Oleh : Santi Novianti /ummu luqman  
(ibu rumah tangga dan member Akademi kreatif)

Proyek disana,  proyek disini di mana-mana proyek pembangunan.
Sepertinya, sudah direncanakan oleh pemerintah. Tampak akan dibangun proyek besar-besaran  di wilayah yang sudah ditentukan.

Ya, inilah proyek megapolitan bukan lagi metropolitan seperti DKI jakarta, kota Bandung, kota Medan, kota Surabaya,dan kota- kota lainnya. tetapi proyek megapolitan ini adalah gabungan dari kota-kota metropolitan. proyek besar ini dicanangkan terealisasi pada tahun 2045.

Para ahli memperkirakan megapolitan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (jabodetabek)
akan menjadi megapolitan mengalahkan Tokyo,  Seperti mempersiapkan Infrastruktur di Jakarta maupun di Bandung dengan membuat kereta cepat Indonesia-China  akan menjadi koridor Ekonomi Swasta. Proyek Megapolitan ini merambah ke arah timur Jabodetabek seperti Cikarang (Kab Bekasi) bahkan sampai ke Karawang. Juga akan dibangun Pelabuhan Katimbang dan BJIB Kertajaya di Majalengka. Menurut mereka proyek ini dianggap sebagai solusi atas berbagai macam persoalan di ibu kota negara,antara lain urbanisasi penduduk, kemacetan, pengangguran dan juga kekurangan air bersih.

Namun kita harus meneliti lebih jeli dari manakah pemerintah mendapatkan dana untuk pembangunan proyek besar ini ?  tentu dana yang dibutuhkan sangatlah besar.

Dalam negara yang menganut kapitalis liberal pembangunan tidak akan lepas dari peran investor baik lokal maupun asing.   Mereka dengan senang hati mengucurkan dana nya untuk kesuksesan proyek megapolitan ini kalo pun ada dana yang diambil dari APBN  porsinya sangatlah kecil. 
  
Jika ini terjadi maka akan merugikan negara. Seperti halnya kasus di negara- negara lainnya seperti Srilangka yang berhutang kepada Cina namun tidak mampu membayarnya akhirnya Cina lah yang menjadi pemiliknya. 

Hutang yang besar dengan riba yang besar tidak akan mampu dibayar mengakibatkan aset- aset Negara dikuasai oleh para investor.

Belum lagi kerugian lain yang akan terjadi dari dampak pembangunan besar besaran seperti kerusakan lingkungan. Alih fungsi lahan seperti hutan lindung akan dirusak demi kepentingan pembangunan proyek imbasnya hilangnya resapan air yang memacu terjadinya banjir longsor dan  penurunan tanah.

Dampak dari sisi ekonomi para petani akan kehilangan lahannya karna dipaksa menjual kepada para investor untuk membangun bisnis bisnis properti atau vila.  Area wisata akan dijadikan tempat wisata yang dapat menguntungkan para investor, Belum lagi dampak moral semakin dibukanya kerjasama dengan asing membuka lebar kedatangan para wisatawan asing dapat menularkan kebiasaan perilaku mereka yang bebas.

Melihat hal ini apakah pembangunan yang akan di rencanakan oleh pemerintah memberikan kebaikan atau perubahan pada rakyat. Jelas tidak iming-iming akan memberi lapangan pekerjaan adalah kebohongan iming-iming ganti rugi lahan adalah kebohongan iming- iming memajukan Negeri adalah kebohongan. itu semua tipuan semu.

Lihatlah saudara kisah-kisah dahulu Allah Swt telah banyak memperingatkan kita dengan Fira'un yang merasa bangga dengan pembangunan pada saat itu, namun membungkam risalah yang dibawa oleh Nabi Musa as . Apa akhir dari semuanya ??

Islam tidaklah melarang untuk pembangunan kota.  Asalkan pembangunan ini dibenarkan oleh syara. Bahkan Islam sangat memperhatikan fasilitas umum bagi kemaslahatan rakyatnya.
Seperti pada kisah Umar bin khattab.
umah menangis ketika mendengar seekor keledai terperosok hingga mati, lantas ditanya oleh ajudannya mengapa engkau menangis hanya karna keledai yang terperosok.
Sambil menahan marah Umar mengatakan "Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah Swt apa saja yang engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu."

Subhanallah adakah pemimpin demikian memikirkan rakyatnya?
dalam membangun tata kota Rasulullah telah mengatasi berbagai permasalahan teknis dengan penuh kemudahan dan kesederhanaan sehingga tidak akan didapati kerumitan dalam mengaturnya.
      
Dalam pendanaan, Islam mengambil dari kekayaan negeri.  Sumber daya alam akan dikelola untuk kemaslahatan umat untuk melayani umat memfasilitasi umat. Tidak dengan berhutang.

Jika dana tidak mencukupi dan pembangunan dirasakan diperlukan maka Islam akan memintai kepada masyarakatnya dengan pajak sementara hanya bagi yang mampu. Tapi hal ini sangatlah kecil kemungkinan pasalnya negeri- negeri Islam merupakan negeri yang kaya .
  
Lihatlah peradaban Islam pada masa lampau Islam menguasai bumi hingga 2/3 dunia. Melahirkan manusia manusia yang berkualitas kota kota yang tertata rapi dengan apik, rumah-rumah dengan kondisi nyaman dan bersih kesejahteraan terjamin. 
Hingga tak ada yang mampu menandinginya.
Wallahu a'alam bishshawab
 
Top