By: Nelliya Azzahra

Hari ini Arga mulai masuk kantor. Setelah seminggu pernikahan mereka. Arga sekarang memilih menetap di indonesia setelah menikahi Dinda. Dan rencananya nanti sore Arga dan Dinda akan pindah dari rumah orang tua Dinda ke rumah yang dijadikan mahar Dinda. Di Jakarta selatan.


Pagi ini di awali dengan insiden yang memalukan karena Dinda berteriak sangat kencang saat Arga selesai mandi. Yang membuat Dinda berteriak adalah saat Arga keluar kamar mandi tidak menggunakan baju hanya menggunakan celana trening dan handuk yang di sampirkan ke pundaknya. Air masih menetes dari rambutnya saat ia keluar dari kamar mandi dengan roti sobek yang terpampang nyata di depan mata membuat Dinda Syok, dan teriak, Membuat Mama, dan Papa yang mendengarnya di luar kamar mengedor pintu kamar Dinda. Khawatir terjadi apa-apa dengan bungsunya.
Beberapa kali Mama meneriakan namanya. Setelah bisa menguasi keadaan Dinda pun menyahut jika tidak terjadi apa-apa.


"Om, tolong dong kondisikan itu! Mata aku terkontaminasi tau!" Dinda menutup wajahnya dengan telapak tangannya

"Apa?" Arga bingung tidak mengerti apa yang Dinda maksud

"Itu, Om. Ish pakai baju Om"

Arga baru tahu, rupanya Dinda malu melihat penampilannya sekarang. Arga malah tersenyum geli dengan kepolosan Dinda
"Memang kenapa?"

"Cepat pakai bajunya, Om. Kalau tidak aku teriak lagi ne"

Arga pun berjalan menuju lemari membukanya dan mengambil stelan jas untuk kerja hari ini. Setelah itu dengan santai dia menggantinya

"Sudah belum? Lama amat Om" Dinda protes merasa Arga sangat lamban

"Sudah, bukalah matamu!"

Dinda pun menurunkan tangannya dan melihat Arga sudah rapi dengan stelan jas berwarna hitam. Kini Arga sedang meminyaki rambut dan menyisirnya. Mata Dinda tidak lepas dari setiap gerak gerik Arga.

"Saya tahu saya tampan. Jadin berhentilah menatap dengan tatapan memuja seperti itu" Arga bicara tanpa menoleh ke arah Dinda.

Ck ck PeDe sekali Om tua ini bathin Dinda. Dinda segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi Arga sudah tidak ada di kamar. Dinda bernafas lega. Dia bisa bebas di kamar kemudian bersiap-siap untuk ke kampus hari ini.
Dinda membuka lemari mengambil rok tutu warna silver dan baju kaos lengan panjang warna senada. Setelah mengenakan pakaiannya dia duduk di meja riasnya mulai memoles wajah cantiknya.
Setelah dirasa semua pas. Dinda menyambar tasnya dan keluar kamar menuju meja makan tentu keluarganya sedang sarapan sekarang.

Sampai di meja makan Dinda melihat anggota keluarganya lengkap berkumpul disana.
Segera Dinda menarik salah satu kursi kosong di samping Mama.

"Dinda, hari ini jadi mau pindah ya?" Mama bertanya sambil melirik Dinda yang sedang menyuap sarapannya

"Em, tanya Om Arga saja ma" Dinda menurut saja apa mau suaminya.

"Iya, insyallah ma. Nanti sehabis dari kantor kami akan langsung ke rumah baru. Biar sisa barang-barang Dinda menyusul saja. Arga memang sudah mengisi rumah itu dengan berbagai perabot rumah tangga.
Jadi nanti sore mereka tinggal datang saja.

"Baiklah, Arga. Itu lebih baik tinggal berdua agar lebih mandiri" Wijaya bersuara
"Khususnya untuk Dinda"

Merasa namanya disebut Dinda mengangkat wajahnya. Sebenarnya berat bagi Dinda untuk pisah dengan keluarganya terutama Mama.
Selama ini Dinda selalu bergantung dengan Mama. Bahkan dia tidak bisa memasak. Paling bisa hanya memasak mie instan.
Membayangkan tinggal berdua saja dengan Om Arga nanti membuat kepala Dinda pusing tujuh keliling. Semoga saja Om Arga tidak galak-galak. Sehingga dia tidak merasa tertekan. Kalau iya, tamatlah riwayat Dinda. Tugas kampus yang seabrek ditambah tugas rumah, bisa-bisa Dinda melambaikan bendera putih. Tanda menyerah.

Selesai sarapan Dinda akan berangkat bersama bang Dimas saja. Namun belum sempat dia masuk mobil bang Dimas, suara bariton Om Arga menahan langkahnya.

"Biar saya yang antar" Arga menuju garasi dan mengeluarkan mobilnya
"Naiklah!" Arga  berseru dari dalam mobil.

Dinda terlihat ragu. Melihat mobil bang Dimas dan mobil Om Arga bergantian.

"Sana buruan naik mobil sama Om Arga Geh!. Jangan banyak mikir"
Dimas melihat tingkah Dinda jadi gemas sendiri. Adiknya ini mungkin amnesia jika sudah menikah. Masih saja suka menempeli dirinya. Seperti semut pada gula.

"Om, bolehkah saya dengan bang Dimas saja berangakat ke kampusnya?"
Dinda tidak mau diantar Om Arga khawatir nanti bisa ketahuan sama teman-teman kampusnya, memang sebagian sudah tau teman-teman dekatnya saja. Tapi dia mau sampai teman satu kampusnya tahu. Nanti Dinda pikir dia tidak bisa bebas bergaul lagi. terutama jika Ivan tahu. Bisa habislah Dinda! Dia belum siap untuk di jauhi lelaki yang telah mengisi hatinya dua tahun lebih itu.

"Dinda, ikutlah dengan saya!"nada tegas Arga tidak ingin dibantah.

Ck Dinda berdecak. Begini ini, kalau nikah sama Om-om. Gak bisa banget ngertiin perasaan. Dengan langkah malas Dinda membuka pintu penumpang.

"Saya bukan supir kamu, Dinda!"Arga melihat Dinda dari spion bagian depan mobilnya "duduklah disebelah saya!"

Dinda pun menurut dengan wajah masam. Arga sudah menghidupak mesij mobilnya tapi mobil belum juga bergerak. Sekejap saja kini tubuh Arga sudah condong kearah Dinda mengikis jarak Diantara mereka sampai deru hangat nafas dan aroma parfum maskulin milik Arga memenuhi indra penciumannya. Kepala Dinda pun berdenyut lalu matanya terpejam sempurna. Sedetik .. dua detik ... tidak ada yang terjadi. Dinda memicingkan matanya namun wajah Arga tak jua menjauh.

"Saya memasang self-belt kamu yang belum terpasang" kemudian Arga kembali ke posisinya semula

Pipi Dinda sudah bersemu. Dasar Dinda apa yang dia pikirkan!

"Buang imajinasi liar mu itu, Dinda!"

"Memang Om tahu apa yang aku pikirkan? Sok tahu" Dinda mencebik
"Tentu saya tahu. Apa harus saya katakan, hem?" Arga melihat pipi Dinda yang bersemu.
"Sudah jalan Om. Saya bisa terlambat" Dinda mengalihkan pembicaraan dan mulai memainkan ponselnya.

Setelah sempai di depan kampus Dinda pun segera bersiap keluar dari mobil. Tapi dia ragu untuk membuka pintu, haruskah dia membuka mencium tangan Om Arga? Seperti pasangan suami-istri lainnya? Tapi kan malu ih.

"Kenapa belum keluar?"
Dinda menoleh kini Arga sedang mengulurkan tangannya. Dinda pun menyalaminya dengan takzim. Ada senyum di bibir Arga yang tak sempat Dinda lihat. Arga mungkin memang butuh waktu untuk menuntun bidadarinya ini. Dia tahu konsekuensinya menikahi Dinda dengan segala apa yang ada pada dirinya.

"Nanti saya jemput" Dinda hanya mengangguk dan keluar menuju kampusnya.

Teman-teman Dinda Keysa dan Abel pun melepas kangen mereka setelah beberapa hari tidak bertemu pasca Dinda menikah.

Saat ini mereka tengah di dalam kelas menunggu dosen datang.

"Dinda, kamu gak honeymoon dulu gitu" abel nyeletuk.

"Sssst, bisa gak sih jangan kenceng-kenceng ngomongnya" Dinda membekap mulut Abel dengan tangannya

"Haha, elo sih, Din. Milih nikah muda gitu" Keysa ikut menimpali.
"Itu maunya papa dan mama" Dinda tertundul sedih. Oh masa mudanya harus Ia relakan dengan pernikahan ini.

"Udah Din. Kamu ikhlas aja ya. Jalani dulu. Ok" Abel menepuk pundak Dinda.
Dinda hanya diam. Ikhlas. Bisakah dia ikhlas sementara hatinya tidak sejalan.

Selesai kuliah hari ini jam dua siang Dinda menunggu Arga menjemput. Tiga puluh menit yang lalu Arga mengiriminya pesan untuk menunggunya.
Dinda duduk di salah satu warung sambil menunggu Arga.
Dari jauh tampak Ivan sedang berjalan mendekatinya. Dinda jadi gelisah. Dia memang sedang menghindari laki-laki itu belum siap untuk bertemu dan memberitahu tentang statusnya.

"Dinda!" Ivan berdiri beberapa jarak dari tempat duduknya

"Ah, iy-iya. Ivan. Hei. Apa kabar?" Jelas Dinda hanya basa-basi.

"Baik. Din, bolehkah aku bicara serius padamu?" Wajah Ivan terlihat serius sekarang "beberapa hari ini ini aku terus mengubungimu, untuk biacara soal ini"

"Iya. Mau bicara apa?" Dinda jadi penasaran melihat wajah lelaki bermata cipit yang kini tengah berdiri di depannya

"Dinda, izinkan aku untuk melamarmu. Aku sudah memikirkannya beberapa waktu ini" Ivan menghela nafasnya. "Aku rasa ini saatnya"

"Adinda Wijaya, maukah kau menikah denganku? Ivan Jason" satu tarikan nafas kata itu meluncur dari mulut Ivan.

Dinda melongo. Apa dia tidak salah dengar? Ivan melamarnya? Ya Tuhan. Benarkan ini bukan mimpi.

"Dinda!" Suara Ivan menyadarkannya. Satu cairan bening lolos dari mata Dinda. Hati Dinda seresa di iris, mengingat siapa dirinya sekarang. Ivan mengapa kau terlambat mengutarakan semua ini. Sudah sangat terlambat! Sementara aku sudah terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Ingin sekali Dinda menyeurakan isi hatinya. Tapi semua tertahan, tercekat di tenggorokan.

"Hei, kenapa menangis?" Ivan ingin meraih pipi Dinda untuk menghapus cairan bening itu.
Tidak rela rasanya melihat pujaan hatinya menangis dihadapannya sekarang.

"Berhenti"suara bariton itu membuat tangan Ivan tertahan di udara.
Mereka berdua melihat ke sumber suara.

Tampak wajah tampan Arga yang mengeras. Kedua buku tangannya terkepal di samping tubuhnya. Jelas aura tidak suka terpancar di wajah Arga. Bisa-bisanya istri berduan dengan lelaki yang bukan mahramnya. Dada Arga serasa terbakar.

"Dinda, masuklah!"
Tapi tatapan Arga tetap mengarah pada Ivan yang hanya berdiri di tempatnya
"Jangan menyentuhnya!" suara Arga menggelegar

Tanpa pikir dua kali Dinda bergegas menuju mobil. Sebelum beranjak Dinda melihat Ivan.
"Nanti kita bicarakan lagi. Sekarang aku harus pulang"

Suasana di dalam mobil hening dan canggung. Arga berusaha mengontrol emosinya. Sementara Dinda merasakan hatinya berdenyut mengingat pernyataan Ivan di warung tadi.

"Dinda mohon untuk tahu di mana posisimu sekarang!. Kau, wanita bersuami" suara Arga memecah kesunyian yang tercipta diantara mereka.
"Apa yang kalian lakukan bisa saja menimbukan fitnah! Tolong juga, jaga maruah, mu".

Dinda hanya diam mendengar kalimat Arga.
"Dinda, kau tau kan betapa saya bertanggung jawab terhadapmu?" Arga menghembuskan nafas berat.
"Seperti mahar yang kau pinta. Aku ingin membuat para Bidadari cemburu padamu, karena ketaatanmu kepada Allah"

Kini Dinda melihat Arga yang tetap fokus melihat ke depan meskipun sedang berbicara.

"Jika aku bukan Bidadari seperti yang Om inginkan, lantas kenapa? Salah? Suara Dinda bergetar menahan tangis.

"Sepenuhnya tidak salahmu! Ini karena kehidupan yang kita jalani tidak menggunakan aturan Allah Swt. Kontrol negara terhadap ketaqwaan individu mandul. Tidak ada"
Arga menepikan mobilnya dan mematikan mesin mobil "kita pun menjadi korban sistem yang saat ini kita rasakan. Identitas kita sebagai seorang muslim dikaburkan bahkan di hilangkan!" Arga menjeda sejenak


"Aku menginginkan pendamping yang bisa bekerja sama untuk menuju ketaatannya. Karena sangat berat saat kau tidak ingin bekerjasama!"

Dinda tidak terima disalahkan
"Jangan berpikir bisa mengubahku seperti yang Om, inginkan!"
Dinda menatang mata Arga
"Aku bukan boneka!"

Arga terkesiap. Sisi lain Dinda yang keras kepala keluar juga
"Bukan saya, tapi Allah Swt yang memerintahkan, Dinda! Pencipta kita" wajah Arga tetap tenang.

"Hiks ... Hiks ... kenapa om tidak menikahi wanita seperti yang om inginkan. Kenapa harus wanita seperti aku?" Tangis Dinda pecah. Rasa sakitnya berkali lipat. Dia tidak ingin terikat pada semua ini. Dia ingin bebas! Bagi Dinda,
Mama dan papa lah yang bersalah  karena menikahkannya dengan Om Arga. Sosok yang suka mengatur dan banyak maunya.

#AMK
 
Top