By Nelliya Azzahra

Melihat kupu-kupu yang memiliki sayap yang indah membuat kita berdecak kagum. Tapi tahukah kita, untuk memiliki sayap indah itu kupu-kupu harus melewati proses yang tidak mudah. Diawali dengan menjadi ulat, kepompong lalu menjelma menjadi kupu-kupu yang memiliki sayap indah yang akan membawanya terbang kemanapun yang dia suka.
Bagitu juga  seseorang yang sedang menempuh jalan hijrah. Ada proses yang harus dia lewati. Insyaallah setelah semua proses mampu dia lewati, kelak akan dia dapatkan dirinya yang sudah berubah menjadi lebih baik.
*******

Sehabis solat subuh tadi Greysa balik ke kamar dan melanjutkan acara tidurnya, Greysa masih ngantuk karena habis solat tahajud jam tiga dini hari dia belum tidur lagi. Sementara santri mengulang hapalan mereka di bimbing para ustadzah. Mungkin karena Greysa belum terbiasa, dan belum tahu bahwa selepas subuh sebaiknya jangan tidur lagi.

Dirumah Attala baru saja pulang dari masjid. Hari ini Attala akan ke pesantren tempat mas Raziq mengajar karena dia mendapatkan undangan untuk memberikan ceramah bersama Raziq. 
Attala tentu saja bersedia. Pekerjaannya juga tidak terlalu sibuk akhir-akhir ini. Karena Attala dan keluarga lebih fokus pada pernikahannya dengan Greysa yang akan berlangsung tidak lama lagi.

Sampai di rumah Attala langsung menuju kamar. Dan mengambil salah satu buku. Membuka tiap lembar mulai khusuk membaca.

Tok Tok

"Attala" suara panggilan bu Ningsih membuyarkan konsentrasi membacanya.
Attala beranjak dan berjalan kearah pintu "iya, Bu" 
Bu Ningsih menarik pelan tangannya"ayo sarapan dulu. Sudah ditunggu bapak di meja makan"
Attala mengangguk dan berbalik ke kamar menaruh kembali buku di susunan rak lemari.

Di meja makan ibu Ningsih sudah membuat sarapan pecal daun semanggi khas Surabaya, kue onde-onde khas Mojokerto tempat tinggal mereka sekarang. Mereka bertiga pun  mulai sarapan. Tidak ada percakapan selama sarapan berlangsung.
Setelah selesai bu Ningsih membereskan meja makan dan menaruh piring kotor di wastafel.

"Atta, ini kue onde-onde ibu titip buat Greysa ya. Kebetulan ibu buat banyak tadi "bu Ningsih memberikan bungkusan berisi kue onde-onde kepada Attala yang masih duduk di meja makan.

"Jadi ke pesantren hari ini"? Pakde Bowo yang tadi sibuk dengan ponselnya melihat Attala.
"Insyaallah jadi, pak. Nanti sama mas Raziq perginya" "Atta ndak ke kantor dulu pak hari ini"

"Iya. Ndak apa-apa. Bapak sama mas Yusuf saja" mas Yusuf suami mba Dewi kakak perempuan Attala
"Inggih pak" pak Bowo merogoh kantong celananya dan mengeluarkan kunci mobil
"Pakai saja mobil bapak. Nanti bapak di jemput mas mu" Atta segera meraihnya
"Iya. Pak. Wes Atta tak berangkat dulu ke rumah mas Raziq" Attala berdiri dari duduknya dan menyalami pak Bowo

"Attala!" Baru mau beranjak, saat suara bu Ningsih menahannya
"Ini loh, kuenya nanti lupa. Yang ini buat Greysa, kalo yang ini buat di rumah buk lek Minah ya" bu Ningsih menyerahkan dua bungkusan kue kepada Attala
"Inggih, bu. Insyaallah nanti Atta berikan. Atta pergi dulu. Assalamualaikum"

"Walaikumsalam" bu Ningsih memandangi punggung putranya sampai hilang di balik pintu. Kemudian dia kembali ke dapur.

Attala segera menghidupkan mobil dan meninggalkan rumahnya bergerak ke rumah Raziq. Karena jarak rumah mereka yang tidak terlalu jauh kini mobil Attala sudah berada di pekarangan rumah Raziq. Rupanya Raziq sudah menunggu di depan.

"Assalamualaikum buk lek" Attala mencium tangan buk lek Minah "ini bu, ada titipan dari ibu" Attala memberikan bungkusan berisi kue onde-onde.
"Oh, iya matur suwun ya nanti bilang sama mbak yu" bu Minah menerimanya dengan senyum sumringah

"Mas, ayo mampir dulu" Ratih yang sudah siap untuk mengajar melihat Attala hanya berdiri di depan rumah 
"Nanti saja, saya sama mas Raziq mau berangkat sekarang. Khawatir telat sampai pesantren" Ratih mengangguk paham
"Salam sama mba Greysa ya, mas. Duh, belum sempat jenguk mba Greysa ke pesantren" sebenarnya jika tidak ada jadwal mengajar hari ini Ratih mau saja ikut mas nya ke pesantren sekalian ketemu mba Greysa
"Iya, insyaallah nanti saya sampaikan" 
"Ayo mas Raziq" Attala melihat Raziq yang sedang memasang sepatu
"Ayo!" Raziq berdiri

"Mbok, kami berangkat dulu. Assalamualaikum"
"Walaikumsalam" Ratih dan bu Minah menjawab salam serta melambaikan tangannya ke arah Attala dan Raziq yang sudah berada di dalam mobil. Tidak berapa lama mobil mulai bergerak ke meninggalkan rumah.

Di dalam mobil Raziq tampak membolak balik buku di tangannya. Di sampingnya, duduk Attala yang sedang menyetir.
"Atta, tinggal berapa lama lagi pernikahanmu?" Raziq memecah keheningan di dalam mobil
"Insyallah sekitar tiga minggu lagi, mas" Attala menjawab dengan tetap fokus menyetir

"Alhamdulillah, apakah pernikahannya akan dilaksanakan di Jakarta?"  Raziq menutup bukunya dan melihat kearah Attala
"Saya rasa sebaiknya begitu, mas. Insyallah pekan depan saya dan bapak akan kerumah Amanda untuk membicarakan langsung dengan orang tuanya" ya, Attala merasa perlu untuk membicarakan langsung. Selama ini dia hanya menjalin komunikasi dengan keluarga Greysa  sebatas via telfon. Karena yang dia tahu keluarga Greysa akan melangsungkan acara pernikahan ini secara besar-besaran. Mengingat Greysa adalah putri semata wayang keluarga Xavier dan juga statusnya yang seorang artis sangat memungkinkan semua ini terjadi. Dari pihak keluarga Attala sendiri tidak merasa keberatan. Mereka tahu, siapa sosok yang akan menjadi menantu mereka bukanlah orang biasa. Karena itu Attala dan keluarga perlu bertatap muka dengan keluarga Attala untuk membicarakannya.

"Mas, bukankah tidak sampai dua minggu lagi pernikahanmu?" Attala balik bertanya perihal pernikahan Raziq  dan Indah. Memang jarak pernikahan mereka berdekatan. Setahu Attala juga Raziq belum mengambil cuti.
"Ya, insyaallah" jawab Raziq dengan nada datar. Attala bisa menangkap itu. Kenapa mas Raziq tidak antusias seperti dirinya yang akan menikahi Greysa?. Apa memang mas Raziq tidak ingin terlalu menunjukkan kebahagiannya kepada orang lain bathinnya. Akh, sudahlah. Yang penting pernikahan ku maupun pernikahan mas Raziq nantinya berjalan lancar.
*******

Di pesantren Greysa sedang membaca buku di perpustakan ada juga beberapa santri perempuan yang sedang membaca buku sepertinya. Greysa sengaja memilih buku yang berjudul 'istiqomah dalam hijrah' tujuannya, buku ini bisa menambah pemahaman dan referensinya yang sekarang tengah menapaki jalan hijrah. Greysa dari dulu memang suka membaca. Karena Maminya adalah seorang penulis. Di rumah mereka juga terdapat perpustakaan mini dengan berbagai macam jenis buku bacaan. Di lokasi syuting pun jika sedang break syuting Greysa akan lebih memilih membaca novel maminya, atau memainkan ponsel.

Cahaya mentari pagi menerobos masuk lewat jendela. Matahari mulai beranjak naik. Tadi Greysa sudah selesai melaksanakan solat dhuha di mushola. Ustadzah Arini tidak bosan mengingatkan dan membimbingnya. 
Karena hari ini Greysa sedang berpuasa, jadi untuk mengalihkan rasa laparnya lebih baik dia melahap buku-buku bacaan di perpustakaan ini saja. Lembar demi lembar di bacanya. Hijrah dan istiqomah ternyata sepaket. Hijrah butuh keistiqomahn. Bukan seberapa cepat, tapi seberapa kuat ia bertahan.

Salah satu kiat agar istiqomah adalah ikhlas akan apa yang kita kerjakan. Ikhlas akan jalan hijrah dan sudah kita pilih. Lalu, mengingat kematian. Insyaallah dengan mengingat kematian bahwa kematian itu pasti adanya, kita akan senantiasa istiqomah karena jika kita berpaling maka kita akan sangat merugi.
Greysa mengangguk-angguk sambil membaca setiap kata dari buku yang di pegangnya.
Dia tidak sadar jika saat ini Ustadzah Arini sudah duduk di sebelahnya
"Assalamuaikum. Mbak Greysa" Greysa sedikit terkejut lalu mendongak melihat siapa yang telah memberi salam.

"Walaikumsalam" matanya bertemu dengan mata ustadzah Arini.
"Kapan kesini?" Saking fokusnya Greysa tidak menyadari kehadiran ustadzah pembimbingnya itu
"Baru saja. Mbak Greysa fokus bacanya. Jadi ndak nyadar saja datang" ustadzah mengangsurkan bungkusan berwarna pink
"Ini untuk mbak Greysa, tadi dari emm. Sepupunya mas Raziq titipkan ke suami ustadzah Ainun" 

Greysa memperhatikan bingkisan itu dan menerka apa isinya. Tapi tunggu, dari sepupu manusia kutub? Eh Raziq? Berarti Attala dong. Wah apa ya isinya. Segera Greysa dengan tidak sabar membuka dan melihat isinya. Senyumnya langsung mengembang. Onde-onde khas Mojokerto. Dari Attala lagi. Duh sweet banget sih calon laki.

Greysa mengambil satu dan ingin memasukkan ke dalam mulutnya "mbak jangan! Ustadzah Arini menahannya "mbak kan sedang shaum" ustadzah Arini mengingatkan

"Oh iya, saya lupa. Ini, nanti untuk kita buka puasa saja" Greysa memberikan ke ustadzah Arini. 
"Iya mbak. Saya sekalian mau mengajak mba ikut mendengarkan kajian di Aula santri laki-laki karena ada ustadz Attala yang akan mengisi kajian bersama ustadz Raziq"
"Attala?" Mata Greysa memicing mencoba memastikan kalau Attala-nya lah yang di maksud.
"Iya mbak. Yuk buruan. Sepertinya sudah dimulai" Greysa tidak berpikir dua kali dia pun langsung berdiri tidak lupa membawa kue pemberian Attala tadi kemudian mengikuti langkah ustadzah Arini.

Mereka menyusuri koridor untuk mencapai aula santri laki-laki. Sepanjang jalan Greysa sibuk membenarkan kerudung dan gamisnya. Hari ini dia memakai gamis dan kerudung warna navy. Wajahnya tetap cantik meski natural tanpa riasan, cantik alami tanpa oplas. Hati Greysa sudah berbunga-bunga sedari tadi. Membayangkan akan segera bertemu calon imam. Moodnya selalu bagus jika menyangkut Attala.

Tidak berapa lama mereka berdua sampai. Aula sudah penuh di padati para santri. Tempat di bagi menjadi dua bagian. Untuk santri lagi laki-laki dan santri perempuan dengan pembatas yang tertutup. Mata Greysa bisa menemukan sosok yang selalu dia rindukan. Siapa lagi kalau bukan Attala Abdurrahman. Kali ini Attala memakai koko berwarna marun dengan celana kain berwarna hitam dan tidak lupa kacamata bertengger di hidung bangirnya tampak tengah mengobrol dengan Kyai Mustofa, pemilik pesantren. Duh, tampannya. Sayang, Attala tidak melihat ke arah Greysa.

"Mbak Greysa, ayo masuk" ustadzah Arini mengamit lengannya
"Duluan saja, saya mau ke kamar mandi dulu ya"

Greysa segera pergi ke kamar mandi. Saat di jalan dia berpapasan dengan Indah. 
"Mbak, berhenti dulu!" Indah sudah berdiri tepat di hadapannya

"Ada apa?"

"Saya mau bicara sebentar, boleh?"

"Silahkan!"

 Greysa melihat ekspresi Indah seperti orang yang sedang khawatir
"Mbak, mohon maaf sebelumnya, tapi bisakah mba tidak tinggal lagi di rumah mas Raziq. Saya sebagai calon istrinya merasa kurang nyaman kalau mbak Greysa menginap disana" Indah yang melihat kejadian beberapa hari lalu saat Raziq menyelamatkan Greysa dan menangkap ekspresi khawatir Raziq kepada Greysa menjadi terusik hatinya. Bagaimanapun Indah adalah wanita yang memiliki perasaan yang lembut. Percikan api cemburu itu tiba-tiba saja memancar dari dalam dirinya.

Dua alis Greysa bertaut mendengar permintaan Indah barusan. Apakah Indah sedang cemburu padanya? Lagi pula, faktanya selama Greysa menginap di rumah Raziq, Raziq malah menginap di rumah Attala.
Tapi kenapa Indah jadi posesif begini? Mereka juga kan belum menikah. Entah kenapa kali ini Greysa tidak bisa bersimpati padanya.

"Jangan khawatir, saya juga tidak lama menginap disana. Paling seminggu lagi" 
"Jadi, jangan mengaturku!" Greysa segera berbalik ingin kembali ke tujuan awalnya tadi kamar mandi.
"Tapi mbak, tunggu!" Indah meraih tangannya  kasar dengan sigap Greysa menghempaskan tangan Indah. Naas justru itu membuat Indah terjatuh. Saat itulah sebuah suara membekukan Greysa di tempatnya.

"Nona, apa yang kau lakukan!"  Tanpa sengaja Raziq melihat Greysa yang menyebabkan Indah terjatuh.
Greysa dan Indah menoleh bersamaan
Melihat sosok Raziq yang berdiri tidak jauh dari mereka dengan wajah datarnya.

"Apa!" Balas Greysa" mengangkat tinggi dagunya "aku tidak sengaja!"Greysa membela diri

"Saya melihatnya nona" wajah Raziq menegang
"Jangan membela diri! Berubah tidak cukup hanya tampilan luar saja. Tapi ada baiknya, akhlak juga harus ikut di rubah. Jika nona tidak suka dengan saya tidak apa-apa, tapi jangan Indah juga nona libatkan" suara Raziq tegas. Jelas Raziq sudah salah paham. Semua tidak seperti yang dia lihat. Tapi kata-kata Raziq barusan mampu menggores hati Greysa. Greysa memang baru saja hijrah. Dia baru tahap belajar. Lagi pula, hijab dan akhlak adalah dua hal yang berbeda. 

"Aku, tidak pernah ingin menyakiti siapa pun" suara Greysa bergetar menahan tangis. "Silahkan tanyakan sendiri pada calon istrimu itu!" Tunjuknya pada Indah yang hanya diam"oh iya, satu lagi. Terimakasih karena telah menolongku dari tabrakan mobil waktu itu, lain kali tidak perlu melakukan hal yang sama. Agar tidak ada yang salah paham. Permisi!" Greysa segera berlalu, jika berlama-lama khawatir emosinya akan meledak. Apa lagi dia sedang berpuasa hari ini. Tidak ingin puasanya jadi sia-sia.

Raziq yang mendengar kalimat terakhir Greysa bingung. Salah paham, siapa??

#AMK
 
Top