By Nelliya Azzahra (Penulis dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Sang Raja telah dinobatkan, kini tengah
Duduk gagah diatas kursi singgasana nan mewah bertabur kekuasaan.

Raja dan pengikutnya berpesta pora menyambut kemenangan nan gemilang pasca pertarungan perebutan tahta.

Tapi dia lupa, jika singgasana yang kini ia duduki telah ternoda.

Ada ratusan nyawa melayang sia-sia, ada amis darah disetiap sudut singgasananya, ada tangis dan jerit mereka yang kehilangan.

Sungguh, singgahsanamu telah ternoda ...!

Tak peduli prosesnya bagaimana, yang terpenting bagimu hanyalah hasil!
Panggung sandiwara kau ciptakan sendiri penuh rekayasa seolah-olah murni itu sebuah arena pertarungan.

Siasat licik ...!

Semua yang mengahalangi kau tebas habis.
Mereka yang tak memihakmu kau jadikan lawan.

Sampai kapan kau terus bermain-main demi sebuah kursi singgasana. Tak lelah kah? Sebegitu parahnya dunia membutakan matamu.

Aku menaruh iba padamu akan balasan yang telah disiapkan oleh Sang Illahi atas lakumu di dunia ini.
Tolong sadarlah! Hidayah itu milik kita semua. Sadarlah! bahwa singgasanamu telah ternoda.
 
Top