By Nelliya Azzahra

Alura menarik nafas dan menghembuskan perlahan saat dia mengakhiri ceritanya. Sementara Fatimah dan Raihanah yang mendengarkan sudah banjir airmata. Mereka sungguh tak menyangka jika jalan hidup Alura penuh dengan ujian dan kesedihan. Mereka marah, sedih dan menaruh iba pada anak mantan majikannya itu. Tega sekali ibu tirinya memperlakukan dia yang notabene pewaris tunggal kekayaan George, seperti pembantu dan yang lebih parah lagi sampai mengusir serta membuangnya di panti asuhan. Sementara mereka hidup berfoya-foya menikmati harta peninggalan orang tua Alura.

Raihanah beralih pada Alura yang masih berusaha meredakan tangisnya.  Ia raih tangan seputih susu itu dan  mengenggamnya, "sayang, maafkan kami yang tidak tahu apa-apa, dan juga tidak membantumu waktu itu" Raihanah menekan perasaannya agar tak terlalu larut.

Alura mengangkat wajahnya yang sembab, dia beralih melihat tangannya dalam genggaman Raihanah kemudian balas meremasnya pelan.
"Tidak apa-apa, Tante, semua sudah berlalu. Mereka tidak mengizinkan aku untuk membuka mulut, jika sampai itu terjadi, mereka akan menyingkirkan hidupku!" Alura mengingat kembali setiap ancaman Mama Jeny, "jadi, aku tidak pernah tinggal di London, melainkan di buang di panti asuhan" Alura menggigit bibir bawahnya menahan isak yang ingin kembali keluar.

"Iya, Mbak. Sungguh kami tidak menyangka, dan menyayangkan, hal itu sampai terjadi"

"Hati manusia, kita tak tahu Fatimah, aku pun tidak tidak menyangka semua ini akan terjadi" Alura beralih pada Fatimah yang terlihat menaruh rasa iba padanya.

"Lalu, apakah kau akan membawa, masalah ini ke ranah hukum, sayang?"

"Tidak Tante, Mama Jeny sudah mendekam di penjara beberapa bulan yang lalu, karena kejahatannya dalam usaha melenyapkan nyawa Dady. Sementara ke-tiga saudariku, aku tak ingin menyeret mereka" Alura melepaskan genggaman tangan Raihanah. Menatap wajah wanita yang dulu akrab dengan Momynya.

"Aku, tak pernah menyesali semua yang terjadi. Begitupun, dengan masa lalu yang tak mengenakan yang aku alami. Aku malah bersyukur, karena dengan kejadian itu, aku bisa menjemput hidayah dari Allah dan kini menjadi muallaf" Alura menjeda kata-katanya, seperti sedang mengumpulkan semangat untuk menguatkan hatinya, "dulu, aku begitu marah, dan membenci mereka yang memperlakukanku dengan buruk. Bahkan, aku ingin membalas dendam dan ingin mereka merasakan segala penderitaan dan kepedihan yang aku rasakan. Namun, rasa itu menguar begitu saja ketika aku mengenal dan mempelajari Islam. Agama baru ini, mengajarkan tentang cinta yang luar biasa, sehingga aku sadar, saat tahu hadist Rasulullah ini,

Obat mujarab untuk kebencian, dendam, dan sakit hati adalah memaafkan.

“Ada tiga golongan yang berani bersumpah untuknya, tidaklah berkurang harta karena shodaqoh, dan tidaklah menambah bagi seorang pemaaf melainkan kemulyaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (rendah hati) melainkan akan diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR.Tirmidzi).

"Dan aku, memilih untuk memaafkan mereka semua" Alura tersenyum dengan tulus. Dia memang sudah memaafkan orang-orang dimasa lalu yang menyakiti fisik maupun hatinya. Bagi Alura, yang terpenting adalah ibroh di setiap kejadian itu yang dapat dia petik.

"Masyaallah, Mbak. Mbak memiliki ketulusan hati, yang tidak semua orang memilikinya. Saya salut Mbak. Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Mbak, Alura, ya" Fatimah salut dengan keteguhan dan keikhlasan hati Alura. Meskipun dia muallaf, tapi dengan cepat dia bisa menyerap pemahaman Islam dan mengaplikasikanya.

"Aamiin" Alura dan Raihanah kompak mengaminkan doa Fatimah barusan.

"Tante pun bersyukur sayang, bukan hanya wajahmu yang cantik, ternyata hatimu juga demikian" Raihanah tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya melihat ketulusan hati Alura.

"Semua, karena Allah, Tante, Allah  Sang pemilik hati ini" Alura merasa malu mendapat pujian dari Fatimah dan Raihanah, lalu dia menyembunyikan pipinya yang sedikit merah.

"Jadi, berapa lama, kau akan tinggal disini?"

"Tidak lama, Tante. Mungkin beberapa hari lagi, mengingat kemarin aku mendapatkan, telfon dari Paman Oscar, bahwa Bibi Mery memintaku untuk berkunjung ke London" Alura memang tak berniat lama disini. Dia belum memikirkan bagaimana rumah ini nantinya, yang jelas dia tidak akan menjualnya.

"Bibi Mery"? Raihanah mencoba mengingat nama itu, " ah, apakah itu adik kandung Tuan George?" Raihanah pernah mendengar cerita tentang adik tuannya itu dari Nyonya Meriam.

"Benar Tante, Bibi Mery mungkin juga tidak tahu, apa yang telah menimpaku" Alura juga dulu merasa heran kenapa Bibi Mery tidak datang saat Dady nya meninggal lalu komunikasi mereka terputus sejak itu. Sekarang mendadak dia ingin bertemu dan membicarakan mengenai surat wasiat.
Namun Alura mencoba menepis prasangka buruk tentang Bibinya, tidak ada salahnya juga dia pergi ke sana, sekalian mengunjungi keluarga Bibi Mery. Mau bagaimana pun mereka tetaplah keluarga.

"Baiklah, sayang, semoga Allah memudahkan setiap urusan dan di ringankan langkah dalam melakukan kebaikan" Tante Raihanah kembali mengusap kerudung Alura dengan lembut, Alura merasakan naluri keibuan yang dimiliki wanita di depannya ini.

"Mba, apakah perlu aku temani malam ini?" Fatimah merasa mungkin Alura akan kesepian tinggal sendiri di rumah sebesar itu

"Terimakasih, insyaallah aku bisa sendiri, Fatimah" Fatimah mengangguk tanda mengerti akan pilihan Alura.

"Karena sudah mulai larut, sebaiknya pamit dulu. Sampaikan salam pada Paman Soleh" Alura menyalami Tante Raihanah dan Fatimah, namun saat dia berdiri, tangannya tidak sengaja menyenggol sebuah buku kecil dibagian ujung meja. Buku itu jatuh dan beberapa kertas ikut berhamburan. Alura berniat mengambil dan menaruhnya kembali di tempat semula. Lalu matanya menangkap tulisan tangan yang begitu familiar. Lama Alura mengingat dimana dia melihat tulisan tangan serapi itu.

"Itu, catatan Bang Yasir, Mbak" Fatimah bisa menebak apa yang Alura pikirkan saat lama mengamati kertas di tangannya.
Kedua mata Alura menyipit, tulisan tangan Yasir? Tapi kenapa begitu familiar?

"Bolehkah, aku meminjamnya dulu?" ujar Alura menggoyangkan kertas di tangannya.

"Silahkan saja, Mbak"

"Terimakasih, Assalamualaikum"

"Walaikumsalam"
Raihanah dan putrinya mengantar Alura sampai ke pintu depan.

+++++

Sampai di dalam kamar Alura segera menuju lemari besar yang terdapat di dekat ranjang tempat tidur, tangannya membuka laci dan mengeluarkan sebuah kotak segi empat berwarna pink dan membawanya ke atas kasur.

Alura membuka kotak tempat dia biasa menyimpan barang yang dia anggap berharga, pertama ada kotak musik. Kotak itu adalah hadiah pemberian Momy Meriam, tapi sayang sudah rusak karena waktu itu Audry ingin meminjam dan merebut secara paksa sehingga terjadilah tarik menarik yang membuat kotak musik itu berakhir di lantai dengan beberapa bagian yang pecah lalu tak berfungsi lagi.
Tangan Alura terus mengeluarkan isinya satu persatu, ada gelang, macam-macam ikat dan jepit rambut semua barang itu dari Momy, tiba pada kertas origami yang terlipat rapi, tangan Alura segera mengeluarkan catatan yang dia pinjam dari Fatimah tadi dan mencocokkan tulisan di sana.

Sama ...! Tulisan tangan yang sama.

Yasir, pemuda itukah yang dulu suka memberikan buah-buahan segar secara diam-diam? Alura ingat, hampir setiap pagi dia menemukan keranjang penuh berisi berbagai macam buah-buahan segar dibawah jendela kamarnya. Kenapa Alura berani memakannya? karena selalu saja ada noted dengan tulisan 'untuk Alura' . Alura jadi berpikir, Mengapa Yasir tidak memberikan kepadanya secara langsung? Apakah pemuda yang memiliki sifat pendiam itu begitu malu? Dia ingat, Yasir memang hampir tak pernah bicara kepadanya jika tidak ada urusan. Alura merasa tersentuh atas kebaikan pemuda itu. Berkatnya, saat itu Alura tidak lagi kelaparan ketika tidak mendapatkan jatah makan.

Dulu Alura sempat bingung ingin berterimakasih kepada siapa. Kini dia sudah tahu, sepertinya dia berhutang  terimakasih pada pemuda itu.

+++++

Di lain tempat, seorang pemuda tengah duduk di dekat jendela, melihat keluar menikmati rinai hujan sore itu. Mata gelapnya menatap setiap tetes hujan yang jatuh.

Tak lama tangan kekarnya memegang kedua sisi kursi roda, mencengkeram dengan kuat lalu menggerakkannya menjauh dari jendela.
Dia terus bergerak hingga posisinya tepat di depan sebuah lemari yang tidak terlalu besar, diatasnya tersusun beberapa pigura berisikan foto masa kecilnya.
Tangan pemuda itu meraih ponsel di atas nakas membuka pesan singkat yang di kirim Mama nya tiga hari lalu.

"Nikahi dia! jika kita tidak mau jatuh miskin. Kau tahu, wasiat itu sangat menguntungkan. Jadi, bekerjasamalah!" Pemuda itu menghembuskan nafas kasar. Dia tidak berniat sedikitpun mengikuti permainan Mama nya dan kenapa pula dia bisa terlibat dalam surat wasiat itu? Andai dulu si pembuat surat wasiat tahu, jika dia hanyalah anak angkat, mungkin pria itu tidak akan memasukkan point pernikahan di dalamnya.

Dia meletakkan kembali ponselnya di tempat semula. Beberapa hari ini tidurnya tak nyenyak, makan pun tak enak setiap kali di mengingat isi pesan singkat tersebut. Hatinya jelas menolak!  Lagi pula, rasa percaya dirinya tidak sama seperti dulu saat dia masih bisa berjalan secara normal, kecelakaan tiga tahun lalu membuat dia kehilangan fungsi kedua kakinya. Kini, dia hanyalah laki-laki cacat yang bergantung pada kursi roda hanya untuk berpindah tempat. Aah ...! Dia meremas rambutnya kasar dan menggeram kesal.

Siapa yang mau menikah dengan laki-laki cacat seperti dirinya? Jujur, memikirkan wasiat itu seperti angin segar. Akan ada juga wanita yang menikah dengannya meskipun terpaksa, artinya dia tidak akan melajang seumur hidup. Dia tahu, gadis itu pasti tidak akan menolak saat tahu isi surat wasiat, mungkin gadis itu akan menerimanya sebagai suami, tapi tentu saja dengan terpaksa.

#AMK
 
Top