By: Nelliya Azzahra
(Member Akademi Menulis Kreatif)


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Pramidita tengah berada di bandara Soekarno-Hatta dengan tujuan penerbangan Malaysia. Dia tidak sendiri, melainkan ditemani Ayah dan Bundanya di kursi tunggu. Jujur saja ini untuk kali pertama kalinya Pramidita atau yang akrab dipanggil Dita pergi dan naik pesawat sendirian.

Dita dan keluarganya berasal kota Malang. Beberapa hari yang lalu mereka melakukan perjalanan ke Jakarta tempat pamannya karena ada acara keluarga.

Dan kenapa Dita bisa berada di bandara serta akan terbang ke Malaysia sekarang? Itu semua atas permintaan Neneknya yang  tinggal dengan saudara perempuan dari Ayah yang kini menikah dengan laki-laki asal Malaysia dan menetap disana.
Pesan yang Bunda Gayatri terima, Ibunda Dita beberapa hari lalu adalah Nenek sedang sakit. Karena bulek Tisna baru saja melahirkan anak ke-tiganya, jadi tidak bisa maksimal menjaga Nenek. Sementara untuk di bantu dengan orang lain Nenek tidak bersedia. Bunda Gayatri tidak bisa meninggalkan adik laki-laki Dita yang lagi duduk di bangku SD.
Oleh karena itu, Dita yang baru selesai wisuda disalah satu universitas di malang. Menjadi kandidat untuk kesana, dialah yang  akhirnya di minta untuk menjaga Nenek sementara.

Dita juga tidak keberatan. Dia yang belum pernah ke negera Upin-Ipin itu merasa girang. Terbayang nanti dia akan jalan-jalan ke twin tower petronas dan berfoto disana, kemudian belanja ke sungai wang saje yang terkenal akan harganya yang murah. Semalam sebelum tidur, Dita sempat searching dulu tempat yang akan dia kunjungi, dan tentunya tempat lainnya juga tidak akan dia lewatkan. Rasanya sudah tidak sabar juga bertemu bulek Trisana dan adik-adik sepupunya yang lucu-lucu itu.

Pesawat akan segera berangkat, Dita segera menyalami Ayah dan Bunda dengan takzim.

"Dita, hati-hati ya disana. Urus Nenek baik-baik. Jangan menyusahkan Bulek dan Om Tengku ya" Bunda berpesan seraya merangkul sulungnya yang kini beranjak dewasa. Tahun depan usia Dita sudah dua puluh dua tahun. Usia yang tidak lagi remaja. Meskipun kadang-kadang Dita masih menampilkan sikap kekanak-kanakkan. Misalnya saja, saat hujan petir. Dita minta ditemani bunda Gayatri sampai dia tertidur. Memang pasangan Handoko dan Gayatri begitu menyayangi Dita. Lantaran mereka cukup lama menantikan kehadiran sulung ini. Dita lahir di tahun ke-enam pernikahan mereka. Kemudian cukup lama juga baru hadir putra mereka yang tadi tidak ikut ke bandara.

"Insyallah Bunda. Dita akan mengurus Nenek baik-baik. Bunda juga. Jangan kangen ya, sama Dita" Dita nyengir menampakkan gigi kelincinya.

Bunda hanya mencubit pipinya gemas. Bagaimana bisa tidak kangen, ini pertama kalinya mereka akan berpisah cukup lama. Biasanya hanya dua atau tiga hari saja.

"Dita pamit Ayah" Dita merangkul Handoko. Dan mulai berjalan dengan menenteng buku dan tas ransel yang melekat di punggungnya.

Gadis cantik berkerudung biru langit itu melambaikan tangan ke arah orang tuanya. Dia akan check-in dulu sebelum masuk ke pesawat. Pramidita gadis yang memiliki  kulit kuning langsat, dengan manik mata berwarna coklat. Serta lesung pipi di kedua pipinya.
Dita sebenarnya ingin Ayah juga Bunda dan Givan bisa ikut. Tapi Ayah kerja, dan Givan masih sekolah.

Saat Ia masuk ke pesawat Garuda, beberapa pramugari cantik menyambutnya dengan ramah. Dita segera menuju tempat duduknya. Sebelumnya dia meletakkan tas ranselnya di kabin pesawat. Ternyata tempat duduk Dita disebelah jendela. Dita senang, itu artinya nanti dia akan melihat pemandangan dari atas lewat kaca. Ketika Dita sedang membolak-balikkan buku di tangannya, seorang laki-laki duduk di bangku sebelahnya yang tadi kosong. Dita yang sadar melirik siapa gerangan orang yang menduduki tempat di sebelahnya.

Seketika tampak seorang laki-laki dengan masker dan kacamata hitam tengah sibuk mengusap-usap gawainya sambi duduk menyilangkan kedua kakinya.

Dita tidak tertarik melihat lebih lama. Baginya buku yanh sekarang dia pegang jauh lebih menarik.

Terdengar pemperitahuan jika pesawat akan segera take off. Inilah yang paling Dita risaukan. Dita belum pernah naik pesawat sendiri. Baisanya kalau sama Bunda atau Ayah, Dita akan memegang erat tangan mereka.

Perlahan pesawat mulai bergerak. Dita kaku di tempat duduknya dengan mulut komat-kamit. Kebiasaan Dita kalau lagi cemas, atau khawatir. Dia kan berdoa dengan mulut komat-kamit.

Sesaat Dita tidak bisa lagi menahannya, refleks dia mencengkeram lengan orang yang duduk di sampingnya sekuat yang dia bisa.

Sham Hairul Lokman yang merasakan lengannnya di remas cukup kuat pun menoleh pada sosok yang membuatnya meringis. Tampak seorang perempuan berkerudung biru sedang menutup mata dengan mulut komat-kamit. Entah apa yang di bacanya.

Lalu, tatapannya beralih pada tangan penyebab dia meringis menahan sakit.

"Makcik! Hei!"

Dita bergeming. Rasanya takutnya lebih mendominasi.

"Permisi, Makcik!" Sham kembali mengulang. Mencoba menyadarkan perempuan yang dengan tidak tahu malunya kini menggenam erat lengannya.

Perlahan mata Dita terbuka. Karena dirasa sudah aman. Saat dia membuka mata malah ada sepasang mata yang melotot kearahnya.

"Ya?"

"Tangan Awak, tolong singkirkan dari tangan saye!" Tegas. Sham tidak mengulang lagi kata-katanya kali ini. Dia sudah risih dari tadi tangan itu menempel.

"Oh, iya. Maaf tadi saya refleks. Saya tidak sengaja" Dita buru-buru menarik tangannya dan menyembunyikannya dibalik kerudung.

"Lain kali, jangan buat hal yang same. Saye ne bukan mahram awak tu!"

Dita menggigit bibir bawahnya. Baru kali ini dia digalakkin orang. Mana Ayah sama Bunda gak ada lagi. Tiba-tiba mata Dita memanas. Dan butiran hangat itu pun turun dengan derasnya bak hujan.

Demi melihat itu Sham jadi panik. Tidak menyangka kata-katanya tadi membuat Dita menangis begitu.

"Menangis ne, ape pasal? Awak tak terima kata-kata saye tadi, ke?" Mendengar pertanyaan Sham, membuat Dita melengos mengahadap jendela.

Merasa tidak ditanggapi Sham mengulurkan sapu tangan berwarna putih dengan bordiran namanya dipinggir saputangan.
Dia menyodorkan ke depan muka Dita.
Dita yang melihat sapu tangan itu segera meraihnya.

Setelahnya mereka berdua hanya diam membisu.


 
Top