By: Nelliya Azzahra

Wanita itu seperti tulang rusuk. Tidak bisa dipaksakan untuk meluruskannya. Karena bisa saja dia akan patah.


Setelah perdebatan mereka di mobil tadi Dinda menghabiskan sisa perjalanan dengan tidur. Arga pun menutup rapat mulutnya setelah mendengar isakan tangis Dinda. Bingung baru kali ini menghadapi perempuan model Dinda.

Arga mungkin lupa kalau Dinda tidak bisa dikerasi. Dia akan menjadi semakin keras.
Selang berapa waktu mobil yang membawa mereka pun sampai di depan sebuah rumah minimalis bercat biru dan putih dengan halaman yang tidak begitu luas.
Ya, inilah rumah baru yang akan mereka berdua tempati.
Setelah melepas selt-beltnya Arga melihat Dinda yang masih teridur pulas. Beberapa helai rambut menutupi wajah putihnya. Dengan gerakan sangat pelan agar tidak membuat Dinda terbangun Arga memindahkan helaian rambut itu ke samping telinganya. Kini wajah dengan pipi chubby itu terlihat jelas oleh Arga. Ada sisa-sisa airmata di bulu mata lentiknya membuat Arga sedikit menyesal karena telah membuat istri mungilnya ini menangis sampai tertidur.

Lama ditatapnya wajah Dinda yang tertidur dengan dengkuran halus. Damai sekali wajah itu saat tertidur. Lalu ingatan Arga melayang pada sosok Vanya, istri pertamanya.

Vanya sangat berbeda dengan Dinda. Vanya wanita yang shalihah menutup aurat dengan sempurna, baik akhlak dan tutur katanya. Selama pernikahan mereka Vanya selalu menuruti apa kata Arga tanpa membantah. Itu pula yang membuat Arga begitu mencintainya. Arga yang sempat beberapa tahun mondok di pesantren yang terdapat di Kota Pasuruan kepincut dengan kecantikan dan salihahan Vanya yang merupakan anak salah satu Ustadz pengajar disana.
Rasa cinta itu terus menancap di hatinya semakin dalam.

Itulah pula kali pertama Arga merasakan jatuh cinta dengan lawan jenis. Keluarga Arga sendiri tinggal di Jakarta. Sejak dia dan abangnya SD, papa mereka sudah meninggal. Jadi Mama sebagai single parent juga menjalankan usaha Papa.

Waktu itu Mama yang sibuk dengan pekerjaan. Usaha mereka belum berkembang seperti sekarang, khawatir tidak bisa memperhatikan Arga dan Abangnya, Angga. Jadilah mereka di masukkan ke pesantren untuk sementara karena pemilik pesantren sendiri masih terhitung kerabat jauh Nenek dari pihak Papanya.

Hidup di lingkungan pesantren membuat Agra mempunyai bekal pemahaman tentang ilmu agama. Jadi Arga tahu bagaimana interaksi laki-laki dan perempuan yang semestinya sesuai dengan Islam karenanya dia tidak pernah menyatakan rasa cintanya pada Vanya saat itu apa lagi sampai mengajaknya pacaran. Barulah saat lulus kuliah dan dia sudah bekerja membantu Mamanya dengan usaha keluarga yang mereka bangun bersama Arga memberanikan melamar cinta dalam diamnya selama bertahun-tahun itu.

Ternyata gayung bersambut, Vanya dan keluarga menerima pinangannya. Maka setelah acara lamaran itu tidak menunggu waktu lama mereka pun menikah. Menyatukan rasa dan merajut cinta dalam hubungan yang di ridai_Nya. Tahun demi tahun rumah tangga yang mereka jalani tetap harmonis. Karena bagi Arga, Vanya adalah bidadarinya di dunia ini, cinta Arga pun pada istrinya kian hari kian tumbuh subur. Tetapi mereka belum juga di anugrahi amanah, hingga masuk tahun ke-6 pernikahan mereka amanah yang nanti itu belum juga hadir.

Hingga tiba hari yang meruntuhkan dunia seorang  Arga Adhiguna dalam seketika. Hari itu, ketika dia pulang kerja Vanya tidak ada di rumah. Sesampainya rumah pintu dalam keadaan terbuka. Setelah dia mencari ke seluruh sudut rumah tak juga dia temukan bidadarinya. Ponsel Vanya pun tidak bisa di hubungi bahkan keluarga dan semua teman-teman yang berhubungan dengan Vanya sudah dia tanyakan. Tapi tidak ada satu pun yang tahu keberadaan Vanya. Lalu Arga menemui Mama dan Abangnya, Vanya pun tidak ada disana. Dengan putus asa Arga menyusuri taman-taman dan masjid tempat Vanya sering kajian. Nihil. Setelah dua puluh empat jam Akhirnya Arga dan keluarganya beserta keluarga Vanya mendatangi kantor polisi guna membuat laporan tentang hilangnya Vanya.

Semingu, sebulan, setahun, waktu berlalu. Vanya bak hilang ditelan bumi. Semua usaha sudah dia dan keluarganya kerahkan sampai menyewa beberapa detektif untuk membantu mencari keberadaan Vanya, lagi dan lagi mereka harus menelan pil pahit lantaran Vanya tidak juga ditemukan. Inilah hari-hari terberat dalam hidup Arga.

Dia merasa harta satu-satunya, sudah hilang. Semangat hidupnya pun seakan ikut pergi. Berhari-hari Arga mengurung diri di kamar. Kadang pun tengah malam dia bermimpi buruk tentang Vanya. Tapi jauh di hati terdalamnya dia yakin Vanya masih hidup. Meski banyak asumsi yang mengatakan mungkin Vanya sudah tidak selamat di luar sana. Empat tahun berlalu dari hari itu. Kini Arga mencoba berdamai dengan hatinya. Mencoba mengiklaskan Vanya Aisyah Al Khansa. Itulah nama bidadari yang hilang entah kemana. Semakin kesini Arga semakin sadar bahwa ini adalah ujian dari Allah itu terdapat  dalam firman_Nya:

تُرْجَعُونَ وَإِلَيْنَا فِتْنَةً وَالْخَيْرِ بِالشَّرِّ وَنَبْلُوكُمْ الْمَوْتِ ذَائِقَةُ نَفْسٍ كُلُّ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35).

Karenanya Arga mulai bangkit dan menata kehidupannya kembali. Terbukti kini dia telah memilih Adinda sebagai pendampingnya untuk bersama mengarungi bahtera ketaatan kepada_Nya. Belajar ikhlas melupakan masa lalu termasuk di dalamnya Vanya.

Lamunan Arga buyar saat  suara erangan kecil lolos dari mulut  Vanya yang mulai terjaga.

"Eeergh" Dinda mengerjapkan matanya beberapa kali.  Kelopak matanya masih terasa berat akibat menangis tadi yang cukup lama.

"Ayo, turun! Kita sudah sampai"

"Ini dimana?" Dinda melongo keluar lewat kaca mobil memperhatikab rumah yang terlihat asing olehnya.

Arga yang sadar akan kebingungan Dinda pun berjalan mendekati Dinda

"Ini rumah kita. Turunlah!" Arga membukakan pintu mobil untuk Dinda
Dinda pun segera keluar. Dia hanya mengekori Arga dari belakang. Perdebatan tadi masih menyisakan kekesalan di hatinya.

Kesan pertama dari rumah ini yang Dinda rasakan adalah nyaman. Interiornya terasa bagus. Pintar juga Om Arga membuat semua ini pujinya. Rumah ini tidak terlalu besar namun pas. Ada tiga kamar dan kamar utamanya bernuansa serba pink. Persis kamar Dinda di rumah lamanya.

Tanpa sepatah kata pun  Dinda segera merebahkan dirinya di atas kasur. Di ikuti Arga yang menuju lemari mengambil baju ganti dan segera ke kamar mandi.

Dinda mengingat-ingat perdebatan dia dan om Arga di mobil tadi. Serta lamaran Ivan yang membuatnya sangat emosional. Dinda meraih ponselnya dan melihat dua pesan dari Ivan. Belum sempat membacanya suara om Arga membuat ponsel terjatuh dari tangannya.

"Mandilah! Sebentar lagi asar. Kita solat berjamaah" ternyata om Arga sudah berganti baju tampak rapi dengan baju koko dan kain sarung.

"Om, apakah om serius dengan pernikahan ini?"

Arga menatap Dinda dengan ekspresi tidak terbaca.
"Tentu saja serius. Apakah kau pikir saya akan mengakhirinya?" Arga balik bertanya

"Entahlah" Dinda mengangkat kedua bahunya

"Dinda, pernikahan itu bukan sebuah permainan yang ketika game over semua berakhir. Pernikahan itu suatu ibadah kepada Allah Swt. Pemahaman seseorang yang keliru tentang suatu pernikahan yang bisa membuat dia sulit atau terkesan mengabaikan pernikahan itu sendiri"
Arga maju selangkah
"Jangan berfikir yang aneh-aneh Dinda! Cobalah untuk menjalani pernikahan ini dengan ikhlas. Saya akan berusaha menjadi Imam yang baik untuk kamu" suara Arga melembut.

Dinda menghembuskan nafas berat. Kalau sudah begini masih adakah kesempatan untuk dia bersama Ivan?

Dinda pun segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah lengket.
Saat keluar dari kamar mandi tampak dua sajadah sudah tergelar di lantai kamar. Salah satunya sudah di duduki om Arga yang sedang memegang tasbih sambil memejamkan matanya.
Dinda pun segera mengambil mukenah dan memakainya.

Selesai solat mereka berdua berdoa, Dinda selesai lebih dulu. Dilihatnya om Arga masih khusuk berdoa dengan kedua tangannya terangkat.

Dinda pun melipat mukenah dan sajadahnya. Tanpa Dinda sadari kain mukenah yang dia pakai terinjak dan membuat Dinda terjatuh dengan kepala membentur sisi ranjang.

"Aakh! Kepalaku" Dinda meringis kesakitan sambil memegangi kepalannya yang berdenyut.
Arga yang mendengar segera menyudahi doanya dan melihat Dinda yang terduduk di lantai di dekat ranjang.

"Dinda, kau kenapa?" Arga melihat Dinda memegangi kepalanya.

"Terpelesat, kepala Dinda sakit" dia menurunkan tangannya. Arga bisa melihat benjolan di dahi Dinda.

"Sini, coba saya lihat" Dinda bergeser lebih dekat ke Arga yang sedang jongkok kearahnya.

Dengan jarak sedekat ini Arga bisa mencium aroma vanila dari ranbut Dinda. Wajah cantik Dinda pun hanya berjarak beberapa centi darinya.

 Tiba- tiba Arga merasakan jantungnya memompa lebih cepat, badannya panas dingin dengan keinginan yang sulit dideskripsikan.
Arga sadar ini syahwat. Arga pun berhenti dan segera berdiri menjauhi Dinda.

"Tunggu, disini! Saya akan ambilkan obat" Arga segera berjalan menuju pintu.
Dinda memandang bingung kepergian om Arga yang tiba-tiba.
Dasar om Arga aneh!

Bersambung

#AMK
 
Top