By Nelliya Azzahra

~ Cinta yang hakiki adalah ketika kita mampu mencintai Allah Swt melebihi  cinta kepada makhluk_Nya ~

**********

Setelah mendapatkan kotak P3K, Arga tidak langsung menemui Dinda. Dia meraba dadanya sendiri merasakan detak jantungnya yang masih tidak beraturan ini semua efek berdekatan dengan Dinda tadi pastinya. Arga menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan. Bagaimana pun dia adalah laki-laki normal, apalagi Dinda adalah istri sahnya. Berdekatan seperti itu membuat keinginan primitifnya sulit dikendalikan. Pertarungan antara nafsu dan logika, akhirnya dimenangkan oleh logika.

Arga ingin semuanya terjadi karena ke ridaan dari mereka berdua sebagai sepasang suami istri dan nantinya dengan ke ridaan itu akan bernilai ibadah di hadapan Allah. Tidak ingin Dinda merasak terpaksa menjalankan kewajibannya.
Apalagi Dinda seperti masih setengah hati menerima pernikahan ini. Terbukti, dari pertanyaan Dinda di kamar tadi.

Arga lalu melangkah membawa kotak P3K menuju kamar tempat Dinda menunggu.
Setelah sampai di depan kamar Arga segera mendorong pintu dan melangkah ke arah ranjang. Tampak Dinda duduk disana masih sambil memegangi dahinya yang benjol.

Arga mendekat dan mengeluarkan salep"sini! mendekat sedikit" Dinda hanya menurut. Arga menyingkirkan anak rambut Dinda yang jatuh di dahinya, pelan Agra mulai mengolesi salep pada benjolan di Dahi Dinda.

Baru saja tangan Arga menyentuh kulitnya, Dinda sudah merasa seperti kesentrum aliran listrik bertegangan tinggi. Tangan hangat Arga dengan telaten masih mengolesi benjolan di dahinya dengan salep.

Dinda memejamkan mata mencoba meredam desiran di dadanya setiap tangan om Arga berhasil menyentuh dahinya.

Dinda juga tampak menahan nafasnya. Arga yang melihat Dinda seperti itu malah tersenyum. Sebenarnya sudah selesai dia mengolesi obatnya dari tadi. Hanya saja Arga masih sengaja mengusap-usap dahi Dinda. Tangannya memang tidak bisa di ajak kompromi.

"Sudah, bernafaslah!" huft Dinda menghembuskan nafas yang tadi di tahannya "kenapa menahan nafas seperti itu? Hem" Arga bertanya sambil memasukkan kembali obat ke kotak P3K.

"Tidak apa-apa, Om"Dinda meraba dahinya "semoga benjolnya segera hilang, huft apes bener sih. Belum juga sampai sehari di rumah ini sudah dapat musibah" Dinda mengerucutkan bibirnya

"Apakah, kau punya kebiasaan menggerutu seperti itu?"

"Ya?"

"Tidak apa-apa" Arga melihat ke arah Dinda.

"Dinda apa kamu lapar? Bagaimana kalau kita belanja ke swalayan di dekat sini"

"Lapar, tapi kenapa tidak beli saja sih, om. Ribet harus masak" Dinda yang memang tidak bisa masak sedikit protes

"Masak sendiri lebih sehat. Insyaallah halalan dan thoyiban" Arga berdiri "ayo siap-siap"

Arga berjalan ke arah lemari, membuka dan mengambil jaket denimnya.
Dinda pun mengikuti dari belakang dia memakai celana kaos panjang serta baju kaos berwarn pink lengan panjang.

"Dinda, bisakah memakai ini?" Arga menunjukkan kerudung instan berwarna pink

Mata Dinda menyipit, yang benar saja dia di suruh memakai benda itu. Tapi mau nolak nanti panjang ceritanya bisa-bisa Dinda kena ceramah berjam-jam, sementara perutnya sudah minta di isi.
Dinda mengulurkan tangannya. Arga segera memberikan kerudung pink itu ke tangan Dinda. Tanpa melihat kaca, Dinda segera memasang asal saja kerudungnya.
Arga yang melihat istri ajaibnya hanya geleng-geleng kepala.

"Sudah, ayo om!"
Arga malah mendekatinya. Tanpa Dinda duga arga meraih kerudung yang ada di kepalanya dan mencoba merapikannya.
"Nah, baru pas. Ayo!"
"Ah, iya. Ayo om"

Duh, om Arga ternyata bisa manis juga ya. Dinda menunduk sambil tersenyum diam-diam, lalu mengekori Arga.

Arga mengeluarkan motor dari garasinya. Arga memang memiliki satu motor matic. Kemarin sepupunya yang mengantarkan ke rumah ini.
Karena jarak swalayan yang akan mereka kunjungi tidak terlalu jauh, jadi lebih baik pakai motor saja.

"Ini, pakai!" Arga memberikan helm pada Dinda.

"Wah, asyiik pakai motor. Om gak bilang kalau punya motor" Dinda tampak girang. Jarang-jarang bisa naik motor sama kekasih halal pula, eh.

"Kamu kan gak nanya" ck ck Dinda berdecak. Baru tadi di bilang manis. Eh ternyata balik lagi ke asalnya. Nyebelin!

Dinda pun segera naik
"Pegangan" suara Arga datar tapi tegas. Pegangan yang Arga maksud adalah pada jaketnya. Yang terjadi malah diluar dugaan. Dinda melingkarkan tangannya ke pinggang Arga. Kini Arga bisa merasakan lembutnya tubuh Dinda. Lagi, jantungnya mempompa lebih cepat, dengan badan terasa panas dingin.

"Astagfirullahala'zim" Agra beristigfar pelan.

"Dinda, bisakah mundur sedikit!"
Dinda bingung mendengar perintah Arga barusan. Mundur kemana lagi yang di maksud om Arga?

"Mundur kemana, om?" Tanya Dinda polos.
Sudahlah, tidak ada gunanya juga Arga menjelaskannya. Arga segera menghidupkan motornya. Baru ingin bergerak Arga merasakan nafas hangat menyapa tengkuknya.

"Om, wangi. Dinda suka" tampak  Dinda semakin menempel padanya
"Ehem, bisakah jangan mengendus-endus begitu Dinda?"nada suara Arga tegas sekali kali ini.

"Kenapa sih, om. Ayo cepetan jalan. Dinda udah lapar ne"
"Tidak perlu tanya alasannya, lakukan saja!"
Arga menghembuskan nafasnya dengan berat. Tidak mengertikah Dinda kalau dirinya seperti itu membuat Arga tersiksa.
Akhirnya Arga mengalah dengan tetap istigfar dalam hati.

Setelah sampai di swalayan dan belanja secukupnya mereka pun pulang. Sampai di rumah,
Dinda menyusun buah dan beberapa makanan yang mereka beli tadi ke dalam kulkas.

Sementara Arga sudah berdiri di depan kompor lengkap dengan apronnya. Dia ingin memasak omelet telur.
Dengan lincah tangan Arga memotong bumbu-bumbu. Kemudian memecahkan telur dan mengaduknya

Dinda yang sudah selesai dengan tugasnya tidak sengaja melihat Arga yang sedang sibuk dengan aktivitas memasaknya. Om Arga tampak semakin tampan jika sedang masak apa lagi memakai apron begitu. Dinda pun tanpa sadar membuka mulutnya melihat dengan sangat mahirnya Arga memasak. Setelah siap Arga segera mengambil dua buah piring dan menaruh omelet di atasnya. Saat dia berbalik tampak Dinda tengah memperhatikan dengan mulut sedikit terbuka.

"Dinda, tutup mulutmu, nanti lalat bisa masuk ke sana!"

"Em?" Dinda segera menutup mulutnya, pasti dia sekarang tampak konyol.
Arga malah terkekeh melihatnya

"Sini!" Arga menarik salah satu kursi di meja makan
"Ayo, kita makan"

"Hmmm, harum. Coba ah, pasti enak" Dinda mulai menyuap ke dalam mulutnya. Waw rasanya memang enak. Ternyata om Arga selain ganteng juga jago masak. Kalau beginikan Dinda senang, bisa makan masakan om Arga setiap hari tanpa ribet harus belajar masak. Sambil makan Dinda senyum-senyum sendiri memikirkan dirinya akan merdeka dari tugas dapur yang satu ini.

"Kali ini saya yang memasak, selanjutnya kamu yang masak ya!" Arga seperti bisa membaca pikiran Dinda.
Demi mendengar itu, wajah Dinda berubah suram. Apa om Arga bisa membaca pikirannya ya, bathinnya.

"Itu, om. Emm, Dinda gak bisa masak" akhirnya Dinda jujur juga meskipun malu

"Tidak apa-apa nanti, bisa belajar sama Mama saya" Arga melirik Dinda "lusa kita ke rumah mama, ya"

Duh, gimana kalau mertuanya tau dia tidak bisa masak, bisa malu banget Dinda.

"Tapi, om. Biar saya belajar sama mama Uli aja, deh"

"Sama mama saya saja, lagian beliau juga ingin bertemu sama kamu"

Dengan malas Dinda akhirnya mengangguk juga.

Setelah makan Dinda segera mencuci piring di bantu Arga. Kemudian mereka duduk di ruang tamu. Arga dengan laptop di pangkuannya, sementara Dinda sedang nonton film kartun entah apa judulnya. Yang jelas sebentar-sebentar dia tertawa cekikikan sendiri. Arga yang melihatnya hanya geleng-gelang kepala, serasa dia menikahi bocah.

Tidak berapa lama terdengar adzan magrib. Arga pun mematikan laptopnya dan menaruhnya di sofa.
"Dinda, ayo solat! Setelah itu kita belajar mengaji tafsir" Arga merasa perlu mengajari Dinda mengaji agar di bisa memahami Al-Qur'an dan nantinya bisa mengamalkannya.

Dinda segera mematikan tv dan beranjak ke kamar mandi.

Selesai solat magrib mereka tidak langsung beranjak dari atas sajadah, sesuai apa yang yang dikatakan Arga tadi untuk mengajari Dinda mengaji. Sekarang di depan Dinda sudah ada Al-Qur'an. Ternyata Dinda lumayan lancar membaca Al-Qur'annya, Arga hanya perlu membetulkan sedikit saja. Setelah selesai belajar mengaji, Dinda pun ke naik ke kasur dan memainkan ponselnya. Berniat membalas wa dari Ivan yang tadi tertunda.

"Om, apa om pernah jatuh cinta?" Entah kenapa kali ini ada rasa yang mengusik Dinda dan mendorongnya bertanya seperti itu.

Arga tidak langsung menjawab, dia menutup buku tebal di tangannya dan bergabung dengan Dinda duduk di kasur.

"Pernah" harusnya Dinda gak perlu menanyakan itu. Jelas saja om Arga pernah mencintai istrinya terdahulu.

"Oh" tiba-tiba Dinda jadi tidak tertarik membahasnya

"Dulu, saya begitu mencintai makhluk_Nya. Tanpa sadar, mungkin rasa itu membuat Allah Swt cemburu. Karena besarnya rasa cinta saya" Arga menarik nafas, menjeda kata-katanya.
"Hingga akhirnya, Allah mengambil dia dari saya. Akhirnya saya sadar, bahwa cinta kepada makhluk itu tidak boleh melebihi cinta kepada Rabb_Nya"

Dinda sedikit tertarik. Kini ia mengubah posisinya jadi duduk menghadap Arga. Arga melanjutkan,

Allah Ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang …” (QS. Ali Imran:14).

"Selayaknya kecintaan terhadap mereka ini, dilandaskan dengan naungan cinta Allah Swt, cintailah pasangan kita dengan kadar yang pas. Berbuatlah dengan selalu menghadirkan Allah.
Menggapai sakinah dan bahagia dengan cinta yang penuh kepada Allah SWT. Ada pun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. (QS. al-Baqarah [2]: 16).

Kini, Arga menatap tepat ke manik hitam milik Dinda.
"Dinda, jadikan rasa cinta itu sebagai sesuatu yang membahagiakan. Bukan sebaliknya"
Dinda mengerjapkan matanya beberapa kali. Saat dia sadar, kini dia telah berada dalam dekapan om Arga. Nyaman, itu yang Dinda rasakan. Di tempat inilah harusnya Dinda Bersandar.
Dekapan yang menjanjikan sebuah kenyamanan dan perlindungan untuknya. Dinda memejamkan matanya meresapi setiap rasa baru yang dia rasakan. Cinta ... mungkinkah kini dia telah bersemi???

#AMK

🍃Part ini special to, pembaca setia yang udah nungguin cerita ini.🍃
 
Top