Oleh: Depi Fitriyani
(Anggota SWI Jambi)

Selepas shalat duha di mushola kurasakan suasana di dalamnya terasa sejuk. Angin yang berhembus kesana-kemari, seolah membuai mata untuk tidur di bentangan sajadah merah ini.
Tak salah jika mushola ini aku jadikan sebagai singgahan ternyaman menghilangkan kepenatan di dalam kelas.

Ketika ingin memanjakan diri di atas sajadah mataku tertuju pada lemari kaca tempat menaruh mukenah, sajadah serta Al-Qur'an. Tampak mukenah yang berantakan layaknya anak sekolah yang habit buruknya menaruh seragam sekolahnya disembarang tempat, tak dilipat atau dijemur.

Mataku begitu risih melihatnya, ditambah lagi Al-Qur'an diatasnya tidak juga tersusun rapi.
Memang tidak bisa dipungkiri, aku sungguh tergoda oleh kesejukan ini. Namun hatiku tergerak untuk bangkit dari sajadah. Akupun berdiri masih mengenakan mukenah putih yang tadi aku pakai untuk shalat.

Masih kunikmati sejuknya suasana di mushola ini. Sambil kulipati mukenah-mukenah yang jatuh dari gantungannya.

Tidak lama setelah selesai merapikan mukenah, aku beranjak untuk merapikan Al-Qur'an. Belum lagi aku selesai merapikannya, seketika ada seorang guru yang datang untuk shalat duha. Beliau menoleh ke arahku sambil tersenyum mengatakan "rajin sekali kamu, nak" ujar beliau.

Ya, itu hanya empat kata yang beliau ucapkan. Namun sontak membuat hatiku senang dan merasa tersanjung. Perasaan itu tak berhenti sampai disitu saja, tapi terus berlanjut setelah aku selesai membereskan semuanya hingga kembali ke kelas.

Ketika dirumah, saat  sepertiga malam seusai tahajud, tiba-tiba aku termenung dengan sendirinya. Merenungkan apa saja yang sudah aku lakukan hari ini.
Seketika pikiranku mengingatkan, bahwa tadi siang aku begitu tersanjung terhadap perkataan guru yg seolah memujiku.

Air mataku menetes perlahan membasahi pipi ini. Aku merenung dan berfikir, betapa susahnya menjadi pribadi yang ikhlas dan berniat hanya mengharapkan rida Allah Swt semata.

Beruntungnya Rasulullah Saw yang beliau telah dibersihkan hatinya dari penyakit hati, layaknya kertas putih yg bersih tanpa noda dan cela. Tapi aku, hatiku jauh dari kata bersih apalagi suci.

Ketika paginya aku beramal, namun 30 menit setelah itu terbesit perasaan bangga ingin dipuji dan terlihat baik dimata orang.

Ketika sendirian, seringkali diri ini merasa bangga mengungkit-ungkit kebaikan yang sudah dilakukan. Ego terkadang membutakan dosa-dosa yang sering diperbuat, namun menampakan kebaikan-kebaikan yang baru sedikit dilakukan.

Seharusnya aku sadar, bahwa kebaikan-kebaikan itu belum cukup menambal keburukan-keburukan yang telah aku kerjakan selama ini.

Namun ketika berjama'ah atau didepan publik, aku tergoda oleh pamrih dan pujian dari orang. Mesti tidak kudapatkan pujian, tanpa kusadari aku mengharapkan banyaknya para pembaca yang nge-like tulisanku, hingga diberikan penghargaan.

Lama setelah itu, aku tersadar kembali. Terdengar suasana yang begitu sunyi, hanya terdengar suara jangkrik didepan rumahku yang saling bersautan, hingg kurenungi. Pernah kubaca hadist Nabi Muhammad Saw yang bersabda:

 _"Dari Amirul Mu'minin , Abi Hafs Umair bin Al-Khattab ra.yang berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karna (ingin mendapatkan keridhoan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karna dunia yang dikehendakinya atau karna wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan"._
(HR dua imam hadist, Abu Abdullah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bi Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari dan Abu Al-Husein Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi Al-Naisaburi dan kedua kitab Shahih-nya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)

Kulihat jam masih menunjukan pukul tiga dini hari aku kembali untuk melanjutkan tidurku. Dan aku tertidur diatas sajadah ini.
 
Top