By Nelliya Azzahra

~ Disetiap ujian ada hikmah yang bisa dipetik jika kita bisa ridha atas ketetapan_Nya ~

Seorang perempuan berjalan dengan menggandeng tangan seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahunan, mereka memasuki salah satu pusat perbelanjaan di salah satu mall di Jakarta.

Sesekali terlihat perempuan itu melempar senyum kala sang anak berceloteh ketika melihat mainan yang di pajang di salah satu tokoh mainan.

Kemudian mereka berdua mengambil troly belanja dan mendorongnya pelan memilih-milih belanjaan seperti biasa setiap awal bulan mereka berdua akan belanja untuk kebutuhan selama sebulan.

Mereka memang hanya tinggal berdua saja sejak empat tahun lalu, bahkan sang anak pun sampai usia sekarang belum pernah bertemu dengan Papanya. Jika dia menanyakan dimana Papanya? maka, sang Bunda akan menjawab bahwa Papa sedang tidak bisa ditemui saat ini. Insyaallah ada saatnya mereka akan bertemu. Karena memang awalnya perempuan itu tidak bisa mengingat siapa Ayah dari anaknya.

Setelah merasa apa yang dibutuhkan sudah dapat,  mereka berdua pun menuju kasir untuk membayar belanjaan.

"Bunda, bolehkah Sam membeli robot baru?" Dia berjalan di samping Bundanya sambil memegangi pinggir gamis sang Bunda
"Insyaallah kalau Bunda sudah ada uang lebih ya, sayang. Maaf untuk sekarang belum bisa" wanita itu mengusap lembut kepala putra semata wayangnya, permata hatinya, penguat dan semangat hidupnya selama ini.

Sam hanya mengangguk patuh. Sam memang dididik dengan baik oleh sang Bunda. Karena dia tidak ingin selalu mengabulkan apa yang anaknya inginkan. Sejak kecil dia memahamkan dengan bahasa yang mudah di pahami si kecil bahwa ada perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Alhamdulillah meski usia Sam baru empat tahun tetapi Sam bisa mengerti apa yang coba bundanya jelaskan.

Wanita itu sudah bekerja keras selama ini untuk menghidupi mereka berdua. Walaupun banyak yang ingin mengulurkan bantuan kepada mereka, namun dengan halus ia menolak. Mengatakan jika mereka masih bisa jika hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan membuat kue dan menitipkannya ke toko-toka kue setiap hari. Hasilnya lumayan untuk kebutuhan mereka berdua. Wanita itu sempat mengeluh susahnya hidup disistem saat ini. Harusnya dia hanya fokus saja pada tugas utamanya sebagai ummun wa robbatul bait tanpa memusingkan urusan kebutuhan pokok. Tapi sekarang fokusnya jadi terpecah karena harus mencari nafkah untuk mereka berdua. Andai mereka hidup dalam sistem Islam tentu hal semacam ini tidak akan terjadi. Karena dia sudah tidak ada wali lagi, jadi negeralah yang bertanggung jawab atas kebutuhan pokok mereka. Bahkan dia sendiri harus menyisihkan uang untuk tabungan pendidikan anak kelak. Sadar bahwa biaya pendidikan tidaklah murah saat ini. Berbeda sekali dalam sistem Islam. Bahwa biaya pendidikan di gratiskan oleh negara.

"Baiklah Bunda" Sam kecil patuh pada sang Bunda

"Sam memang anak pintar" lalu mereka berdua tersenyum.
Dia melihat wajah putranya yang merupakan duplikat suaminya itu tidak menyiratkan kecewa sedikitpun.

Harusnya Sam bisa saja saat ini bertemu dengan Papanya. Namun, fakta yang dia temui beberapa bulan ini membuat niatnya untuk mempertemukan antara Ayah dan Anak itu jadi tertahan.

Dia tidak ingin kehadiran dirinya dan Sam merusak kebahagiaan orang lain. Meski rasa rindu masih menggerogoti hatinya yang terdalam. Belum lagi fakta itu menghempaskan ia jauh kedasar luka. Kini orang yang sangat dia hormati dan sayangi sudah benar-benar bukan miliknya.
Dia pun tidak bisa menyalahkan segala takdir yang telah diatur oleh_Nya. Kini, fokusnya hanyalah membesarkan buah hatinya dengan baik. Biarlah dia telan semua luka dan seiring berjalannya waktu akan melupakan semua kenangan.

Di tempat berbeda Dinda tengah sibuk di dapur dengan peralatan masaknya. Dia baru saja dapat resep masakan baru dari Mamanya. Jadi, pagi ini Dinda segera mempraktekkan saja untuk sarapan dirinya dan Om Arga.

Namun saat dia sedang sibuk meracik bumbu, bel rumahnya berbunyi. Segara Dinda melepaskan apron yang melekat di tubuhnya dan berjalan ke arah pintu. Ketika pintu sudah terbuka tampak pengantar paket menyerahkan sebuah kotak segi empat berwarna merah.
Setelah mengucapkan terimakasih Dinda pun masuk ke dalam rumah dengan kotak paket di tangannya.

Dia melihat nama pengirimnya tertulis disana nama 'Desi' ya, Desi asisten Greysa. Yang tidak lain juga sahabatnya.

Tergesa jari-jari lentik Dinda membuka kiriman Desi yang di tujukan untuknya.
Ketika bungkusan sudah terbuka sempurna dan menampakkan isinya, Dinda nyaris terpekik ...!

Ya Tuhan ... apa yang ada di kepala Desi sehingga dia mengirimkan benda semacam ini. Dinda sendiri merasa geli melihat sepasang pakaian yang terlihat sungguh tidak pantas untuk dia kenakan di rumah ini dengan Om Arga bersamanya.

Stelan berbahan satin dan berenda itu Dinda letakkan kembali ke tempatnya semula. Bahkan kini pipinya telah bersemu merah membayangkan dia memakai pakaian itu. Desi memang ingin mengerjainya.
Sadar jika Dinda pengantin baru.

Dinda kembali berbalik pada masakannya dan meletakkan kado pemberian Desi di atas meja makan. Sudah Dinda putuskan untuk menyimpan saja nanti pakaian yang mengerikan itu.

Arga yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya berjalan menuju dapur. Berniat melihat Dinda yang sedang membuat sarapan untuk mereka.
Arga bersyukur dengan perubahan Dinda semakin baik setiap harinya. Meskipun Dinda mempunyai sikap manja, namun Dinda juga berusaha untuk mengerjakan kewajibannya sebagai seorang istri. Mereka memang tidak mempunyai art seperti di rumah Dinda dan Om Arga. Pekerjaan rumah mereka kerjakan bersama. Arga juga tipe suami yang tidak segan ber ta'awun atau saling tolong menolong dengan istrinya.

Arga juga tidak memberatkan Dinda, jika Dinda sibuk dengan tugas kuliahnya dan tidak sempat mencuci baju serta menyetrika, maka Arga akan membantu mencuci baju dan membawa ke laundry untuk di setrika. Karena Arga kurang rapi jika urusan menyetrika baju.

Bangun subuh pun sudah menjadi rutinitas Dinda sejak hampir sebulan ini. Setelah solat subuh Dinda langsung beres-beres rumah di bantu Arga.

Arga yang melihat kotak di atas meja makan segera meraihnya dan ingin melihat apa yang terdapat di dalam kotak tersebut.
Saat itu juga Dinda berbalik. Melihat kemana arah tangan Arga, mata Dinda seketika membola sempurna
 Oh ... tidak! Jangan sampai Om Arga melihat isinya.

"Om, Stop!" Dinda berteriak yang membuat Arga berjengkit kaget. Tangan Arga pun tertahan di udara. Melihat itu Dinda bergegas meraih kotak tersebut dan menyembunyikan di balik tubuhnya. Mata Om Arga memicing penuh selidik.

"Kenapa disembunyikan?"

"Ah, itu, anu, Om" Dinda tiba-tiba terserang rasa gugup. Tidak mungkin kan dia menjelaskan apa isi kotak ini. Yang jelas akan membuatnya malu setengah mati.

"Bicara yang benar, Dinda" Om Arga menangkap kegugupan istri mungilnya itu

"Hadiah dari Desi, Om" akhirnya Dinda jujur juga
"Lalu, kenapa disembunyikan dari saya?" Arga tidak berhenti bertanya membuat Dinda ingin sekali membungkam mulutnya

"Ini Om, udah deh jangan kepo! Pokoknya khusus untuk perempuan. Ok" final. Dinda tidak ingin Om Arga semakin penasaran dan bertanya tanpa henti.

"Ok. Baiklah" Arga menyerah lalu menarik kursi untuk sarapan. Dinda yang melihat itu segera menghidangkan hasil masakannya. Arga segera meraihnya dan mulai menyendokkan ke dalam mulut.
Dinda duduk di hadapan Om Arga dengan kedua tangan bertumpu pada dagunya. Dia melihat betapa Maha besarnya Allah Swt menciptakan makhluk setampan Om Arga.

Dinda pasti tidak akan bosan menghabiskan hari-harinya bersama sosok seperti Om Arga.
Sedikit-sedikit Dinda mulai mengenal karakter suami tampannya ini. Om Arga itu tipe orang yang serius, baik dalam pekerjaan maupun hubungan. Meski dia itu kurang peka terhadap bahasa yang tersirat dan tersurat tetapi Om Arga selalu punya inisiatif untuk menyenangkannya. Contohnya malam ini Om Arga menawarinya untuk diner diluar.

Dinda sadar, tidak ada manusia yang sempurna. Sama sepertinya,  meskipun dia manja dan kekanak-kanakan, tapi Dinda adalah orang yang penurut.

"Berhenti melihat saya seperti itu Dinda!" Suara Om Arga menarik lamunannya

"Eh?"

"Ayo, makan sarapanmu"

"Om, jika masakan aku tidak enak jujur saja ya, jangan memaksakan diri untuk memakannya" raut wajah Dinda berubah sedih saat teringat rasa nasi gorengnya yang tidak karu-karuan tempo hari "saya tidak apa-apa kok, Om. Jadi berhentilah menyiksa diri sendiri demi menjaga perasaan saya" kini Dinda sudah menundukkan wajah sepenuhnya.

"Hei, Dinda. Jangan berpikir seperti itu. Tidak masalah bagi saya selagi perut saya bisa menerimanya" Om Arga menggeser kursinya dan berjongkok di hadapan Dinda. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya kotak beludru berwarna ungu. Dinda terkesiap saat melihat isi kotak itu ternyata sebuah kalung dengan liontin inisial namanya. Arga berdiri dan menyibakkan rambut Dinda kesamping untuk memasangkan kalung itu ke leher Dinda. Setelah terpasang Dinda meraba lehernya dan tersenyum merasakan kalung pemberian Om Arga melingkari leher jenjangnya.

"Suka?" Om Arga menatapnya dalam

"Suka, Om. Makasih ya" Dinda tersenyum tulus kepada Om Arga yang dibalas dengan usapan lembut di puncak kepalanya.

"Saya pergi dulu ya, jangan lupa nanti malam kita akan diner" Arga meraih tas kerjanya

"Baik, Om" Dinda segera meraih tangan Om Arga dan menciumnya.
Tidak lama, mobil Om Arga pun melesat meninggalkan rumah.

Saat di lampu merah mata Arga tidak sengaja menangkap sosok yang sangat familiar. Sosok itu berjalan menuju salah satu toko kue yang tidak jauh dari tempat mobil Arga berhenti.

Mata Arga terus memperhatikan perempuan itu. Saat otak Arga bisa mencerna dengan baik, sosok perempuan itu mirip sekali dengan Vanya. Tadi dia hanya melihat dari samping. Setelah lampu hijau Arga membelokkan mobilnya ke arah toko tempat terakhir dia melihat perempuan tadi. Arga ingin menuntaskan rasa penasarannya.
Setelah memarkirkan mobilnya Arga bergerak masuk ke dalam toko roti. Namun belum sempat dia membuka pintu sosok yang di carinya sudah keluar duluan.

"Vanya!" Tubuh Arga menegang seketika saat perempuan itu menoleh. Jantungnya seakan berhenti memompa. Tidak salah lagi wanita yang kini dia lihat adalah Vanya.

#AMK
 
Top