By Nelliya Al Farisi

Dinda duduk di dalam kamarnya menghadap keluar jendela menikmati rinai hujan yang tengah menggguyur bumi Allah sore ini. Ingin sekali rasanya Dinda merasakan rintik hujan itu mengguyur tubuh terutama hatinya yang beberapa hari ini selalu berdenyut sakit kala kenyataan mengempaskan dia pada kenyataan yang harus dia terima dan sekaligus menorehkan luka. Dinda mungkin hanya membutuhkan waktu lebih untuk mencerna dan mulai menerima ini semua.

Tidak pernah terlintas dalam benak Dinda bahwa dia akan merasakan di madu dalam pernikahannya yang baru seumur jagung dengan Om Arga. Disaat hatinya mulai ikhlas menerima pernikahan dan lelaki itu.

Dinda kembali terisak dan mendekap kedua lututnya erat. Rasa-rasanya Dinda hendak menyerah saja jika tidak teringat keputusan tegas Om Arga bahwa tidak ada satu pun yang akan dilepaskan. Karena mereka berdua adalah istri sah nya.
Teringat akan kejadian tiga hari yang lalu, yang membuat Dinda berakhir di rumah Mamanya saat ini.

"Apa ...!" Pekik Dinda, tubuhnya bergetar dengan mata yang berkaca-kaca. Dinda berharap ini hanya mimpi atau om Arga tengah bercanda "Om, berhentilah bercanda, ini sungguh tidak lucu!" Sungutnya

"Dinda, saya tidak bercanda. Vanya ternyata masih hidup. Dan saya sudah menemukannya sebulan lalu. Maaf baru memberitahumu sekarang. Karena Vanya yang memintanya dan atas persetujuan mama dan papa juga. Kami ingin memberikan sedikit waktu untuk memikirkan keputusan yang terbaik untuk urusan ini" Arga menatapnya dengan lembut. Melihat ke dalam mata istrinya yang jelas tersirat rasa kecewa. Tapi Arga tidak ingin menundanya lebih lama lagi, bagaimanapun Dinda harus tahu fakta ini. Apa lagi stastus Vanya tetap istrinya karena tidak ada kata tataq dan semua terjadi bukan karena kehendak Arga maupun Vanya. Kini Arga pun harus ikhlas dan berusaha untuk adil atas kedua istrinya. Arga sudah bisa menebak reaksi Dinda akan seperti ini. Arga maklum karena Dinda belum ada ilmu tentang perkara yang sedang terjadi dalam rumah tangga mereka. Berbeda dengan Vanya yang sudah memiliki ilmunya dan paham hukum poligami.

Arga pun awalnya kaget. Bahkan Arga beberapa kali menemui guru di pondok tempat dia dulu menimba ilmu agama. Arga meminta nasehat atas rumahtangga yang akan dia jalani kedepannya nanti.

Bahkan di sepertiga malamnya Arga sering mengadu pada Sang Pencipta, agar dia bisa berbuat adil dan ikhlas.

"Om senangkan sekarang, istri tercinta Om sudah ada disisi om lagi!" Sarkas Dinda dengan suara bergetar. Airmatanya sudah luruh dari tadi

"Sayang, kalian berdua sama istimewanya untuk saya. Kalian wanita luarbiasa yang Allah amanahkan untuk menemani saya dalam misi meraih ridha_Nya" Arga berjalan mendekati Dinda. Ingin sekali meraih tubuh rapuh istri mungilnya tersebut. Saat tangannya ingin menggapai tubuh itu, Dinda mundur menghindari Om Arga.

"Stop Om, jangan mendekat!" Dinda berbalik melihat keluar jendela
"Pilih salah satu diantara kami, Om!" Suara Dinda lembut namun terdengar bagai bom ditelinga Arga. Pilihan yang Dinda berikan jelas tidak akan dia kabulkan. Sejenak Arga menutup matanya dan mengucap istigfar pelan. Dadanya terasa nyeri dengan penolakan Dinda.

"Maaf Dinda, saya tidak bisa memilih karena kalian berdua adalah istri saya"

Tidak lama terdengar suara tawa sumbang Dinda, lalu Dinda berbalik menatap lekat Arga dengan wajah basah.

"Baiklah, Om. Kalau begitu. Lepaskan saya" lirih suara Dinda. Seperti orang yang kalah dalam sebuah permainan.

Arga menegang di tempatnya. Rahangnya mengetat dengan kedua tangan terkepal.

"Dinda, perceraian memang dibolehkan. Tapi hal itu juga sangat dibenci Allah. Saya mohon, jangan mengulangi kata-kata itu lagi" kini mata Arga pun terlihat memerah

Demi mendengar kata-kata Om Arga barusan, Dinda langsung luruh ke lantai. Dengan sigap Arga meraih tubuh mungil itu dan mendekapnya erat. Arga bisa merasakan tubuh Dinda yang bergetar karena tangisannya. Sementara Dinda menumpahkan rasa sesak yang menghimpit dadanya membayangkan akan berbagi dengan wanita lain. Mereka saling menumpahkan rasa tanpa kata.

Dinda tersadar saat remasan pelan di pundaknya. Saat dia berbalik Greysa tengah tersenyum kearahnya. Dinda tidak membuang waktu segera menghambur kepelukkan kakak sepupunya itu. Tangis Dinda pun pecah kembali.

"Sstt, istigfar sayang" Greysa menepuk pelan punggung Dinda

"Sakit, Kak. Rasanya seperti ingin meledak" Dinda meremas dadanya

"Dinda, jika kamu ikhlas menjalaninya insyaallah ada pahala yang akan Allah siapkan untukmu" Greysa mengusap airmata Dinda dengan ibu jarinya "kita tidak boleh membenci atau menolak apa yang sudah Allah halalkan, termasuk poligami. Jangan  terlalu besar dalam mencintai makhluk_Nya. Cintai sewajarnya saja. Jika cinta manusia bisa terbagi, jangan sedih. Kau, masih memiliki cinta Allah yang utuh. Jadi, fokuslah pada cinta_Nya" Greysa tersenyum menyakinkan Dinda.

Dinda pun ikut tersenyum. Harapannya ingin seperti Fatimah Azzahra ra putri Rasulullah Saw yang seumur hidupnya tidak pernah dimadu pupus sudah.
Dulu dia punya harapan membina rumahtangga dengan dialah Ratu satu-satunya. Namun manusia lemah sepertinya hanyalah mampu berencana dan mengukir harapan. Hasilnya tetap Allah yang menentukan.

Yang jelas Dinda butuh waktu dan butuh ilmu untuk menjalani ini semua.

#AMK
 
Top