingin mahar apa saat ditanya tentang maharnya.
Sebenarnya, Rumah itu sudah lama di beli oleh Arga. Hanya saja belum sempat dihuni. Karena selama beberapa tahun ini Arga tinggal di London.
*******

Arga, tidak tahu pasti sudah berapa kali dia mondar-mandir di depan pintu kamar Dinda. Sesekali tangannya menggaruk rambut tebalnya. Ragu untuk masuk dan menemui istri kecilnya tersebut. Meski ini bukanlah pernikahan pertamanya, tetap saja Arga merasa resah.

Sesaat langkahnya berhenti. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu.

Tok ... Tok

"Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk"
Tidak ada jawaban. Arga berinisiatif untuk mendorong pintu. Beruntung pintu tidak terkunci.

Untuk pertama kalinya dia memasuki kamar Dinda, kesannya kamar ini sangat feminim. Terlihat dari nuansa serba pink. Lemari pink, tirai pink, meja berwarna pink, serta wallapper dinding pun berwarna pink motif hello kitty.
Di pinggir kasur seorang gadis tengah duduk membelakanginya, dia mungkin belum sadar akan kemunculan Arga di kamarnya.
*******

Saat Dinda membalik badan ingin merebahkan tubuhnya di kasur, dia menangkap sosok Om Arga tengah mengamati seisi kamarnya.  Sekarang Degup jantung Dinda jadi tidak beraturan.

Ketika tatapan mata mereka bertemu, Dinda menaikkan dagunya, mata sembab itu dipaksakan membelalak untuk mengintimidasi. Arga yang melihat apa yang Dinda lakukan sekarang tidak sedikitpun terpengaruh. Malah dia dengan santainya berjalan semakin mendekat ke kasur tempat Dinda berada.

Arga segera membuka baju jas yang dari tadi menempel di tubuhnya. Gerah sekali, keinginanya hanya satu. Mandi.
Dinda yang melihat gerakan Arga jadi panik sendiri.

"Om, Om, apa yang kau lakukan?" Teriaknya panik

Arga hanya mengernyitkan dahinya. Dengan cuek dia melepas seluruh kemeja itu dan menggantungnya.

"Syukurlah" Dinda bernafas lega. Ternyata Arga memakai baju kaos sebagai lapisan baju kemeja.

Arga tersenyum melihat Dinda. Istri kecilnya ini begitu mudah di tebak.
Walaupun aslinya dia juga deg-degan.
"Apa yang sedang Dinda pikirkan?"

Dinda hanya diam tidak ingin menjawab pertanyaan Om Arga barusan.

"Ini"

Dinda memberikan selembar kertas kepada Arga. Arga segera mengambil dan membacanya.
Ternyata kertas itu berisi point-point apa saja yang tidak boleh Arga lakukan terhadap Dinda. Salah satunya tidak boleh menyentuh Dinda sampai lulus kuliah. Keseluruhan isinya merugikan Arga.

"Apa, ini?"

"Baca saja Om!"

"Bukan itu. Maksud saya kenapa membuat kesepekatan seperti ini?" Arga memperjelas pertanyaannya.

"Iya, itu karena Om nikahin Dinda yang masih kecil" Dinda mencoba mempertahankan keinginannya.

"20 tahun, itu masih kecil, ya" Om Arga tersenyum segaris.
"Dalam Islam, usia  segitu sudah lebih dari cukup untuk menikah"

"Tapi, tetap saja Dinda merasa masih kecil, Om!. Bisakah Om menghargai Dinda?" Suara Dinda terkecekat. Matanya sudah memanas.

"Apa Dinda, mikir kalau isi kesepakatan itu menunjukkan Dinda menghargai saya?" Arga ikut duduk dikasur.
"Isi kesepakatan itu sejujurnya menyinggung  perasaan saya sebagai suami 'sah' kamu. Keseluruhan isinya merugikan saya. Jadi, kalau Dinda ingin dihargai. Maka, Dinda harus mengahargai orang lain dulu"

Dinda diam. Tiba-tiba dia kehabisan kata-kata untuk membalas Arga.

"Dengar, ya. Saya baru saja mengucapkan ijab kabul, perjanjian dengan Allah Swt langsung. Pernjian yang agung. Bahkan, saat janji itu terucap, Arsy Allah Swt berguncang. Karena dahsyatnya perjanjian itu. Kini, Dinda adalah tanggung jawab saya dunia dan akhirat. Kerena suami adalah qowwam atau pemimpin dalam rumah tangga. Bagaimana pun saja mempunyai kewajiban untuk membimbing Dinda. Kalau Dinda bisa bekerja sama, maka tugas saya akan lebih ringan. Jika tidak, ya berarti tugas saya akan lebih berat" Arga mengangkat bahunya.

Demi mengdengar apa yang barusan Om Arga katakan, wajah Dinda berubah pias. Dinda mulai berpikir. Jika hidupnya akan terpenjara dengan pernikahan ini.

Arga melanjutkan.
"Saya  bukan tipe yang suka memaksa. Karena itu, senyaman Dinda saja dengan pernikahan ini. Asal tidak bermaksiat dan menodai tali pernikahan ini" kali ini aura Arga berubah jadi tegas.

Melihat wajah tegasnya membuat bulu kuduk Dinda meremang.
"Kenapa coba, Om menikahi Dinda. Diluar sana itu, banyak kok perempuan lain!" Dinda meluapkan rasa penasarannya.

"Apa kamu lupa, heh" Arga menaikkan sebelah alisnya

"Lupa?" kini Dinda yanh dibuat bingung.

"Iya, dulu saat usiamu lima tahun. Kamu meminta saya untuk tidak pernah jauh dan meninggalkanmu sendiri. Sekarang saya sudah mengabulkannya"

Wajah Dinda berubah merah sampai ke telinga. Tidak menyangka saat kanak-kanak dia melakukan hal yang memalukan begitu.
Arga yang melihat Dinda, jadi tersenyum geli.

Lalu, Spontan Arga mencondongkan badannya ke depan nyaris hidung mancungnya mengenai pipi Dinda. Dinda yang baru sadar hanya diam bak patung manekin. Wajahnya panas menjalar keseluruh tubuh. Jarak sedekat ini, tidak bagus untuk kesehatan jantungnya.

"Karena, saya menyukaimu sejak itu" bisik Arga lembut di telinganya. Bagai kesentrum, Dinda terlonjak dari kasur seketika.
Dia malu bercampur kesal. Om Arga pasti melihat wajahnya yang memerah saat ini.

"Apakah, Dinda ingin bekerja sama dengan saya sekarang?"

"Bekerjasama untuk apa?"

"Agar pernikahan ini menjadi jembatan untuk kita meraih ridho Allah. Mau, ya?"

Bagai tersihir, Dinda spontan mengangguk. Arga pun senang bukan kepalang dia segera berdiri dari kasur.

"Itu artinya, Dinda siap juga untuk malam ini" Arga tersenyum puas.

"Yaaaaa!" Dinda segera meraih bantal dan menutupi dadanya

"Hahaha" tawa Arga memenuhi kamar saat melihat tingkah lucu istri kecilnya itu. Katanya mau bekerjasama. Giliran diingatkan kewajibannya malah teriak kencang.

Bersambung ..

#AMK
 
Top