Oleh : Zulyana Aksan

Pagi ini hujan, kabut kembali tebal menyelimuti bumi raflesia. Dingin serasa membekukan tulang. Kuncup mawarku memutih, membias warnanya diterpa kabut yang seperti salju. Pandanganku seperti tertutup asap, tidak jelas tapi tidak perih.

Aku masih melihat ke ujung jalan, berharap sosok itu datang. Menembus kabut dan menerjang hujan. Tapi lelah mata memandang tubuh ringkih itu tak jua datang. Ada rasa yang aneh tapi begitu kuat. Andai saja aku yang bisa datang ke rumahnya maka sejak kemarin aku sudah kesana. Tapi sakit beberapa hari ini membuatku dilarang keras oleh suami buat beraktifitas. Mendatangi pasien bukanlah hal yang tidak menguras tenaga katanya. Ya lah aku manut.

'Ahk, Ibu ada apa denganmu? Aku gundah, aku tak karuan.'

Senandung hujan pagi ini mendendangkan rasa yang terpatri di dada sejak kemarin, rasa khawatir yang begitu dalam. Entah mengapa wajah tua itu selalu terbayang beberapa hari belakangan ini. Wajah yang selalu kesakitan dan menahan beban yang berat. Di klinikku ia bisa bercerita banyak tentang kehidupan juga tentang persiapannya menuju kematian. Aku banyak belajar dari pasien-pasienku terutama sang ibu. Seorang ibu yang berjuang sendiri tampa anak tampa suami.

"Mbak Mel....!"

Seseorang muncul dari dalam hujan dan kabut yang masih tidak mau menyingkir. Belum jelas siapa ia tapi suaranya seperti tak asing di telingaku.

Semakin dekat, semakin jelaslah siapa yang kini ada di hadapan. Senyumku mengembang tiba-tiba, khawatirku sirna entah kemana.

"Alhamdulillah, akhirnya Ibu nyampe disini juga. Saya kuatir sama keadaan ibu. Kok angkotnya gak berhenti depan sini? Ibu jalan aja?"

"Kemarin bengkaknya pecah mbk, nanah dan darah banyak sekali. Tapi sekarang mimiknya jadi gak sakit lagi. Dah kempes dan enak"

"Alhamdulillah kalau begitu. Saya tinggal perawatan bekas lukanya ya, bu." kataku sambil membimbingnya masuk. Memintanya duduk di ruang tunggu sambil beristirahat.

Kusiapkan alat dan semua perlengkapan buat merawat luka dan setelah siap aku pun memanggil sang ibu ke dalam ruang tindakan. Sekali, dua kali kupanggil tidak ada sahutan, sampai tiga kali kupanggil juga tidak ada respon. Akhirnya aku melongok ke ruangan dimana ibu tadi menunggu.

KOSONG!!!

'Kemana perginya si ibu?' batinku

"Cari siapa, Mel?"

"Pasen yang tadi Melati suruh tunggu di sini kemana ya, mak?"

Ibuku menggeleng, meletakkan sapu lidi yang tadi beliau pegang dan mendekat ke arahku.

'Emak gak liat pasen datang dari tadi. Emak kan dari tadi nyapu di halaman ini. Gak ada siapa-siapa."

"Ada maaakk....tadi Mel yang nyuruh dia masuk dan meletakkan payungnya di tempat payung ini.....!" kataku sambil melihat ke tempat menyimpan payung tapi selain payung yang kupunya tidak ada payung yang lain.

Aku terduduk lemas, aku yakin ibu itu tadi datang. Dengan wajah yang sumringah karena benjolan kankernya sudah pecah, tidak sakit lagi. Dia tampak bahagia.

Aku segera berlari ke dalam mengambil gawai dan menekan beberapa nomor yang kemungkinan tau informasi tentang ibu itu

"Ibu Sumi meninggal hari jumat kemarin Bu dokter dan langsung di makamkan. Saya juga baru tau pagi ini. Maaf ya, bu dokter, rencananya saya baru mau menelpon ibu....!"

'Innalillahi wa inna ilaihi rojiun'

Lalu siapa yang tadi datang? Bersama senandung hujan, bersama embun yang belum juga pergi?

 
Top