By Nelliya Azzahra
(Novelis)

Aku mengamati keadaan sekitar yang mulai gelap meski baru jam 5 sore. Hujan belum juga reda padahal sudah  berjam-jam yang lalu turunnya. Merasa bahwa hujan mungkin masih lama redanya, maka kupaksakan menerobos hujan dengan motor maticku.

Jalanan jadi licin. Aku terpaksa mengurangi laju kecepatan motor jika tidak ingin berakhir di rumah sakit.
Saat lampu merah, netraku menangkap seorang pemuda yang duduk di halte sambil mengibas-ngibaskan topinya. Di dekat kakinya dua plastik besar kerupuk teronggok. Sekilas aku melihat wajahnya, tampan. Tubuhnya meskipun dalam keadaan duduk tapi kutahu dia memiliki bentuk tubuh yang bagus. Kalau kuperhatikan dengan seksama, sepertinya dia lebih cocok jadi seorang model pakaian, dari pada penjual kerupuk.
Tidak lama fokus perhatianku buyar karena mendengar suara klakson motor dan mobil yang bersahut-sahutan dengan tidak sabar dibelakangku. Ah... ternyata sudah lampu hijau. Aku pun berlalu. Meninggalkan si penjual kerupuk di halte.

Benar saja, sampai di rumah sudah azan magrib. Pakaianku jelas basah karena nekad menerobos hujan.
Kuparkirkan motor, lalu sedikit memeras ujung kerudungku.

Belum lagi masuk ke rumah, aku sudah dihadiahi omelan Ibu yang melihat aku pulang dengan basah-basahan. Aku memang rentan sakit. Biasanya kalau terkena hujan begini aku langsung terserang flu disertai demam. Buru-buru ibu mengambilkan handuk dan menggiringku ke kamar mandi. Katanya aku harus segera mandi. Setelah itu kami sekeluarga solat berjamaah.

"Hachim... hachim!" aku menggosok ujung hidungku dengan sapu tangan. Benar saja, malam ini aku terserang flu dan demam.

"Nay, badanmu panas" ibu menempelkan punggung tangannya didahi ku.

"Iya, Buk, sepertinya Nay terserang flu," jawabku singkat sambil bergelung diatas kasur.

"Ayo, makan dulu! Nanti Ibu buatkan teh hangat" aku mengikuti langkah ibu keluar kamar meskipun kepala rasanya berdenyut.

++++++

Alhamdulillah pagi ini keadaan ku mulai membaik. Hanya tersisa sedikir sakit kepala.

"Nay, coba duduk disini" Ibu menunjuk kursi kosong disebelahnya.

"Kenapa, Buk?" Aku melihat Ibu mengeluarkan sebuah foto. Di foto itu terlihat seorang pemuda tengah merangkul wanita paruh baya. Keduanya tersenyum menghadap kamera.

"Lihat, Nay! Ganteng, 'kan?" Tanya Ibu sambil meletakkan foto itu ditangan kananku.

Ganteng? Aku setuju dengan Ibu. Tapi tunggu, pemuda ini mirip dengan si penjual kerupuk yang kulihat di halte sore itu.

"Ibu, ini siapa?"

"Namanya Purnama, dia anak sahabat Ibu, Nay. Anaknya baik, soleh juga" Ibu terlihat antusias menceritakan siapa pemuda itu.

"Oh, wajahnya familiar Buk," jawabku sambil memperhatikan kembali foto itu.

"Nay, begini," ibu terlihat ingin bicara serius" Ibu dan Ayah, berencana untuk menjodohkan kalian"

Aku mengernyitkan dahiku, bingung. Kenapa Ibu tiba-tiba ingin menjodohkan aku seperti ini.

"Serius, Bu?" Tanyaku lagi.

"Ya, masa Ibu bercanda," jawab Ibu

"Baiklah akan Nay pikirkan, Bu. Tapi... apa pekerjaan pemuda itu, Bu?"

"Dia... bekerja sebagai penjual kerupuk" suara Ibu pelan sekali.

Duaar...!

Ibu, ingin menjodohkan aku dengan penjual kerupuk? Teganya ibu. Aku ini seorang dosen disalah satu unversitas negeri di kota ini. Setidaknya, aku ingin jodoh yang sama sepertiku. Penjual kerupuk? Oh tidak sama sekali.

"Hanya penjual kerupuk, Bu?" Tanyaku dengan rasa kecewa.

"Iya. Tapi Nay... dia pemuda yang baik. Ibu sudah mengenalnya sejak kecil. Ibu mohon, jangan lihat pekerjaannya, ya" Ibu mengatakan itu sambil membelai rambutku. Melihat raut wajah Ibu seperti itu aku jadi tidak tega.

++++

Satu bulan kemudian Purnama beserta keluarganya secara resmi datang melamarku.
Kami sudah bertemu sebanyak 2 kali. Pertama saat dia datang untuk menawarkan taaruf kepadaku. Kedua, hari ini.
Aku diam-diam melirik dia yang duduk disebelah orangtuanya. Sekali lagi penilaianku tak salah, dia tampan dengan baju koko yang melekat dan pas ditubuh atletisnya.

Andai saja dia bukan si penjual kerupuk, mungkin saat ini aku sudah jatuh cinta padanya. Aku masih memikirkan bagaimana nanti jika teman-teman ku tahu, aku menikah dengan penjual kerupuk. Mau ditaruh dimana muka ku ini.

Setelah selesai acara lamaran, maka diputuskanlah pernikahan kami dua minggu lagi. Semua orang bergembira, tampaknya hanya aku yang terlihat mendung. Aku tak kuasa menolak keinginan Ibu dan Ayah. Sejujurnya, ada gelenyar tak biasa kala aku melihat Purnama. Dia sosok yang pendiam, sorot matanya tajam. Tubuhnya yang berwarna coklat itu terlihat dibagian tertentu seperti tersengat matahari. Mungkin saja itu dia dapatkan saat berjualan kerupuk keliling. Aku juga baru tahu, jika dia hanya lulusan SMA.
Kuhembuskan nafas dengan berat. Selain wajahnya, tidak ada lagi yang bisa dibanggakan bathinku.

Hari yang dinanti pun tiba. Ijab kabul baru saja selesai diucapkan oleh Purnama di masjid dekat rumah kami. Dia ternyata memberikan aku mahar perhiasan seperti yang kuminta. Tapi dia juga menambahkannya. Aku tidak menyangka ternyata dia memiliki uang sebanyak itu.
Selesai semua resepsi aku segera menuju ke kamar. Setelah membersihkan diri dan solat magrib aku duduk diatas kasur sambil membuka satu persatu kado. Banyak kado yang kudapatkan.
Sejenak aku melupakan kehadiran Purnama.

Tok... Tok

"Nay, boleh aku masuk" suara serak Purnama dibalik pintu.

"Masuklah! Tidak dikunci" aku melihat Purnama melangkah dengan pelan sambil memegangi jasnya. Kini dia hanya memakai kemeja putih dan celana kain hitam.

"Boleh, aku membersihkan diri di kamar mandimu?" Tanyanya sambil menunduk.

Aku turun dari kasur berjalan menuju lemari lalu mengambil handuk bersih.
"Ini, pakailah!" Aku menyerahkan handuk itu ke tangannya.

Dia mengangkat wajahnya, untuk seperkian detik pandangan kami bertemu. Setelah itu dia memutuskan kontak mata dengan kembali menunduk.

"Terimakasih, Nay," ucapnya sambil berjalan ke kamar mandi.
Sepeninggalnya, aku meraba dadaku sendiri. Ada debar tak biasa disana. Apakah ini efek ijab kabul tadi? Atau aku sudah jatuh pada pesona suamiku. Ah, Naylah, secepat itukah hatimu berubah?

Selesai makan malam dan solat isya aku kembali ke kamar. Sedangkan Purnama belum kembali dari masjid. Aku sudah merebahkan diri diatas kasur sambil memainkan gawaiku. Tidak lama kudengar suara pintu terbuka menampilkan sosok gagah Purnama disana. Aku kembali sibuk dengan gawaiku tanpa berniat menyapanya. Lalu kudengar suara merdu Purnama melantunkan ayat-ayat suci. Aku terpana, suara itu mengalun begitu indah.

"Nay"

"Ah, iy-iya" aku gugup karena tertangkap basah sedang memperhatikannya.

"Nay, maaf, mungkin kau kecewa denganku," ujarnya datar.

"Kecewa?" Tanyaku bingung.

"Iya, karena aku hanya penjual kerupuk. Tapi, aku akan berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab, Nay" ucapan itu terdengar bersungguh-sungguh.

Ah, apakah dia tahu dari Ibu? Jika awalnya aku menolak pernikahan ini karena pekerjaannya.

"Sedikit" jawabku jujur. Lalu kulihat perubahan raut wajah Purnama. Dia terlihat sedih. Kenapa sekarang aku jadi merasa bersalah begini.

"Emm, itu, mungkin kita jalani saja dulu, jangan terlalu dipikirkan omonganku tadi" aku mencoba tersenyum kepadanya.

++++++

3 bulan sudah pernikahan kami, selama itu pula Purnama memperlakukan aku dengan sangat baik. Aku masih tetap mengajar, sementara Purnama masih tetap berjualan kerupuk seperti biasa. Sore ini aku dilanda rasa khawatir, karena lepas asar Purnama belum juga sampai di rumah. Beberapa kali kutelfon nomornya tapi tidak ada jawaban. Tidak lama, gawaiku bergetar saat menerima telfon jantungku rasanya berhenti berdetak. Purnama kecelakaan dan sekarang dia berada di rumah sakit. Tanpa pikir dua kali aku segera menyambar kunci motor menuju rumah sakit yang disebutkan penelfon tadi.

"Purnama"aku duduk disisi ranjang tempat ia berbaring. Bersyukur dia selamat.

"Nay, maaf, aku tidak pulang tepat waktu," ujarnya sambil menatapku penuh penyesalan.

"Hei, kenapa itu yang kau pikirkan! Lihat kondisimu, kata dokter kakimu patah, kau selamat saja aku sudah bersyukur. Jika tidak, maka saat ini aku sudah jadi janda " baru kali ini aku menangis didepan Purnama. Aku merasa bersalah sekarang. Demi mencari nafkah, dia sampai terluka .

"Nay, maaf...maaf, jangan nangis, Nay" dia mencoba meraih tanganku "lain kali, aku akan lebih hati-hati" kata-kata itu terdengar seperti sebuah janji telingaku.

"Benar, kau akan lebih hati-hati?" Tanyaku sambil menyeka airmata dengan ujung lengan gamisku.

"Insyaallah, Nay" jawabnya sambil tersenyum.

"Purnama, emm, apakah kau mencintaiku?" Entah kenapa aku ingin kata-kata itu keluar dari mulutnya. Seakan merasa tidak cukup dengan perlakuan baiknya selama tiga bulan ini.

"Tentu, Nay, sejak aku mengucapkan ijab kabul pada hari itu" jawabnya sambil menunduk. Aku yang mendengarnya mengembangkan senyum. Bahagia.

Setelah satu minggu Purnama boleh pulang. Tapi pulang ke rumah mertuaku.
Selama seminggu pula rumah selalu ramai kedatangan tamu yang menjenguk Purnama. Mereka merasa sedih dan bercerita banyak mengenai Purnama. Mereka mengatakan Purnama pemuda yang baik. Selama ini dia banyak membantu tetangga dan keluarganya, baik materi maupun tenaga. Anak-anak yang ngaji di masjid juga merasa kehilangan guru ngaji mereka sejak Purnama menikah. Semua menyayangi Purnama. Aku merasa tersentil dengan semua cerita itu. Harusnya aku tidak menilai seseorang hanya dari covernya. Karena Allah pun tidak melihat itu. Orang yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Allah tidak memandang rupa, harta, tahta, dan lainnya. Lalu aku tergugu sendiri di teras rumah Purnama. Begitu sombong dan egonya aku selama ini. Harusnya aku bersyukur mendapatkan suami yang soleh dan baik seperti Purnama.

+++++

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Hari ini seperti biasa aku akan mengajar di Kampus. Sedangkan Purnama sejak jam 6 tadi sudah pergi dari rumah.

Aku memasuki kelas yang sudah ramai. Tanpa menatap mereka aku menuju mejaku dan meletakkan buku yang tadi kubawa.
Suasana menjadi tenang. Sebelum mulai aku menyebutkan nama-nama mereka.

"Saudara Purnama Wijaya!"

"Hadir"

Suara itu, aku mengangkat wajah. Didepan sana seorang pemuda tampan sedang berdiri dan menatap tepat ke bola mataku.

Jantungku berdebar, tanganku sedikit gemetar. Lalu tak lama senyum pun mengembang. Melihat gerakan bibir pemuda itu.

"Nayla, I Love You"

END
 
Top