By: Nelliya Azzahra

Braaak ...!

Aku membanting pintu kamar dan menutupnya rapat. Dadaku masih naik-turun berusaha meredakan emosi. Nafas pun masih tersengal-sengal. Perdebatan dengan Mama tadi benar-benar membuat kepalaku ingin meledak.

Bagaimana tidak, Mama dan Papa dengan keputusan sepihak ingin menjodohkan ku dengan sahabat Papa. Oh, ayolah. Aku baru saja kuliah semester dua dan kini ingin dinikahkan dengan  sahabat Papa dan juga seorang duda.

Entah apa yang merasuki pikiran Mama dan Papa saat ini. Tega sekali menjerumuskan putrinya sendiri seperti itu.
Dan Om-om tidak tahu diri itu mau-maunya menyetujui ide konyol Mama dan Papa.
Biar kutebak Om-om itu sudah pasti berkepala botak, perut buncit, dan berkumis tebal.
Duh, aku sudah mual duluan membayangkan seperti apa sosok Om-om sahabat Papa itu. Yang jelas dia tua.

Teringat kembali perdebatan dengan Mama di taman tadi yang membuat aku berakhir di kamar sekarang ini.

"APA!" Pekikku tidak percaya.

"Dinda, jangan teriak kalau bicara sama Mama" Mama melayangkan tatapan horornya membuat aku meneguk salivaku sendiri.

"Siapa yang mau Mama, jodohkan?"

"Ya kamu. Memang putri Mama ada berapa" dengan entengnya Mama menjawab. Tidak tahu saja kalau saat ini jantungku sudah jumpalitan karena syok dengan kalimat Mama barusan.

"Ma, ini zaman sudah modern. Masih ya main jodoh-jodohan gitu!" Aku tidak terima kalau saat ini akulah objek perjodohan itu.

"Memangnya kenapa kalau zaman modern, hem?"
Mama melipat kedua tangannya didepan dada dan menyilangkan kakinya. Persis seperti seseorang yang sedang ingin menjatuhkan vonis kepada seseorang.

"Ma, Dinda gak mau!" Tolakku cepat

"Dinda, dengar ya. Mama dan Papa mengambil keputusan ini demi kebaikan kamu sayang. Percayalah" Mama mulai melembutkan suaranya seperti biasa.

"Tapi Dinda gak mau, Ma. Bang Dimas saja. Jangan Dinda!"

"Dimas itu Gak kayak kamu. Dia gak pacaran dan pergaulannya terjaga" Mama masih belum menyerah juga tampaknya.

"Ma, jangan banding-bandingkan Dinda sama Bang Dimas, dong. Lagian Dinda pacaran juga gak ngapa-ngapain. Kita cuma jalan bareng" sanggahku. Tidak mau Mama menuduhku semakin jauh.

"Bukan tidak, tapi belum saja"

"Maksudnya, Mama nuduh Dinda bakal berbuat yang aneh-aneh gitu?" Aku menyipitkan mataku melihat kearah Mama yang terlihat santai. Seakan-akan penolakanku tidak akan mempengaruhi keputusannya.

"Kamu lupa atau gimana Dinda, teman kamu yang hamil, terus dibunuh sama pacarnya sendiri, ini fakta loh. Dari hasil pacaran"

"Mama, nyumpahin Dinda gitu" gak habis pikir sama Mama kenapa juga bawa-bawa teman satu kampusku yang meninggal sebulan lalu akibat di paksa aborsi sama pacarnya akibat perbutan zina mereka yang mengakibatkan pendarahan hebat lalu merenggut nyawanya.

"Gak sayang, Mama mau kamu berkaca dari kejadian itu. Pacaran itu, cepat atau lambat akan mengarah kesana. Makanya tadi Mama bilang 'belum' bukan 'tidak' "

"Ma, Dinda janji gak bakalan kayak gitu" aku mengangkat kedua jariku tanda berjanji.

"Siapa yang jamin. Mama dulu sama Papa juga gak pacaran. Lulus SMA Mama langsung nikah, setelah melahirkan Bang Dimas baru Mama lanjut kuliah" aku memang sudah mendengar kisah Mama dan Papa dari Oma. Mereka memang tidak pacaran. Tapi Mama kok mau aja sih di jodohkan. Aku mah ogah bathinku.

"Memangnya siapa sih, Ma yang mau di jodohkan sama Dinda?" Aku jadi penasaran juga sama laki-laki itu

"Om Arga, teman Papa"

"Whaat!" Bola mataku seakan mau keluar. Om-om yang mau dijodohkan sama aku.

"Ma, ini gak benar kan" mataku sudah berembun. Tidak menyangka Mama akan menghancurkan hidupku dengan menikahkan aku dengan Om-om

"Benar Dinda. Dan, Om Arga juga sudah setuju. Insyaallah dia orang yang tepat sayang" Mama mendekati dan mengusap pelan suraiku.

"Ma, kenapa harus di jodohkan, Dinda punya pacar Ma. Lagian kenapa juga harus Om-om. Apakah dia seorang pedofil? Yang mengambil kesempatan dari perjodohan ini" aku mulai terisak. Sakit rasanya akan semua ini. Kenapa Mama tidak mengerti perasaanku.

"Ssst, Dinda jaga omongan kamu. Mama gak pernah ngajarin gak sopan gitu" kini Mama beralih memegang kedua pundakku membuat aku terpaksa melihatnya.

"Sayang, tidak ada orang tua yang  akan menjerumuskan anaknya sendiri. Tidak sayang" Mama menghapus butiran hangat yang luruh dipipiku.

"Mama dan Papa sudah memikirkan semua ini. Mama khwatir dengan pergaulan kamu selama ini. Memang menikahkan kamu bukan solusi satu-satunya. Tapi solusi ini yang Kami pilih. Kami berharap kelak suamimu bisa membimbing kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi".
Aku menggeleng dan mengusap kasar airmataku.

"Pokoknya sampai kapanpun, Dinda gak mau Ma!" Setelahnya aku berlari masuk kedalam rumah dan berakhir di kamar.

Lihat saja siapa pun Om-om itu, kupastikan dia sendiri yang akan membatalkan perjodohan gila ini.
Aku Adinda Wijaya tidak akan tinggal diam. Sampai kapanpun aku tidak terima perjodohan ini. Ada Ivan kekasihku. Kami sudah satu tahun pacaran sejak mulai masuk kuliah kerena kebetulan kami satu kampus hanya beda jurusan. Dari sekian banyak teman Papa, kenapa aku tidak mengenal Om Arga ya. Apa dia tidak tinggal di Indonesia? Atau mungkinkah dia teman bisnis Papa yang tinggal di London itu. Aku samar mengingatnya. Waktu itu pernah saat aku kelas lima SD. Kala itu Mama terlambat jemput, aku menunggu hampir satu jam di sekolah. Saat aku berjalan keluar pagar, seorang laki-laki dewasa menghampiriku katanya dia sahabat Papa. Dan Papa memintanya menjemputku. Om itu sungguh tampan. Wajahnya putih bersih. Tapi setelah itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Apa mungkin dia oranganya?

Bersambung ....

~ ini ada cerita baru saya ya, sembari menunggu novel "Jodoh Disepertiga Malam" selesai semoga setia menunggu ya. Selamat membaca ~😊

#AMK5
 
Top