Oleh: Meidina
Member Akademi Menulis Kreatif

Dulu, diam adalah jalan terbaik bagiku melewati segala hal. Dulu, juga tak pernah kutemui cacat saat diam jadi pilihan. Dulu pun, diam jadi senjata ampuh jalani hari-hari. Bagiku diam bak air yang padamkan api, bak bulan yang terangi gelapnya malam.

Saat sengatan dalam pujian datang layaknya duri hiasi mawar, diam jadi penawar sengatan itu. Saat serpihan kaca selalu ada menemani perjalanan diri, diam hadir tuk dampingi membersihkan serpihan itu.

Begitu indah dan damainya hidupku dengan diam ini. Sampai-sampai saat jeritan nan jauh di sana tak hentinya memanggil namaku, diam masih jadi pilihan tuk meredam jeritan itu.

Namun saat ku rasakan kaku tak berguna akibat diam ini, saat aku kehilangan kesempatan karna diam ini, dan saat kekosongan melanda batin setelah diam ini. Baru ku sadari diam tak selalu dan selamanya jadi pegangan, laksana api yang tak melulu dipadamkan air, seperti malam yang tak hanya diterangi bulan.

*Ada kalanya diri butuh berdiam namun jangan jadikan diam alasan membiarkan kemungkaran merajalela dan banyak raga terdzolimi.

Allah berfirman :
‎وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung" (QS. Ali Imran: 104).

*Sama halnya dengan bicara, meski sudah jadi keharusan, namun ada kalanya diam lebih utama di kala lisan ini tak bisa bertutur baik.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‎مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47).
 
Top