By : Mila Sari, S. Th. I
Pegiat Opini, Pendidik Generasi dan Member Akademi Kreatif

Sahabat literasi, sudah tau kan kalau kendalanya aktifitas nulis itu banyak banget dan dari sekian banyak yang paling parah itu justru datang dari dalam diri penulis sendiri. Bagaimana tidak? Bayangin aja rusuhnya bila mau nulis ga ada ide, syukur resep ampuh buat ngilangin penyakit ini sudah sering-sering kita bahas di kelas Kepenulisan AMK bersama cikgu Apu yang tak pernah bosan menjelaskan.

Lah bagaimana bila seorang penulis tiba-tiba bosan dengan aktifitas menulis? Adakah yang seperti ini? Bukankah menulis itu salah satu caranya untuk mencapai visi? visi untuk menjadi seorang penulis, visi dakwah lewat media dan literasi. Namun tak pula dapat dipungkiri, selalu ada celah bagi syaitan untuk melenakan mereka yang memiliki visi yang agung dan mulia.

Minggu demi minggu telah berlalu, materi kulwa setiap minggunya selalu disuguhkan dengan luar biasa. Materi yang menjadi amunisi bagi seorang penulis agar tak kehilangan jati diri, semangat dan cita-cita mulia yang sudah di azamkan sedari awal. Cita-cita mulia yang dengannya ia hidup dan menjalani aktifitas kehidupan ini. Sebab seorang penulis itu tak boleh cuti apalagi pensiun dari aktifitas menulis. Selagi nikmat akal dan iman serta sehat membersamai diri, maka selama itu pula aktifitas menulis dapat dilakukan bahkan seorang penulis mesti mampu melakukan aktifitas penulis disetiap situasi dan menjadikannya sebagai terapi bagi derita dan sakit yang ia rasakan. Bahkan seorang penulis dengan sakit yang ia derita, dapat menelurkan puluhan buku-buku berkualitas, ia telah berhasil menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah metode terapis dalam penyembuhan penyakitnya. Bahkan ulama-ulama terkenal terdahulu, para negarawan, para intelektual merampungkan banyak buku yang mereka karang justru saat berada dalam penjara atau tahanan musuh dan para penjajah. Ini membuktikan bahwa aktifitas menulis itu sejatinya tak ada yang dapat menghalangi.

Nah, lalu bagaimana dengan kondisi kita saat ini? Yang masih merasakan kebebasan dalam melakukan aktivitas menulis. Jujur, merasa malu dengan diri sendiri yang sudah berazam namun seolah melupakan semua impian itu. Semangat sudah tak lagi sekuat di awal dulu, ketika cita-cita mulia itu mulai terpatri di sanubari.

Atau adakah sesuatu yang membuat kita trauma dalam melakukan aktifitas menulis? Malam ini cikgu Apu mengajak semua Member AMK untuk memikirkan perihal apa yang bisa membuat seseorang trauma dalam menulis. Pertanyaan sederhana, pernahkah diantara kita semua yang sudah pernah merasakan ditolak makalah, proposal, skripsi, disertasi atau tesis nya? Hehee afwan ya, ga da maksud apapun. Serius hanya benaran nanya. Kalau ga pernah, alhamdulillah beruntunglah. Tapi pasti ada yang pernah ngerasain ditolak bahkan tidak hanya sekali tapi sampai berkali-kali.

Semua orang, sejatinya siapapun dia memiliki kemampuan untuk menulis bahkan hanya sekedar bikin stasus lewat media sosial, buku agenda, catatan atau mengisi dayri kesayangan setiap harinya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dunia akademik juga mensyaratkan bahwa untuk menjadi seorang lulusan atau sarjana juga harus merampungkan tulisan. Terkadang disinilah ujian nulis bagi seseorang itu terasa sangat sulit, ya ketika apa yang ia ajukan itu ditolak bahkan lebih parahnya lagi, hal ini dapat menyebabkan trauma bagi seseorang. Trauma menulis, sampai ga mau lagi nulis atau lanjutin tulisannya hanya karena takut lagi ga diterima sama yang nguji kelayakan tulisan itu.

Nah, sekarang saatnya saya bagi Tipsnya ya teman-teman semua.. agar nulis itu bisa kita sulap jadi aktifitas yang mudah dan menyenangkan. Caranya dibawa rilex aja, ciptakan suasana senyaman mungkin. Tulislah apapun yang ingin teman-teman tulis, ungkapkan dalam bentuk tulisan, goreskan dalam aksara yang penuh makna. Tak ada yang memaksa, tak ada yang menekan kita, maka menulis sajalah, menulislah dengan santai, senyaman mungkin. Memang agak sulit ya ngilangin trauma, ya namanya aja trauma pasti sebisanya dihindari tapi kalau selamanya menghindar ga bakalan nyelesaikan masalah makanya kita bawa enjoy aja meski secara berlahan, semoga trauma itu bisa hilang.

Dan hal yang kedua yang tak kalah pentingnya yang harus kita lakuin itu adalah jangan pernah menyerah, yakin kita bisa, kita mampu, kita harus kuasai dan takhlukkan itu. Kita yang memulai mimpi maka kita yang mesti merealisasikannya. Kita yang memulai tulisan maka kita harus tuntaskan itu. Semangat itu harus senantiasa kita pupuk bahkan saat kita sudah berhasil sekalipun. Yang namanya Visi dan cita-cita pasti jalan untuk meraihnya tak mulus tapi butuh perjuangan dan pengorbanan meski harus beradamai dengan diri sendiri. Ingat lagi tujuan, motivasi dan cita-cita kita mengapa kita harus menulis, jangan pernah lupakan itu. Mentalitas para pejuang harus senantiasa hadir membersamai dan mengawal cita-cita ini hingga berhasil mewujud nyata. Moga kita menjadi salah satu orang yang berhasil mewujudkan mimpi itu sebagai bentuk kontribusi nyata bagi kebangkitan umat dan kemajuan peradaban Islam.

#KulwaLuarBiasa
#AkuPenulisHebat
#KiatSuksesNulis
 
Top