By Nelliya Azzahra

'Rose masih bergelung dibawah selimut setelah mengadakan party sampai jam tiga dini hari. Rose baru saja memejamkan mata sekitar satu jam yang lalu. Di kamar sebelah ada Nindy dan Rani yang menginap, sementara Gilang dan Lion sudah kembali ke rumah masing-masing.

'Rose bersin-bersin dan sesekali terbatuk. Itu yang menyebabkan tidurnya jadi terganggu. Mungkin dia terserang flu dan demam karena kemarin sempat ke hujanan ketika pergi ke taman bersama Nindy.

'Rose menyibakkan selimut, lalu menguncir rambutnya asal. Dia baranjak dari tempat tidur berniat ke dapur untuk mengambil air putih. Tenggorokannya terasa kering.

Rose keluar kamar menuju dapur, dia lalu menuangkan air putih ke dalam gelas dan menarik salah satu kursi di dekat kitchen set.
Di bawah cahaya temaram pelan 'Rose mulai meneguk minumannya cairan dingin membasahi tenggorokannya. 'Rose memejamkan mata entah kenapa sekarang di merindukan Mami dan Papinya.

Saat 'Rose bisa mengingat, yang dia tahu dia selalu diabaikan oleh kedua orangtuanya. Bukan karena mereka tidak sayang, hanya saja pekerjaan terlalu menyita waktu dan perhatian mereka.
Mami selalu bilang kalau apa yang dilakukan dirinya dan suaminya semua untuk 'Rose.

Suara langkah mendekati 'Rose yang tengah larut dengan pikirannya.
Ketika saklar lampu dinyalakan, Bu Ninih kaget karena melihat 'Rose sedang duduk sendirian sambil memegangi gelas.

"Rose, kau sedang apa? Apakah butuh sesuatu?" Suara lembut Bu Ninih membuyarkan pikiran 'Rose, Rose memutar kepalanya melihat Bu Ninih yang berdiri tidak jauh dari tempat ia duduk

"Oh, tidak. Saya hanya tidak bisa tidur, Bu. Sepertinya demam" Rose menempelkan punggung tangannya pada bagian leher.
Bu Ninih meraba dahi 'Rose,

"Iya, kau demam, Rose. Istirahatlah! Nanti Ibu Buatkan bubur dan bawakan obat ke kamar mu, ya" Bu Ninih meraih tangan 'Rose dan menuntunnya kembali ke kamar. Rose sudah berbaring dan bu Ninih membuka lemari mengeluarkan selimut tipis saja karena 'Rose sedang demam.
Setelah itu, perempuan paruh baya itu kembali ke dapur.
Mata 'Rose terasa berat dan akhirnya dia sudah tidak bisa melawan rasa kantuknya hingga rasa kantuk itu menyeretnya masuk ke dalam alam mimpi.

Tidak lama Bu Ninih masuk kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi bubur dan obat. Ketika dia melihat anak asuhnya itu tidur lelap dengan wajah damai, Bu Ninih jadi tidak tega untuk membangunkannya. Lalu dia meletakkan nampan di atas nakas dan memilih duduk di pinggir ranjang. Tangannya meraih arambut 'Rose yang beberapa jatuh ke pipinya. Pelan dia singkirkan ke samping. Bu Ninih bersyukur 'Rose tumbuh menjadi gadis cantik yang mandiri. Tapi Rose memiliki kelemahan fisik, dia gampang jatuh sakit. 'Rose adalah kebahagian Alan dan Matilda. Dia ingat saat pertama kali Rose bayi hadir ke rumah ini, betapa bersuka citanya majikannya itu setelah bertahun-tahun pernikahan mereka belum juga di karuniakan anak.
Rose selalu dibelikan barang-barang branded, mereka juga suka liburan keluar negeri, paling sering  keliling Eropa. Bu Ninih sebagai Ibu Asuhnya pun kerap di ajak ikut serta untuk membantu menjaga Rose.

Namun kini kebersamaan itu kian terkikis karena kesibukkan masing-masing dari orangtuanya. Rose berubah dari gadis ceria menjadi pribadi yang dingin dan cuek. Bu Ninih berpikir, mungkin saja itu pengaruh karena dia sering diabaikan.
Pelan Buu Ninih mengguncang bahu 'Rose. Dia harus makan lalu meminum obat agar panas tubuhnya segera turun.

"eenggr" erang Rose merasa ada yang mengusik mimpi indahnya

"Bangun, makan dulu" Bu Ninih membantu 'Rose duduk dengan menyusun beberapa bantal di belakang tubuhnya.

"Mau Ibu suapi?" Tanya perempuan bertubuh berisi tersebut sambil mengangkat sendok  ke arah mulut 'Rose

"Tidak perlu, saya bisa sendiri, Bu" Rose meraih mangkuk berisi bubur dan mulai menyuapkan perlahan ke mulutnya. Pada suapan ke-lima Rose berhenti tidak sanggup meneruskan suapannya. Bu Ninih mengerti, lalu dia mengambil obat dan segelas air putih menyerahkan pada 'Rose.

Setelah memastikan 'Rose makan dan meminum obat, Bu Ninih kembali ke kamarnya untuk melaksanakan solat subuh. Di lihatnya tadi juga 'Rose sudah kembali tidur.

*******

Jam tujuh pagi sarapan sudah siap di meja makan, Bu Ninih, di bantu Asih memasak semuanya makanan itu. Ini memang sudah menjadi rutinitas mereka sejak bekerja di rumah keluarga 'Alan' Nindy dan Rani sudah pun bangun kini mereka sedang berada di kamar 'Rose.

"Rose, kau sakit?" Nindy bertanya sambil memegang dahi Rose.

"Sepertinya aku terserang flu. Tapi tadi sudah minum obat"

"Syukurlah" Rani bernafas lega melihat sahabatnya itu sudah mulai baikkan

"Rose, kami tidak bawa baju ganti" Nindy memegangi mini dress yang dia kenakan semalam. Mereka akan ke kampus pagi ini, bisa telat jika balik lagi ke rumahnya hanya untuk berganti baju

"Sama, aku juga nih"  Rani menunjuk baju kaos dan celana jeansnya.

"Kalian, bisa memakai baju ku, ambil dan pilihlah sendiri di lemari" Rose berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

"Makasih 'Rose" Rani dan Nindy mulai memilih baju  di lemari besar yang terdapat tiga pintu Semua baju-baju Rose bermerek bahkan ada yang masih ada bandrolnya, tanda belum Rose pakai sama sekali. Wajar, mengingat betapa kayanya orang tua 'Rose.

Setelah mendapatkan yang pas merekapun berganti baju lalu bersiap. Tidak ingin terlambat tiba di kampus, mengingat ada mata kuliah dengan Pak Alvaro.

Setelah siap mereka bertiga meluncur ke kampus dengan mobil Nindy. Rose merasa masih lemah untuk menyetir sendiri, sedangkan Rani memang datang ke rumah Rose bersama Nindy.

Beruntung mereka bertiga tiba di kelas tepat waktu. Ketika dosen tampan itu memasuki kelas, suasana berubah menjadi hening. Hilang suara gaduh tadi yang memenuhi sesisi ruangan. Dengan langkah tegap dan segala kharisma yang di milikinya Alvaro mulai mengajar. 'Rose memperhatikan setiap gerakan, setiap kata yang keluar dari mulut lelaki itu. Sudah menjadi rahasia umum jika banyak mahasiswi di kampus ini yang menaruh hati padanya selain tampan, dia juga terkenal religius. Tapi tidak ada satu pun yang menarik bagi Alvaro, buktinya dosen yang berusia dua puluh tujuh tahun itu masih jomblo. Rose jadi berpikir, wanita seperti apa sebenarnya yang di inginkan dosennya ini.

Rose sibuk memandangi Alvaro di depan, saat tanpa sengaja netra mereka bertemu. Sadar akan hal itu, Rose segera meraih salah satu buku di atas meja dan membuat posisi seolah-olah seperti orang sedang membaca.

Tuk Tuk

Suara ketukan spidol di balik buku yang dia pegang membuat Rose' menurunkan buku yang menutupi wajahnya, saat itulah dia melihat Alvaro berdiri tak jauh dari tempat  duduknya.  Rose sampai menelan saliva sendiri karena gugup. Jangan-jangan dosen itu akan memarahinya karena lebih memperhatikan sosoknya ketimbang materi yang di jelaskan.

"Saudari Rose!"

"Ya, Pak?"

"Sejak kapan, kamu bisa membaca buku dengan posisi terbalik seperti itu" tunjuknya pada buku yang terdapat di tangan 'Rose. Rose pun mengikuti arah telunjuk Alvaro, Dan ...
Astaga ...!  wajah Rose sudah merah menahan malu. Aish, bisa-bisanya dia ...

"Lain kali fokus, jika saya sedang memberikan mata kuliah!" Alvaro berbalik kedepan.

Sedangkan 'Rose, ingin sekali menimpuk Alvaro dengan high heelsnya karena malu dan juga kesal.

*******

Selesai solat zuhur Jihan tidak langsung pergi. Lantas dia memilih duduk di teras masjid lalu mengeluarkan buku berjudul 'sirah Nabawiyah' dari dalam tas ranselnya. Jihan membalik halaman demi halaman, haru menyeruak ketika dia sampai pada tulisan dakwah Rasulullah ketika di Mekah sebelum hijrah ke madinah.
Di Mekah Rasulullah menghadapi kafir Quraisy yang memiliki baqo' yang tinggi dan ke jumudan berpikir. Sehingga sulit bagi mereka menerima cahaya Islam. Bahkan dengan terang-terangan mereka menentang dakwah Rasulullah dan para sahabat. Berbagai cara mereka lakukan, dari mulai cara halus dengan menawari  Rasulullah Saw kedudukan, wanita, dan harta, hingga sampai pada penyiksaan fisik para penggenggam akidah Islam, sampai pada persekusi. Menghadapi hal yang demikian, tak lantas dakwah Rasulullah  melemah. Justru, manusia mulia itu semakin gencar menyebarkan dakwah Islam sehingga satu persatu sahabat mulai memeluk Islam meski akhirnya memang tidak banyak.

Lalu Jihan teringat  pada masa sekarang, persis dakwah fase Mekah. Bedanya, di negeri ini yang di hadapai bukanlah orang kafir,  yang menghalangi dakwah juga kebanyakan saudara seakidah.
Mereka berhasil di adu domba dan di pecah belah oleh kafir barat. Hasilnya terlihat nyata sekarang.

Sedang fokus dengan bacaannya, terdengar suara ponselnnya. Jihan segera menekan tombol hijau saat nama Paman Ho muncul, tidak lama terdengar suara berat Pamannya di seberang sana

"Walaikumsalam, Paman Ho"

"Kapan kau kembali ke Singapura, Jihan? Jangan terlalu lama meninggalkan pekerjaan mu" tegas lelaki itu. Jihan bisa merasakan dari suara pamannya jika lelaki itu tengah menahan kesa

"Baik, Paman. Saya mengerti. Mungkin seminggu lagi saya akan kembali"

"Baiklah! Assalamualaikum"

"Walaikumsalam"

Klik!

Sambungan telfon terputus. Jihan menghembuskan nafas berat. Rasanya dia masih ingin lebih lama  berada dekat dengan keluarganya, terutama Alvaro.
Andai saja dia bisa memilih, ingin rasanya melepaskan usaha disana dan menetap saja di Jakarta. Jihan lalu beranjak keluar masjid memasuki mobilnya. Apa dia ke kampus Alvaro saja ya? Mengajak Alvaro untuk membeli beberapa kemeja jika dia sudah selesai mengajar. Soalnya, Dokter Sean mengajak mereka reunian nanti malam.

Di dalam mobil Jihan mengingat tiga sahabatnya itu, selain Alvaro. Pertama ada Sean yang berprofesi sebagai dokter anak, tidak menyangka dulunya dia paling anti sama anak kecil malah sekarang jadi dokter anak. Jihan pikir mungkin karena Sean sudah menikah dan memiliki seorang putri, jadi sikap dan cara pandangnya terhadap anak kecil jadi berubah. Lalu ada Radit yang kini mengabdikan dirinya menjadi tentara, Kalau ini Jihan tidak heran, mengingat betapa tegas dan disiplinya Radit sewaktu menjabat sebagai ketua kelas. Selanjutnya ada Leo, seorang arsitek yang mempunyai pribadi misterius. Dulu Jihan ingat sekali jika Leo paling suka mojok di perpustakaan. Wajah tampannya tertutupi dengan sikapnya yang pendiam dan terkesan misterius, diantar mereka, hanya Sean yang sudah menikah. Mereka bertiga termasuk Alvaro masih betah melajang.

Inilah yang sering jadi candaan Sean di grup whatshap mereka ber-empat. Sean sering bilang, ganteng-ganteng tapi belum laku padahal secara materi pun mereka sudah mapan.

Sedang asyik membayangkan tentang sahabatnya  tiba-tiba ...

Ckiiit ...! Suara ban mobil Jihan yang mengerem mendadak.

"Allahu akbar! Apa aku barusan menabrak seseorang" Jihan segera melepas selfbeltnya dan membuka pintu mobil berniat melihat apa yang terjadi. Benar saja, seorang perempuan sedang terduduk dengan motor matic di sebelahnya. Jihan mendekati korban yang mungkin terluka

"Permisi, apa anda terluka?"

Wajah yang tadinya menunduk kini menengadah keatas. Menampakkan wajah cantik berbalut kerudung warna marun.

Deg

Jantung Jihan memompa dua kali lebih cepat, darahnya berdesir, tubuhnya menegang. Melihat siapa yang kini berada di depannya.

'Hanah' 

Satu nama itu mampu membuat hati Jihan menghangat saat menyebutnya. Nama yang ingin Jihan lupakan beberapa tahun belakangan. Saat dia sadar, siapalah dirinya, hanya yatim piatu yang menaruh rasa pada wanita seshalihah Hanah.

#AMK
 
Top