By Nelliya Azzahra

Selesai solat tahajud Jihan membaca Al-Qur'an sembari menunggu waktu subuh,  sudah menjadi rutinitasnya sejak SMA.

Suara merdu Jihan seakan membawanya hanyut dalam bacaannya, Jihan merasakan getaran dalam hati setiap selesai membaca ayat per ayat. Sungguh indah Kalam Illahi ini, bathinnya.

Hampir satu jam dia larut dengan Al-Qur'an di tangannya,  hingga suara adzan subuh menghentikannya aktivitasnya.
Jihan berdiri menuju lemari dua pintu yang terdapat disudut kamar yang dia tempati, Jihan memasukkan Al-Qur'an ke dalam lacinya. Kemudian mengambil sajadah yang tadi dia pakai untuk solat tahajud  menyampirkannya ke bahu. Tidak lama dia keluar kamar untuk solat berjamaah ke Masjid.

Diluar ternyata sudah siap Alvaro dan Papa Tio, mereka bertiga pun segera menuju masjid untuk melaksanakan kewajiban seorang muslim.
Sementara di rumah Vivi dan Mama Indi pun sedang solat berjamaah.

Udara masih segar belum tercampur polusi saat mereka kembali, kerena baru beberapa kendaraan yang lewat disekitar rumah saat kembali dari masjid. Jihan segera memasuki kamarnya dan menjatuhkan tubuh di atas kasur. Tangannya meraih tas kecil yang terletak di dekat kepala ranjang lalu mengeluarkan isinya satu persatu.

Ada beberapa foto disana. Pertama foto dirinya beserta Mami dan Dadynya saat mereka liburan di Singapura. Di foto itu tampak Jihan tersenyum sangat lebar di rangkul kedua orangtuanya,  Jihan bahagia karena Dady mau mengabulkan keinginannya untuk berlibur setelah kenaikan kelas. Waktu itu dia berusia tujuh tahun.

Foto itu membawa Jihan pada kenangan ketika kedua orangtuanya masih hidup. Sebagai anak satu-satunya tentu Jihan dilimpahi kasih sayang. Apa lagi ketika Ama dan Akong juga masih hidup. Jihan kecil tumbuh dengan percaya diri dan penuh kasih. Tak jarang Jihan Dirgantara di minta untuk menginap di rumah Ama dan Akong karena mereka hanya tinggal berdua. Namun, setelah Akong meninggal karena sakit deabetes, Ama tinggal bersama mereka karna Ama yang berusia tujuh puluh tahun juga mulai sakit-sakitan.

Satu tahun setelah Akong meninggal, Ama pun akhirnya menyusul. Keluarga Jihan diliputi duka kehilangan sosok orang tua yang sangat menyayangi anak-anaknya beserta para cucu.

Mami Jihan seorang Ibu rumah tangga, saat dia meninggal usianya baru tiga puluh tahun. Mami Anggun adalah wanita yang mempunyai sifat keibuaan. Jihan sangat menyayangi wanita itu. Sedangkan Dady nya, Joni, seseorang yang sangat berwibawa, sosok yang sayang keluarga dan dermawan, ketika meninggal dia berusia tiga puluh tiga tahun saat meninggal. Mami dan Dady nya meninggal saat kecelakaan beruntun di jalan tol.

Waktu kejadian itu Jihan sedang menginap di rumah Alvaro karena akhir pekan. Memang Jihan sering menginap di sana. Karena Alvaro adalah salah satu sahabat yang dekat dengannya.

"Mami, boleh kah Jihan menginap di rumah Varo?" Jihan yang sudah bersiap dengan tas ransel di punggungnya menghampiri Mami Anggun yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.

"Boleh sayang, nanti minta Dady yang antar ya. Karena ada teman Mami yang akan ke rumah kita. Maaf, Mami tidak bisa ikut mengantar" Mami Anggun beralih memeluk putra semata wayang mereka.

"Tidak apa-apa, Mi" Jihan tersenyum senang, lalu menarik salah satu kursi dan mulai menikmati sarapannya pagi ini.

Malamnya, ketika dia menginap di rumah Alvaro seseorang menelfon Papa Tio dan meminta mereka datang ke rumah sakit. Saat mereka sampai ternyata Mami dan Dady sudah meninggal. Malam itu merupakan malam yang sangat mencekam untuk Jihan kecil.
Dia tidak menyangka di masa kanak-kanaknya akan kehilangan dua orangtuanya sekaligus. Jihan menangis dalam pelukan Papa Tio dan Alvaro yang tidak berhenti terus menghiburnya.
Sejak saat itu dia tinggal dengan keluarga Alvaro. Sempat keluarga dari pihak Maminya ingin membawa dia ke Singapura. Namun Jihan menolak. Dia tidak ingin tinggal di Singapura, lebih baik tinggal di sini bersama keluarga Alvaro. Akhirnya keluarga Maminya pasrah merelakan Alvaro untuk tetap tinggal di Jakarta.

Selanjutnya, tangan Jihan beralih meraih foto kedua. Di foto itu terdapat foto dirinya, dan Alvaro saat kelulusan sekolah dasar.
Difoto itu Jihan merangkul Alvaro dengan tersenyum, sedangkan Alvaro hanya memasang ekspresi datar. Jihan terkekeh pelan. Sampai dewasa pun Alvaro tetap saja dingin.
Lalu dia teringat saat masa kanak-kanaknya dengan Alvaro.

Petang itu dia melihat Alvaro di ruang tamu bersama seorang  laki-laki tua duduk berhadapan. Jihan yang penasaran mengintip di balik tirai antara ruang tamu dan ruang dapur

"Ssst, sstt, Varo!" Jihan dengan suara sepelan mungkin memanggil Alvaro. Sadar ada yang memanggilnya Alvaro pun menoleh. Ketika dia melihat Jihan disana hanya menampakkan kepalanya saja.

"Maaf, Ustadz. Saya permisi sebentar" Alvaro berjalan mengahampiri Jihan yang masih bersembunyi.

"Hei, kenapa kau bersembunyi di situ" Alvaro menarik tangan Jihan untuk keluar dari persembunyiannya

"Kau sendiri, sedang apa?" Jihan menumpahkan rasa penasarannya

"Aku sedang belajar mengaji dengan Ustadz Umar, kau mau ikut"?

"Mau, tapi aku tidak ada itu!" Jihan menunjuk sarung dan peci yang Alvaro kenakan

"Tunggu, disini sebentar" Alvaro berlalu meninggalkannya sendiri. Tidak lama Alvaro muncul lagi membawa sesuatu di tangannya.

"Pakai ini!" Alvaro menyodorkan peci dan sarung miliknya. Jihan pun menerima dan memakainya. Lalu mereka kembali ke tempat Ustadz Umar yang menunggu.

"Ustadz, kenalkan ini teman saya, Jihan. Bolehkah, dia ikut mengaji bersama saya?" Alvaro menatap guru ngajinya itu penuh harap. Seketika senyum Ustadz Umar mengembang membuat kerutan wajahnya ikut tertarik. Dia mengelus kepala dua bocah itu sebelum menjawab pertanyaan Alvaro

"Tentu saja boleh. Mari kita mulai"
Alvaro tidak lupa mengucapkan terimakasih dan sejak itu pula mereka belajar agama dari Ustadz Umar, guru yang yang dipilihkan oleh orangtua Alvaro untuk mendidik mereka dengan ilmu agama.

Jihan juga mengingat satu insiden saat dia masih duduk di sekolah mengengah pertama. Saat itu dia dan Alvaro terlibat cekcok dengan kakak kelasnya yang terkenal suka menindas siswa baru seperti mereka. Karena emosi salah satu kakak kelas yang bertubuh lebih besar melemparkan batu kearah dia dan Alvaro. Sadar akan adanya bahaya, Jihan mencoba melindungi Alvaro. Alhasil kepala Jihan yang terkena lemparan batu tersebut sehingga kepalanya robek dan berdarah lumayan banyak. Pelaku malah kabur saat tahu kepala Jihan berdarah. Besoknya mereka kena panggil guru BP dan mendapatkan sanksi.

Alvaro yang melihat kepala Jihan berdarah jadi panik
"Jihan, lihat! Kepalamu berdarah" serunya menunjuk darah yang mulai mengalir ke pelipis Jihan.  Lalu Jihan meraba kepalanya dan, benar saja. Cairan merah itu menempel di tangannya

"Iya, terasa nyeri"

"Duduklah!"intruksi Alvaro. Lalu dia melepaskan sweaternya dan menekan luka Jihan dengan itu. Jihan meringis
"Kenapa kau lakukan?" Tanya Alvaro sambil menekan luka Jihan.

"Melakukan apa?"

"Jika kau tidak mendorongku, maka aku lah yang akan kena lemparan batu itu" Alvaro merasa sedih melihat kondisi Jihan sekarang yang meringis menahan sakit demi menyelamatkannya

"Kau itu saudaraku, Varo, tentu sebagai saudara dan sahabat, aku kan berusaha melindungimu. Lagi pula, kau dan keluargamu, sudah melakukan banyak hal untuk anak yatim piatu sepertiku" Jihan tersenyum mengabaikan rasa sakitnya.
"Terimakasih, karena sudah bersedia menjadi sahabat dan dan bersedia juga menampungku"

Alvaro tertegun dengan apa yang di ucapkan Jihan barusan. Tak salah dia memilih Jihan sebagai sahabatnya.
"Diamlah! Lukamu bisa tambah sakit jika kau banyak bicara" Jihan pun diam tidak bicara lagi, tidak berapa lama mobil Papa Tio tiba dan terkejut melihat Jihan kondisi Jihan. Detik itu juga Jihan dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya mendapatkan beberapa jahitan akibat luka di kepalanya.

*******

Jihan kembali tersenyum membayangkan waktu yang dia habiskan dengan Alvaro.
Jihan mengandaikan Persaudaraan mereka seperti kaum anshar dan muhajirin, persaudaraan dan persahabatan yang berlandaskan kecintaan kepada Allah.

Terdengar ketukan pintu dan suara Alvaro meminta izin untuk masuk.

"Masuk saja! Tidak ku kunci"

Cklek! ...

"Ayo sarapan! Mama dan Vivi sudah menyiapkan sarapan untuk kita" Alvaro berjalan mendekat lalu duduk di pinggir ranjang. Dia melihat apa yang ada di tangan Jihan lalu beralih melihat ekspresi sendu di wajah Jihan yang terlihat jelas. Tentu saja Jihan merindukan mendiang Mami dan Dady nya, bathin Alvaro.

"Ya?"

"Sarapan!" Alvaro masih mengamati foto di tangan Jihan "Kau mengingatkanya lagi?" Menebak apa yang dirasakan Jihan sekarang

"Ya, sudah puluhan tahun berlalu. Jujur, aku, merindukan mereka" Jihan mengubah posisinya jadi duduk

"Semoga saja, Allah menempatkan mereka di tempat yang layak"

"Aamiin" Jihan mengusap kedua tangannya ke wajah

"Kami adalah keluargamu sejak hari itu" Alvaro kembali menegaskan tentang siapa Jihan baginya.

"Ya, terimakasih sudah mau menjadi keluargaku, Varo" Jihan tersenyum lalu memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam tas kecilnya

"Kau terlalu sering mengucapkan kata' terimakasih', Jihan. Aku, sudah sering mendengarnya sejak, kita kanak-kanak"

Jihan berbalik kini posisinya berhadapan dengan Alvaro "itu, karena aku bersyukur Allah pertemukan dengan kita", eh. Lihat ini" Jihan menyodorkan salah satu foto mereka saat SMP " kau terlihat culun sekali di foto ini, Varo" Alvaro segera merebut foto itu dari tangan Jihan dan berlalu keluar kamar dengan ekspresi datar.

"Hahaha" tawa Jihan pun terdengar.

Empat orang anak muda yang berbeda gender sedang duduk mengelilingi meja di sebuah kafe.

" 'Rose, ikut balap gak ntar malam?" Gilang menatap gadis itu sambil mengunyah makanannya

"Gue lagi males! Lo, sama siapa aja?"

"Biasalah. Anak-anak yang sering ikut balap"

"Gue juga gak ikut deh, sahut Nindy "Bokap gue udah wanti-wanti, kalo gue masih ikut balap uang saku gue bakalan di potong" Nindy berdecak kesal

"Hahaha, anak Mami" celetuk Lion, yang di hadiahi pelototan dari Nindy. Tawa Lion pun langsung terhenti.

"Eh, mending kita ngadain party aja di rumah gue. Kebetuan, Mami sama Papi gue lagi keluar kota" Tawar 'Rose yang disambut antusias sahabatnya

"Asyiik tu, pesta BBQ kita!" Nindy bersorak senang

"Gue sih, ok. Aja" Gilang menimpali

"Nah, tinggal lu, Lion. Mau ikut gak" tanya Nindy pada pria yang berwajah blasteran tersebut

"Ntar deh, gua pikiran dulu!" Lion meraih ponselnya menghubungi salah satu sahabatnya, mengajaknya nanti malam ikuy gabung party di rumah 'Rose.

'Rose melihat keluar kafe, tidak sengaja netranya menangkap sosok laki-laki yang tanpa sengaja  telah bertemu dengannya sebanyak tiga kali sedang berjalan ke arah toko bunga di seberang. Bahkan Rose sempat mengancam akan menghajarnya jika mereka bertemu lagi. Kini, 'Rose berpikir ulang untuk menghajar Laki-laki berwajah kaisar itu, rasa tidak tega jika wajah itu babak belur.
Bibir Rose tertarik membentuk senyuman.

"Hei, lo kenapa 'Rose, senyum-senyum sendiri begitu?" Nindy mengibas-ngibaskan tangannya kedepan wajah 'Rose

"Eh? Itu, kenapa?"

"Lo senyum-senyum sendiri. Habis menang lotre ya?" Tuduh Lion

" ih, nggak kok. Jadi gimana ntar malam? Jadi kan"

"Jadi dong. Ya kan, Gilang, Lion?" Nindy bertanya pada dua pemuda di sampingnya

"Jadi" jawab mereka kompak

"Ok. Nin, temeni gue belanja buat ntar malam, yuk"

"Yuk! Kami cabut dulu ya, bye" Nindy melambaikan tangannya.
'Rose segera menyambar kunci mobilnya dan berlalu meningalkan Gilang dan Lion yang melanjutkan acara makan siang mereka.

#AMK
 
Top