Oleh : Zulyana Aksan

Tangannya gemetar memegang sendok yang berisi bubur itu, matanya mulai kabur dan pendengarannya sudah sangat berkurang. Ia sudah tua sekarang, sudah sangat tua. Seperti puluhan tahun lalu, sekarang pun ia berada di rumah sakit ini, rumah sakit kebanggaannya, kebanggaan bangsanya.

Namanya Jelita, sejelita parasnya berpuluh tahun lalu. Wajah cantiknya dulu sangat membius pasen-pasen yang dirawatnya. Senyumnya tulus dan sangat menawan, mekar bak kelopak mawar yang sampai sekarang masih tumbuh subur di pekarangan ruang Raflesia. Tempatnya kini menjadi pasen.

Semua ingin bersamanya, disuapi makan, diberikan obat dan juga diantar buat melihat sinar matahari dan menjejak embun di pagi hari. Semua ingin di rawat olehnya. Ia seorang gadis yang ramah dan baik hati, sangat nyaman bisa menjadi pasen dalam perawatannya.

Dulu Jelita adalah rebutan hati siapa saja. Ia berbeda, kerudung putihnya membuatnya bersinar, membuatnya menjadi incaran siapa saja. Karena ia tidak hanya merawat dengan tangannya tapi juga dengan hatinya yang terbalut ilmu agama.

Jelita, kini ia sudah tua. Ia terbaring di ruangan yang dulu jadi kebanggaannya. Ruangan VVIP, ruangan dimana ia menjadi perawat pilihan. Tidak sembarang perawat bisa jadi perawat VVIP tapi ia berhasil mendapatkannya dengan mudah. Bukan hanya karena kecantikan rupanya tapi juga karena kecantikan hatinya.

Next?




 
Top