By Nelliya Azzahra

Wajah cantik itu berubah menjadi sepucat mayat, ingatan akan segala kepedihan di rumah itu tidak bisa ditutupi. Kejadian beberapa tahun yang lalu begitu membekas di ingatannya. baru tadi siang, Pak Oscsar, pengacaraya memberitahukan jika rumah itu sudah kembali menjadi miliknya. Dan dia diminta untuk mengecek langsung rumah yang sudah hampir sepuluh tahun ia tinggalkan.
Ingatan bagaimana dulu dia disiksa, di caci maki oleh keluarga tiri yang sangat membencinya membuat dia bergidik. Bahkan mereka seperti tak ada rasa belas kasih sama sekali saat memperlakukan dia dengan tidak manusiawi. Dia sering dikurung didalam kamar, di suruh membersihkan rumah tiga tingkat itu dengan tangannya sendiri, mengerjakan pekarjaan rumah yang lainnya juga.
Makanan yang berikan hanya nasi putih, tempe dan tahu goreng. Bahkan sejak penyiksaan itu dia kehilangan banyak berat badan. Dia yang dulunya merupakan gadis yang cantik dengan kulit mulus seputih porselen serta terawat sempurna kini berubah menjadi kasar dan kusam. Kulit yang kering itu bahkan sampai mengelupas dan pecah-pecah pada bagian kakinya.

Malapetaka itu bermula sejak Dady nya menikahi janda cantik dengan tiga orang putri, lalu beberapa tahun kemudian Dady nya meninggal akibat serangan jantung tapi beberapa bulan yang lalu dia tahu faktanya bahwa Dady meninggal karena di bunuh oleh uncle Def, saudara laki-laki ibu tirinya. Kini Uncle Def dan Ibu tirinya sudah mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Sedangkan ke tiga saudara tirinya entah bagaimana kabar mereka sekarang.

Kisah hidupnya sudah mirip cerita cinderella bersama ibu tiri, hanya saja tidak ada ibu peri yang mengubahnya menjadi putri dan tidak ada pangeran yang menyelamatkan dari pedihnya siksaan ibu, dan sudara tirinya.

Alura tersenyum tipis mengingat bagaimana dia bisa berakhir di panti asuhan. Keluarga tirinya itu mengusirnya tanpa ampun. Menguasai semua harta penginggalan kedua orangtuanya. Alura tidak bisa berbuat apa-apa, tidak ada yang bisa menyelamatkannya, akhirnya gadis belia itu pun menyerah, menjalani tahun demi tahun hidupnya di panti asuhan.

Namun, keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada Alura, dia di adopsi oleh pasangan yang tidak memiliki anak di usia pernikahan mereka yang sudah mencapai dua puluh tahun. Kedua orang tua angkat Alura merupakan salah satu pengusaha kaya di Indonesia.

Mereka sangat menyayangi Alura layaknya anak sendiri. Mata hazel yang di milik Alura mampu menarik hati mereka ketika pertama kali bertemu. Alura gadis yang ceria, tak susah baginya untuk bergaul dengan keluarga barunya. Alura menemukan kembali apa itu kasih sayang yang sudah lama tidak dia rasakan sejak sang Mami dan Dady nya meninggal dunia.

Alura yang awalnya beragama kristen  memilih memeluk Islam, sama dengan agama orangtua angkatnya tidak lama setelah dia di bawa ke rumah mewah itu. Semua terjadi bukan tanpa paksaan, Alura memilih dengan kesadaran penuh karena dia melihat betapa baik akhlak Mama, Papa, beserta  keluarga lainnya terhadap Alura. Alura terlibat diskusi panjang dengan kedua orangtuanya, sebelum memutuskan menjadi muallaf. bahkan Arya dan istrinya sampai mengundang Ustadzah untuk diskusi lanjutan dengan Alura. Dari diskuski itulah Alura yakin, karena penjelasan tentang Islam sesuai fitrah dan memuaskan akal.

Hal lain yang membuat dia mantap untuk bersyahadat adalah ketika mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an.
Hatinya tiba-tiba terasa menghangat dan air matanya menetes tanpa bisa di cegah. Alura merasakan perasaan luar biasa yang sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata.

Setelah bersyahadat, Alura menjadi muslimah yang taat. Bahkan dia sudah menghapal sepuluh juz di bawah bimbingan Ustadzah Aisyah.

Alura begitu cepat memahami apa yang di sampaikan Mama, Papa dan Ustadzah Aisyah tentang Islam. Karena pada dasarnya Alura adalah gadis yang cerdas, dia juga baru menyelesaikan pendidikan S1 nya meskipun sedikit terlambat.

Alura berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan beberspa stel gamis. Mungkin dia nanti akan menginap beberapa hari di sana. Mengingat, sudah lama dia tidak menginjakkan kaki ke sana.
Setelah memasukkan semua keperluannya untuk beberapa hari ke dalam tas, Alura segera beranjak meninggalkan kamar mewah yang dia tempati selama beberapa tahun belakangan.

"Mama!" Wanita berkerudung biru itu menoleh

"Jadi berangkat?" Tanyanya lembut

"Insyaallah, Jadi siang ini, Ma"

"Siapa yang akan menemanimu, sayang?" Ada nada khawatir dari pertanyaan wanita itu

"Alura, pergi sendiri, Ma. Insyaallah hanya empat jam dari sini" Alura mencoba menyakinkan Mama nya bahwa dia tidak apa-apa pergi sendiri.

"Baiklah, hati-hati, ya. Mari, makan siang dulu!" Dua wanita berbeda usia itu segera berjalan menuju meja makan.

+++++

Disinilah Alura sekarang, sedang menyetir menuju rumah masa kecilnya. Tidak berapa lama mobil yang di kemudikan Alura memasuki halaman luas, tepat di depannya menjulang bangunan kokoh bertingkat. Alura melepas selfbeltnya dan turun dari mobil.

Dia memperhatikan rumah yang lama dia tinggalkan. Alura merasakan matanya berembun, kilasan kenangan saat kedua orang tuanya masih hidup seakan menari-nari di depannya. Tidak ada yang berubah dari rumah itu, hanya cat nya yang agak memudar. Dari luar rumahnya tampak terawat dan bersih. Berdasarkan keterangan Pak Oscar memang ada yang seorang yang di pekerjakan untuk merawat dan membersihkan rumahnya.

Alura masih larut dengan kenangan masa kecilnya saat sebuah suara membuat dia tersadar.

"Assalamualaikum"

Alura membalikkan badan, tak jauh darinya, berdiri seorang laki-laki yang wajahnya begitu familiar.

"Nona, Alura. Senang bertemu anda kembali"

Alura masih diam dan mencoba mengingat siapa laki-laki tampan di depannya ini. Yasir ...! Ah, iya, dia Yasir anak tukang kebunnya dulu. Tidak menyangka pemuda kurus itu sudah menjadi pria dewasa.

"Walaikumsalam. Apakah anda, Yasir? anaknya Pak Soleh"? Alura bertanya untuk memastikan. Lelaki yang bernama Yasir itu hanya mengangguk.

Bersambung

#AMK
 
Top