By Nelliya Azzahra

Sebuah mobil berhenti tidak lama keluar seorang pemuda dengan kacamata hitam yang melengkapi penampilan gagahnya. Tiba di rumah bercat hijau dengan halaman yang lumayan luas dan ditumbuhi beberapa tanaman anggrek di depannya dia mendorong pintu pagar yang tidak terkunci dan menuju pintu rumah dengan pelan mengentuknya serta mengucapkan salam.

Tidak berapa lama seorang wanita muda sudah berdiri di depan pintu menyambutnya ramah. Setelah dipersilahkan masuk mereka segera menuju ruang tamu.

"Kak, tunggu ya. Saya panggilkan Bang Alvaro dulu. Sepertinya dia lagi di kamarnya setelah  solat subuh tadi" wanita muda itu tersenyum sebelum berlalu. Ya pemuda itu adalah kakak angkat yang diangkat oleh kedua orangtuanya untuk menjadi bagian dari keluarga mereka. Kedua orangtua pemuda itu sudah meninggal sejak dia kelas empat sekolah dasar. Dan kebetulan juga mereka masih terhitung kerabat jauh. Pemuda itu hanya mengangguk untuk merespon ucapan wanita muda tadi kemudian dia mengeluarkan ponsel dari kantong celana lalu mulai mengusap layarnya perlahan.

"Assalamualaikum, Jihan!" Fokusnya dari ponsel terhenti dan melihat ke depan tampak Alvaro tengah tersenyum menyambut kedatangan saudara angkatnya ini. Sejak dia tinggal di Singapura tiga tahun lalu baru kini mereka bertemu kembali. Jihan tinggal disana membantu usaha pamannnya, abang dari mendiang Papanya.

"Walaikumsalam. Masyaallah Varo" Jihan segera berdiri dan memeluk saudara angkat yang sudah seperti saudara kandung baginya. Mereka tumbuh bersama dengan selisih umur satu tahun lebih tua Jihan.

"Apa kabarmu, Jihan. Lama kau tidak kembali ke Indonesia. Tampaknya kau betah tinggal disana" Alvaro mendudukkan dirinya di samping Jihan

"Ya. Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini usaha paman sedang berkembang. Kalau soal betah. Mungkin aku lebih betah tinggal di Indonesia bisa dekat dengan kalian semua" Jihan memang sangat menyayangi keluarga angkatnya. Baginya mereka adalah orang-orang yang tulus. Papa dan Mama juga tidak pernah membedakan antara dia, Alvaro dan Vivi. Itu yang membuat Jihan semakin menghormati orangtuanya Meski yatim piatu sejak kecil namun orangtua Jihan adalah orang kaya yang meninggalkan usaha mereka untuk dikelola pamannya dan jika Jihan sudah menikah usaha itu akan diserahkan dan dialihkan atas nama Jihan. Mama Jihan memang asli  orang  Singapura sedangkan Dady nya adalah orang Indonesia keturunan Tionghoa. Wajar jika Jihan memiliki rupa yang menawan.

"Iya, aku juga senang jika kau kembali ke rumah ini"

"Tapi sayangnya aku hanya sementara. Menikmati waktu liburku" Jihan terkekeh mengingat dia harus meminta izin dengan cara yang alot pada pamannya untuk bisa kembali ke sini. Paman Ho memang terkenal tegas. Apa lagi Jihan saat ini dalam proses belajar untuk mengelola usaha mereka sebelum diserahkan seutuhnya.

"Kapan kau tiba?" Alvaro dan Jihan beralih pada Vivi yang membawa nampan berisi minuman dan camilan

"Kemarin. Tapi aku menginap di rumah Nenek dulu" Nenek ini adalah Nenek kandung Alvaro yang tinggal di Cibubur.

"Kak, lama tidak bertemu" Vivi menyela obrolan dua pria yang sangat dia sayangi. Vivi sebenarnya memendam rasa pada Jihan saat dia tahu bahwa Jihan bukanlah Kakak kandungnya dan hanya kerabat jauh. Namun rasa itu hanya tersimpan rapi untuk Vivi nikmati sendiri tak ingin dunia tahu. Baginya mencintai dalam diam itu lebih indah. Vivi berharap Jihan juga memiliki rasa yang sama terhadapnya. Kakaknya itu memang terkenal ramah pada siapa pun. Karena itu banyak wanita yang salah mengartikan keramahan itu sebagai bentuk rasa suka.
Vivi bahkan sampai kewalahan saat sepupu perempuannya minta untuk menjadi perantara agar bisa dekat dengan Jihan. Berbeda dengan Alvaro yang lebih dingin dan cuek. Bahkan di kampusnya dia terkenal dengan sebutan dosen killer.

"Iya. Vivi apakah sudah lulus kuliah?"

"Alhamdulillah. Bulan depan wisuda Kak" Vivi tersenyum simpul merasakan getaran saat Jihan tersenyum dan menampakkan dua lesung pipi serta mata cipitnya jadi semakin hilang saat tersenyum begitu. Sadar dengan pikirannya Vivi langsung menundukkan pandangan dan menepuk pelan pipinya.

"Semoga lancar ya. Oh iya. Rumah sepi. Dimana Mama dan Papa?" Semenjak dia datang memang tidak tampak kedua orangtua angkatnya itu.
Dia memang tidak mengabari dulu kalau ingin kembali. Niatnya sih ingin memberi kejutan.

"Mama dan Papa sedang keluar. Ada urusan di rumah tante Weni" Alvaro menjelaskan

Jihan hanya mengangguk dan meraih minuman yang dibuat Vivi harum teh melati langsung menyeruak ke indera penciumannya. Sudah lama rasanya tidak menikmati teh buatan keluarga ini
Vivi segera berlalu ke kamarnya. Tidak ingin lebih lama terlibat obrolan dengan dua pria itu.

"Masihkah kau ikut dalam organisasi dakwah itu Varo?" Ya. Memang sejak kuliah dia dan Alvaro bergabung dalam sebuah organisasi dakwah di kampus mereka. Selama empat tahun mereka bersama-sama mendakwahkan Islam ke tempat dan titik mana saja yang bisa mereka capai

"Masih. Hanya saja sekarang keadaan sedang sedikit rumit" Alvaro merubah ekspresinya jadi serius membayangkan satu tahun ini dakwahnya terasa berat karena menghadapi beberapa kali persekusi saat menggelar kajian Islam. Jihan yang melihatnya jadi tertarik. Tiga tahun ini dia disibukkan dengan usahanya saja

"Apa yang sudah terjadi?"

"Terasa rumit dan berat saat isu radikalisme dan islamopobia di hembuskan oleh beberapa pihak dan para ulama  juga mengalami persekusi dan kriminalisasi. Gerak dakwah di batasi sekarang. Bahkan pemakaian cadar pun rencananya akan dilarang" Alvaro tampak menggeram kesal mengingat betapa berlebihan pihak yang memberlakukan kebijakan itu

"Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun. Aku tidak menyangka akan serumit itu" Jihan berpikir karena negeri ini mayoritas muslim harusnya hal seperti itu tidak akan terjadi

"Kau tahu lah, banyak yang punya kepentingan khawatir jika dakwah kita berkembang" Alvaro tersenyum. Senyum yang menghiasi wajah tampannya.

"Itu tantangan, bro. Yakinlah dibalik kesulitan akan ada kemudahan" Jihan menepuk bahu Alvaro memberikan semangat untuk terus melanjutkan perjuangan apa pun rintangan di depan

"Ya. Tantangannya semakin besar. Menginaplah disini. Mama da Papa pasti senang dengan kepulanganmu. Nanti malam kita makan diluar saja. Sudah lama tidak menikmati langit Jakarta, bukan?"

"Siap pak Dosen! Hampir lupa. Aku membawa beberapa oleh-oleh, tadi kutinggalkan dalam mobil. Sebentar, aku ambilkan dulu" Jihan beranjak menuju mobilnya untuk mengeluarkan semua oleh-oleh yang dia bawa dari Singapura.

Di sebuah rumah mewah seorang gadis sedang duduk santai di depan tv dan sibuk dengan ponselnya saja sedari tadi.
Rumah mewah itu bagi dirinya tidak ubah kuburan. Yang stanbay di rumah hanyalah asisten rumah tangga dan Ibu Ninih pengasuhnya sejak kecil. Karena itu Rose tidak betah di rumah. Dia lebih senang menghabiskan waktu di luar rumah dengan nongkrong bareng teman-temannya.

"Rose!" Seorang laki-laki gagah berjalan mendekati putri semata wayang mereka

"Papi. Sudah rapi mau kemana" Rose segera berdiri menghampiri Papinya

"Papi ada urusan pekerjaan keluar kota. Tadi, Papi sudah kirim uang ke rekening kamu ya" Alan mengusap rambut Rose dengan sayang. Tidak terasa putri mereka sudah dewasa.

Seorang perempuan melangkah dengan anggun ke arah mereka. Wajah cantiknya tidak termakan usia sama sekali.

"Sayang. Mami ikut Papi pergi dulu, tidak apa-apa ya, kami tinggal" Matilda meraih lengan Rose untuk mendekat padanya "pergilah shopping atau party bersama teman-temanmu seperti biasa" Matilda lalu mencium kedua pipi Rose. Rose ingin protes tapi kedua orangtuanya sudah berlalu pergi.

Rose hanya bisa mengembuskan nafas dengan berat. Ok I'm alone. Seperti biasa sendiri lagi. Hari ini
Rose sedang tak ingin keluar. Dari pagi dia merasa kurang sehat. Apa sebaiknya dia ke rumahsakit saja ya?

"Rose. Ngapain melamun. Dari tadi belum sarapankan?" Rose terharu dengan perhatian bu Ninih dari dia kecil hingga dewasa seperti sekarang.

"Saya merasa kurang sehat Bu. Saya mau kerumah sakit saja"  wajah Rose memang terlihat pucat dari biasanya

"Ya Allah. Kau sakit sayang" bu Ninih terlihat khawatir. Anak asuhnya memang memiliki fisik yang lemah sejak kecil. Karena itu majikannya sampai memperkerjakan dia khusus untuk menjaga Rose kecil.
"Baiklah kita akan ke rumah sakit sekarang,  tunggu Ibu ganti baju dulu" bu Ninih bergegas ke kamarnya.

Seorang Dokter baru selesai memeriksa pasiennya.
"Sakit apa saya, Dok?" Gadis itu memandang Dokter di depannya dengan ekspresi serius

"Anemia Nona. Nanti saya resepkan obatnya ya" Rose bernafas lega. Setidaknya bukan penyakit mematikan yang menggerogoti tubuhnya.

"Baiklah, Dok. Terimakasih" setelah menjabat tangan Dokter tersebut mereka segera keluar dari ruangan

Dilorong rumahsakit saat dia dan Bu Ninih akan pulang pandangannya mendadak mengabur Rose sedikit oleng

"Rose!" Pekik bu Ninih

"Mbak!" Detik itu seorang laki-laki berniat membantu "Mbak, apakah anda baik-baik saja?"

Rose sudah melirik siapa yang sudah menegurnya, seketika ekspresi Rose berubah garang bertemu lagi dengan laki-laki berwajah kaisar ini.
"Aku baik-baik saja. Berhentilah sok peduli! Kita, tidak saling mengenal apa lagi seakrab itu" ketusnya dengan wajah dingin khas 'Rose Argani "ayo bu!" Rose menarik tangan bu Ninih dan segera berlalu meninggalkan Jihan

Jihan bergeming di tempatnya. Baru kali ini bertemu gadis yang cuek dan berjiwa dingin. Seperti itu semua hanya kamuflase untuk menutupi kerapuhan di dalamnya.

Jihan baru ingat, gadis itu pula yang dia temui tempo hari saat sedang menghajar seseorang tanpa ampun. Jihan lalu terkekeh 'wanita perkasa' bathinnya. Dia segera berlalu ke ruangan Dokter Sean, sahabatnya waktu SMA.

#AMK
 
Top