By : Nelliya Azzahra 
(Member AMK Dan Pegiat Literasi)

Bagas Pov*

Hari ini aku pulang dari kafe lebih cepat. Aku dapat kabar kalau bapak dan ibu ingin ke kota.  Melihat cucunya yang baru lahir semalam. Anak  kedua dari mas Bagus dan mbak Rini.

Saat aku sampai di depan rumah, kulihat seorang perempuan sedang terduduk disebelah sepeda motornya.

Akupun segera turun dari mobilku, ingin melihat apa yang terjadi.

"Permisi mbak, ada yang bisa saya bantu"? Kulihat perempuan yang dari tadi hanya menunduk sambil memegangi tangannya melihat kearahku. Ketika dia mendongak, kulihat darah segar mengalir dipelipisnya. Lalu beralih juga pada tangan yang sedari tadi dipeganginya.

Darah, ada luka yang cukup dalam jika kulihat.

"Saya hiks ... tadi motor saya disenggol mobil. Tapi mobilnya kabur" dia mulai menangis. Ternyata perempuan ini habis ditabrak lari.

Aku segera berjongkok untuk memeriksanya. Ya Allah ternyata luka di tangannya cukup dalam memang. Seperti dugaanku. Jika dibiarkan perempuan ini bisa kehabisan banyak darah.

Akupun berinisiatif untuk menolongnya.

"Mbak ayo kerumah saya. Biar saya balut luka mbak. Kalau dibiarkan mbak bisa kehabisan darah" aku menunjuk rumah didepan kami saat ini. Kulihat perempuan itu berdiri mengikutiku.

Karena tidak ingin ada fitnah, berduaan dengan seseoarang yang bukan Istriku. Maka, aku meminta dia menunggu di kursi teras. Sementara aku mengambil kotak P3K didalam rumah.

Setelah dapat aku segera bergegas membersihkan lukanya agar tidak infeksi dan membalutnya.

Ketika aku hampir selesai membalut lukanya kudengar suara yang sangat familiar di telingaku. Suara yang beberapa hari ini sangat aku rindukan dan ingin sekali mendengarnya.

"BAGAS HARMADI!"

Aku pun menoleh, dan kulihat mbak Sumi berdiri tidak jauh dari kami. Mbak Sumi? Benarkah itu dia? Atau hanya pikiranku saja yang terlalu merindukannya. Namun, saat dia berbalik berlari menerobos hujan yang mulai mengguyur aku tersentak. Itu benar mba Sumi. Aku pun melihat salah satu anggota keluarga perempuan yang ku obati datang menjempunnya. Mungkin tadi dia menghubungi keluarganya.

Aku tidak berfikir panjang lagi, segera kuterobos lebatnya hujan untuk mengejar wanitaku. Aku tahu mbak Sumi saat ini pasti sudah salah paham.

Aku melihat sosoknya didepan, segera kupercepat lariku. Setelah dekat aku raih pergelangan tangannya, kulihat dia sedang menangis. Melihat itu hatiku terasa sakit. Aku pun segera meraihnya kedalam dekapanku. Kudengar isaknya berlomba dengan derasnya hujan.

"Tolong maafkan aku, apa yang mbak lihat tidak seperti yang mbak bayangkan. Aku mohon jangan pergi" aku mengeratkan pelukanku. Kurasakan tubuh mbak Sumi mulai dingin. Tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk aku segera menuntunnya kembali kerumah.

Mbak Sumi tidak protes, dia mengikuti langkahku dengan masih menangis. Tidak lama kami sampai dirumah. Aku segera membawanya ke kamar. Melihat bibirnya yang sedikit membiru, segera  aku mengambil handuk dan memberikannya. Aku tidak mau mbak Sumi masuk angin. Akupun ingin berbalik keluar. Tentu mbak Sumi tidak nyaman jika ada aku disini. Pikirku. Belum sampai kuraih pintu, terdengar suara lembutnya memanggilku. Aku pun berbalik.

"Bagas!"

"Iya mbak"

Deg.Deg.Deg

Apa yang kulihat saat ini sungguh membuat ku terpana hingga lupa mengedipkan mata. Kulihat mbak Sumi tanpa kerudung untuk pertama kalinya sejak pernikahan kami.

Rambut panjang dan hitam tergerai dengan indahnya. Serasi sekali dengan wajahnya yang cantik. Dia tersenyum sangan manis. Aku pikir ini mimpi. Jika iya, jangan biarkan aku terjaga. Kemudian kulihat dia bergerak mendekatiku. Aku pun tersenyum mengerti. Malam ini kami lalui dengan membagi rasa yang sudah halal ini. Aku sungguh beruntung memiliki mbak Sumi. Apa yang tertutup selama ini memang seharusnya tertutup. Karena kecantikan yang luar biasa yang tersembunyi dibaliknya hanya aku yang melihatnya. Sungguh mbak Sumi wanita yang terjaga hingga saat ini. 

Beruntunglah setiap suami yang memiliki  istri yang terjaga. Menyerahkan hanya untuk seseorang yang memang berhak.

Baca :

Baca :

Sumi pov*

******

Pagi ini kami solat subuh berjamaah. Sebenarnya aku masih malu jika melihat Bagas. Sebisa mungkin aku bersikap biasa saja. 
Selesai solat kami membaca kalam Illahi bersama. Aku baru tahu jika suara Bagas sangat merdu ketika membaca Kalam Allah . Ah, sebenarnya memang banyak yang aku belum tahu dari suamiku ini. Tapi, kami akan berusaha menyelami semua seiring waktu.

Setelah selesai, aku merapikan kamar di bantu Bagas. Duh manis banget sih suamiku ini. Kenapa aku baru sadar ya.

Untuk sarapan aku membuat nasi goreng. Kulihat di dalam kulkas Bagas banyak bahan makanan yang tertata rapu. Walaupun Bagas tinggal sendirian. Apa di memasak sendiri pikirku?

Aku sudah sibuk didepan kompor dengan spatula di tanganku.

"Mbak Sumi!" Kudengar suara Bagas.

"Hmm"

"Mbak sedang masak ya? Waah harumnya mba" aku masih enggan berbalik. Entah kenapa jantung ini masih tidak bisa diajak kompromi jika berdekatan dengan Bagas.

"Kau bisa melihat, aku sedang apa sekarang!"

Tidak ada jawaban lagi. Ku dengar suara kursi yang digeser dan saat aku berbalik Bagas sudah duduk dengan manis. Satu tangan diletakkan di atas meja. Dan satunya untuk menopang dagunya. Kalau melihatnya begini seperti model-model yang kulihat di tv.

Eh, segera aku mengenyahkan pikiran ku yang kemana-mana.

"Mbak aku lapar" dia berkata dengan memasang muka memelas.

"Berhentilah kekanak-kanakan" aku segera mengambil piring dan menyendokkan nasi goreng ke piringnya.

Kulihat dia makan dengan lahap. Setelah selesai aku segera membersihkan piring bekas makan kami barusan.

Aku melihat Bagas tengah duduk dii sofa ruang tamu. Melihatku berjalan ke arahnya dia  menepuk-nepuk tempat duduk disebelahnya. Aku pun ikuy duduk di sebelahnya.

"Bagas"

"Ya mbak" kulihat dia berhenti memencet-mencet remote tv. Dan menghadap kearahku.

"Benar, kau tidak ada hubungan dengan wanita itu?" Yang kumaksud wanita yang tempo hari di teras bersama Bagas.

"Ya Allah, mbak Sumi. Sudah berapa kali ku jelaskan" kulihat dia sedang menahan tawa.

"Tidak mungkin aku berpaling darimu mbak. Menakhlukan mbak saja butuh Waktu lama. Kecuali, kalau mbak sudah tidak ada"

"Kau! apa baru saja menyumpahi ku?" Apa tadi katanya? Kalau aku  sudah tidak ada.

"Siapa yang menyumpahi mu mbak. Maksudku kalau mbak Sumi sudah tidak ada di hatiku lagi. Dan itu insyaallah tidak akan terjadi mbak"

"Oh... kupikir kau ingin menjadi duda secepatnya" 

"Astagfirullah, amit-amit jangan sampai mbak. Kata-katamu membuat aku takut mbak" lalu dia menggeser duduknya lebih dekat dan meraih tanganku.

"Benarkan kau tidak ada hubungan dengan perempuan itu?,  aku hanya
memastikan saja" 

"Apakah kau sedang cemburu mbak?" Dia menaik-turunkan alisnya dengan senyum jail.

"Biasa saja" elakku.

"Tapi waktu kau sampai lari-larian ditengah hujan loh mbak. Seperti adegan film india saja" kudengar dia terkekeh.

"Yaaa! berhentilah menggodaku" aku sudah tidak tahan. Mukaku pasti sudah merah saat ini.

"Aku sebenarnya malah senang kalau mbak Sumi cemburu. Itu artinya mbak Sumi cinta sama aku" dia memasang wajah serius.

Tanpa ditanyapun harusnya dia tahu kalau aku cemburu. Bahkan rasanya dadaku ingin meledak melihatnya waktu itu.

Sudah hampir dua minggu aku disini. Hari ini seperti biasa Bagas pagi-pagi sudah ke kafe. Aku yang sudah membersihkan rumah tidak ada yang di kerjakan lagi merasa bosan. Lalu aku kepikiran untuk main ke kafe bagas. Baiklah aku pun segera bersiap-siap.

Aku memakai gamis kesukaan ku warna biru langit dan kerudung warna sama.

Kuambil tas jinjingku dan memasukkan dompet kedalamnya.

Setelah memesan taxi akupun menunggu di teras. Tidak berapa lama taxi pesananku datang. Oke segera meluncur ke kafe Bagas.

Saat aku datang pas waktu makan siang. Kulihat sedang ramai pengunjung. Ada 3 karyawan yang membantu Bagas di kafe ini.

Aku melihat Bagas sedang berdiri dekat meja kasir. Kurapikan lagi kerudungku dan berjalan mendekatinya. Tapi belum sampai ke dekatnya. Kulihat seorang perempuan menghampirinya dan tersenyum sangat manis kearah Bagas dan jarak mereka.. lihatlah sangat dekat.

Aku mempercepat langkahku.

"Permisi!" Serobotku menarik tangan wanita itu untuk memberi jarak pada Bagasku, eh.

"Mbak, apa-apaan sih? Main tarik aja!" Ketusnya melihat kearahku dengan tatapan tidak suka.

Aku balik menatapnya. Salah sendiri kenapa mepet suami orang.

"Maaf ya mbak. Mbak itu seharusnya tidak dekat-dekat dengan laki-laki yang bukan mahramnya mbak" jelasku.

Kulihat dia mengerutkan keningnya.

"Memannya apa urusan mbak!" Lah dikasih tahu malah nyolot ini orang bathinku.

"Karena mbak di dalam Islam pergaualan itu di atur. Bagaimana pergaulan laki-laki dan perempuan seharusnya. Berdekatan seperti tadi bisa saja menjadi fitnah untuk mbak ataupun dia" aku menunjuk pada Bagas yang hanya terdiam ditempatnya.

"Lagi pula dia adalah suami saya mbak" skakmat.

Perempuan itu terdiam, tanpa kata balik ke tempat duduknya.

Aku segera menghampiri Bagas.

"Mbak, kesini tidak mengabariku dulu" tanyanya.

"Iya, niatnya mau buat kejuatan, eh malah akunya yang terkejut" sungutku.

"Dia hanya pelanggan mbak" Bagas berusaha membujukku.

"Dan kau menikmati kedekatan itu maksudnya!"

"Tidaklah mbak. Kau tetap saja galak. Kupikir kau tidak akan galak lagi setelah kita melakukan ... emmmm" ... aku segera membekap mulut Bagas dan malayangkan tatapan horor kearahnya. 

Kami pulang bersama dari kafe sore ini. Sebelum pulang Bagas mengajakku makan malam di luar. Disinilah kami sekarang sedang makan disalah satu tempat makan yang menampilkan keindahan alam.

"Bagas, kenapa kau menyukaiku?" Bagas meletakkan sendoknya dan menatapku lembut.

"Jatuh cinta tidak selalu butuh alasan mbak. Rasa ini datang dengan sendirinya. Dan aku ingin rasa ini tidak mengundang murka Allah. Karenanya aku memilih melabuhkan rasa ini saat kita sudah terikat hubungan yang halal"

Jujur saja rasanya sekarang  ada kupu-kupu yang terbang diperutku. Bahagianya mendengar kata-kata Bagas barusan. Aku bersyukur Allah menjodohkanku dengannya. Lalu kami saling melempar senyum.

 Ditempat terbuka seperti ini dengan angin malam yang bertiup membuatku kedinginan. Aku sedikit merapatkan gamisku.

Kulihat Bagas berdiri dari tempat duduknya berjalan kerarahku. Lalu melepaskan jaketnya dan membantu ku memakainya. Lalu kami pun pulang.

Duh ... bagaimana aku tidak meleleh jika diperlakukan begini. 

Sesampainya di rumah aku segera ke kamar mandi untuk membersihkn diri. Setelah selesai kulihat Bagas gantian memasuk kamar mandi.

Saat ini kami tengah di kamar. Aku sedang membaca novelku, sementara Bagas sedang duduk di depan laptopnya.

"Mbak"

"Iya" aku masih fokus pada Novel di tanganku.

"Mbak, hmm itu, apakah kau tidak ingin bermanja-manja denganku?" Tanyanya tiba-tiba.

Aku menurunkan novelku dan memicingkan mataku. 

"Maksudmu?"

"Itu mbak biasanya kan istri suka bermanja-manja pada suaminya" Bagas tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.

"kau pikir aku bocah ingin bermanja-manja, apakah kau lupa kalau kau menikahi wanita dewasa!"
ketusku.

"Yah, siapa tahu saja mbak. Aku hanya mencoba peruntunganku" terdengar gelak tawa Bagas.

Aku segera beranjak keluar kamar. Mengabaikan tawanya yang belum berhenti.
Apa tadi katanya, bermanja-manja? Memikirkannya saja membuat perutku mulas

Sebulan sudah aku tinggal bersama Bagas. Hari ini rencananya kami akan pulang kampung. Aku sudah rindu dengan bapak juga ibu.
Setelah bersiap-siap aku segera keluar kamar, namun tiba-tiba kepalaku pusing, dan setelahnya gelap.

Bagas pov*

Hari ini kami akan pulang kampung. Mbak Sumi sudah rindu orangtuanyam begitupun aku ingin mengunjungi Bapak dan ibu.
Aku sedang mengeluarkan mobil dari garasi. Dan berniat memberitahu mbak Sumi untuk segera berangkat.

Namun, aku melihat mbak sumi tergeletak dilantai. Aku pun berlari kearahnyanya.

"Allahuakbar mbak. Mbak bangun mbak" kutepuk pelan pipinya. Panik. Segera kuangkat tubuh mbak Sumi membawanya ke dalam mobil dengan tujuan rumah sakit.

Aku melihat mbak Sumi yang tertidur dengan wajah pucat. Senyumku tak juga surut setelah mendengar penjelasan dokter tadi.

"Selamat ya pak, bu Sumi  sekarang sedang hamil dan usia kandungannya  sekitar 2 minggu. Ibu Sumi tidak apa-apa pak. Biasa di trimester pertama kehamilan. Nanti kami berikan vitamin ya" tentu penjelasan dokter barusan membuat ku terlonjak dan bahagia bersamaan. Ya Allah sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah. Terimakasih ya Allah. Untuk segala nikmat yang telah Engkau berikan.

"Maka nikmat Tuhanmu mana lagikah yang  kamu dustakan?"

Bersambung ........ Perawan Tua (Part 6)
 
Top