By : Nelliya Azzahra 
(Member AMK Dan Pegiat Literasi)

Aku bagas Harmadi, laki-laki berusia 25 tahun. Aku memang tinggal di kota, tetapi kedua orang tuaku tinggal di kampung ini.

Kampung tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku tinggal di kampung sampai lulus SMA, setelahnya aku ikut mas Bagus Harmadi tinggal di kota untuk melanjutkan kuliah. Kebetulan mas Bagus sudah menikah.
Setelah lulus kuliah kami mencoba mengembangkan usaha kafe milik mas Bagus. Alhamdulillah sampai saat ini kami sudah memiliki tiga kafe. Salah satunya dia berikan kepadaku. Jadi akulah yang mengelola. Di kota aku sudah punya rumah, walaupun tidak terlalu mewah. Rumah dengan 4 kamar ini kurasa cukup untukku dan keluarga ku kelak jika sudah menikah. 

Ngomong-ngomong soal keluarga, sudah lama aku berkeinginan memiliki seorang gadis yang tinggal dikampungku.
Namanya 'Sumi' dia dulunya kakak kelasku saat SD sedari kecil kecantikannya sudah terlihat. Tapi sewaktu remaja dia memilih menutup auratnya dengan sempurna. Dengan begitu, dia menjadi gadis yang tidak mudah dimudah untuk didekati. Aku hanya bisa menyimpan rasa ini dalam diam. Aku tahu, kalau kuungkapkan sekarang pun Sumi pun tidak mau dekat-dekat denganku. Ditambah selisih usia kami yang terpaut sampai 5 tahun, dimana mba Sumi lebih tua.

Aku sempat merasakan patah hati saat tahu mba sumi sudah tunangan, sejak itulah aku memutuskan tinggal di kota. Tidak ingin semakin terluka saat melihatnya berdua. Namun, angin segar kembali menerpaku. Kudengar dari bapak pertunangan mereka batal. Jujur aku merasa senang.

Setelah aku mantap dengan niatku. Maka, aku pun bergegas pulang kerumah bapak. Dengan maksud melamar mbak Sumi. Keinginan yang sudah lama terpendam.

Hari itu saat aku baru saja sampai, tidak sengaja kami bertemu didepan rumahku. Rupanya dia baru pulang dari sawah. Aku hanya tersenyum  melihatnya. Tidak lama kulihat dia berlalu.

Mbak Sumi memang bukan wanita manja. Dia tidak segan membantu kedua orangtuanya dengan terjun langsung ke sawah. Tidak merasa takut kulitnya akan terbakar panasnya matahari, atau telapak tangannya menjadi kasar. Inilah, alasan salah satu aku menyukainya. 

Sejujurnya aku kurang setuju dengan orang-orang kampung yang menyebut mba Sumi 'perawan tua'. Bagiku beliau bukan perawan tua, hanya wanita dewasa yang sudah matang.

Hari ini, berbekal info dari Bapak. Jika setiap pagi mbak Sumi akan ke sawah. Maka aku menunggunya bermaksud menyampaikan keinginan hati. 

Baca :
Perawan Tua (Part 1)
Perawan Tua (Part 2) 

Ternyata mbak Sumi sudah lewat depan rumah ku. Aku yang melihatnya segera menyusul. Tanpa ku sangka jalan mbak Sumi cepat juga. Sehingga aku harus setengah berlari mengejarnya.

"Mbak tunggu" aku berteriak berharap dia menghentikan langkahnya.
Berhasil. Akhirnya dia berhenti.

"Mbak, apa nanti malam aku boleh kerumah mu?" 

"Untuk apa" jawabnya

Aku merasa sedikit gugup, khawatir dia akan menolakku. Namun, saat kulihat dia ingin beranjak pergi kukumpulkan semua keberanian.

"Hmm, aku ingin melamarmu mbak" plong rasanya. Aku menarik nafas lega.

Lalu kulihat dia keheranan dengan perkataanku barusan. Dia pikir aku sedang mengigau. Lalu dia menanyakan umurku.
Aku berharap dia menerima, tahunya yang ku kuatirkan terjadi juga. Dia menolak!

Aku yang kecewa dan sedikit kesal dengan penolakannya yang buru-buru membuat aku melontarkan kata-kata yang mungkin melukai hatinya.
Kulihat dia berbalik dengan kilat api amarah dimatanya. Kurasa, jika apa itu bisa keluar aku sudah  hangus terbakar. Lalu dia mengarahkan telunjuknya kearah wajahnya dan mulai mengeluarkan kata-kata ajaib yang justru dimataku terlihat lucu dan menggemaskan. Aku baru tahu ternyata mbak Sumi galak.

Lalu setelah puas menyemprotku dengan kata-katanya ajaibnya, dia pun berlalu dengan wajah ditekuk.

Jangan pikir aku akan mundur karena penolakannya. Aku sudah menunggu lama untuk ini. Bismillah saja aku akan tetap maju.
Baiklah aku segera pulang dan bergegas bersiap-siap untuk kerumahnya nanti malam.

~~~~
Saat aku kerumahnya, yang kutemui hanya bapak dan ibunya,  kata mereka mbak Sumi sedang mengajar ngaji di langgar.
Terdengar suara mba Sumi mengucapkan salam. Aku sedikit memperbaiki posisi dudukku.
Tanpa melihat kedatangannya.

"Kau!" Serunya. Suaranya sudah menggema diruangan ini. Aku masih bertahan dengan posisiku tanpa melihatnya. Dalam hati berdoa semoga saja dia tidak mengeluarkan kata-kata ajaibnya. Bisa malu aku didepan kedua orangtuanya. Mungkin dia tidak menyangka dengan kedatanganku kerumahnya malam ini. Tapi niatku yang sudah mantap tidak akan mundur.

Kudengar bu Ina menjelaskan maksud kedatanganku padanya. Tidak lama jawaban ketus yang kudengar.
Aku membathin, kenapa hanya kata-kata pedas yang keluar dari mulut wanita cantik ini untukku ya Allah? Karena aku sudah memutuskan untuk melamarnya, maka akupun akan menerima kelebihan dan kekurangannya.

Setelah merasa cukup aku pun pamit untuk pulang. Tadi, mbak Sumi bilang akan dipikirkan dulu. Baiklah aku juga tidak mau memaksa.

3 hari berlalu usaha dan doaku tidak sia-sia. Mbak Sumi menerima lamaranku. Berkali-kali aku mengucap syukur.
Diadakanlah pernikahan kami. Kulihat saat pernikahan kami mbak Sumi sangat cantik. Mengenakan gamis putih dan kerudung warna senada sangat anggun.

Saat resepsi dia terlihat gelisah. Ingin menanyakan sebabnya aku masih sungkan. Dan kulihat wajahnya hanya datar saja. Lalu aku berinisiatif untuk memintanya tersenyum. Setidaknya didepan tamu undangan saat ini. Aku tidak ingin mereka berfikir yang aneh-aneh tentang pernikahan kami.
Aku mendekatkan wajahku kearahnya, berniat memberitahukannya. Belum sempat kubisikkan dia menatapku curiga, dan segera menyilangkan tangannya didepan dada. Aku yang melihatnya sedikit memicingkan mata. Apa yang sedang dia pikirkan?

Setelah kubisikkan padanya untuk tersenyum, dia pun hanya menurut. Tidak ada kata-kata pedas dan ketus. Lihatlah , betapa manisnya dia tersenyum saat ini. Aku tidak kuasa menahan senyum dan rasanya sudah ingin tertawa. Tapi sebisa mungkin kutahan. Kemudian kulihat dia melotot kearahku.
Aku yang terbawa suasana tidak sadar ketika tanganku melingkari pinggangnya erat. Aku yang berdiri dan melihat kearah tamu undangan dikejutkan dengan tiba-tiba wajahnya yang kini hanya berjarak beberapa centi dari wajahku.

 Deg.Deg.Deg

Melihat wajahnya dengan jarak sedekat ini membuat pikiranku sudah kemana-mana. Apa yang akan dilakukan mba Sumi? Pikirku. Sungguh aku mengharapkan hal yang 'iya-iya'.

Lalu suara lembutnya mengalun ditelingaku.

"Segera  singkirkan tangan tidak tahu dirimu itu" seketika aku melihat dimana tangan kanan ku saat ini. Sungguh rasanya wajahku sudah memanas saking malunya. Sementara mbak Sumi terlihat tersenyum puas ketika sudah kutarik tanganku.

Sumi Pov*

*****
Alhamdulillah setelah seharian aku seperti pajangan yang dilihat orang banyak, akhirnya aku boleh juga untuk masuk kamar. Sungguh aku butuh kasur dan koyo kayaknya. Kaki ku pegal luarbiasa. Setelah membersihkan diri dan solat magrib aku mengistirahatkan diri. Sampai aku melupakan keberadaan Bagas yang baru sehari menjadi suamiku. 

Aku sedang menikmati lembutnya kasurku saat pintu berderit. Segera kusambar kerudungku. Saat ini aku hanya memakai daster panjang dan kerudung instan.

Kulihat bagas yang tampak segar memasuki kamar. Rasanya sungguh canggung berada didalam kamar hanya berdua begini. Aku yang masih belum percaya jika kini statusku sudah berubah. Dari perawan tua menjadi seorang istri.

Kulihat bagas duduk di kursi yang biasa tempat aku membaca sambil memencet-mencet HP nya.

"Ehem, kau apakah sudah makan?" Tanyaku memecah keheningan yang tercipta diantara kami.

Dia mengalihkan fokusnya pada Hp dan menatapku.

"Sudah mbak. Mbak Sumi sendiri apakah sudah makan?" 

"Belum. Nanti saja.jika lapar aku bisa ambil sendiri" jawabku.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 wib. Aku yang melihat gelagat bagas yang gelisah pun bangkit berdiri.

"Kenapa kau dari tadi mondar mandir saja? Apakah kau tidak ingin tidur?"

"Tentu saja aku mau tidur mbak. Tapi apakah aku boleh tidur dikasurmu?" Tanya sembari menujuk kasurku. Deg..

Iya juga tempat tidur hanya satu dikamar ini. Tidak mungkin aku menyuruhnya tidur dilantai.
Bukannya aku tidak tahu kewajibanku sebagai seorang istri. Namun, untuk menyerahkan jiwa dan ragaku, aku masih butuh waktu. Aku ingin perasaan ku terhadap bagas muncul dengan alami.

"Baiklah kau boleh tidur disampingku. Tapi tolong, kondisikan tanganmu!"

"Baiklah mbak, terimaksih" kulihat dia beranjak naik keatas tempat tidur. Akupun menuju lemari dan mengeluarkan satu selimut memberikan pada Bagas.
Tidak berapa lama kami sudah hanyut masuk kealam mimpi masing-masing.

Pagi ini aku terbangun dengan status baruku. Senyum terbit dibibirku. Setidaknya aku sudah terlepas dari gelar'perawan tua'

Tadi Bagas pergi ke Langgar untuk solat berjamaah. Aku sendiri setelah solat langsung kedapur membuat sarapan. Bagaimanapun aku sudah jadi istrinya.

Hari ini berlalu dengan kami mengunjungi rumah sanak saudara. Maklum pengantin baru. Harus mengenalkkan pasangannya pada keluarga. Agar satu sama lain bisa dekat dengan keluarga barunya.

3hari berlalu. Belum ada kemajuan yang berarti dengan pernikahan kami. Aku dan Bagas masih sama-sama canggung.
Hari ini aku ingin ke sawah setelah beberapa hari dirumah. Bagas mau ikut katanya.

Sesampainya di sawah banyak yang menyapa kami. Katanya kok sudah kesawah dan ndak bulan madu dulu. Aku hanya tersenyum dan menjawab nanti ada waktunya.

Kulihat Bagas sudah berkeringat saat memacul ditengah sawah. Pemandangan ini justru membuatnya semakin tampan. Eh apakah barusan aku memujinya?. Sebagai istri yang baik akupun menawarinya minum.

"Mbak ini botolnya. Aku sudah" dia menunjuk botol minuman yang sedang dipegangnya.

"Tolong lempar saja! Aku akan menangkapnnya" Saat aku akan berdiri gamisku terinjak. Tubuhku oleng. Kulihat Bagas segera meraih pinggangku. Tapi naas, kami malah sama-sama tercebur kedalam lumpur.

Aku melotot kearahnya yang jatuh tepat disebelahku. Kulihat orang yang juga sedang di sawah menggoda kami.

"Duh, manten anyar. Mesra-mesranya kok di tengah sawah dalam kubangan lumpur lagi" lalu mereka tersenyum.

Mesra? Apakah mereka tidak melihat kami sedang terjatuh. Bagas berdiri terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya kepadaku. Aku yang memang kesusahan untuk berdiri menyambutnya. Kurasakan genggaman tangannya hangat.

"Kenapa tidak menahanku tadi? , jadinya jatuh kan lumpur semua ne" gerutuku sambil membersihkan lumpur yang menempel pada gamis dan kerudungku.

"Maaf mbak. Tadi tiba-tiba. Tubuhku tidak siap menopang berat badanmu" 

"Alasan, bilang saja kau memang tidak kuat kan" aku senyum penuh arti kepadanya.

"Maksudmu mbak? Mbak Sumi meragukan kemampuanku sebagai suamimu. Apakah kau akan mencobanya saat ini juga?" Kulihat wajahnya serius.

Blush. Pipiku memerah mendengar ucapan vulgar Bagas barusan.

"Bagas Harmadi. Tidakkah kau malu berkat-kata vulgar disiang bolong dan ditengah sawah seperti ini hem?"

"Kata-kata vulgar? Yang mana mba?"

"Barusan" 

"Oh itu maksudku. Apakah mbak mau tahu kekuatanku.  Maksudnya aku bisa saja  menggendong mbak jika kesulitan berjalan dengan baju penuh lumpur seperti itu. Apakah kau memikirkan hal lain mbak? Terkait omonganku barusan?" Dia terlihat tersenyum menggoda kearahku.

Ya Allah ingin rasanya membenamkan wajahku didalam lumpur saat ini. Saking malunya. Ini semua pasti karena imajinasi liarku. Wajahku jangan ditanya, mungkin sudah seperti tomat masak merahnya.

Lalu kurasakan tangan hangat Bagas mengusap pelan pipiku. Pandangan kami bertemu. Suara jantungku ... tolong jangan sampai Bagas mendengarnya.

"Maaf mbak, ada lumpur di pipimu. Dan lihatlah wajahmu memerah sekarang mbak"

Aku segera sadar  dan menjauh  serta menutupkan kedua tangan kewajahku.

Bersambung......... (Part 4)
 
Top