By Nelliya Azzahra



Dibawah pohon ek dua sejoli itu pernah mengikrarkan  komitmen mereka untuk bersama. Bahagia sudah tentu bagi mereka yang tengah di mabuk cinta.

Mereka adalah Mia dan Ray, meski masih duduk di bangku SMA tapi mereka rela untuk berkomitmen demi menjaga rasa yang sudah tumbuh subur di dalam hati masing-masing.

Siang ini mereka seperti biasa pulang sekolah bersama dengan Mia yang duduk di boncengan motor Ray. Ini sudah menjadi tugas Ray untuk mengantar jemput Mia pergi dan pulang sekolah sejak mereka resmi pacaran.
Katanya karena sayang, bukti jika Ray itu laki-laki yang bertanggung jawab.

"Mia, kamu pacaran ya?" Kak Oca tadi melihat Mia turun dari motor besar Ray. Oca mencoba untuk tabayyun dengan adiknya lantaran dia melihat ada yang tidak biasa dari tatapan dua menusia berbeda gender itu.


"Hmmm,  begitulah, Kak" Mia tersenyum malu-malu tidak menyangka akan di pergoki oleh kakak perempuannya yang datang berkunjung. Kak Oca setelah menikah tinggal terpisah dari mereka. Kini Kak Oca bersama suaminya tinggal di rumah mereka sendiri.

"Udah berapa lama?" Tanya Kak Oca penuh selidik

"Baru kok, Kak" Mia mulai tidak nyaman dengan pertanyaan Kak Oca yang mulai kepo

"Iya, berapa lama udah jalannya?"

"Baru dua bulan"

"Astagfirullah" Kak Oca mengucap istigfar dan menuntun Mia untuk duduk di sofa. Setelah itu Kak Oca pergi ke belakang mengambil minuman dan camilan yang dia buat tadi pagi.

"Nih, minum dulu!" Kak Oca yang sudah kembali duduk menyerahkan segelas air putih pada Mia. Mia menerimanya dan meneguk hampir separuh dari isinya.

"Mia, Kakak mau ngomong serius ya, sama kamu" Kak Oca membenarkan duduknya jadi menghadap Mia. Mia hanya mengangguk dan meletakkan kembali gelas ke atas meja.

"Mia, tahu gak kalo pacaran itu dilarang sama agama kita? Maksudnya segala aktifitas yang menjurus pada interaski lawan jenis yang mengandung syahwat itu dilarang"

Mia menggangguk tanda dia tahu

"Lalu, kenapa masih di lakuin?" Tanya Kak Oca penasaran

"Kami kan, gak macem-macem kak. Cuma pacaran sehat" jelas Mia

"Pacaran sehat itu yang gimana?" Balik Kak Oca yang bingung. Apa lagi itu istilah pacaran sehat? Ada-ada aja bathinnya

"Ya, kita tu, cuma pacaran buat tambah semangat belajar aja kak. Gak ada kontak fisik kok" Mia menjelaskan apa itu pacaran sehat.
Kak Oca pun mulai mengerti.

"Ooh, jadi itu pacaran sehat. Dek dengar ya, apa pun namanya, pacaran sehat, TTM, dll, tetap saja itu termasuk interaksi yang di larang oleh Allah. Mia tahu, bahwa di dalam Islam interaksi laki-laki dan perempuan itu di atur sedemikiam rupa, ada batasan syara' " Kak Oca membelai sayang surai Mia adik perempuan satu-satunya. Oca merasa menyesal karena terlambat memberikan pemahaman ini kepada Mia, sehingga sekarang Mia yang sudah baligh jadi terjebak virus merah jambu.

"Allah sudah memperingatkan kita, untuk menjauhi segala perbuatan yang akan mendektakan pada perbuatan Zina.

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk" (TQS: Al- Isra: 32)"

"Apa pun itu yang bisa mendekatkan pada zina. Termasuk tadi pacaran. Meskipun katanya pacarab sehat, Mia rasa cinta, suka, itulah adalah fitrah dan kita memang cenderung atasnya, itu juga keistimewaan yang Allah Swt anugrahkan kepada kita. Namun, Allah juga memberikan aturan_Nya, bagaimana kita menyalurkan rasa itu, yang jelas bukan dengan hubungan atau perbuatan yang akan mendekati zina tadi" Kak Oca berhenti sebentar ingin melihat reaksi Mia. Tampak Mia sedang menunduk dan memilin ujung seragam osisnya.

"Mia, coba lihat Kak!"

Mia pun mengangkat wajahya yang ternyata sudah basah. Mia sebenarnya termasuk orang yang hanif dia mudah menerima nasihat.

"Jodoh kita sudah di terapkan oleh Allah. Tapi cara kita menjemput jodoh itulah yang kelak akan di hisab oleh Allah. Apakah cara itu dengan jalan yang makruf, atau jalan yang mengundang murka Allah. Mia, pahamkan?"

Mia mengangguk sekali lagi, ada rasa lega dalam hati Oca, semoga saja Mia benar-benar paham dan segera menentukan pilihan apa yang akan dia ambil. Mia pun menghambur memeluk Oca. Mia merasa menyesal tidak tahu komitmen dia dan Ray dua bulan lalu bisa mengundang murka Allah. Mia kira, jika hanya sebatas pacaran tidak ada kontak fisik itu tidak masalah. Rupanya dia salah besar.

+++++

Di tempat berbeda, Ray juga sedang mengikuti kajian Islam di masjid, tadi dia paksa sama Abangnya. Karena Abang Riko terus memaksa jadilah Ray tak punya pilihan selain ikut.

Penjelasan dari Ustadz Ismail tadi benar-benar menohok hati Ray, bagaimana Ustadz itu menjelaskan untuk memilih 'putuskan atau halalkan' jika memang menyayangi seseorang tentu tidak akan rela mendorong orang di sayang ke dalam jurang. Sama juga pacaran, ngakunya sayang, tapi tahukah jika perbuatan itu justru mendorong dia dan orang yang di sayangnya ke jurang kemaksiatan. Ray terus berpikir hingga tiba di rumah. Di dalam kamar dia sedang menimbang-nimbang hubungannya dengan Mia yang baru seumur jagung.


++++++

Sebulan berlalu Ray dan Mia tidak ada kontak sama sekali selama waktu satu bulan tersebut. Meski mereka satu sekolah tapi mereka seperti orang asing sekarang. Tidak ada lagi antar jemput seperti biasa, tidak ada lagi pesan-pesan singkat untuk sekedar menyemangati saat ujian dan perubahan yang paling mencolok adalah Mia yang kini memilih untuk menutup auratnya secara sempurna.

Siang ini dua anak manusia itu memutuskan untuk menyelesaikan apa yang pernah mereka mulai.

Mereka bertemu kembali di bawah pohon ek tempat pertama kali mereka mengikrarkan komitmen, hari ini di tempat ini juga mereka akan mengakhirinya. Mia disana di temani dua orang sahabatnya.

"Maaf, aku memilih untuk memutuskan apa yang pernah kita mulai" Mia bicara to the point

Ray mengangguk dan tersenyum " ya, aku pun memilih keputusan yang sama. Karena saat ini, jujur aku belum mampu menghalalkanmu. Dari pada kita terus berjalan pada arah yang Allah tak suka, lebih baik kita memilih berbalik" setelah mengucap kalimat barusan Ray dan Mia pun berjalan ke arah yang berbeda dengan perasaan lega.

Jujur ada rasa sedih dalam hati masing-masing. Tapi tak apalah merasa sedih sekarang, dari pada kelak menghadapi rasa sedih karena Allah tak ridha.

Langkah mereka semakin menjauhi pohon ek yang berdiri kokoh. Pohon yang menjadi saksi dua sejoli yang memilih ketaatan kepada Rabbnya.

#AMK
 
Top