🌾🌾🌾🌾
By Nelliya Azzahra

Alura terus masuk ke dalam kafe dan memilih duduk di bagian sudut yang tidak terlalu ramai. Insiden dia menabrak kursi roda tadi sempat menyita perhatiannya saat lelaki di kursi roda itu menatapnya dengan tatapan tak suka. Alura bisa menebak kehidupan yang di jalani laki-laki itu mungkin terasa berat saat dia kehilangan kedua fungsi kakinya. Ujian dari Allah kan beda-beda, bisa berupa nikmat bisa juga berupa musibah. Mungkin lelaki di atas kursi roda itu tengah di uji dengan musibah.

Alura jadi teringat saudara muslim di Palestina, Suriah, Rohingya, dan negara lainnya yang juga sedang di uji dengan musibah yang tidak berkesudahan. Sudah puluhan tahun mereka hidup dalam ketakutan yang mencekam, hidup dengan kondisi memprihatinkan, dan tak terhitung nyawa yang sudah melayang. Teringat diskusi dia tempo hari dengan Ustadzah Aisyah, muslim itu banyak tapi bagai buih di lautan. Mereka kehilangan kekuatannya ketika mereka tercerai berai dan tersekat-sekat. Dengan keadaan ini mudah bagi musuh-musuh Islam untuk mengincar dan menjajah mereka. Karena itu untuk memulihkan kekuatan kaum muslimin, maka mereka perlu bersatu.

Lamunan Alura terhenti ketika datang makanan yang dia pesanan tadi. Setelah membaca bismillah, Alura menyantap makan siangnya dalam diam.
Setelah selesai Alura segera membayar dan kembali menuju mobilnya di tempat parkir.
Alura ingin segera pulang, pikirannya lelah mengingat pertemuannya dengan Mama Jeny tadi. Sebenarnya Alura hanya menyiapkan hati untuk bertemu bukan mendengar fakta itu. Karenanya Alura sempat syok tadi.

Satu jam kemudian mobil Alura sudah memasuki halaman luas rumahnya. Setelah mematikan mesin mobilnya Alura melangkah masuk ke dalam rumah.
Sampai di kamarnya, Alura langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil memejamkan mata dan menarik nafas pelan.

Mungkin, besok Alura akan kembali ke rumah orangtua angkatnya, mengingat lusa dia akan terbang ke London. Alura bangkit, menanggalkan kerudung yang dari tadi belum dia lepaskan kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri di lanjutkan solat zuhur.

Seperti biasa sekarang Alura sedang membaca. Beberapa hari di rumah ini membuat Alura betah berada di perpustakaan mini di samping kamar Momy dan Dady nya. Perpustakaan itu di buat karena dulu Momy nya sangat suka membaca dan akhirnya Alura juga memiliki minat yang sama. Berbagai macam buku bacaan berjejer rapi di rak lemari.

Alura memilih salah satu novel yang menceritakan kisah seorang Dokter  jenius yang dengan ke jeniusannya mampu menyelamatkan banyak nyawa. Alura tersenyum membayangkan dulu dia memiliki cita-cita yang sama, menjadi seorang dokter. Namun apalah daya, ternyata Alura lemah melihat darah, dia langsung mual bila melihat darah dalam jumlah banyak, bahkan bisa pingsan. Karena alasan itulah Alura akhirnya memilih kuliah jurusan lain, yaitu hukum.

Drrrtt ... Drrtt

Ponsel Alura bergetar, Alura segera meraihnya.

"Assalamualaikum. Pak, Oscar" sapanya pada orang di seberang sana.

"Walaikumsalam, Nona. Maaf ada perubahan rencana, anda tidak perlu pergi ke London, karena Bibi Mery sendiri yang akan ke Jakarta" terang Pak Oscar

"Oh, apakah Bibi Mery akan berkunjung ke rumah ini?" Karena di Jakarta setahu Alura hanya Dady nya saudara Bibi Mery

"Tidak, Nona. Sepertinya, dia akan tinggal di rumah putranya"

"Ya, Baiklah, Pak. Terimakasih infonya"

"Sama-sama, Nona. Nanti akan saya kirimkan alamat lengkap rumah putra beliau"

"Iya, Pak. Assalamualaikum"

"Walaikumsalam"

Sambungan telfon terputus. Alura menjauhkan ponsel dari telinganya. Masih berpikir mengapa Bibi Mery repot-repot kemari? Putranya, yang mana yang tinggal di Jakarta? Setahu Alura, putra Bibi Mery hanya dua orang. Jika iya, sungguh dia tidak tahu jika sepupunya begitu dekat dengannya karena mereka tinggal di kota yang sama.
Nanti sajalah  setelah mereka bertemu Alura akan menuntaskan semua rasa penasarannya.

+++++

"Tuan, kau melamun lagi?" Lelaki yang menjadi asisten pribadi tuannya selama tiga tahun itu tahu persis jika tuannya bersikap begini pasti ada hal serius yang dia pikirkan "ada masalah, Tuan?" Tanyanya memastikan.

"Ya" jawaban singkat itu keluar dari mulut Max, "Ray, apakah kau pikir, ada wanita yang ingin menikah denganku?" Suara berat Max sedikit bergetar.

Ray si asisten mengubah duduknya menghadap Max.
"Pasti ada tuan. Aku percaya akan cinta sejati" Ray menjawab mantap.

"Tapi tidak untukku, Ray! Aku, hanya laki-laki cacat" Ada keputus asaan dari nada suara Max yang tertangkap telinga Ray "mungkin, aku akan menghabiskan sisa hidupku sendirian"sarkas Max yang langsung membuang muka ke samping.

"Tuan, anda tidak boleh putus asa dan pesimis seperti itu, terhadap hidup anda, percayalah, akan ada keajaiban yang tidak terduga" Ray mencoba mengusir sikap pesimis tuannya itu.

"Kau, pandai menghibur rupanya" Max terkekeh pelan. Inilah yang Max suka dari Ray, dia selalu mensuport Max dan tak ingin Max  terpuruk akan kondisinya.

"Aku, berkata yang sebenarnya tuan. Anda juga berhak untuk bahagia" Ray tersenyum sangat manis. Max yang melihatnya jengah.

"Berhentilah tersenyum seperti itu! Seolah aku ini seorang gadis" Max memasang ekspresi dingin seperti semula. Ray yang melihatnya hanya kembali tersenyum, tapi kali ini dia menyambunyikan senyumnya dengan memalingkan wajah.

"Ray!"

"Ya, Tuan"

"Mama, ingin aku menikahi seorang gadis" kini nada suara Max tersengar serius

"Wah, benarkah, wanita beruntung mana yang akan menikah denganmu, Tuan" Ray tidak bisa menyembunyikn raut bahagianya, berharap, kelak wanita itu akan memberi warna pada hidup Tuannya.

"Dia, anak saudara laki-laki, Mama" jawab Max cepat

"Sepupu, anda Tuan?"

"Tidak. Asal kau tahu, aku hanya anak adopsi, Ray. Hanya Mario, anak Mama dan Papa"

Ray tentu terkejut. Dia tidak tahu ternyata Tuannya itu hanyalah anak adopsi.

"Aku tak yakin, gadis itu bersedia" Max terlihat memikirkan sesuatu, "aku, terjebak dalam surat wasiat itu. Surat wasiat, yang meminta aku menikahi putrinya"

"Ini kesempatan, Tuan"

"Ray, aku bukanlah orang yang suka memanfaatkan keadaan. Dari pada pernikahan ini terjadi karena rasa terpaksa, lebih baik, aku melajang seumur hidup! Harta, semua ini karna harta!" Tuannya itu benar bathin Ray. Dia sangat mengenal sisi Tuannya yang lain. Sebenarnya Max lelaki yang baik. Hanya saja semua itu tertutup dengan sikap dinginnya.

"Baiklah, Tuan. Apa pun keputusan mu, aku akan tetap mendukung"

"Ya, kemarilah! bantu aku naik ke atas tempat tidur"
Ray berdiri memposisikan tubuhnya di depan Max, kemudian kedua tangannya dia selipkam di bawah ketiak Max, dengan tenaga yang dia miliki, kini tubuh Max sudah berpindah ke atas kasur.
Max menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. Kemudian Ray mengatur suhu ruangan lalu keluar membiarkan Max istirahat.

++++

Alura tiba di rumah orangtuanya saat langit mulai gelap. Tadi dia mampir dulu ke toko roti membelikan kue kesukaan Mama nya. Setelah memarkirkan mobil Alura bergegas masuk karena ingin segera solat magrib.

"Assalamualaikum"

"Walaikumsalam. Kau sudah pulang, Sayang" Mira menghampiri putri angkatnya itu memeluknya, yang dibalas oleh Alura.

"Iya, Ma"

"Sayang, ada tamu laki-laki yang datang kesini mencarimu" Mira meraih tangan Alura dan membawanya masuk ke dalam.

"Tamu laki-laki? Siapa?"
Bukannya menjawab, Mira malah tersenyum melihat ekspresi Alura yang bingung. Sementara Alura semakin penasaran. Sebabnya ia tak memiliki banyak kenalan laki-laki, hanya keluarga angkatnya, Pak Oscar, dan beberapa kenalan di kampusnya dulu.

"Dia pria yang tampan" Mira kembali tersenyum.

"Dimana, orangnya, Ma?"

"Ada. Dia sedang solat berjamaah, sama Papa"

"Mama tahu, namanya"? Alura kembali bertanya

"Askal"

"Askal" Alura membeo, kemudian dia menutup mulut dengan kedua tangannya, Askal? Apakah dia orang sama yang di jumpai di panti asuhan dulu. Jika iya, bagaimana sahabatnya itu bisa sampai kesini dan menemukannya?

"Sayang" Mira melihat perubahan ekspresi di wajah Alura, "kau, baik-baik saja?"

"Ah, iya Ma. Aku baik-baik saja" Jawab Alura dengan mengganti ekspresi terkejutnya menjadi senyuman.

"Baiklah, kita solat magrib dulu, nanti kita temui tamunya"

Mereka berdua lalu berjalan ke kamar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban setiap muslim.

#AMK
 
Top