By: Nelliya Azzahra

Duhai jiwa yang merindukan belahan kalbu, percayalah akan janji Penciptamu.
Semoga kelak bersua dalam ikatan cinta halal berbalut keimanan kepada_Nya.
*********


Pukul dua dini hari Dinda terjaga. Dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, samar-samar telinganya menangkap suara Om Arga yang sedang berdoa.

Lalu Dinda merubah posisinya menjadi duduk. Dia tersentak kaget saat melihat Om Arga menggelar sajadah di kamarnya. Dinda mungkin lupa kalau kini mereka sudah resmi menikah. Perlahan ingatan tentang pernikahan mereka kemarin berkumpul bagai kepingan puzzle.

Dinda melihat wajah Om Arga yang disinari cahaya temaram lampu kamarnya. Wajah itu tampak sangat tenang. Gurat ke tampanan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.


Sebenarnya jika mereka bertemu diwaktu yang pas. Mungkin Dinda akan dengan mudah jatuh hati pada suaminya itu. Tapi bagi Dinda, mereka bersatu disaat yang tidak tepat. Di saat hatinya sudah ada yang memiliki. Disaat pernikahan bukanlah sesuatu  yang dia inginkan saat lag

Dinda jadi melamun memikirkan pernikahannya bersama Arga. Akan dibawa kemana pernikahan ini?
Dinda juga tidak tahu apa saja yang akan dilakukan sebagai seorang istri. Dinda jadi menyesal sebelumnya tidak mencoba untuk mencari tahu dulu ilmunya. Kalau sudah begini kan Dinda merasa malu. Dinda tidak mau menampakkan ketidak tahuannya itu pada Om Arga. Bisa-bisa nanti Om Arga membanding-bandingkan dengan mantan istrinya terdahulu. Eh, bicara mantan istri. Dinda sampai sekarang tidak tahu kenapa Om Arga sampai  memilih berpisah. Dan pernikahan pertama suaminya itu kandas. Dinda pikir itu privasi Om Arga, biar saja sampai dia yang menceritakan sendiri.

Arga menutup doanya dengan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya. Lalu dia berdiri merapikan sajadah dan sarungnya. Berniat untuk kembali tidur. Malam ini memang mereka tidur sekamar, tapi Arga akhirnya berakhir di sofa yang terdapat di kamar Dinda.
Bagaimana tidak? Berapa kali kaki Dinda menendangnya. Saat tidur istri mungilnya itu berputar-putar seperti gasing. Arga yang tidak tahan segera pindah ke sofa. Meski tulangnya serasa remuk sekarang. Karena sofa tidak seempuk kasur Dinda.

Ketika Ia melihat ke arah kasur, sepasang mata tengah menatapnya. Wajah cantik dengan rambut awut-awutan, persis seperti pemeran film horor. Dinda ternyata terbangun.

"Dinda, ayo wudhu dan solat!. Mumpung sudah terbangun" Arga mendekati Dinda yang tetap bergeming. Merasa tidak ada respon
Arga mendekatkan wajahnya ke depan wajah Dinda,  kini jarak wajah mereka hanya beberapa centi memastikan Dinda sekarang sedang tidak mengigau.

"Huwaa!" Dinda mendorong wajah Arga dengan kedua tangannya.
"Om mau ngapain? Jangan macam-macam ya. Dinda aduin Mama, Papa nanti!"
Arga yang mendapat serangan tiba-tiba menatap bingung pada Dinda yang sudah melotot ke arahnya.
Arga mengusap-usap hidung mancungnya yang di dorong Dinda cukup keras.

"Ngapain kamu mau ngadu! Kita itu sudah suami-istri Dinda. Jadi tidak ada yang bisa melarang saya jika  benar ingin macam-macamin kamu. Didalam Islam tidak ada UU nya untuk hal-hal yang begituan. Bukannya seperti saat ini, ada-ada saja UU yang mengatakan suami meminta haknya dibilang memperkosa!" Arga menggeleng kan kepala beberapa kali. Tidak habis pikir dia, ada yang merancang UU seperti itu.

"Tapi, Dinda belum siap" bibir Dinda mengerucut.
Membuat Arga harus istigfar di dalam hati melihatnya.

"Kalau sudah menikah, itu artinya sudah siap!"

"Tapi kan Dinda menikahnya karena terpak ..." Dinda segera menutup mulut dengan kedua tangan. Bisa-bisanya dia keceplosan begini. Saat netra Dinda bertemu dengan netra suaminya. Ada kekecewaan disana. Tuh, kan Dinda jadi menyesal.

Lalu Dinda menggeser duduknya lebih dekat dan berinisiatif menyentuh tangan Arga. Arga terkesiap. Tidak menyangka Dinda berani menyentuhnya lebih dulu. Ingin rasanya Arga bersorak. Jika dia tidak merasa malu pada Dinda.


"Om, maaf" ada ketulusan di nada suara Dinda.

"Kalau saya tidak mau maafin, gimana?"

"Yaudah, Dinda bakalan minta maaf lagi dan lagi. Sampai Om maafin Dinda" kali ini Dinda menebar senyum termanisnya pada pria tampan yang kini duduk dihadapannya.

"Oh, ya?"

"Iya Om. Gak percaya banget, sih" pipi Dinda mengembung. Mirip ikan koki

Arga yang melihatnya jadi tersenyum.
"Ada sebuah hadist dari Rasulullah Saw:
“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.”  Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani"

Agra beringsut lebih mendekat pada Dinda. Dinda malah beringsut menjauh. Pegangan tangan mereka pun terlepas.

"Hadist ini menggambarkan betapa besar peran keridhaan suami atas istrinya" Dinda menunduk menekuri lantai kamarnya.
"Jadi, kalau Dinda ingin mendapatkan rida Allah Swt. Maka, Dinda harus mendapatkan rida suamimu ini" Arga menunjuk dirinya sendiri dengan senyum yang tersungging di bibirnya.

"Om Arga. Dinda tentu mau mendapatkan rida Allah"

"Lalu?"

"Itu, Om. Bolehkah Dinda belajar mencintai Om dulu" Dinda memilin-milin baju piyamanya kebiasaan jika dia sedang gugup.

"Om, jangan marah dulu, ya. Dengarkan penjelasan Dinda"

"Ok. Saya dengarkan" Arga melipat kedua tangannya di depan dada.

"Gini, Om. Dinda ingin merasakan jatuh cinta dulu sama Om. Kita kan baru bertemu lagi saat Dinda sudah dewasa. Nikah juga baru kemarin. Jadi ... Dinda ingin rasa ini tumbuh dengan alami, Om" Dinda hanya menunduk tidak berani mengangkat wajahnya. Setelah apa yang barusan dia katakan. Khawatir Om Arga akan marah.

"Dinda, Allah Sang Pemilik Mahabbah. Mudah  bagi Allah Swt untuk menganugrahkan rasa itu kepada pasangan yang sudah halal. Tapi, baiklah. Kabari saya jika kamu sudah jauh cinta sama saya" Arga berdiri dari kasur ingin balik ke sofa untuk tempat tidurnya lagi.

"Dinda, kau tahu. Saya tidak butuh waktu untuk mencintaimu. Karena cinta itu sudah hadir sejak pertama kali saya melafalkan cinta untukmu"
Arga barusan secara gamblang mengungkapkan perasaannya. Dinda yang berusan mendengar kalimat pernyataan cinta dari Arga hanya diam. Bingung mau bagaimana. Entahlah,

syetan apa yang membuat Dinda menolak segala pesona yang dimiliki seorang Arga Adhiguna.

"Solatlah! Sebelum tidur kembali"
Tidak lama, mata Arga sudah tertutup. Berselancar ke alam mimpi.

Bersambung ....

#AMK
 
Top