By Nelliya Azzahra (Penulis dan Pemerhati Remaja)


Cinta yang tumbuh karena kecintaan kepada Allah Swt, insyaallah akan berkekalan selamanya. Cinta berlandasakan hawa nafsu akan senantiasa menjerumuskan pemiliknya kepada jurang kemaksiatan yang penuh penderitaan.
******


Dinda terjaga setelah hari gelap. Matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya terang dalam ruangan yang sekarang dia tempati.

Ingatan Dinda kembali pada perdebatan dia dan Om Arga yang membuatnya tertidur di kamar lelaki itu setelah sebelumnya menangis sendirian.

Dinda bergerak turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Lihatlah! Wajahnya yang di pantulkan oleh cermin di kamar mandi memperlihatkan wajah dengan mata sembab dan kerudung yang sudah tidak beraturan lagi.

Dinda segera membasuh wajahnya dan merapikan gamis juga kerudungnya serta memoleskan sedikit bedak dan lipgloss ke bibirnya. Setelah mematut diri di depan cermin dan merasa  penampilannya sudah lebih baik dari awal dia masuk kamar mandi tadi, Dinda segera keluar.

Masih ada rasa kesal Dinda terhadap Om Arga jika teringat bagaimana suaminya itu membela mantan istrinya 'Vanya'.

Dinda pun bingung dengan perasaannya. Sejujurnya kenapa dia harus marah? Apakah dia tengah cemburu? Jika benar dia cemburu itu artinya dia menaruh rasa pada suaminya itu kan!

Dinda cepat-cepat menggeleng. Tidak! Dia kan tidak cinta sama Om Arga. Jadi kenapa pula mesti cemburu. Meski Dinda menolak, tapi ada sisi dalam dirinya yang tetap merasakan sakit.

Ah, entahlah! Perasaan itu memang membingungkan. Satu sisi dia kekeh pada pendiriaanya bahwa dia tidak punya rasa apa-apa pada Om Arga, sisi lainnya merasa berontak kala lelaki itu masih saja membela orang yang bahkan sudah tidak ada.

Menelan rasa kesal dan egonya, Dinda pun membuka pintu dan segera mencari keberadaan Om Arga. Dia sadar, sekarang tengah berada di rumah orang tua Om Arga. Sopan santun dan adabnya sedang di pertaruhkan.
Setidaknya Mama Dina tidak berpikir jika Om Arga benar-benar telah menikahi istri yang mempunyai sifat kekanak-kanakan.

Setelah melewati ruang tamu, Dinda bertemu dengan ruangan khusus tempat solat. Ruangannya tidak terlalu besar. Namun Dinda suka karena rapi dan wangi kasturi. Di dindingnya pun tergantung kaligrafi bertuliskan lafaz tauhid.

"Dinda!" Dinda berbalik. Mama Dina tampak sudah siap dengan mukenah yang di kenakan "Dinda, kamu solat tidak?"
"Ah, iya, Ma. Dinda solat. Maaf tadi Dinda ketiduran" Dinda merasa tidak enak karena bersikap kurang sopan di rumah mertuanya dengan perdebatan yang terjadi antara dia dan Om Arga.

"Tidak apa-apa. Arga bilang kamu ke capekkan. Maklum kan pengantin baru" Mama tersenyum penuh arti. Dinda yang mendengarnya hanya bengong.
"Sana wudhu! Kita solat berjamaah sama Santi. Arga tadi suda pergi ke masjid" oh ya, Santi adalah sepupu Arga yang tinggal dengan Mama Dina. Santi sekarang tengah menemuh kuliah di Universitas Indonesia.  Kedua orang tua Santi tinggal di Sumatera Selatan. Karena Mama Dina juga tidak ada yang menemani di rumah, jadilah kini bersama Santi.

"Baiklah, Ma" Dinda segera berlalu untuk berwudhu.

Selesai solat dan tilawah bersama mereka segera makan malam. Om Arga memang mempunyai latar belakang keluarga yang religius. Saudara Mama Dina yang mempunyai pesantren sendiri tempat dulu Om Arga da abangnya, Angga mondok di sana.
Setiap pekan Mama Dina juga pergi ke pesantren untuk mengikuti kajian rutin bersama jamaah di sana.

Kalau di lihat Mama Dinda dan Santi adalah perempuan yang tertutup auratnya secara sempurna. Bahkan dari tadi Om Arga dan Santi seperti menjaga jarak dengan interaksi mereka. Santi hanya bersuara jika Mama Dina yang mengajaknya bicara atau jika aku. Sedangkan dengan Om Arga dia hanya menyapa saat selesai makan malam tadi. Itu pun hanya beberapa kalimat saja. Aku jadi bingung, padahal mereka kan saudara sepupu kenapa tidak akrab seperti aku dan sepupuku yang lain.

Kalau aku dengan sepupu laki-lakiku akrabnya jangan ditanya. Udah kayak sama Bang Dimas saja.

Memang sih beberapa kali aku di tegur oleh Bang Dimas agar menjaga intreraksi dengan mereka. Katanya mereka itu ajnabi(lelaki asing) meskipun sepupuku.

Bang Dimas juga menjelaskan jika pergaulan laki-laki dan perempuan itu di atur dalam Islam. Jadi gak boleh sembarangan.

Duh ... ribet banget sih!  Gitu aja harus di atur.
Bang Dimas menjelaskan bahwa
Islam adalah agama yang syamil(menyeluruh) dan mutakamil(sempurna). Agama mulia ini diturunkan dari Allah Sang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui tentang seluk beluk ciptaan-Nya. Dia turunkan ketetapan syariat agar manusia hidup tenteram dan teratur.
aturan yang Allah berikan itu untuk kemaslahatan manusia juga. Aku yang tidak mau mendengar ceramahnya panjang lebar hanya meng-iya, iyakan saja. Biar telinga gak panas.

Di rumah hanya Bang Dimas yang banyak sekali ngasih pengaruh. Tidak lama, Mama dan Papa pun ikut-ikutan. Begini gak boleh, begitu gak boleh. Puncaknya, adalah pernikahanku dan Om Arga.

Kata Mama, Bang Dimas itu bagus karena pemahaman agamannya yang dia dapatkan sejak SMA sampai sekarang. Apa yang di sampaikan memuasakan akal dan sesuai fitrah manusia. Karena itu, Mama jadi sering sharing sama Bang Dimas.
Akhirnya Bang Dimas ada sekutu juga di rumah. Huft sebel. Imbasnya aku yang dilarang ini itu, termasuk hubunganku dengan Ivan.

Dentingan sendok dari piring Om Arga membuyarkan lamunanku. Aku balik menatap makanan yang masih utuh sama sekali belum tersentuh di piringku.

"Dinda, masakannya gak cocok sama Dinda ya, maaf ya. Mama tadi tidak tanya dulu Dinda mau makan apa" tatapan Mama Dina mengarah ke piringku yang isinya masih utuh. Ini ne, karena kebanyak melamun.

"Eh, nggak kok, Ma. Dinda suka kok semur ayam ini"aku menunjuk pada piringku dengan senyum yang kubuat seramah mungkin.
"Kalau suka, ayo di makan"
"Iya, Ma" aku mulai memasukkan sesendok demi sesendok makanan ke dalam mulutku. Diam-diam aku melihat Om Arga yang juga sedang makan. Gayanya bak pangeran saja. Makan dengan gaya yang sedemikian tenang.  Sedikit pun tidak menyapa atau menegurku setelah membuat aku tertidur dengan menangis.
Dasar laki-laki tidak peka. Minta maaf kek atau apa gitu. Sepertinya harapan ku terlalu tinggi mengharapkan itu semua dari laki-laki yang bergelar suamiku ini.

Tidak lama setelah selesai makan kami pun pamit untuk pulang karena besok aku akan kuliah dan Om Arga akan ke kantor. Om Arga membukakkan pintu untuk ku tanpa suara. Setelah aku masuk dia pun berjalan mengitari mobil dan duduk di sebelahku.

Kalau boleh jujur, saat ini aku tidak ingin melihat wajah tampan Om Arga. Tapi mau bagaimana lagi, dia pasti tidak akan membiarkan aku pulang sendirian.

Beberapa saat suasana di dalam mobil sepi kayak di kuburan. Beruntungnya sosok di sebelahku tidak horor, malah cakep abis, eh. Bisa-bisanya aku memuji dia yang tanpa bersalah telah membuatku nangis ala bombay. Aku segera memalingkan wajah melihat keluar dari jendela suasana ibukota saat malam hari. Lampu-lampu yang menyorot di sana-sini. Tetap ramai seakan tiada sepinyanya.

"Dinda!"

"Hem"

"Maaf ya untuk yang tadi siang" akhirnya dia minta maaf juga. Dalam hati aku bersorak senang. Entahlah siapa yang salah diantara kami. Tapi mendengar dia meminta maaf aku lega. Dasar perempuan ya.

"Untuk?" Sengaja aku memancingnya untuk menjelaskan salahnya dia dimana.
"Ya, mungkin kata-kataku tadi menyakiti hatimu"

"Lebih tepatnya dibagian Om membela Vanya" tegasku memberitahu dimana letak katanya yang menyakitiku

"Ya, saya minta maaf untuk itu"

"Baiklah, karena Om sudah minta maaf, maka akan saya maafkan" sudahlah tidak enak juga perang dingin seperti ini terus

"Terimakasih"

"Om, gak usah formal gitu deh sama istri sendiri" aku melayangkan protesku dan beralih menatapnya.

"Maksudnya" Om Arga bertanya tanpa melihatku. Ini orang benaran gak tahu, atau hanya pura-pura sih! Gemeess ...!


"Maksudnya,  gini Om Arga sayang, gak usah terlalu formal, nyantai dikitlah Om"

"Sayang?" Kulihat dia memicingkan matanya. Sadar dengan apa yang barusan ku ucapkan aku segera menutup mulutku dengan tangan.
No, No. Dasar mulut kenapa bisa ngelantur sih!

"Saya suka panggilan itu Dinda"

"Eh?" Aku malah yang jadi keki. Melihat ekspresiku Om Arga malah terkekeh.
Rasa panas sudah merambati seluruh wajahku.
Aku memukul pelan lengannya yang sedang menyetir.

"Saya ralat deh"

"Loh, kenapa?. 'Sayang' saya juga akan memanggilmu begitu jika kita sedang berdua ya. Tolong jangan menolak" satu tangan Om Arga yang bebas meraih jemariku dan meremasnya pelan.

"Sayang, kau tahu,
kalau keluarga yang penuh berkah dan Allah melimpahkan berkah atas keluarga kita, maka akan kita dapati rumah tangga yang diliputi oleh mawaddah wa rahmah (ketulusan cinta dan kasih-sayang). Kalau suami resah, ada pangkuan istri yang siap merengkuh dengan segenap perasaannya. Kalau istri gelisah, ada suami yang siap menampung airmata dengan dekapan hangat di dada, serta usapan tangan yang memberi ketenteraman dan perlindungan" Om Arga menjeda kata-katanya dan meremas lembut jemariku "maukah mulai sekarang kita saling berbagi?" Ada keseriusan dalan setiap kata yang dia ucapakan.

Tubuhku menegang  sesaat, bingung ingin memberikan respon seperti apa. Aku seutuhnya sudah milik Om Arga, itu artinya aku juga harus patuh dengannya bukan?

#AMK
 
Top