By Nelliya Azzahra

Kehilangan adalah cara Allah agar membuat kita menyadari bahwa kita hanya makhluk.  Makhluk yang lemah, dan terbatas. Memang, apa pun ceritanya kehilangan tetaplah terasa menyakitkan.  Namun, dibalik itu semua ada hikmah yang bisa kita petik jika kita ikhlas dan ridha atas setiap ketentuan dari_Nya.
*********

Tadi sebelum solat subuh Arga memaksa Dinda untuk mandi. Alasannya mandi subuh agar lebih segar dan baik untuk kesehatan. Dinda pasrah saja menurut meski dengan muka masam karena tidak terbiasa mandi sesubuh seperti ini.
Selesai dengan ritual mandinya mereka segera solat berjamah.

Hari ini Dinda mulai kuliah setelah seminggu libur. Pagi ini diawali dengan Dinda yang belajar membuat sarapan nasi goreng.
Dinda yang kebingungan harus dari mana memulainya hanya bengong di depan pintu kulkas yang sudah terbuka. Ah iya, Dinda ada ide. Kenapa dia tidak mencari tahu di google saja resep dan caranya. Duh tahu gitu kan dari tadi gak habis waktu buat mikir.
Ok. Dinda mulai berselancar mencari resep nasi goreng. Aha, ketemu. Dinda mulai menyiapkan bahan-bahan, kemudian mengambil nasi dan memasukkannya ke dalam piring. Memanaskan wajan dan mulai menumis bumbu. Dengan spatula di tangannya bergerak lincah mengaduk aduk ke dalam wajan bak gaya koki handal. Sambil sesekali dia bersenandung. Itu kebiasaan Dinda sejak remaja yang tidak disukai Bang Dimas. Karena kata Bang Dimas, suara Dinda cempreng membuat telinganya sakit. Huft padahal bagi Dinda, telinga Bang Dimas saja yang bermasalah.

Setelah siap Dinda memasukkan 'nasi goreng ala Dinda' kedalam piring. Satu untuknya satu untuk Om Arga.

Sedang asyik menata sarapan di meja makan Dinda sampai tidak sadar jika Om Arga sudah berada didekatnya.
"Eheem" Dinda terlonjak kaget. Wajahnya merengut melihat ke arah Om Arga "Om, bisa gak sih, gak usah ngagetin gitu. Jantungan tau" sungutnya

"Kamu ini, mudah sekali kaget. Lagi mikirin apa? Sampai saya disini tidak sadar"
"Mikirin .... ada deh" Dinda mengantung ucapannya "Sini Om duduk. Aku udah buat sarapan nasi goreng ala Dinda. Taraaa" Dinda mengangkat piring berisi nasi goreng karyanya.
Arga yang mengamati bentuk nasi goreng buatan Dinda sedikir ngeri. Semoga rasanya tidak semengerikan bentuknya bathin Arga.

Arga mulai menyendok dan memasukkan ke dalam mulutnya. Astaga ini nasi goreng apa? Rasanya tidak karu-karuan. Arga berhenti menyendok makanannya, beralih menatap Dinda. Melihat wajah Dinda yang berbinar bahagia karena Arga memakan masakannya membuat Arga tidak tega. Akhirnya demi binar di wajah Dinda tidak luntur Arga pun memakan habis nasi gorengnya. Bagi Arga, usaha Dinda haruslah diapresiasi. Dia menjadikan Dinda istrinya bukan menuntut dia harus jago memasak atau hal lainnya. Apa pun usaha yang di lakukan istrinya demi menjalankan kewajibannya haruslah ia hargai.

Karena itu Arga tidak menuntut Dinda harus jago masak. Biarlah seiring waktu nanti Dinda juga akan terbiasa meracik bumbu-bumbu untuk membuat masakan yang lezat.

"Habis, enak ya Om" mata Dinda mengerjap ngerjap indah dengan bulu mata lentik dan manik hitam sepekat malam.
Arga hanya tersenyum dan segera menyambar segelas air putih meneguknya sampai tandas.
Alhamdulillah akhirnya, nasi goreng itu berakhir juga di perutnya.

"Makasih ya. Kamu kekampusnya sama saya. Nanti saya yang antar"

"Ok. Om. Aku siap-siap dulu ya. Tadi subuhkan udah mandi. Tinggal ganti baju saja"
Arga menggeser kursinya dan berdiri tepat di samping Dinda. Merasakan hangat nafas Om Arga, Dinda membeku di tempatnya. Tangannya yang tadi sedang membersihkan meja makan pun ikut berhenti.
Sejak malam itu saat Dinda berakhir dalam dekapan Om Arga, jantungnya pasti memacu lebih cepat kala mereka berdekatan seperti ini.
Arga meraih tubuhnya dengan pelan melepaskan apron yang melekat pada tubuh Dinda.
"Saya hanya membantu melepas apronnya" kemudian Arga meninggalkan Dinda menuju kamar untuk berganti baju.

Dinda yang masih mematung segera sadar dan meraba dadanya. Pagi-pagi begini sudah dibuat spot jantung sama  Om Arga. Dasar om-om.
Dinda yang penasaran dengan rasa nasi gorengnya pun segara meraih sendok dan mencicipinya. Baru satu suapan, muka Dinda langsung memerah dan segera dia mengambil tisu dan segelas air putih. Dia tidak mampu menelannya. Ya Allah beginikah rasa nasi goreng yang dia suguhkan pada suaminya tadi? Satu sendok saja dia tidak mampu menelannya. Tapi Om Arga menghabiskan sepiring. Tiba-tiba mata Dinda berembun. Dia merasa belum menjadi istri yang baik untuk Arga. Dalam segala hal. Bahkan, kewajibannya saja sebagai seorang istri yang lain belum dia tunaikan meski pernikahan mereka sudah berjalan hampir dua minggu.

Kenapa susah sekali dia menerima Om Arga. Dinda segera menyusap airmatanya dan kembali membereskan meja makan. Dinda akan berusaha dengan keras agar perasaanya kepada Om Arga segera mencair dan menerima pernikahan ini dengan ikhlas. Mungkin ini adalah takdirnya yang harus dia terima.
Selesai mencuci piring Dinda segera ke kamar untuk berganti baju. Dia kamar dia melihat Om Arga yang sudah rapi, betapa tampan suaminya dengan stelan jas berwarna navy. Rambut yang  disisir rapi tak lupa kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Persis seperti CEO terkenal. Duh, kalau beginikan Dinda bisa melelah Om.

"Hey, Dinda.!"Arga mengibaskan tangannya ke depan muka Dinda. Dinda gelagapan "ya?"

"Kenapa bengong? Sana buruan ganti baju. Nanti terlambat ke kampusnya. Pakai ini ya" Arga mengambil paper bag di atas kasur dan memberikannya pad Dinda. Dinda menerima dan mengintip isinya, ternyata satu set gamis. Dinda memandang Arga yang juga tengah memandangnya.

"Om, kenapa kita harus taat kepada Allah?" Dinda merasa dia perlu menanyakan hal ini. Dia merasa selama ini Mama dan Papa hanya menyuruhnya beribadah saja sebagai seorang muslim. Tanpa memberikan penjelasan atau dalil kenapa dia harus melaksanakan kewajiban itu. Jadilah Dinda hanya bertaqlid buta tanpa ilmu dan mencoba mencari tahu.

Arga memperhatikan Dinda dengan seksama sebelum menjawab pertanyaan Dinda. Jujur Arga senang Dinda bertanya seperti itu. Artinya ini kesempatan dia untuk mendakwahkan Dinda.

"Dinda, pengertian taat secara harfiah adalah menerima dan mau melaksanakan. Kalau secara istilah adalah menerima dan menjalankan semua yang di perintahkan Allah Swt, dan meninggalkan semua yang dilarang_Nya. Kita sebagai hamba tentu wajib taat kepada Allah. Karena, kita adalah makhluk ciptaan_Nya yang sempurna dengan diberikan akal untuk mampu memahami ayat-ayat Allah guna kita menjalankan ketaatan kepada_Nya. Dan, wujud terimkasih kita juga kepada Allah karena telah memberikan kita nikmat yang luar biasa dari mulai kita di dalam perut seorang ibu sampai lahir ke dunia ini. Insyaallah dengan ketaatan kita kepada Allah, kita akan terhindar dari murka Allah. Dan dengannya kita berharap bisa meraih ridhaan_Nya" Arga menyentuh pipi Dinda sebelah kanan   "dan menutup aurat bagi seorang muslimah yang sudah baligh itu adalah bentuk ketaatan kepada Allah" Arga mengusap pipi Dinda pelan "jadi, kita berusaha sekuat tenaga untuk mentaati segala apa yang Allah perintahkan, dan menjauhi apa yang dilarang, paham?" Dinda mengangguk paham dengan penjelasan panjang Om Arga barusan.

"Kalau begitu, ayo siap-siap. Saya tunggu di luar ya"

"Oh, iya Om. Emm ... makasih untuk penjelasannya" Arga hanya membalas dengan senyuman tipis lalu berlalu keluar kamar.

Dinda berdiri di depan cermin. Penjelasan Arga barusan mengganggu pikirannya. Benarkan dia harus taat kepada Allah. Kalau dia tidak taat berarti dia orang yang tidak tahu terimkasih dan durhaka. Astagfirullah segera Dinda mengucap istigfar. Dia tidak mau jado hamba yang durhaka, Dinda juga takut nanti Allah tidak ridha padanya.
Sepertinya sekarang Dinda harus belajar banyak dari Om Arga deh.

Selesai bersiap Dinda segera menemui Om Arga
"Om, ayo!" Arga yang sibuk dengan ponselnya segera bediri. Kini di depannya sang istri telah memakai pakaian pemberiannya. Dinda terlihat anggun dan jauh lebih cantik dengan jilbab dan kerudung warna pastel. Arga saja sampai melongo dibuatnya.

"Tutup mulutnya om! Nanti lalat masuk" Dinda cekikikan sambil berjalan menuju mobil Arga. Dia sadar dia cantik, tapi melihat ekspresi Om Arga tadi sungguh lucu.

"Ehem" Arga merasa malu ketahuan mengagumi kecantikan istrinya. Dia pun segera menyusul Dinda.

Jam satu siang Dinda sudah keluar dari kampus. Karena Arga masih di kantor jadi Dinda pulang pakai taxi ke rumah Mamanya. Dia kangen Mama, Papa dan juga kangen rumah lamanya.

Tidak berapa lama taxi berhenti di depan pagar rumah Mama uli. Setelah membayar Dinda bergegas masuk ke rumah.
Dari luar terdengar Derai tawa di ruang tamu. Saat Dinda sudah masuk rupanya tawa tadi berasal dari tante Hana, Kak Greysa dan Mamanya.
Senangnya Dinda kedatangan tante dan sepupu artisnya itu.

"Assalamualaikum" semua kompak menoleh pada Dinda. Mama segera berdiri menyambut bungsunya yang sudah seminggu tidak ke rumah.

"Walaikumsalam" Dinda mencium tangan mama dan kedua pipinya, kepada tante Hana dan Greysa pun di melakukan hal yang sama.

"Sini Duduk" Dinda memilih duduk di sebelah Mama.
"Tante, sama Kak Greysa kapan datang?"

"Sekitar satu jam yang lalu"Greysa menjawab sambil tersenyum "wah, aura pengantin baru memang beda ya, Mi" Greysa menyenggol lengan Maminya dan tersenyum menggoda ke arah Dinda
"Iya Grey, cerahnya. Ngalahin mentari, loh" tante Hana ikut-ikutan menggoda Dinda. Di goda begitu sama Tante dan kakak sepupunya membuat pipi Dinda memerah.

"Duh, anak Mama, pipinya langsung merah tuh" mama Uli menjawil pipi merah muda Dinda.
"Uuh, males deh. Jadi bahan ledekkan. Lagian,  seminggu lagikan Kak Greysa juga mau nikah sama brondong, haha" Dinda puas bisa membalas Greysa yang kini gantian pipinya memerah
"Biarin brondong, yang penting udah suka" Greysa membela diri.

"Iya, deh tante doain nanti lancar ya pernikahan kamu, Grey" Mama Uli memandang Greysa penuh rasa sayang. Dia salut sama ponakannya satu ini, yang memilih jalan hijrah dan melepaskan karirnya sebagai artis ternama.
Jalan hijrah pula yang menuntunnya bertemu dengan calon suaminya, Attala.

Lalu obrolan mereka terus berlanjut sampai waktu makan siang. Setelah solat asar Mami Hana dan Greysa pamit pulang. Tidak lama Arga datang menjemput Dinda. Seperti obrolan mereka tempo hari, Arga ingin mengajak Dinda ke rumah Mamanya.

Mereka pun segera meluncur ke rumah orang tua Arga. Ini memang bukan kali pertama Dinda ke rumah orang tua Arga. Dulu saat kecil, Mama dan Papanya sering mengajak dia ke sana. Atau Arga yang menjemputnya bila Oma Dina, mama Arga kangen sama Dinda.

Setelah memarkirkan mobilnya, Arga dan Dinda berjalan bersisian masuk ke dalam rumah bercat coklat dengan nuansa klasik. Terdapat taman kecil di depan rumah tempat dulu waktu Dinda masih kanak-kanak bermain. Semua belum berubah.

"Assalamualaikum" Arga menyapa perempuan denga kisaran usia enam puluhan yang sedang memberi makan ikan di aquariaum. Perempuan berusia senja itu menoleh, senyumnya terbit melihat putra bungsunya datang bersama gadis kecil yang dulu sering dia ajak main.

"Walaikumsalam. Baru datang ya" sapanya lembut

"Iya Oma, eh Mama" Dinda memang dari kecil biasa memanggil dengan panggilan 'Oma Dina'

"Hmm, cucu Oma. Sekarang udah jadi menantu Oma. Jadi benar panggilnya sekarang Mama, ya"

"Baik, Ma" Dinda mengangguk patuh

"Ma, gimana kabar Mama" Arga menuntun Mamanya untuk duduk di sofa.
"Mama, alhamdulillah sehat. Kemarin Angga beserta istri dan anaknya juga kemari" jelasnya sambil membenarkan letak kacamatanya"kalian, semoga segera kasih cucu buat Mama ya"

"Uhuk ...uhuk" Arga mendadak terbatuk
"Kenapa Om?" Dinda membantu dengan menepuk-nepuk punggungnya

"Om?" Mata mama Dina membola
"Dinda, kamu masih memanggil suamimu dengan sebutan, Om? Sekarangkan kalian sudah suami istri. Panggil yang romantis dong. Mas, Abang, Kanda, atau sayang gitu"

"Uhuk" ... kali ini gantian Dinda yang terbatuk.
Yang benar saja, Om Arga memang cocok di panggil Om. Secara gitu umurnya pantas jadi om Dinda.

Setelah puas ngobrol sama Mamanya Om Arga, Dinda pun melihat kamar Arga dulunya.

Pertama masuk kamar bercat abu-abu itu tampak rapi dan terurus. Mungkin selalu di bersihkan sama Bibi yang bekerja di rumah ini.

Dinda semakin masuk ke dalam dan melihat diatas meja serta di dinding kamar ada pigura berisi seorang wanita cantik dengan senyum menawan. Dibawahnya ada nama 'VANYA'

Deg ... hati Dinda tiba-tiba merasa panas dan tidak suka jika ternyata  om Arga masih memajang dan menyimpan foto mantan istrinya itu.

Tangan Dinda hendak meraih foto tapi urung karena mendengar suara Arga.

"Dinda, jangan sentuh!" Dinda berbalik melihat Arga
"Kenapa Om, masih majang foto wanita ini?" Tunjuk Dinda pada foto Vanya.

"Om masih cinta, masih sayang gitu?" Dinda melemparkan pertanyaan bertubi-tubi pada Arga yang diam di depan pintu kamar.

"Gak bisa jawab, hem" Dinda tersenyum sinis pada Arga "padahal dia hanyalah wanita yang tidak bisa memberikan Om Arga keturunan kan selama pernikahan kalian. Apa hebatnya sampai Om cinta mati sama dia! Bisa tidak Om melupakan dia ...!

"Dinda, cukup!. Tolong berhenti meredahkan Vanya. Jangan menghakiminya hanya karena dia tidak bisa mengandung. Kau tahu,  Aisyah ra, istri Rasulullah Saw. Juga tidak pernah mengandung selama hidupnya. Tapi itu semua tidaklah mengurangi kemuliaan dia di mata Allah Swt. Jangan karena seorang wanita tidak memiliki anak, lantas dia dipandang tidak lebih dari pada wanita yang memiliki anak" Arga menatap lekat pada Dinda. Entahlah hatinya terasa tercubit mendengar kata-kata Dinda yang merendahkan Vanya dan memintanya melupakan Vanya.

Demi mendengar pembelaan Arga terhadap Vanya, Dinda semakin berang dan meradang. Bahkan sekarang wajahnya sudah merah padam.

"Keluarlah, Om! Aku ingin sendirian!" Dinda mendorong paksa Arga dan mengunci pintu dari dalam.

#AMK
 
Top