Oleh: Depi Fitriyani
(Anggota SWI Jambi)

Dulu aku tidak tahu apa-apa tentang dakwah, bahkan kata 'dakwah'pun asing ditelingaku.
Dakwah yang aku kenal dulu hanya diwajibkan bagi orang yang bergelar saja. Orang yg bergelar Ustadz dan Ustadzah yang tamatan dari Kairo misalnya. Atau bagi orang yg lulusan Sarjana Agama saja.

Kalau ingat dulu setiap pagi di Indosiar selalu ada tayangan Mama dan Aa' curhat dong ma. Iya, alias ceramahnya Mama Dedeh yang dibawakan oleh Abdel sebagai pembawa acara.
Dan setiap pagi sebelum berangkat sekolah, tv sengaja dihidupkan untuk mendengar ceramah Mama Dedeh.

Sebelum aku mengkaji Islam, aku beranggapan bahwa dakwah itu ya seperti Mama Dedeh yang ditayangin di tv, berbicara di khalayak ramai dan berdiri diatas mimbar seperti halnya khatib Jum'at.
Namun anggapan itu semua seolah terluruskan setelah aku mengkaji Islam secara intensif.

Awal pertemuan dalam forum kajian, aku merasa asing dan tidak nyambung mendengar materi yang disampaikan oleh musyrifah dikala itu. Namun seiring berjalannya waktu terus kupaksakan diri untuk rutin kajian, meski terkadang aku belum bisa memahami sepenuhnya apa yang disampaikan.
Dan tidak terasa satu tahun telah aku jalani proses pembinaan ini.

Dalam satu tahun ini, begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan. Tidak hanya ilmu yang didapat dalam forum kajian saja, tapi dikala bertemu dengan para syabah, berdiskusi dengan mereka sungguh aku belajar menjadi manusia kuat yang tidak mudah baper.
Serta dibina oleh musyrifah yang berbeda-beda, tentunya dengan pengalaman yang berbeda pula.

Telah satu tahun aku mengkaji Islam, ilmu inipun menuntut untuk diamalkan dan disampaikan kepada oranglain. Sebab jika ilmu tanpa diamalkan ibarat sebuah pohon yang tiada berbuah.
Ya,  pohon itu tidak bisa membawa manfaat bagi orang sekitarnya. Itulah salah satu ilmu yang sampai sekarang melekat dibenakku.

Dan itu artinya ilmu yang selama ini sudah aku dapatkan sudah waktunya untuk disampaikan kepada oranglain.

Setiap kali selesai kajian, aku selalu dibekali buletin Teman Surga dan Kaffah sebelum pulang. Dimana buletin ini diharapkan bisa menambah mafhum (pemahaman) Islam selain ilmu yang didapat ketika forum kajian.

Setelah dibaca sendiri dan diambil point-point pentingnya, buletin ini haruslah disebar kepada oranglain. Sebagai ladang dakwah untuk kita.

Aku bangga bisa mendapatkan dan menyebarkan buletin dakwah ini. Yang dimana tidak semua remaja mendapatkannya dan bisa menyebarkannya.

Setiap kali pertemuan, musyrifahku selalu menyampaikan bahwa "dakwah itu bukan hanya kewajiban untuk para ustadz saja, tapi kita semua umat muslim diwajibkan untuk berdakwah".
Sampailah pada akhirnya aku sadar bahwa dakwah itu juga diwajibkan atasku.

Aku tersadar ketika mendapatkan tugas hapalan ayat dari musyrifahku tentang kewajiban berdakwah. Yang mana Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung".
QS. Ali-Imron 104

Terus kurenungi ayat itu dan maknanya yang disampaikan oleh musyrifahku disetiap malamnya. Hingga pada akhirnya kuberanikan diri untuk mendakwahkan teman sebayaku dalam forum kajian.

Pertama kali aku mengisi kajian tepatnya di mushola sekolahku, sungguh luar biasa menantang rasanya. Rasa takut yang bercampur berani yang menggebu menghampiriku pada saat itu.

Namun meski berawal dari demikian, dakwah mengajarkanku banyak hal. Dulu aku yang hanya sibuk dengan problem pribadi, sampai galau berkepanjangan. Tapi sekarang aku juga harus bisa berperan sebagai seorang dokter bagi umat.
Ya, lebih tepatnya dokter umat kata musyrifahku. Dokter yang mampu mendeteksi penyakit pasiennya dan memberikan segudang solusi dari keberagaman problem umat. Berat bukan tugas pengemban dakwah?
Ya, tentunya sobat.

Ketika masalah datang dari arah yang tidak disangka-sangka, baik dari keluarga yang terus menentang dakwah ini hingga masyarakat yang seolah risih dengan kesibukan ini.
Namun disaat itu jugalah kita harus mampu menghadapi umat dengan beragam problemnya.

Jleb, pasti bingung dan lelah rasanya ketika berada dititik seperti itu, jika mafhum Islam belum melekat kuat.

Ya, karna roda dakwah itu terus berputar. Kadang merasakan enak, adem ayem saja dakwahnya. Pada akhirnya aku merasakan dititik itu.

Ada kalanya Allah berikan ujian dakwah kepada para pengembannya agar Allah tahu kesungguhannya dalam tugas mulia ini.
Tidak jarang dihadapkan oleh kontakan dakwah yang susah diatur, terus beralasan ketika ditanyain jadwal kajian dan belum lagi dakwah yang ditentang oleh orang terdekatnya sendiri.

Hati seolah berontak yang terus berkata "lelah, mundur saja".
Tapi lagi dan lagi Allah berikan keteguhan pada para pengemban dakwahnya ini.

Allah selalu kuatkan hatinya agar tidak menjadi pengemban dakwah yang tidak mudah baper.
Allah selalu meyakinkannya untuk terus berjuang dijalan dakwah ini.

Ya, begitu banyak pelajaran yang ku petik dari perjalanan dakwah ini. Surat cinta Allah yang selalu menjadi motivasi dan penguat dikala lelah ialah firman Allah subahanu wa ta'ala yang berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu".

Berdakwah sesuai porsi yang kita mampu. Jika shaleh dan sholehah menjadi standar untuk berdakwah, maka itu tidak akan bisa ditularkan kepada yang lain. Terus berproses memperbaiki diri sembari memperbaiki umat. Sebab jika kita hanya sibuk memikirkankan diri sendiri, apalah guna kita hidup didunia ini.

Yuk terus berjuang dijalan dakwah ini. Jika ditemui jalan yang berliku, maka niscaya itu sebagai tangga untuk kita bisa naik ke level berikutnya.
 
Top