By Nelliya Azzahra

Mentari belum memunculkan sinarnya, saat kedua anak adam tengah khusuk membaca ayat demi ayat dari kalam_Nya.
Selesai solat subuh tadi, Arga dan Dinda mengambil Al-Qur'an  dan membacanya bersama seperti biasa.
Wajah dua manusia berbeda gender itu memancarkan aura bahagia. Pasalnya, semalam mereka telah menyempurnakan pernikahan mereka. Kini tidak ada lagi keraguan Dinda pada Arga sebagai imamnya, Dinda merasa lelaki inilah yang paling tepat untuk mendampinginya.
Dinda masih merasa malu bertatapan langsung dengan Om Arga, ingatan semalam membuat pipinya bersemu merah.

Hampir jam enam, mereka pun menyudahi bacaannya. Dinda memilih ke dapur untuk membuat sarapan, mengingat hari ini suaminya itu akan pergi ke kantor. Sementara Arga bersiap-siap.
Bau masakan tercium sampai ke ruang tamu, Arga yang duduk di sana merasa penasaran dengan apa yang dimasak istrinya.

"Masak apa?" Arga berdiri tepat di belakang Dinda

"Allahu akbar!" Dinda kaget karena Arga datang tiba-tiba. Dinda tau Arga berdiri tepat di belakangnya, karena itu dia enggan membalikkan badan

"Masak omelet, Om. Sana gih, jangan dekat-dekat" usirnya

"Kenapa? Aku tidak mengganggu, bukan? Dasar Om Arga yang tidak peka. Memang sih gak mengganggu. Tapi jantung Dinda berdebar-debar tau.

"Pokoknya, Om tunggu di meja makan, aja deh!"

"Ok. Istriku"

Istriku, Dinda yang mendengarnya mengulum senyum. Terdengar jika Om Arga benar-benar menginginkan dan menganggapnya sebagai istri.

"Hei, kenapa senyum-senyum begitu?"

"Ya?"

"Kamu, barusan senyum-senyum. Gak lagi mikir yang aneh-aneh, kan?" Arga sengaja menggoda Dinda, menikmati setiap rona merah di pipi mulus istrinya.

" iih, ya gak lah, Om!" Dinda cemberut membuat Arga gemes

"Yasudah, saya minta maaf"

"Ada syaratnya" senyum Ceria Dinda tampilkan di wajah cantiknya

"Apa?"

"Nanti malam, temani Dinda belanja ya" Dinda mengampiri Arga menarik kursi disebelahnya.
Arga terlihat seperti orang yang sedang berpikir dan menimbang-nimbang.

"Mau ya, Om. Ya ya ya" Dinda mengedipkan sebelah matanya, biar aja genit sama suami sendiri bathinnya

"Baiklah. Sepulang kerja, ya"

"Makasih, Om" Dinda membuka kedua tangannya ingin meraih tubuh Arga, tapi diurungkan.

"Kok gak jadi?" Padahal Arga berharap

"Gak apa-apa, Om udah rapi gitu" Dinda beranjak memasukan masakannya ke dalam piring dan memberikan pada Arga.

******
Malam ini mereka belanja ke supermarket sesuai permintaan Dinda tadi. Arga mendorong troli disebelahnya ada Dinda. Dinda membaca kembali daftar belanja yang dibawa dari rumah. Ini untuk antisipasi agar dia tidak kalap saat belanja. Kebiasaan Dinda dulu suka kalap kalau belanja jadi membeli barang yang kadang tidak terlalu di butuhkan. Sekarang, dia sudah dapat nasehat dari Om, Arga. Untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan saja.

"Dinda!" Dia yang sedang mengambil camilan segera melihat sumber suara

Ivan

Dinda menegang di tempatnya. Cemilan yang di tangannya pun jatuh kelantai.

"Dinda, sudah belanjanya?" Tanya Om Arga yang berjalan mendekatinya dengan troli yang hampir penuh.

"Jadi ini, alasan kamu menolak lamaran, saya?" Ivan bertanya dengan tatapan tajam kearah Arga.

"Iya. Kami di jodohkan. Maaf" akhirnya Dinda menemui saat ini juga.

"Baiklah!" Tergambar jelas kekecewaan dari nada bicaraIvan. Dinda hanya menunduk dengan mata yang mulai memanas

"Tolong, jauhi Dinda, karena dia sudah bersuami!" Titah Arga tidak ingin di bantah

"Tanpa kau minta, aku juga tau apa yang harus ku lakukan!" Ivan tidak suka dengan sikap posesif Arga. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Ivan segera meninggalkan pasangan suami istri itu.
Sepeninggal Ivan, Arga meraih tangan Dinda dan membawanya berjalan menuju kasir.

#AMK
 
Top