By Nelliya Azzahra




Alhamdulillah syukur tak henti keluar dari lisan  atas nikmat yang telah tercurah hingga saat ini. Hari ini aku telah resmi menyandang status istri dari pria keturunan Jawa yang 3 bulan lalu ku kenal lewat proses ta'aruf.

Mas Aryo, itulah namanya, lelaki berusia 25 tahun dengan mantap menikahi gadis yang usianya bahkan lebih tua darinya 2 tahun.

Usiaku memang terpaut lebih tua, tapi tidak menjadi kendala sehingga hubungan kami berlabuh dipelaminan.

Aku awalnya ragu waktu menerima tawaran dari salah satu sahabatku yang sekaligus sepupu Mas Aryo, lantaran mengingat jarak usia kami. Tapi setelah proses yang terjadi 3 bulan ini dan lewat  istikharah hati ini pun yakin. Toh, usia tidak menjadi patokan, karena yang ku tahu insyaallah lelaki itu soleh dan niatnya untuk menikah muda patut diapresiasi.

++++

Menjadi anak semata wayang memang menguntungkan untukku yang terlahir 27 tahun lalu di Kota Jambi. Mendapatkan kasih sayang penuh dari Mama dan Papa. Tapi itu semua tidak lantas membuat aku menjadi manja, justru Mama dan Papa sangat disiplin. Bahkan sudah diterapkan sejak dari aku kecil.
Akhirnya kebiasaan itu terbawa hingga aku dewasa. Aku selalu disiplin dalam segala hal. Dan bersyukur mendapat didikan seperti itu dari kedua orangtuaku.

Dita, itulah nama yang diberikan Papa dan Mama untukku. Perempuan berkacamata yang juga seorang kutu buku.
Setelah lulus kuliah aku membantu usaha bakery Mama. Tapi percayalah, aku tidak pandai membuat kue sama sekali. Tempatku hanya duduk dibelakang meja kasir menunggu pembayaran dari pembeli sambil membaca buku. Sepekan sekali aku juga mengisi kajian adik-adik remaja disekitaran rumah. Ini sudah menjadi kegiatan rutin sejak aku duduk di bangku SMA.

+++++

Pintu kamar terbuka, menampilkan suasana asing padahal di kamar ku sendiri. Bagaimana tidak, kamarku sudah disulap sedemikian rupa dengan dekorasi bunga-bunga ada yang menjuntai ada yang bertebaran diatas kasur. Malah membuat aku merasa tidak nyaman. Duh, gimana mau tidur kalau begitu? Sudahlah, lebih baik aku membersihkan diri dulu. Seharian badan terasa lengket juga capek. Nanti baru kusingkirkan bunga yang berserakan tadi.


Tidak lama setelah selesai mandi, sosok Mas Aryo masuk dia terlihat sudah segar dengan memakai kaos berwarna abu-abu dan celana bahan warna hitam. Mungkin tadi dia sudah mandi di kamar mandi tamu.

"Dita" dia berjalan mendekat kearah meja rias tempatku duduk.

"Iya, Mas" jujur saja rasanya gugup. Di kamar dengan seorang laki-laki dewasa rasanya sangat aneh meskipun statusnya suamiku.

"Ayo, solat sunah dulu"

Aku hanya mengangguk lalu mengambil mukenah dan menggelar sajadah dibelakangnya. Bersama kami memanjatkab doa agar pernikahan ini  barokah seperti ditujuan awal kami memutuskan membina mahligai rumah tangga bersama.


+++++

3 bulan kemudian ...

"Mas, ini kok baju di lemari jadi berantakan lagi? Kan baru Dita beresin dua hari lalu" aku cemberut melihat isi lemari tempat baju Mas Aryo sudah awut-awutan.

"Maaf, Dit. Kemarin Mas nyari baju kaos" jawabnya sambil mengaruk tengguknya.

"Mas, kan sudah Dita kasih tahu, yang ini baju kemeja sama baju kerja, Mas" tunjukku pada bagian lemari paling atas, "Nah, kalo yang ini, baju santai Mas" lanjutku pada bagian lainnya.

"Iya, Mas lupa, Dit. Maaf ya, jangan cemberut gitu" dia menarik pelan hidungku.

"Iya udah, ntar aku rapiin lagi, deh" jawabku sambil berlalu keluar kamar.

Siang ini aku ada kajian bersama ibu-ibu majlis ta'lim tempatnya tidak terlalu jauh rumah. Karena hari ini libur jadi Mas Aryo stay di rumah.

"Mas, Dita kajian dulu, Ya. Nitip jemuran dibelakang kalau hujan tolong diangkat ya"

"Iya Dit" setelah mencium punggung tangannya aku pun segera menghidupkan motor maticku dan berangkat.

Habis asar aku baru sampai di rumah tadi menunggu hujan reda dulu. Sesampai di rumah aku segera kebelakang untuk mengecek jemuran.

"Mas, Mas Aryo!"

"Ada apa, Dit? Loh udah pulang ya, sayang" katanya sambil meraih bahuku.

"Mas, itu jemuran kenapa gak diangkat? Kan tadi Dita udah nitip minta tolong" mataku nanar melihat jemuran yang basah semua.

"Aduh" Mas  Aryo menupuk keningnya, "maaf Dita, Mas lupae, tadi ada teman Mas datang. Gara-gara keasyikan ngobrol sampe lupa angkat jemuran" Mas Aryo terlihat benar-benar menyesal.

"Yaah, Mas. Mau gimana lagi" nasib deh itu jemuran.

Selesai solat isya Mas Aryo tampak duduk di ruang tamu menghadap laptopnya. Aku segera ke dapur untuk mencuci piring kotor bekas makan malam kami tadi. Selesai dengan ritual mencuci piring aku beranjak ke kamar mandi, menggosok gigi lalu mencuci muka setelah itu bersiap-siap untuk tidur.
Tidak lama Mas Aryo juga bergabung denganku diatas tempat tidur.

"Dita, kamu cantik. Beruntung, Mas dapetin istri cantik nan shalihah"mata yang mulanya sudah akan terpejam jadi melek lagi.

"Hmm, ngerayu kamu, Mas"

"Ya beneran, kamu itu cantik tenan. Memiliki kulit putih, mata belo, senyumnya itu, loh. Buat Mas klepek-klepek" ku dengar Mas Aryo terkekeh setelah itu.

"Udah, Mas. Ayo tidur. Jangan ngegombal terus"

"Iya, ayo tidur!" tanpa protes kami pun segera berlayar ke alam mimpi.

Grook ...Grook

Berisik. Bolak balik aku menutup telinga tapi suaranya masih saja terdengar.

"Mas, Mas Aryo!" Aku mengguncang lengannya.

"Hmm, apa Dit?" Matanya masih terpejam sempurna.

"Mas, jangan ngorok, ih. Berisik suaranya. Dita gak bisa tidur" protesku kesal.

"Iya, maaf" dia melanjutkan tidurnya begitupun aku.

Tidak berapa suara itu kembali keluar dari mulut Mas Aryo.

"Maaaas"

"Apa lagi, Dita?"

"Itu, loh. Coba mulutnya mingkem, biar gak ngorok gitu"

"Iya" agaknya Mas Aryo kesal juga karena tidurnya terganggu. Tapi tidak lama kembali terdengar. Yasudahlah, aku pasrah saja sambil menutupkan bantal ke telinga.

++++

Pagi ini Mas Aryo sudah bersiap ke kantor. Selesai mandi dia tengah duduk menikmati sarapan. Aku yang baru selesai masak berniat mandi. Sampai di dalam kamar mataku disuguhi pemandangan tak sedap. Handuk basah tergeletak diatas kasur.

Mas Aryoooo!


++++

Waktu libur kami menghabiskan waktu berdua saja di rumah. Dari subuh badanku terasa tidak enak mungkin karena efek lagi hamil muda.
Mas Aryo yang mengambil alih semua pekerjaan rumah hari ini. Dari mulai membuatkan sarapan, nyuci piring, nyapu rumah, ngepel. Semua dia kerjakan tanpa protes dan mengeluh.

Seperti siang ini, aku yang ingin makan rujak tidak bisa tertahankan lagi, padahal diluar sedang turun hujan.

"Mas pergi dulu, ya"

"Masih hujan, Mas" lirihku melihat keluar.

"Gerimis doang, Mas bisa pakai mantel" Mas Aryo segera beranjak mengeluarkan motor dan segera menembus hujan.
Tidak lama rujak yang kuinginkan sudah separuh masuk kedalam perutku. Melihat aku makan dengan lahap Mas Aryo tersenyum puas.

Sedari tadi aku terus saja menguras isi perutku. Bahkan ada yang bercecer di lantai karena keburu keluar sebelum mencapai kamar mandi. Mas Aryo-lah yang membersihkannya tanpa rasa jijik sama sekali. Memijit kaki dan tanganku dengan minyak kayu putih sampai tertidur. Kemudian dia mencuci baju bekas muntahan yang tadi tidak sempat ku basuh.
Melihat kondisku yang masih lemas, Mas Aryo tidak tega meninggalkan sendiri, hari ini beliau izin tidak ke kantor dulu menjelang besok Mama datang kemari.

Beberapa hari ini Mas Aryo begitu telaten mengurusiku. Bahkan dia meminta maaf karena kondisiku sampai begini demi mengandung darah dagingnya. Seketika aku membayangkan apa yang sudah kami lalui selama pernikahan ini. Aku dan Mas Aryo bagai langit dan bumi. Aku yang perfeksionis bertemu dengan Mas Aryo yang sesuka hatinya membuat aku geram setiap saat.

Tapi kini aku sadar, justru perbedaan itulah yang membuat rumahtangga kami kian berwarna. Karena bagaimanapun, perbedaan itu pasti ada hanya tergantung bagaimana pasangan menyikapainya.
Semisal kekurangannya, jangan malah itu membuat kita menjadi tidak lagi memandang kelebihannya.
Terima dengan lapang dada setiap kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Lihatlah, meskipun Mas Aryo bukan seperti aku yang orangnya suka selalu ingin rapi, ingin sempurna, tapi dia adalah sosok yang bertanggungjawab, penyayang, lemah lembut, dan juga rajin. Sehari-haripun dia juga sering membantu pekerjaan rumah.

Andai yang kulihat adalah kelebihannya, maka kekurangan itu tidak akan ada apa-apanya. Begitupun sebaliknya.
Begitulah pernikahan menyatukan dua karakter yang berbeda, berproses untuk saling menerima kelebihan juga kekurangan. Selanjutnya, insyaallah menuju sakinah.

"Dita, kok melamun. Ini, Mas buatkan teh hangat" dia mengangsurkan segelas teh kehadapanku. Aku tidak langsung menerimanya, tapi malah menatapnya dengan intens.

"Loh, sekarang malah natap Mas, gitu" Mas Aryo jadi salah tingkah. Huff dasar suami brondong.

"Mas"

"Iya"

"Mas, I love You"
 
Top