By Nelliya Azzahra

Kayra Lesmana, wanita lajang berumur 25 tahun kini berkerja di salah satu puskesmas di desa Linto, di Sumatera tepatnya di Kota Jambi, sebagai seorang perawat.
Sebenarnya aku asli dari Semarang, Jawa Tengah. Hanya saja kedua orangtua merantau dan kini menetap disini.

Terlahir sebagai bungsu dari empat bersaudara tidak membuatku menjadi pribadi yang manja. Meskipun ke dua orangtua dan ke-3 saudariku begitu menyayangi.

Kisahku dimulai saat aku menjadi salah satu tenaga sukarelawan dengan beberapa anggota dari puskesmas tempatku berkerja yang harus terjun langsung kelapangan guna memberikan penyuluhan tentang kesehatan kepada suku anak dalam atau orang rimba.  Suku anak dalam adalah minoritas yang hidup di pulau Sumatera, seperti Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Khususnya Provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi  mencapai 200.000 orang. Umumnya mereka tinggal di Taman Bukit duabelas di Merangin, Sarolangun.  Mereka hidup terisolasi di dalam hutan. Tidak mengenal dunia pendidikan dan kehidupan modern.

Suku ini hidup secara sederhana dengan hidup sederhana dan menghidupi diri dengan apa yang tersedia di hutan. Berburu dan mencari buah-buahan atau tumbuh-tumbuhan adalah cara mereka memenuhi kebutuhan hidup.

Karena sebuah insiden, menurut temenggung Dewa Rajo aku melanggar adat istiadat mereka lalu dengan alasan itu menyeretku pada pernikahan dengan anaknya temenggung (pemimpin kelompok) bernama, Betinjo Depati yang minim ilmu agama.

Dalam mimpi pun tidak terlintas akan menikah dengan orang rimba sepertinya. Yang ku maksudkan bukanlah personalnya, tapi tentu saja agamanya.
Meski dia sudah menjadi seorang muslim. Menurut penjelasan temenggung, Betinjo Depati adalah suku anka dalam yang berpikiran terbuka karena sering bertemu dengan salah satu ustadz pemuka di kampung Linto.
Dari sanalah akhirnya dia memutuskan mengucap dua kalimat syahadat. Namun begitu, Betinjo Depati adalah laki-laki yang buta tulis baca, semua kerena kehidupan yang terisolasi.

Namun, aku membutuhkan Imam yang mempunyai pemahaman agama yang baik, agar kelak mampu membimbingku beserta anak-anak kami. Bukan lelaki seperti Betinjo Depati.

Suku Anak Dalam tidak memiliki kepercayaan seperti agama yang umumnya di anut di Indonesia. Jadi, mereka tidak mengenal agama.

Kalau kuperhatikan dengan seksama sejak pertama bertemu,  Betinjo Depati cukup tampan untuk ukuran suku anak dalam. Kulitnya juga tidak terlalu gelap dengan rahang yang tegas. Badan yang tegap dan menjulang tinggi, kuperkirakan tingginya sekitar 180 an. Matanya tajam seperti elang, jika ia menatap lawannya aku yakin lawan itu akan langsung merasa terintimidasi.

Wajahnya datar tanpa ekspresi, jelas dia bukan orang yang ramah. Sebenarnya aku cukup ngeri kala melihat keseluruhan penampilannya. Namun profesi menuntutku untuk bersikap propesional.

Dia sampai menghujamkan tombaknya ke tanah untuk memberikan batas jarak agar aku tidak terlalu dekat padanya. Melihat tombak yang tertancap beberapa hasta dariku membuat aku menelan saliva sendiri. Aku pun mundur teratur menyerahkan tugas memeriksanya kepada teman sejawatku yang lain.

Sungguh, pernikhan ini membuat aku terseret dalam perjuangan untuk menggapai ridho Illahi bersama suami primitifku, Betinjo Depati.

 
Top