Oleh: Depi Fitriyani
(Anggota SWI Jambi)

Temans, makna hijrah secara bahasa berasal dari kata hajara berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain.
(Ash-shihah fi al-Lughah, 11/243; Lisan al-'Arab, V/250; al- Qamus al-Muhith, I/637)

Hijrah di kalangan remaja sekarang bukanlah hal yang asing lagi di dengar. Bagaimana tidak, hijrah sebelumnya telah di populerkan oleh Rasulullah Saw beserta para sahabatnya. Setelah 13 tahun berdakwah menaklukan Makkah, rupanya tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.

Baik tutur kata Rasulullah Saw yang setiap perkataannya tidak pernah menyakiti hati orang lain. Setiap langkah dakwahnya selalu sabar dan tabah menyampaikan wahyu dari Allah Swt. Namun ketika itu Rasulullah Saw hanya mampu mengislamkan sebagian kecil penduduk Makkah saja, sedangkan mayoritas lainnya tetap istiqomah menyembah berhala ajaran nenek moyang mereka.

Sungguh tidak terbayang betapa besarnya rintangan dakwah Rasulullah Saw di kala itu melawan baqa' penduduk Makkah yang menganggap remeh dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah Saw.

Meski demikian, Allah tunjukan hasil jerih payah Rasulullah  dengan memberi hidayah kepada Ali bin Abi Thalib, Khadijah bin Khuwalid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Sumayyah, Amar bin Yasir, Shuhaib ar-Rumi dan al-Miqdad bin al-Aswad. Mereka itulah as-Sabiqun al-Awwalun (pemeluk Islam pertama di tanah Makkah).

Mereka itulah manusia pilihan Allah Swt yang ikut menyertai dakwah panjang Rasulullah Saw.
Yang kelak akan berada di garda terdepan membela agama Allah Swt. Sungguh tidak terbayang jika seandainya Rasulullah berputus asa dan tidak ditemani oleh para sahabat yang luar biasa keimanannya. Tentu Islam tidak akan mungkin bisa eksis sampai sekarang akhir zaman ini.

Tercatat dalam sejarah, selama dakwah Rasulullah saw dan para sahabatnya di Makkah banyak mendapatkan penentangan yang luar biasa.
Seperti Bilal bin Rabbah yang di siksa habis-habisan oleh kaum kafir kala itu, Mush'aib bin Umair yang di siksa ibunya, ada juga yang dibunuh seperti Yasir dan ibunya.
Rasulullah saw pun juga tidak luput dari ejekan, umpatan, setiap hari di lempari kotoran onta, di injak lehernya, sampai hampir di bunuh sebelum akhirnya hijrah ke Madinah.

Rasulullah Saw dan para sahabatnya bukanlah manusia biasa seperti kita yang mudah baper ketika hijrah kita di komentarin sama orang, di sindir melalui sosmed, atau dijauhi sama teman se-geng. Mungkin bagi kita hal itu cukup menyayat hati bahkan bisa bikin galau terus-terusan.

Ditambah lagi belum adanya mafhum Islam yang kuat, hijrah hanya sekedar ikut-ikutan tren. Jadi wajar jika perjalanan hijrahnya kandas di tengah jalan.

Temans, tentu tidak ada seorangpun yang menginginkan perjalanan hijrahnya kandas di tengah jalan, meski baru seumur jagung.

Coba bersama kita renungkan. Bertanya kepada diri sendiri. Apa yang menjadi standar dalam hijrah ini?
Apakah standarnya adalah ridha Allah swt atau ridha manusia yang menjadi standarnya?
Yuk jawab dan renungkan jawabannya!

Jika standar hijrahmu adalah rida manusia, wajar ketika Allah Swt uji hijrahmu dengan cemoohan dari oranglain,  di tentang oleh orangtua dan keluarga kamu merasa putus asa dan lelah akan semua ujian itu. Langkahmu mundur perlahan, alhasil hijrahmu kandas di tengah jalan hanya menyisakan kekecewaan.

Namun jika standar hijrahmu adalah meraih riha Allah Swt, niscaya kamu akan sanggup menghadapi semua ujian itu.

Ketika oranglain mentertawakan keputusanmu untuk hijrah, pikiran seolah meyakinkanmu untuk tetap tersenyum dan melangkah ke depan.
Ketika teman atau bahkan keluargamu  sendiri memandang rendah pakaian syar'i yang kamu kenakan, hatimu seraya teriak " tujuanmu adalah meraih rida Allah swt"

Temans, perlu sekali buat kita meluruskan niat dalam hijrah ini. Sebab kriteria amal terbaik pertama kali ialah niat ikhlas karna Allah swt.
Rasulullah saw bersabda:
 "Sesungguhnya Allah swt tidak menerima suatu perbuatan kecuali yang murni hanya mengharap ridha Allah swt".
(HR. Abu Dawud dan Nasa'i)

Musyrifahku berkata "hati dan pikiran itu haruslah sejalan". Jika hati menuntunmu untuk bertahan dalam hijrah ini, namun pikiran memaksamu untuk berhenti menyudahi saja semua proses ini, tentu akan sulit untuk istiqomah. Sebab hati dan pikiran haruslah sejalan.

Temans, hijrah tidak bisa sembarang hijrah.
Hijrah butuh ilmu sebagai petunjuk segala kebimbangan dan kelabilan.
Jika hijrah tanpa ilmu, ibarat sebuah malam yang gelap gulita tanpa secercah cahaya.
Ya ilmu itulah cahayanya. Dengan cahaya itu kita mampu membedakan yang hak dan bathil.

Hijrahlah temukan jati dirimu.
Sudah saatnya kamu mengenal siapa dirimu yang sebenarnya.
Ingatlah, segala pilihanmu hari ini akan menentukan dirimu di kemudian hari.
Sebab hari inilah kuasa ada di tangan kita, karna esok hanya sebuah misteri yang tidak akan kita tahu apa yang akan terjadi.

Wallahu a'alm bi ashshawab.
 
Top