By Nelliya Azzahra
(Penulis Dan Pemerhati Remaja)

"Awak tak rase, ape yang saye rase" Sham mendekap sebuah pigura berisi foto Dita. Seminggu yang lalu dia baru saja menikahi gadis manis tersebut hanya karena salah paham kedua orang tuanya. Kini, Dita Sudah diboyong kembali ke Indonesia oleh kedua orangtuanya untuk sementara tinggal disana.  Pernikahan mereka akan segera didaftarkan kecatatan sipil.
Ingatan Sham menerawang pada kejadian yang membawa dia dan Dita berakhir dalam sebuah ikatan pernikahan.
*****

Saat turun dari bandara, tas ransel Dita dan Sham tertukar kerena warnanya yang sama yaitu hitam. Saat itu juga Sham sedang buru-buru jadi tidak terlalu memperhatikan ketika tangannya meraih tas yang salah.

Dita mengejar mobil yang membawa Sham dengan taxi. Ketika Dita sampai di depan sebuah rumah mewah  buru-buru dia turun dengan niat awal mengambil tasnya. Saat tiba di depan pintu Dita sempat mendengar suara seorang perempuan tengah bicara. Tidak bermaksud menguping pembicaraan orang, hanya saja, Dita masih sungkan untuk langsung masuk.

"Sham Hairul Lokman! Dengarlah sayang Mama ne, kenape Sham tak nak nikah. Sham nak gadis macam mane pon Mama carikan"

"Ma, kenape bahas pasal kapan Sham nikah terus. Sham bukan tak nak nikah. Cuma belum ade yang pas untuk Sham" baru sampai Sham sudah dibrondong dengan pertanyaan kapan menikah

"Sham nak yang macam mane? Biar Mama bantu carikan"

"Sham nak mandi kejap Mama, Busuk. Lagi pula, Sham baru je duduk kat rumah ne" Sham berlalu memasuki kamarnya belum sadar jika tas yang sekarang di punggungnya adalah milik Dita. Sham tidak tertarik. Jika topik pembicaraan keluarganya mengarah pada jodoh dan pernikahannya.

"Tu, Bang. Tengok anak abang tu! Entah kapan die nak kawin. Malu saye Bang. Bile betemu saudare yang lain, tanya kenapa anak sorang belum juga menikah" Mama Nur bersandar di sofa dengan wajah murung. Suaminya H. Lokman yang melihat itu segera mendekati istrinya

"Dah, lah tu. Jangan nak risau sangat pasal Sham bekawin. Die tu belum dapat yang pas je" H. Lokman beralih meraih kopi di atas meja dan menyeruputnya pelan. Sedapnya kopi hitam buatan istrinya sejak tiga puluh lima tahun dari awal mereka menikah rasa kopi buatan istrinya tidak berubah sama sekali.

H.Lokman dan Nur Halima hanya memiliki seorang anak. Yaitu Sham. Karena itu, Nur Halima merasa begitu khawatir saat anak satunya-satunya sebagai pewaris keluarga mereka belum juga menikah.

"Abang! Macam mane adik tak risau. Sham tu, nampak tak tertarik lah dengan perempuan" Nur mendekatkan wajah pada suaminya "Bang, ape Sham tak normal" Nur langsung memegangi dadanya dengan kedua tangan serta hidung kempas kempis dan mata melotot ke arah suaminya "Abang! Malangnye anak kite". Demi mendengar ucapan istrinya itu, kopi hitam menghambur keluar dari mulut. H. Lokman.

"Ape awak cakap ne Nur? Istigfar. Tak baik cakap macam tu. Tak mungkin Sham buat hal hina yang dilaknat Allah tu, Nur" H. Lokman menyeka sisa kopi di pinggir bibirnya. Istrinya ini keterlaluan. Menuduh anak lelaki mereka. Dia percaya pada Sham. Tidak mungkin anak lelakinya berbelok arah. "Maaf, Bang" wajah Nur langsung tertunduk.
"dah, dah. Jom kita makan malam. Nanti biar abang cakap dengan Sham"
Mata Nur langsung berbinar dan bergelayut manja di lengan suaminya

"Iye Bang. Bujuk Sham, Bang. Kalo perlu besok pun dah nikahkan die ye Bang" H. Lokman geleng-geleng melihat istrinya yang menggebu-gebu dengan keinginannya untuk menikahkan putra mereka.
Sham itu mau menikah, bukannya kebelet ke kamar mandi harus saat itu jugak.
Tapi sudahlah, mendebat istrinya sama dengan cari perkara.
"Iye. Dah jangan risau lagi" mereka pun berajalan ingin ke meja makan sebelum suara lembut Dita menghentikannya

"Assalamualaikum" Dita memberanikan diri untuk menyapa si pemilik rumah setelah beberapa waktu tertahan diluar.

"Walaikumsalam" Nur dan suaminya melihat di depan pintu rumah mereka berdiri seorang gadis yang terlihat gugup. Nur segera melepaskan tangannya dari lengan suaminya dan berjalan ke arah Dita. Sementara H. Lokman berlalu ke meja makan tidak mau ikut campur urusan perempuan.

"Anak siape?" Dita mendongak netranya menangkap wajah wanita cantik yang meski tak lagi muda, di depannya tengah tersenyum ramah
"Sa-saya Dita, tante"
"Comelnya awak" Nur tidak tahan untuk tidak menyentuh pipi mulus Dita yang terlihat sangat menggemaskan. Seperti boneka saja
"Ada urusan apa nak Dita kemari?"

"Itu, saya cari laki-laki yang masuk kerumah ini tadi tante. Dia pakai jaket denim, dan berkacamata hitam" mata Nur menyipit penuh selidik. Laki-laki yang baru masuk? Itu kan Sham.

"Jom, masuk dulu sayang!"
Nur menuntun tangan Dita untuk masuk ke dalam. Feelingnya sudah macam-macam. Apa gerangan yang dah Sham buat sampai anak dara ne mengikutinya ke rumah.
"Tunggu kejap ye. Saye panggilkan Sham dulu" Nur melenggang meninggalkan Dita sendirian di ruang tamu.

Tidak perlu menunggu waktu lama, orang yang dicari Dita muncul bersama  Nur berjalan di sampingnya.
Setelah dekat "awak!" Sham mendelik ke arah Dita. Tidak salah lagi perempuan yang ada di rumahnya ini sama dengan perempuan yang duduk disebelahnya ketika di pesawat.

"Hei, awak!, penguntit. Apa awak buat kat sini!" Dita yang mendengar tuduhan itu jelas tidak terima. Siapa yang dia bilang penguntit.

"Aww" Sham merasakan panas sekaligus sakit di pinggangnya akibat cubitan Mama Nur.
Pasti pinggangnya sudah merah sekarang "Sham. Tak baik menuduh orang macem tu. Tanye baik-baik sayang, die ada perlu ape kat Sham"

"Dita? Ade perlu ape dengan anak Tante ne" suara lembut dari Mamanya Sham melupakan rasa tidak suka Dita atas tuduhan Sham barusan
"Ini  Tante. Tadi waktu di bandara tas ransel saya dan anak Tante tertukar. Saya sudah berusaha memanggil dan mengajarnya. Tapi sayang, langkah saya kalah cepat" Dita menjelaskan alasan dia berurusan sama laki-laki yang dingin seperti Sham.

Sham yang mendengar penjelasan Dita menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali. Malu sudah menuduh yang bukan-bukan. Dita memberikan tas Sham dan Segera meminta tasnya. Dia tidak ingin lebih lama di rumah ini. Om dan tente serta neneknya akan khawatir. Satu lagi, Dita belum memberi kabar pada keluarganya jika dia sudah tiba di Malaysia.

"Nah, Sham. Pergi ambil tas Dita" tanpa pikir dua kali Sham segera ke kamarnya untuk mengambil tas ransel Dita yang kebetulan warnanya sama-sama hitam.

"Dita, tinggal dimane?" Nur tidak bisa menahan rasa penasarannya melihat wajah cantik Dita yang tertutup rapi dengan kerudung lebar dan gamis. Nur selalu berharap bisa mendapat menantu yang solihah untuk putra satu-satunya itu.
"Saya dari Indonesia, Tante"

"Wah, Dita dari negeri tetangga rupanye. Kenapa disini, studi ke?"

"Dita, mau ke tempat suadara Dita Tante"

Tidak lama Sham berjalan mendekat dan memberikan tas Dita tanpa suara. Dita pun menerimanya tanpa melihat wajah Sham
"Permisi Tante" Dita sudah berdiri dan menyalami tangan Mama Nur untuk pamit

"Eh, eh. Kejap sayang. Dita kan dah datang ke rumah Tante. Itu artinye Dita tamu kami. Jom lah kite makan dulu. Makan malam dah siap dah"Mama Nur menarik pelan tangan Dita menuju meja makan.
Berbanding terbalik dengan Sham. Dia tidak suka jika Dita lebih lama di rumahnya. Perempuan cengeng. Tadi di bandara pakai drama menangis segala saat Sham menegurnya yang memegang lengan Sham.

"Ehem, Sham! Jom makan"

"Sham tak lapar Mama, Sham nak tidur je" baru Sham mau berbalik, tangan  Mama Nur sudah meraih tangannya " jom, makan!"  Sham akhirnya melangkah juga menuju meja makan dengan malas. Sham memang sulit membantah perkataan Mamanya.

Sebenarnya Sham bukan tidak tertarik dengan perempuan. Banyak perempuan yang menggilai Sham. Pemuda yang berpendidikan, tampan, dan mapan pastinya. Hanya saja, Sham merasa dia belum perlu pendamping. Sham dari remaja memang terkenal dengan sifat coolnya. Papa Lokman mendidik Sham untuk menjadi laki-laki yang kuat, tidak lembek apa lagi cengeng. Semua dilakukan Mama da Papa Sham agar  Sham bisa mandiri selaku anak tunggal. Didikan yang seperti itu menjadikan Sham kecil hingga dewasa orang yang dingin. Sham tidak pernah menangis di depan orang lain kecuali Mamanya.

Untuk urusan perempuan, Sham. Memang mempunyai prinsip untuk tidak menjalin hubungan sebelum menikah, alasan yang klaksik memang. Tapi prinsip itulah yang tetap Sham pegang sampai hari ini. Jadi Sham 100% lelaki normal.

#AMK
 
Top