By Nelliya Azzahra

Sudah satu jam lebih gadis itu belum juga beranjak dari bawah pohon ek tempat yang sering ia kunjungi sejak beberapa tahun terakhir. Sesekali tangannya merapikan rambut yang menutupi sebagian wajahnya karena tertiup angin. Dia bergerak kesamping lalu mengeluarkan sebuah diary dari dalam tas ransel usang miliknya, tidak lama tangan mungil itu bergerak lincah menggores diatas diary tersebut. Sesaat dia berhenti, matanya nyalang menatap kedepan seperti sedang berusaha mengingat sesuatu, keningnya berkerut dengan bibir yang sedikit mengerucut, tak lama kemudian ia mulai menulis lagi. Inilah salah satu hoby gadis itu. Menulis.
Karena dia termasuk orang yang tidak gamblang mengungkapkan perasaannya kepada orang lain. Ia memilih untuk menutupi apa yang dirasakan dengan sebuah senyuman atau menuliskan lewat tarian aksara.

Gadis itu larut dalam dunianya sendiri. Ya, menulis adalah dunia barunya, disana dia bebas mengekspresikan perasaannya tanpa merasa cemas dan khawatir. Meski tidak mendapatkan respon atas ungkapan hatinya tidak masalah sama sekali. Melihat dirinya dari luar, tidak ada yang menyangka gadis remaja itu banyak menyimpan luka. Di lingkungannya dia dikenal sebagai gadis yang ceria. Sahabatnya pun mengenalnya tidak jauh  berbeda. Hanya yang mampu melihat jauh kedalam hatinyalah yang akan benar-benar mendapati luka menganga pada jiwa yang tertutupi kebahagiaan semu.

"Nis, Nisa!" Seorang gadis yang seumuran dengannya berlari sambil memegangi kerudungnya.

Nisa menoleh, menghentikan aktivitas menulisnya sejenak. Dia melihat Dea berlari sambil memanggil namanya.

"Nis, huh" Dea mengatur nafasnya yang tersengal setelah berdiri di hadapan Nisa.

"Kenapa, Dea? Sampai lari-lari gitu" Nisa melihat keringat di dahi Dea yang turun sampai kedekat matanya.

"Dari tadi, aku mencarimu! Kata Ibumu kau pergi kesini, makanya kususul" Dea mendengus kesal.

"Kenapa?" Nisa menutup diary bersampul ungu itu lalu memasukkan kembali kedalam tas ransel miliknya.

"Ikut aku! Mamak bilang, Pak Ujang mengupah untuk memanen pinangnya di kebun" Dea terlihat bersemangat matanya berbinar indah.

"Benar?" Nisa terlihat tak kalah senangnya.

"Benar, kau pikir Mamak aku bohong!" Dea menarik tangan Nisa untuk berdiri "Ayo, Nis. Nanti keburu sore, ini ambil!" Dea memberikan karung dan sebuah pisau pada Nisa. Karung yang nanti mereka gunakan untuk tempat pinang yang sudah dibuang kulitnya.

"Ayo!" Nisa menerima dua benda tersebut lalu berjalan mengikuti Dea sahabatnya. Dua gadis remaja itu tampak sesekali tertawa sambil saling berkejaran. Nisa sejenak bisa melupakan kesedihannya jika bersama Dea. Sahabatnya itu, meski sering ngomong blak-blakan, tapi dia sangat mengerti apa yang Nisa rasakan, tentang kesepiannya, tentang kehilangannya.
Karena mereka berdua tumbuh bersama sejak kanak-kanak. Bagi Nisa, Dea sudah seperti saudaranya.

Sampai di kebun milik Pak Ujang, sudah ada beberapa ibu-ibu yang terlihat duduk sambil membuka pinang masak yang sudah diturunkan dari pohonnya.

Nisa dan Dea tanpa membuang waktu segera bergabung dengan mereka.

"Nis, kau kena marah Ibu mu lagi, ya?" Dea bertanya sambil tangannya sibuk membuka kulit pinang.

"Biasalah, macam kau tak tau saja, De," jawab Nisa terlihat malas membahas topik itu.

"Ya, aku tahu. Meski aku tidak pernah merasakan berada diposisi kau, Nis"

"Aku sudah biasa" wajah Nisa berubah murung. Dia rindu keluarganya yang hangat dan utuh semua itu dapat dia rasakan sebelum Ayahnya meninggal. Nisa tidak bisa merubah takdir yang sudah terjadi. Sekarang mau tidak mau semua harus dia jalani. Meskipun Nisa mengeluh, waktu tak akan berhenti. Mungkin belum saatnya keadaan berpihak padanya. Bisa saja dimasa mendatang, Nisa akan mendapatkan kebahagian yang dia dambakan selama ini.

"Auw!" Nisa melepaskan pisau dari tangannya sesaat setelah mengiris tangannya yang lain.

"Ceroboh! Kau melamun" Dea mendelik kearah Nisa. Lalu tak lama dia menyobek ujung roknya meraih tangan Nisa dan membalutnya. Nisa meringis sambil memejamkan matanya.

"Sudah. Kalau bekerja, jangan melamun, Nis" Dea menasehati sahabatnya itu dengan tulus.

"Iya, terimakasih, De"

"Kalau tanganmu sakit, kau diam saja, biar aku yang membuka kulit pinang ini" Dea tak tega melihat tangan Nisa yang terluka.

"Aku masih bisa, lihat ini!" Nisa mengangkat satu buah pinang dan berhasil membukanya. Senyum ia tampilkan di wajahnya yang berpeluh. Melihat itu Dea ikut tersenyum.

Setelah selesai salah seorang pemuda menimbang satu persatu karung yang berisi pinang yang sudah dipisahkan dari kulitnya.
Mata Nisa dan Dea berbinar saat menerima uang lembaran lima puluh ribuan.
Kedua sahabat itu berlalu sambil bersenandung kecil.

Mereka sudah biasa mengambil upah kerja seperti ini. Uang itu biasanya mereka tabung atau mereka belikan sesuatu yang diperlukan. Hidup mereka memang jauh dari kata sejahtera. Kemiskinan tak dapat terelakkan sama sekali. Sistem saat ini mendukung dan menyuburkannya.
Sudah bisa makan saja mereka dan keluarganya sangat bersyukur. Keluhan dan protes mereka tidak didengar sama sekali. Pimimpin negeri ini seakan menulikan telinga dan menutup mata dengan rapat.

"Nis, kita ke pasar, yuk!" Ajak Dea menarik lengan Nisa.

"Kau mau beli apa kepasar?" Tanya Nisa penasaran.

"Nisa, kau mau beli sepatu tidak? Kulihat sepatumu sudah robek dibagian depan dan bagian bawahnya. Kaos kakimu pasti basah jika musim hujan begini, memakai sepatu dengan keadaan seperti itu" Dea menatap Nisa dengan wajah penuh rasa simpati.

"Oh iya, tapi uang ini tidak cukup, De. Nanti saja kalau Ibu mau menambahkannya" Nisa menatap uang di tangannya dengan mata nanar.

"Ayo!" Tanpa menunggu jawaban dari Nisa, Dea menghentikan angkot yang kebetulan lewat. Mereka berdua sekarang sudah duduk diangkot kuning itu dengan tujuan pasar besar di sebelah pasar Angso Duo.

Setelah membayar ongkos angkot, mereka berjalan menyusuri beberapa toko sepatu. Nisa dibuat bingung oleh  sahabatnya itu. Bukannya tadi dia sudah mengatakan bahwa uangnya tidak cukup. Lalu kenapa mereka nekad menuju toko sepatu.

"Nis, coba ini!" Dea menyodorkan sepatu berwarna hitam ke depan wajah Nisa. Tanpa penolakan Nisa pun mencobanya.

"Agak sempit," ujar Nisa sambil melepaskan sepatunya.

"Kau suka yang model ini?" Dea memegang sepasang sepatu itu sambil melihat Nisa dengan wajah serius.

"Suka, tapi... lain kali saja, De. Uangku kan tidak cukup" Nisa mengucapkan itu dengan berbisik di telinga Dea. Dia merasa malu karena pelayan toko peremuan itu dari tadi memperhatikan mereka berdua yang sibuk memilih-milih sepatu.

"Mana uangmu?" Nisa menyerahkan uang hasil upah pinang tadi pada Dea.

"Berapa ukuran sepatumu?" Dea bertanya lagi.

"Ukuran 37," jawab Nisa pelan. Setelah mendapatkan jawaban dari Nisa, Dea segera menghampiri penjaga toko lalu menyebutkan ukuran sepatu yang akan mereka beli. Nisa hanya bisa menatap tingkah Dea dengan heran dan rasa was-was karena dia tahu uangnya tidak cukup.

"Ini!" Dea menyerahkan bungkusan ke tangan Nisa sambil menariknya keluar toko.

Nisa berhenti memeriksa isi didalam bungkusan tersebut. Matanya membola sempurna. Sepasang sepatu. Bagaimana bisa?

"Dea tunggu!" Nisa berlari kecil mengejar Dea yang terlihat cuek.

"De, ini untuk aku?"

"Iya"

"Tapi tadi uangku tidak cukup"

"Ya, aku tambahkan," jawab Dea enteng.

Mata Nisa langsung berkaca-kaca. Didekapnya kotak sepatu itu dengan rasa haru.

"De, makasih" suara Nisa terdengar serak. Susah payah ia menahan agar airmatanya tidak luruh. Dea yang melihat itu segera meraih pergelangan tangan Nisa.

"Sama-sama, itulah gunanya sahabat, Nis. Kita bisa saling berbagi, bukan hanya bahagia, tapi juga duka, kita sudah bersahabat sejak kecil, jadi jangan sungkan dan merasa sendiri" demi mendengar kata-kata Dea, Nisa tak kuasa lagi membendung airmatanya.
Mereka berdua lalu bergandengan tangan. Sore ini hati dua remaja itu menghangat karena ketulusan dari sebuah persahabatan.

#AMK
 
Top