By: Nelliya Azzahra
Pegiat Literasi dan Member AMK

Terlahir sebagai sulung dari empat bersaudara membuatku lebih mandiri. Dari SD aku sudah terbiasa membantu mengerjakan pekerjaan rumah dan menjaga adik-adik. Meskipun ibu mempekerjakan irt tetapi tetap saja ibu meminta ku membantu mengerjakannya. Bagiku tidak masalah. Aku juga seorang anak perempuan, mengerjakannya membuat ku belajar bagaimana kelak jika aku harus mengerjakannya di rumah ku sendiri.

Namaku Mirta, tapi aku lebih akrab disapa Ling-ling. Wajah ku yang oriental meniscyaakan orang-orang memanggilku begitu.
Aku pun heran, kenapa wajahku tidak mirip dengan Ayah, Ibu dan ke-3 adik-adikku. Sempat terlintas kala itu banyak yang meragukan aku anak kandung dari  Ayah dan Ibu. Mungkinkah aku anak hasil adopsi?

Namun, semua itu terbantahkan dengan pernyataan nenek yang mengatakan aku untuk jangan ambil pusing dengan omongan orang yang sering mem-bully. Kata nenek, aku anak Ayah dan Ibu. Sudah jangan ragukan lagi tentang itu! Begitu peringatan dari nenek.

Sejak aku mengenal sosok ibu sampai berumur 27 tahun, yang ku tahu Ibu tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya kepadaku, malah terkesan cuek dan kasar.
Berbeda dengan ke-3 adikku yang dilimpahkan penuh kasih sayang darinya. Awalnya kupikir bahwa aku anak sulung, Ibu mungkin menginginkan aku lebih mandiri. Tapi semakin kesini sikap ibu kian dingin dan kasar.

Aku teringat kejadian beberapa tahun lalu saat aku masih SMP.

Suatu pagi saat sarapan aku yang akan berangkat sekolah mendapatkan tamparan keras dari ibu. Saat itu hanya masalah sepele. Karena aku mengambil ayam goreng yang kata ibu itu untuk Karen, adik bungsuku

"Kau, letakkan kembali ayam itu!"Ibu mendekati ku dan mengambil ayam goreng di piringku

"Tapi, bu. Ling-ling belum sarapan" aku memelas melihat ayam goreng yang sudah pindah ke piring Karen.
"Disana kan masih ada beberapa potong lagi, bu" tunjukku pada piring berisi beberapa potong ayam goreng yang belum tersentuh

"Kau, makan tempe dan sayur saja!" Ibu melotot
"Tapi, bu ...."

Plaaakk
Tangan ibu mendarat di pipiku.
"Tapi apa, hah! Dasar anak tidak tahu di untung kamu! Kau selalu mengingatkan ku pada laki-laki yang ...."

"Ehem, Sinta ada apa ini" kata-kata ibu terpotong dengan kadatangan Ayah. Ibu masih melotot dengan mata memerah dan nafas naik turun.

"Sudah, sudah. Ayo sarapan!" Ayah menengahi dan segera bergabung di meja makan bersama kami. Ibu pun menyusul duduk di samping ayah dengan muka masih menahan marah.

Aku meraba pipiku yang masih terasa kebas akibat tamparan ibu barusan. Tidak ingin memancing amarah ibu semakin menjadi. Akhirnya aku mengalah, pagi ini aku hanya sarapan dengan goreng tempe dan sayur.

Kejadian seperti ini bukan hanya sekali. Dilain waktu ibu pernah menjambak rambutku hingga rasa sakitnya seakan rambutku terlepas dari batok kepala. Saat tanpa sengaja aku memecahkan piring ketika mencucinya.

Praang!

Karena busa sabun tanganku licin menyebabkan piring yang kupegang terlepas dan terjatuh ke lantai.

"Apa ini?" Suara Ibu menggelegar
"Ma-maaf bu, Ling ling tidak sengaja" kurasakan tanganku mulai dingin. Aku takut dimarahi ibu lagi

"Nyuci piring saja gak becus! Bisa habis piring kalau sering pecah begini" dengan kasar ibu menarik rambutku dan menyeretku masuk ke kamar.

"Masuk! Jangan keluar jika tidak diminta keluar!" Ibu menatapku garang
"Oh, astaga, kenapa kau sampai ada di rahimku waktu itu. Semua ini kesalahan" kemudian ibu meninggalkan ku yang menangis tersedu di sudut kamar.
Berbagai pertanyaan memenuhi kepalaku. Kenapa ibu tidak bisa menyanyangiku? Kenapa ibu selalu menyakiti darah dagingnya sendiri? jika memang aku anak kandungnya. Kenapa ..
Kenapa seperti ini?

Kami termasuk keluarga yang berada. Ayah mempunyai usaha rumah makan sendiri di Jakarta. Ibu pun mempunyai usaha catring yang di kelola bersama adiknya, Tante Bila.
Namun, aku tidak merasakan semua kemewahan yang di rasakan adikku, Raja, Arfan dan Karen.
Aku lebih merasa seperti anak tiri atau lebih tepatnya anak yang tidak diinginkan di keluarga ini. Ayah meskipun tidak begitu menunjukkan kasih sayangnya. Tapi aku bersyukur karena Ayah tidak membenciku.
Ketiga adikku juga sangat menyayangiku. Bahkan mereka sering membelaku saat kemarahan ibu meledak.

Sesekali isak tangisku masih lolos dari bibirku. Entah sudah berapa jam aku menangis. Pintu kamar sengaja ku kunci dari dalam. Rasanya sakit saat menjadi orang yang tidak diinginkan seperti ini.

Kadang aku merasa iri pada Mawar, teman sebangku ku di sekolah. Aku yang sering di ajak kerumahnya selalu di sambut oleh kedua orang tuanya. Mawar sangat di sayang, dan itu membuat Mawar pun menjadi anak yang penyayang pula. Mawar bersikap baik kepada semua teman-temannya. Kupikir itu karena kasih sayang dan buah didikan orang tuanya.

Kubandingkan dengan diriku sendiri, sungguh jauh berbeda. Aku yang tidak mendapatkan kasih sayang dari ibu dan ayah tumbuh menjadi anak yang minder krisis kepercayaan diri. Sering dibentak Ibu membuat aku menjadi pribadi yang tertutup dan trauma jika ada suara orang berbicara keras.

Masa kecil dan remaja banyak kuhabiskan di rumah. Selain bermain dengan adik-adik, sisanya aku banyak menghabiskan waktu di dalam kamar.
Setempuk buku bacaan yang dibelikan tante Bila lah yang menemaniku dan mengalihkan segala rasa yang berkecamuk di dalam hati.

Bersambung*
 
Top