By : Nelliya Azzahra 
(Member AMK Dan Pegiat Literasi)


"Dan mbak sendiri, perawan tua sombong!"

Aku berbalik, melayangkan tatapan membunuh kepada lelaki yang tidak tahu sopan santun itu. Kata-katanya barusan sungguh menyakiti hatiku.

"Kau!" 

Aku mengarahkan telunjukku tepat kearah wajahnnya.

"Apa hak mu mengatakan aku perawan tua, hah!, aku tidak setua itu. Dan, jaga ucapanmu. Apa kau tidak tahu caranya bicara dengan orang yang usianya lebih tua darimu? Atau perlu kuajari dulu" rasanya kepalaku sudah mengeluarkan tanduk sekarang.

Kulihat, tidak ada  sedikitpun penyesalan di wajahnya, setelah melontarkan kata-kata yang menyakiti hatiku. Malah, dia terlihat santai.

Geram segera kuraih sendal jepitku dan kuarahkan tepat kepadanya. Belum sempat sendalku mengenainya dengan gesit dia mengelak. Jadilah, sendal jepitku melayang dan jatuh disampingnya.

Dengan sedikit malu aku mengambil sendalku dan segera menjauhinya. Dalam hati merutukki tindakan refleks ku  barusan.

"Mbak, ternyata dirimu selain perawan tua kau juga kasar. Pantas saja selama ini tidak ada lelaki yang melamarmu. Kecuali aku tentunya" dia melipat tangannya didada.

"Hey, aku mendengarnya!"

"Itu fakta" serunya.

Kurasakan tandukku akan keluar lagi. Tapi kali ini aku harus bisa menahannya. Aku jadi teringat sabda Rasulullah:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri]. Aku mengingat dengan baik hadist ini.

Jangan marah...jangan marah bathinku. Lalu aku beristigfar dalam hati kemudian aku mengambil nafas, hembuskan. Tarik lagi, hembuskan. Beberapa kali kuulangi.

Kulirik dia sedang tersenyum geli kearahku.

"Apakah aku  terlihat seperti badut dimatamu!" Geramku. Mungkin saat ini ekspresiku sudah seperti ibu-ibu akan melahirkan.

"Ah, tidak mbak. Cuma ekspresimu yang seperti itu sangat lucu" tawanya meledak.

"Diam! Berhenti menertawaiku" aku sedang berusaha keras agar amarahku tidak meledak. Dia? Dengan santainya menertawaiku. Dasar bocah.

Aku segera mengambil rantang yang tadi kuletakkan disampingku. Dan ingin segera meninggalkan laki-laki menyebalkan yang berada dihadapanku.

"Mbak. Bagaimanapun aku akan kerumahmu malam ini" serunya tidak putus asa.

"Terserah! Jangan harap akan kubukakan pintu" akupun berlalu.

Aku bergegas menuju sawah. Sepagi ini mood ku sudah berantakkan di buatnya. Awas saja kalau dia berani kerumah tidak akan bukakkan pintu. Ancamku.


Seperti biasa, menjelang zuhur kami sudah pulang. Melewati depan rumah pakde Har, sengaja kupercepat langakahku. Tidak mau bertemu dengan laki-laki yang merusak mood ku tadi pagi.

Sampai dirumah tepat saat azan zuhur. Setelah membersihkan diri aku dan ibu pun solat. Sementara bapak sudah berangkat ke Langgar.

"Ibu, anaknya pakde Har itu siapa namanya?" Aku bertanya sambil mengupas singkong pemberian bulek Jun. Rencananya akan kubuat keripik ubi pedas.

"Anaknya Har itu ada 2. Yang pertama namanya Bagus. Sudah nikah dan punya anak. Yang kedua Bagas. Belum nikah. Tapi setahu ibu keduanya tinggal dikota dan sudah jadi orang sukses. Ngopo nduk? Kamu tertarik sama anaknya si Har?" Ibu tersenyum kearahku.

"Nanya saja bu. Ya ndak mungkinlah bu. Terbersit saja tidak pernah" sanggahku.

Apa kata ibu. Tertarik? Huh meski aku perawan tua juga tapi aku punya selera sendiri. Memang laki-laki menyebalkan itu tampan dan juga kata ibu tadi mapan. Tapi tetap saja, dia bukan tipe ku.

Selesai solat  magrib aku segera ke Langgar untuk mengajar ngaji adik-adik disini seperti biasa.
Saat pulang kulihat sebuah motor matic terparkir di halaman. Kupikir mungkin bapak ada tamu. Lalu akupun masuk.

"Assalamualaikum"

"Walaikumsalam" 
Kulihat tamu yang duduk samping bapak. Dan seketika mataku membola tidak percaya dia benar-benar nekat untuk datang.

"Kau!" Aku menatapnya sengit.

"Sumi, duduk dulu ndak sopan sama tamu" bapak mulai mengeluarkan titahnya.
Aku hanya menurut duduk disebelah ibu.
Sementara Bagas tidak melihat kearahku sama sekali. 

"Gini nduk, hmm nak Bagas ini datang kesini dengan maksud baik. Katanya dia ingin mengenalmu, dan jika kamu bersedia dia akan melamarmu nduk" ibu bicara dengan binar bahagia dimatanya. Mungkin ibu berfikir saat ini sedang mendapatkan durian runtuh. Laki-laki yang datang melamarku masih muda, ganteng, mapan pula. Lah sedangkan aku, seperti ketiban tangga.

"Kau, bukankah tinggal di kota. Kenapa tidak kau pilih saja gadis kota. Lagi pula usia kita berbeda. Aku tidak mau menikah dengan brondong!" 

Kemudian kudengar deheman bapak, mengingatkan. Akupun kembali menunduk.

"Maafkan saya atas kelancangan saya, ibu, bapak dan mbak Sumi. Tapi niat saya insyaallah tulus ingin menikahi mbak Sumi. Saya sejujurnya sudah menyimpan rasa sejak lama. Hanya saja belum ada keberanian selama ini. Karena, pekerjaan saya sekarang sudah matang da hasilnya lumayan. Maka,  saya memberanikan diri malam ini datang untuk mengajukan lamaran kepada mbak Sumi. Ibuk sama Bapak saya insyaallah sudah setuju" dia menjelaskan dengan menatap kearahku.
Aku yang mendengar penjelasannya sedikit tersentak. Sejak kapan dia mempunyai rasa padaku. Aku saja tidak terlalu mengenalnya.

"Gimana nduk?" Ibu menyadarkanku.

"Biar saya pikirkan dulu bu" sahutku dan segera pamit masuk kedalam kamar.

Siapa yang tidak ingin menikah, semua orang pasti mau. Termasuk aku. Tapi kenapa yang datang kepadaku tidak sesuai dengan apa yang kuinginkan? Aku membenamkan mukaku diatas bantal. Ada butiran hangat turun ke pipiku.
Kudengar pintu berderit dan kasurku bergoyang. Lalu aku melihat ibu yang sudah diduduk disebelahku.

"Nduk. Kamu kenapa ndak suka ya sama nak Bagas? Coba pikir nduk usiamu tahun depan sudah 30 tahun. Bagaimana kalau belum juga menikah. Sekarang ada yang datang ingin menikahimu malah kamu cuek saja. Nak Bagas itu kurang apa lagi nduk, udah ganteng, mapan lagi. Tadi dia juga bilang mau memberikan modal usaha untuk bapakmu" ibu mengelus pelan rambutku. Aku segera duduk menghadap ibu. Iya kurang, kurang cinta. Karena aku tidak ada rasa sedikitpun padanya bathinku.

"Jadi, ibu dan bapak menjualku  pada Bagas sekarang? Hanya karena dia memberikan modal pada bapak" Selaku.

"Huss, omongan mu nduk. Ibu bukan begitu. Ibu hanya ingin yang terbaik itu saja" kulihat ibu beranjak keluar kamar dengan wajah kecewa.
Aku makin terisak. 

Ya Allah kuatkanlah aku. Dulu aku membuka hatiku untuk mas Rahmat dan dengan teganya dia menghancurkan segala harapanku. Saat ini ada laki-laki yang tidak kusuka datang ingin menikahiku. Rencana apa dibalik ini ya Allah?
Aku tahu kegundahan hati ibu dan Bapak. Akupun tidak ingin membuat mereka sedih dan cemas karena memikirkanku. Ibu selalu bilang, jika ibu dan bapak meninggal saat aku belum menikah, siapa yang akan menjagaku. Itu yang mereka pikirkan. 
Akhirnya aku tertidur dengan sisa-sisa airmata.

3 hari berlalu, aku sudah menjalankan solat istikarah untuk memantapkan keputusanku. Akhirnya aku bersedia menikah dengan Bagas. Urusan cinta, kupikir itu bisa datang belakangan. Yang penting bapak sama ibu bahagia sekarang.

Tibalah hari ini pernikahan kami. Aku yang saat ini sedang berada di kamar rias bersama ibu.

"Mbak, bedaknnya sudah ndak usah tebal-tebal" dari tadi mbak perias ini sibuk memoles sana, poles sini wajahku. Aku yang tidak biasa dandan jadi tidak begitu suka. Lagi pula ngapain mau cantik-cantik didepan Bagas. Huft

Setelah memasangkan khimar, aku pun siap. Saat bercermin aku kagum pada diriku sendiri. Masyaallah. Kurasa kecantikanku tertutupi selama ini. Aku sendiri memang tidak suka dandan, dan memakai baju sederhana sehari-hari.

Tidak lama bapak muncul dan meminta aku dibawa keluar, segera ibu dan bulek Jun menuntunku.

Aku melihat sosok tampan tengah fokus melihat kearahku. Aku hanya mendunduk. Setelah menyerahkan mahar dan memasangkan cincin. Aku dengan takzim mencium tangannya. Dia pun tersenyum sangat manis. Melihatnya pipiku jadi merona. Aku berdehem untuk menetralkan detak jantungku.

Acara selanjutnya adalah resepsi. Banyak warga sini dan warga kampung sebelah yang datang kepernikahan kami. Mungkin mereka penasaran dengan perawan tua yang melepas masa lajangnya.

Kaki ku rasanya sudah kram karena berjam-jam berdiri menyalami tamu undangan.
Kulihat bagas mencondongkan wajahnya kearahku. Aku yang melihat gelagat anehnya segera antisipasi dengan menyilangkan tangan didepan dada. Pikirku apa dia sudah tidak waras? Akan melakukan hal yang tidak-tidak didepan tamu.

Lalu kudengar dia membisikkan sesuatu ditelingaku.

"Mbak. Cobalah untuk tersenyum. Kau tidak ingin kan tamu undangan berfikir kita dinikahkan paksa" kemudian dia menarik dirinya sedikit menjauh.

Huft..selamat. Bathinku. Kupikir dia akan melakukan hal gila. Akupun hanya menurut. Lihatlah sekarang aku tengah tersenyum sumringah kepada tamu ibu-ibu, karena bapak-bapak ada diruangan sebelah. Entah darimana kudapatkan bakat akting ini.
Kulirik Bagas menahan tawa sekarang. Aku yang melihatnya ingin sekali melayangkan sepatuku kearahnya.

Lalu, tiba-tiba aku merasakan sesuatu melingkari pinggangku. Saat aku melihat, tangan bagas sedang merangkul erat pinggangku. Seketika amarahku ingin meledak. Bisa-bisanya dia melakukan itu padaku.
Kucondongkan wajahku kearah wajahnya terlihat jelas ekspresi panik di wajahnya. kudekatkan kembali wajahku mengikis jarak diantara kami.  Lihatlah, mukanya sudah merah seperti kepiting direbus.

Lalu kubisikkan dengan lembut.
"Singkirkan segera tangan tidak tahu dirimu itu!" Kemudian aku menarik diri.  Kulihat wajahnya pias. Segera dia menarik tangannya. Sedangkan, tamu undangan yang memperhatikan interaksi kami barusan hanya senyum-senyum. Mungkin, mereka berfikir aku tengah membisikkan kata-kata-kata mesra pada Bagas.

 
Top