By: Nelliya Azzahra 
(Member AMK Dan Pegiat Literasi)

Sumi pov*

Setelah accident jatuh di sawah  bersama bagas tempo hari, sepertinya aku harus lebih berhati-hati bila berdekatan.

Detak jantungku berdetak lebih cepat setiap berdekatan dengannya. 
Cepat-cepat aku menggelengkan kepala ku. Tidak. Tidak mungkin aku jatuh pada pesonanya secepat ini.

Hari ini memasuki hari ke 6 pernikahan kami. Semalam Bagas mengajakku kerumah orangtua dan menginap disana.

Jadilah pagi ini aku tidak ke sawah. Setelah bersiap-siap aku segera berpamitan dengan ibu.
Kulihat, ibu duduk di teras sedang menganyam tikar dari daun rumbia. Di disini memang masih biasa menggunakan tikar dari daun rumbia.

"Ibu, aku kami pamit dulu ya, mau kerumah bapak Har dan menginap disana malam ini" aku duduk disamping ibu.

"Oh iya nduk. Bagas. Hati-hati ya. Titip salam sama ibuk dan bapakmu ya" ibu melihat kearah bagas yang sedang berdiri disamping ku.

Setelah berpamitan kami pun menuju rumah mertuaku dengan naik motor. Karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku.

"Mbak!" 

"Iya kenapa?" Seruku dari boncengan belakang.

"Bisakah kau sedikit maju duduknya" kulirik Bagas dari kaca spion.  kulihat dia sedang tersenyum.

"Kenapa memangnya?"

"Kalau begini, aku serasa tukang ojekmu mbak" 
Lalu aku melihat jarak antara kami. Memang jarakku dan Bagas bisa untuk duduk satu orang lagi. Baiklah aku menggeser dudukku sedikit maju. Kulihat dia tersenyum puas. Dasar modus.

"Assalamualaikum. Ibu, bapak" aku menyalami kedua mertuaku. Mereka menyambutku dengan ramah. Lagipula dari kecil keluargaku memang sudah mengenal keluarga pakde Har dan bude Siti. Mereka orang baik.

Lalu untuk makan siang aku dan ibuk Siti memasak di dapur. Aku memilih memasak semur ayam. Tadi bu Siti bilang katanya Bagas suka makan semur ayam.

Setelah siap acara masak-memasak, kami segera menghidangkan makanan diatas meja.  Selain  semur ayam,  ada beberapa lauk  dan sayur juga yang kami masak.

Lalu kami berempat mulai makan. Aku berdiri untuk menyendokkan nasi Bagas
 Lalu menaruh semur ayam di piringnya. Pak Har dan 
Ibu Siti pun sudah mulai makan.

"ayo nak Sumi makan juga" pak Har tersenyum kearahku.

"Iya pak"

"Ibu apakah enak semur ayamnya?" Tanyaku sambil menyendokkan nasi kepiringku sendiri.
Ibu mertuaku tersenyum dan mengacungkan jempolnya. 

"Buk, tapi ini asin" protes Bagas dari tempat duduknya.

"Bagas!" Panggil bu Siti.

"Aww" terdengar teriakan Bagas. kulihat ibu mertuaku tengah menginjak kakinya.

"Itu yang masak istrimu loh" seru ibu.

Kulihat Bagas menggaruk tengkuknya dan tersenyum salah tingkah kearahku

"Ndak apa bu, jujur itu lebih baik meskipun menyakitkan" aku menekankan kata 'menyakitkan' dan menatap tajam Bagas. Sementara yang kupandang hanya nyengir. Dasar suami yang sangat jujur.

Sehabis solat isya aku langsung istirahat di kamar Bagas dulunya. Warna gelap yang mendominasi kamar ini menambah kesan maskulin.

Tidak lama kulihat Bagas menyusul masuk dengan membawa segelas minuman.

"Mbak, maafkan yang tadi siang ya. Aku tidak tahu kalau itu masakan mbak Sumi" ada penyesalan dari kata-katanya barusan.

"Iya tidak apa-apa. Lagipula bagus jujur begitu. Aku jadi tahu" terangku.

Lalu dia meraih segelas minuman itu dan menyodorkan kearahku.

"Ini mbak aku buatkan jus alpukat khusus buat mbak"

"Jadi sekarang kau sedang menyogokku?" Aku beralih melihat segelas jus di tangannya.

"Aku ingin saja membuatkan untuk istriku yang sudah memasak untukku hari ini" katanya dan  tersenyum sangat manis. Duuh. Bisa-bisa aku diabetes kalau  sering melihat senyumnya yang  manis ini.

"Masakan asin yang kau maksud!"

"Tapi enak kok mbak. Serius. Aku sampai nambah makannya" kulihat dia bersemangat.

"Kalau itu kurasa kau saja yang kelaparan" aku segera meraih jus ditangannya, setelah berterimaksih. Tidak lama segelas jus alpukat pun tandas.

Lalu kami pun beranjak untuk tidur.

Kudengar suara azan subuh berkumandang. Aku pun segera bangun ingin kekamar mandi. Tapi tunggu dulu, kurasakan ssesuatu yang berat memeluk pinggangku. Saat kulihat tangan Bagas yang berada disana. 
Aku refleks berteriak seraya mengguncang-guncang tubuh Bagas.

"Bagas bangun, ayo bangun!"

Kulihat dia gelagapan dan langsung terduduk.

"Mbak ada apa? Apakah ada maling atau gempa? Kenapa berteriak?" Cecarnya

"Bukan! Tapi tanganmu tadi memeluk pinggangku, apakah kau memanfaatkan orang yang sedang tidur?" Tanyaku curiga.

"Ya Allah mbak Sumi. Kukira ada apa. Maaf sungguh aku tidak sengaja
 Kau membuatku kaget saja mbak" kulihat muka bantalnya dan rasa kaget bercampur jadi satu.

"Berkali-kali kukatakan, tolong kondisikan tanganmu itu" sungutku.

"Baiklah mbak Sumi yang cantik. Yuk kita solat" dia segera beranjak ke kamar mandi terlebih dahulu. Dia tidak tahu saja. Kalau jantungku sudah mau copot dibuatnya.

Bagas pov*

***

Hampir satu minggu pernikahanku dan mbak Sumi. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Hanya saja mbak Sumi belum menjadi milikku seutuhnya. Aku memang ingin dia menyerahkan dengan sukarela tanpa paksaan dan merasa terpaksa. Aku tahu dia masih proses saling mengenal lewat pernikahan ini. Kami yang selama ini tidak pernah menjalin hubungan yang dilarang Allah Swt, seperti pacaran, memang merasa canggung dengan interaksi kami saat ini. Tapi aku yakin, benih-benih itu akan segera tumbuh di hati mbak Sumi. Dan aku disini setia menunggu saat itu. Aku mencintainya tanpa syarat. Jadi insyaallah aku ridho menunggu mbak Sumi sendiri yang datang kepadaku.

Baca :

Beberapa hari lagi aku akan pergi ke kota. Sudah hampir dua minggu aku meninggalkan kafe. Meskipun ada mas Bagus tetap saja itu adalah tanggung jawabku. Aku belum membicarakan perihal aku akan kembali ke kota. Aku berharap mbak Sumi bersedia ikut.

Hari ini kami sudah balik kerumah mertuaku. Siang ini mbak Sumi ada pengajian di masjid di kampung sebelah. Aku pun mengantar dengan motornya. Mbak Sumi tidak mau diantar pakai mobil. Alasannya lebih enak pakai motor. Bagus juga pikirku. Dengan begitu aku bisa berdekatan dengannya jika diatas motor.

Sumi pov*

Setelah diantar Bagas tadi. Disinilah aku sekarang sedang mengikuti pengajian.

"Baiklah ibu-ibu diantara ciri-ciri istri sholehah adalah enak dipandang, misalnya  seringtersenyum kepada suaminya,6 termasuk berdandan untuk menyenangkan suami itu berpahala ya ibu-ibu

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul Khaththab radhiallahu'anhu:

"Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya." (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: "Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.")

Aku menyimak setiap penjelasan yang disampaikana ustadzah. Dalam hati ada rasa sesal, mungkin selama  menikah aku belum menjadi istri yang shalihah untuk Bagas.
Akupun bertekad akan berusaha menjadi istri shalihah.

Selepas asar pengajianpun selesai. Aku pulang bersama tetangga yang kebetulan juga ikut pengajian sore ini. Bagas tadi memang sudah bilang tidak bisa menjemputku karena ada urusan dirumah mertuaku.

Sesampai dirumah aku pun bergegas masuk kamar. Kubuka lemari dan mengambil sesuatu lalu kuletakkan di meja riasku. Aku pun diduduk disana.
Ini adalah alat make-up yang dibelikan Bagas saat hantaran pernikahan kami. Belum pernah kupakai.
Tapi kali ini aku ingin terlihat cantik didepannya. Bukankah menyenangkan suami itu berpahala bathinku.

Oke. Aku mulai memoles wajahku. Ternyata tidak mudah sebagai pemula beberapa kali alisku terihat tinggi sebelah dan harus menghapus dan memolesnya lagi. Aku memang tidak suka dandan. Hari-hari hanya menggunkan bedak tabur biasa.

Oke sentuhan terakhir tinggal menambahka blush on. Akupun memolesnya.

Karena terlalu asyik aku tidak menyadari ibu masuk.

"Wah, nduk kamu dandan ya. Ayu tenan nduk" ibu duduk didepanku sambil memperhatikan wajahku.

"Iya bu nyoba ini make-up yang dibelikan Bagas belum pernah dipakai" jawabku

"Pantes pulang dari pengajian langsung masuk kamar. Rupanya dandan. Iya dandan yang cantik yo nduk. Biar Bagas klepek-klepek lihat kamu" ibu tertawa dan menjawil pipiku.
Ibu, memang paling bisa kalau urusan menggoda anaknya.

Setelah selesai aku mendengar deru motor Bagas didepan. Sekali lagi aku berkaca memastikan penampilanku sudah oke.

Aku keluar kamar dan berjalan kearah Bagas yang duduk didepan TV.

**
"Sudah pulang ya" aku menyapanya yang sedang menonton.
Diapun melihatku dan berdiri.

"Mbak apa yang terjadi dengan wajahmu" dia mendekat dan mengulurkan tangannya ingin menyentuh wajahku. Refleks aku mundur.

"Maksudmu wajahku, kenapa?" Tanyaku bingung melihat ekspresi panik di wajahnya. Bukan ekspresi ini sebenarnya yang kuharapakan. Harusnya ekspresi kagum dan terpesona.

"Mbak coba kulihat, apakah kau habis jatuh dan terbentur? Kenapa wajahmu jadi aneh dan terlihat merah seperti memar" cecarnya. Berusaha menggapai wajahku.
Sekarang aku yang dibuatnya bingung.

"Aku tidak jatuh, tidak juga terbentur" jawabku polos.

"Tapi  wajah mbak terlihat aneh?
Tidak seperti biasanya mbak"

Aku jadi ngeh. Dan segera meraba wajahku. Apa aku yang terlalu banyak memoles blush on tadi ya? Mungkin itu yang membuat wajahku terlihat aneh dimata Bagas. Akupun berbalik dan berlari kekamar mandi. Meninggalkan Bagas yang masih mematung ditempatnya.

Segera kucuci wajahku. Setelah itu bercermin yang terdapat di kamar mandi. Ya Allah suami ku itu polos atau apa ya? Niatnya mau buat kejutan malah buat malu saja.

Setelah kejadian memalukan tadi sore aku mengurung diri dikamar dengan setumpuk novelku.

Aku sengaja menghindari Bagas. Sungguh rasa malu ini lebih mendominasi.
Aku pikir lebih baik melahap novel-novelku saja. Aku asyik membaca ketika kudengar seseorang membuka pintu. Kutebak. Itu pasti Bagas.

"Mba Sumi"

"hmmm" aku masih fokus dengan novelku.

"Mbak, tadi kata ibu mbak Sumi hampir satu di kamar untuk berdandan. Apakah mbak melakukan itu untukku?" Tanyanya. Aku masih memunggunginya.

"Jangan terlalu pede. Aku hanya ingin mencoba make-up yang kau belikan. Mubazir jika tidak dipakai" elakku.

"Mbak" kulihat dia sudah berdiri didepanku dan meraih salah satu tanganku. Aku pun mendongak melihat wajah tampan  yang tengah mengurai senyum.

"Mbak. Aku minta maaf ya. Jika menyakiti hatimu. Aku mencintaimu apa adanya. Bermake-up ataupun tidak. Bagiku kau tetap cantik. Untuk tidak meminta istri yang sempurna, karena aku pun belum sanggup. Jika aku mengharapkan istri layaknya Fatimah putri Rasulullah, maka aku harus melayakkan diri seperi Ali bin Abi thalib. Aku ingin mbak nyaman dengan pernikahan ini. Jangan menjadi orang lain untuk membuatku senang" kemudian dia meremas pelan tanganku. Aku yang mendengar kata-katanya barusan hanya terdiam. Kelu lidahku untuk menjawab. Kurasa memang benih-benih rasa itu mulai tumbuh. Untuk lelaki yang kini berdiri dihadapanku.

** 

Hari ini Bagas akan balik ke kota setelah 2 minggu disini. Aku belum bisa ikut karena masih ingin menjaga ibu yang kurang sehat beberapa hari ini.

"Berapa lama baru balik kesini" tanyaku sambil menyusun bajunya kedalam koper.

"Tergantung, jika ada yang kangen aku akan cepat kesini" 

"Jangan mimpi!, baguslah kalau begitu, aku sekarang bisa menguasai kasurku sendirian. Tidak berbagi lagi" 

jawabku. Terlihat eskpresi sendu di mata Bagas. Apa dia sedih mendengarkan kata-kataku barusan, dan berharap aku merindukannya? 

Akhirnya Bagas berangkat juga. Sebelum berangkat aku mencium tangannya dan dibalas dengan  elusan di  kepala ku yang  tertutup kerudung.

Beberapa hari sudah Bagas di kota. Jujur aku merasa kehilangan sosoknya. Entahlah apakah aku mulai merindukannya? Biasanya dia selalu menggodaku dan membuat tandukku keluar.

Dia rajin menelfon dan mengirimiku pesan singkat. Sekedar bertanya kabarku, atau aku sudah makan atau belum. Justru perhatian itulah yang membuat rinduku kian membuncah.

Mertuaku ingin ke kota besok, katanya ingin melihat istri mas Bagus yang baru lahiran. Aku ditawari jika ingin ikut. Kebetulan sekali aku ingin bertemu dengan Bagas. Sengaja aku tidak memberitahunya. Ingin memberikan kejutan. 
Malam ini pun aku berkemas setelah tadi izin sama bapak dan ibu.

Aku dijemput kerumah dengan mobil mertuaku. Kami bertigapun berangkat. Aku yang tertidur tidak tahu kalau kami sudah sampai dirumah  Bagas. Dia memang sudah cerita kalau sudah punya rumah sendiri dan memiliki usaha Kafe.

Ibu Sitidan pak Har tidak mampir sekarang, katanya akan kerumah mas Bagus dulu. Aku pun keluar dari mobil setelah mencium tangan bapak dan ibu.

Kudorong gerbang rumah Bagas. Aku mempercepat langkahku karena hujan mulai turun. Ketika langkahku makin dekat, aku menangkap dua orang yang sedang duduk di teras. Dan mataku tidak salah lihatkan? Itu Bagas dengan seorang perempuan dan aku beralih pada tangan Bagas yang memegang tangan wanita itu.
Darahku seakan mendidih saat ini. Ingin aku hampiri mereka tapi kakiku terpaku ditempat. Apakah Bagas mengkhianatiku? 

"BAGAS HARMADI!"

Seketika dia menoleh dan wajahnya berubah pucat melihat kearahku. Seperti aku ini hantu saja.

Tanpa sepatah katapun aku berlari meninggalkan mereka, tidak peduli hujan turun dengan derasnya. Dasar penghianat! Bathinku.

Jujur hatiku sakit saat ini. Bagaimanapun Bagas suamiku.
Aku berlari tidak tentu arah. Lalu aku merasakan pergelangan tanganku ditarik. Kulihat Bagas dengan wajah khawatir sudah basah kuyup.
Tidak lama dia menarikku kedalam pelukannya. Aku makin terisak.

"Tolong maafkan aku, apa yang mbak lihat tidak seperti yang mbak bayangkan. Aku mohon jangan pergi. Aku sangat khawatir tadi, aku tidak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi padamu mbak"

suaranya berlomba dengan derasnya hujan.

Aku mengabaikan omonganny barusan, saat ini hatiku benar-benar sakit.

Lalu Bagas menuntunku untuk kembali kerumahnya.
Aku pasrah mengikut saja.

"Mbak ini handuknya, ganti baju dulu ya nanti masuk angin" dia menyerahkan handuk kepadaku. Aku yang memang kedinginan segera meraihnya. Kulihat dia berbalik hendak keluar kamar.

"Bagas!"

"Iya mbak" dia sedikit terkejut melihatku tanpa kerudung untuk pertama kalinya sejak hampir satu bulan pernikahan kami.

Aku berjalan mendekatinya, kurasa inilah saatnya aku menjadi istri seutuhnya untuk Bagas Harmadi.
Aku semakin mengikis jarak diantara kami. Bagas yang melihat aku mendekat pun tersenyum kepadaku. Malam ini aku telah menyerahkan hatiku seutuhnya hanya untuk kekasih halalku. Rasa yang tumbuh kepada orang yang semestinya. Terimakasih karena sudah sabar menunggu benih rasa itu tumbuh dihatiku. Bagas

Bersambung................
 
Top